.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERBANGUN
Bau minyak wangi murahan beraroma melati yang terlalu menyengat adalah hal pertama yang menyiksa indra penciuman Ji Huang.
Dia mengerutkan kening, mencoba menggerakkan kelopak matanya yang terasa seberat gunung purba. Alih-alih merasakan dinginnya logam kelabu di Lembah Pedang atau dengung agung dari miliaran bilah pusaka yang meratapi kehancurannya, telinga Ji Huang justru menangkap suara yang sangat asing. Itu adalah suara isak tangis yang tertahan, lirih, dan penuh ketakutan.
"Ugh..." Ji Huang melenguh rendah.
Suara tangisan itu mendadak berhenti, digantikan oleh suara tarikan napas yang tajam.
Ji Huang akhirnya berhasil membuka mata. Langit-langit yang dia lihat bukan lagi hamparan awan perak berpetir, melainkan langit-langit kayu yang diukir dengan buruk, dilapisi kelambu sutra merah muda yang tampak terlalu norak untuk selera seorang entitas tertinggi. Dia mencoba menggerakkan tangannya, dan matanya langsung melebar kecil. Tidak ada rantai hukum kausalitas. Tidak ada belenggu takdir.
"Aku... bebas?" gumamnya, suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar jauh lebih muda dan serak.
Ji Huang bangkit berdiri, merasakan sensasi aneh di sekujur tubuhnya. Tubuh ini terasa sangat ringan—bukan ringan karena suci, melainkan ringan karena rapuh seperti kertas fana. Saat kakinya menyentuh lantai kayu, dia hampir saja tersandung jubah tidurnya sendiri yang berantakan.
Di sudut kamar, seorang gadis kecil berusia sekitar belasan tahun dengan pakaian pelayan berwarna hijau lumut tampak duduk bersimpuh. Tubuhnya gemetar hebat seperti kelinci yang berhadapan dengan harimau. Wajahnya pucat pasi, dan air mata masih mengalir di pipinya yang kotor oleh debu.
"T-Tuan Muda..." suara gadis itu bergetar, tatapannya penuh teror. "M-Mohon ampuni Xiao Cui! Xiao Cui tidak bermaksud membangunkan Tuan Muda! Tadi... tadi Xiao Cui hanya sedang membersihkan bekas darah di lantai..."
Ji Huang mengerutkan kening. Tuan Muda? Xiao Cui? Ampun?
Dia mengabaikan pelayan kecil itu untuk sementara dan melangkah menuju sebuah cermin tembaga besar yang berdiri di sudut ruangan. Begitu melihat pantulan dirinya di cermin, Ji Huang tertegun selama beberapa detik.
Pria di dalam cermin itu memiliki wajah yang luar biasa tampan. Alisnya lurus setajam pedang, hidungnya mancung, dan struktur rahangnya sangat sempurna. Ditambah dengan rambut hitam yang agak berantakan dan tatapan mata yang sayu karena baru bangun tidur, penampilan ini tipe yang bisa membuat para wanita fana menjerit histeris hanya dengan satu senyuman. Namun, di balik ketampanan itu, kulitnya tampak agak pucat karena kurang berolahraga, dan postur tubuhnya menunjukkan kebiasaan bermalas-malasan yang akut.
Ji Huang menutup matanya, membiarkan kesadarannya tenggelam ke dalam benak terdalam tubuh ini. Dalam sekejap, gelombang ingatan milik pemilik tubuh asli berputar seperti film di kepalanya.
Nama tubuh ini adalah Ji Huang. Nama yang sama persis, sebuah kebetulan takdir yang agak menggelikan. Dia adalah Tuan Muda tunggal dari Keluarga Ji di Kekaisaran Nan Gong. Namun, jangan bayangkan Keluarga Ji ini sebagai klan kultivator raksasa yang menguasai wilayah. Tidak, Keluarga Ji hanyalah keluarga pembantu, kelompok pengelola logistik dan pelayan tingkat tinggi di istana kekaisaran fana ini. Posisi mereka tidak berpengaruh, tidak terkenal, dan sering kali dianggap sebagai keset oleh klan-klan pejabat atau militer.
Dan Tuan Muda Ji Huang yang asli? Dia adalah definisi nyata dari kata "sampah".
Karena tahu keluarganya tidak punya latar belakang kuat dan dirinya tidak memiliki bakat kultivasi yang menonjol—Dantiannya bahkan berantakan dan tidak bisa menampung Qi dengan benar—Tuan Muda Ji memilih jalan hidup yang sesat. Dia menjadi pemuda malas yang arogan, menggunakan ketampanan wajahnya untuk menggoda wanita, dan melampiaskan kekesalannya dengan merundung orang-orang yang posisinya lebih rendah, seperti para pelayan di kediamannya. Xiao Cui, pelayan kecil di sudut kamar itu, adalah salah satu korban langganannya.
"Lalu, bagaimana bocah ini bisa mati?" Ji Huang bergumam sendiri, menggali lebih dalam ke memori terakhir.
Ah. Ironi fana yang klasik.
Tuan Muda Ji ternyata menjalin perjodohan dengan Nona Lin dari Keluarga Lin—sebuah keluarga militer kelas menengah di kekaisaran yang posisinya sedikit di atas Keluarga Ji. Perjodohan itu diatur oleh generasi tua terdahulu. Namun, Nona Lin yang cantik jelita itu ternyata juga diincar oleh Tuan Muda dari Keluarga Wang, klan kaya raya yang memiliki hubungan dekat dengan sekte kultivator hebat, Sekte Harimau Barat.
Kemarin sore, utusan dari Keluarga Wang datang menemui Tuan Muda Ji di sebuah kedai arak. Di sana, Tuan Muda Ji dihina habis-habisan. Karena gengsi di depan wanita, Tuan Muda Ji yang lemah mencoba melawan. Hasilnya bisa ditebak: dia dihajar habis-habisan oleh pengawal Keluarga Wang yang merupakan seorang kultivator tingkat tinggi. Tuan Muda Ji diseret pulang dalam kondisi sekarat, dan semalam, dia mati konyol di ranjangnya karena syok, ketakutan, sekaligus menahan rasa sakit. Di saat itulah, percikan jiwa Dewa Pedang Ji Huang masuk dan mengambil alih wadah kosong ini.
"Mati karena berebut wanita..." Ji Huang memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. "Luar biasa. Aku mengunci diri jutaan tahun karena jurus sendiri, dan bocah ini mati karena dipukuli akibat merebut wanita yang bahkan belum tentu menyukainya. Kami berdua benar-benar sepasang orang tolol."
Ji Huang menghela napas panjang. Dia berbalik, menatap Xiao Cui yang masih memejamkan mata dengan rapat, bersiap menerima pukulan atau makian yang biasanya keluar dari mulut sang tuan muda jika suasana hatinya sedang buruk.
Namun, yang terdengar justru adalah suara langkah kaki yang santai, diikuti oleh suara helaan napas yang sangat malas.
"Hei, pelayan kecil," panggil Ji Huang, suaranya tidak lagi mengandung nada tinggi yang sombong, melainkan terdengar sangat datar dan acuh tak acuh.
"Y-Ya, Tuan Muda?!" Xiao Cui gemetaran, kepalanya semakin menunduk ke lantai.
"Aku lapar. Di mana dapur? Atau... bisakah kamu membawakanku makanan yang banyak minyak dan dagingnya? Oh, dan sepoci teh hangat. Jangan terlalu manis, kepalaku agak pusing."
Xiao Cui berkedip. Dia memberanikan diri untuk mendongak sedikit. Tatapannya bertemu dengan sepasang mata Ji Huang. Tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada niat jahat. Mata Tuan Mudanya yang biasanya penuh kilat kebencian dan keangkuhan itu kini tampak... sangat kosong, super santai, dan dipenuhi oleh rasa kantuk yang luar biasa.
"T-Tuan Muda tidak akan memukul Xiao Cui?" tanya pelayan itu dengan polosnya, menyuarakan kebingungannya.
Ji Huang berjalan kembali ke ranjang sutranya, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan posisi telentang, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Kasur ini memang tidak sekuat batu dewa miliknya, tapi keempukannya benar-benar surga dunia.
"Memukulmu? Mengangkat tangan saja butuh energi, pelayan kecil. Berteriak-teriak juga bikin tenggorokan kering," kata Ji Huang sambil memejamkan mata, mencari posisi tidur yang paling nyaman. "Merundung orang lemah itu melelahkan dan membuang-buang waktu yang seharusnya bisa dipakai buat tidur siang. Sudah sana, ambilkan makanan. Kalau kamu lambat, aku tidak akan memukulmu, tapi aku akan mati kelaparan di kasur ini."
Xiao Cui melongo. Dia melihat Tuan Mudanya yang sekarang sudah mulai mendengkur halus dalam hitungan detik setelah menyentuh bantal. Perubahan sikap yang 180 derajat ini membuat kepala pelayan kecil itu mendadak korsleting.
Namun, takut disalahkan jika makanan tidak datang, Xiao Cui segera bangkit berdiri dan berlari keluar kamar dengan tergesa-gesa, meninggalkan Ji Huang yang mulai menikmati tidur fana pertamanya dengan sangat khusyuk, sama sekali tidak peduli bahwa badai masalah dari luar kekaisaran sedang menuju ke arah kediamannya.