Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Tempaan Api & Kesalahpahaman Mulia
Xue Yan (Wangcai) terdiam kaku saat melihat Han Yu berjalan mendekat membawa sekeranjang makanan sisa dari meja makan.
"Muridku, anjing ini cukup tangguh ya, tidak mati-mati juga," kata Lin Qian santai sambil menunjuk ke arah Xue Yan. "Sudah jadi peliharaan kita sekarang. Mulai hari ini jangan buang sisa makanannya ,simpan buat dia."
"Baik, Guru," jawab Han Yu patuh. "Aku akan pastikan semua sisa makanan disisakan untuknya."
"Anak yang baik."
Mendengar percakapan akrab antara guru dan murid itu, wajah Xue Yan berubah pucat pasi.
Makanan sisa?! Mereka bermaksud memberiku sisa makan manusia?!😱😱😡
Ia hampir melolong marah di tempat. Aku ini Putra Mahkota Klan Serigala Iblis Pemakan Surga! Keturunan bangsawan tertinggi di ras iblis! Bagaimana mungkin aku memakan sisa kotoran meja manusia?! Ini penghinaan yang tak termaafkan!
"Tuan, sepertinya dia tidak mau makan," lapor Han Yu sambil menatap mangkuk itu.
"Mungkin masih malu-malu di depan orang baru," jawab Lin Qian santai sambil melirik wang cai "Taruh saja di atas lempengan batu di sana. Nanti kalau sudah lapar, dia makan sendiri. Sudah, lanjutkan pekerjaanmu."
Xue Yan memalingkan wajah, menatap punggung Lin Qian dengan pandangan yang seolah ingin melubangi tubuh manusia itu.
Lin Qian sama sekali tak peduli. Setelah kenyang dan puas bersantai, ia berbaring malas di kursi, mengipasi diri dengan daun kering, dan tak lama kemudian suara dengkuran halus memenuhi halaman.
Melihat Lin Qian tertidur lelap, amarah di dada Xue Yan makin meluap. Kakinya gatal ingin menerkam leher manusia itu sekarang juga. Tapi naluri iblisnya berteriak keras memperingatkan.
Jangan bergerak. Kalau berbuat curang, kau mati sebelum sempat menutup mulut.
Sepanjang sore itu, Wang Cai berpikir keras mencari jalan keluar. Satu-satunya jalan adalah melalui ruang depan. Beberapa kali ia memberanikan diri melangkah ke sana — namun aura mengerikan dari delapan belas lukisan senjata di dinding begitu menekan hingga bulu kuduknya berdiri tegak dan kakinya lemas tak bertenaga.
Ia menyerah dan kembali berbaring lesu di halaman belakang.
Namun ada masalah lain yang lebih mendesak.
Gruuukk.
Perutnya berbunyi nyaring. Sejak terluka dan kabur dari wilayahnya, ia sudah menempuh ribuan mil perjalanan tanpa makan, lalu ditangkap dan dipukuli. Tubuhnya yang kuat akhirnya mencapai batasnya.
Tanpa sadar, matanya melayang ke makanan sisa di atas batu itu. Masih hangat. Aromanya… cukup sedap.
TIDAK! Ia membuang muka dengan tegas. Aku Tuan Muda Klan Serigala Iblis! Tidak akan pernah makan sampah dari manusia fana ini.
Tidak akan pernah!.... 😡
Langit perlahan berubah gelap. Lin Qian bangun, memasak dua lauk sederhana untuk makan malamnya, lalu kembali beristirahat. Saat berjalan melewati halaman, ia melihat makanan di batu itu masih utuh.
"Han Yu, Wangcai masih belum makan juga?"
"Belum, Guru. Apa dia akan mati kelaparan?"
"Tidak apa-apa, dia masih gengsi. Nanti kalau sudah lapar sekali, baru mau makan. Simpan lagi sisanya buat dia malam ini."
Makanan sisa baru kembali diletakkan di dekatnya.
Manusia terkutuk! Sampai kapan kau mau mempermalukan ku?! Wang Cai hampir meledak. Sekalipun aku mati kering kerontang hari ini, aku bersumpah takkan memakan sebutir pun nasi dari kalian!
Gruuuukkk!!!
Baru saja ia berjanji dalam hati, perutnya berbunyi jauh lebih keras.
Ia menatap perutnya yang makin mengerut, lalu pandangannya jatuh lagi pada makanan yang masih mengepulkan uap tipis itu.
Selama bukit hijau masih ada, pasti ada kayu bakar. Kalau aku mati di sini, siapa yang membuktikan kehebatanku kepada Ayah Kaisar? Sekali saja… pengecualian. Sekali saja!
Dengan rahang gemetar menahan malu, Xue Yan melompat mendekat dan menyambar makanan itu.
Begitu menyentuh lidah, matanya terbelalak.
Wah… ternyata masakan manusia terkutuk ini… enak juga! Jauh lebih nikmat dari daging mentah yang biasa ku makan!
Dalam sekejap piring itu licin tak bersisa. Ia bahkan masih ingin lagi.
Saat sedang menjilat sisa minyak di batu, langkah kaki terdengar. Lin Qian berjalan keluar sambil tersenyum mengejek.
"Haha, dasar anjing pelupa. Tadi siang melolong-lolong menolak makan, sekarang malah menjilat sampai bersih betul."
Desss.
Xue Yan(wang cai) menampakkan taringnya, tubuhnya gemetar hebat karena marah dan malu bercampur jadi satu. Tapi lagi-lagi ia tak berani berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menelan semua rasa sakit hatinya sendiri.
Keesokan harinya, saat Lin Qian keluar ke halaman, Xue Yan langsung menggeram sebagai tanda protes.
Lin Qian hanya memutar bola matanya malas, mengabaikan tingkah peliharaannya, lalu berjalan masuk ke ruang bengkel di belakang.
Ia teringat pisau dapurnya sudah dirasa kurang tajam. Ah, kebetulan. Sekalian buat yang baru.
Matanya melirik ke arah Xue Yan yang masih menggeram geram di pintu. Senyum tipis mengembang di bibirnya.
"Hei, sini kau!"
Bagi Xue Yan, senyum itu tampak sangat mengerikan. Ada apa lagi?! Penjara apa lagi yang mau dibuatnya?!
Lin Qian menyeret Xue Yan masuk ke bengkel. Di sudut ruangan terdapat alat peniup api besar yang harus digerakkan naik-turun agar api tungku menyala besar. Lin Qian memodifikasinya dengan cepat — mengikatkan tali ke tubuh Xue Yan, lalu menggantungkan sepotong tulang kering tepat di depan hidungnya, selalu sedikit di luar jangkauan mulut.
Prinsipnya sederhana: biar si serigala terus bergerak mengejar tulang, alat peniup apinya pun terus bekerja.
Aku benar-benar jenius, gumam Lin Qian puas.
Ia menendang pantat Xue Yan pelan. "Hei, mulai bergerak. Jangan berhenti."
MANUSIA!!! Xue Yan meraung histeris dalam hatinya. Mengikatku seperti hewan beban?! Lebih baik bunuh saja aku sekalian! Penghinaan macam apa lagi ini?!
Ia ingin melawan, ingin mengamuk — tapi rasa takut akan kekuatan Lin Qian menahannya. Terpaksa, dengan kebencian yang makin membara, ia mulai berjalan maju mundur menggerakkan alat itu, mengejar tulang yang tak pernah bisa digapai.
Tunggu saja. Nanti kalau aku kuat lagi, lihat saja balas dendamku!
Lin Qian berdiri di depan besi merah panas. Penjepit di tangan kiri, palu besar di tangan kanan. Ia mulai menempa.
DANG!!
Satu pukulan keras mendarat. Percikan api menyebar ke segala arah — salah satunya menyambar sedikit bulu di tubuh Xue Yan.
Xue Yan yang penuh amarah tiba-tiba membeku.
Matanya membelalak tak percaya.
Di matanya yang memiliki penglihatan roh tingkat tinggi, percikan api itu bukan sekadar api. Di dalam setiap percikan kecil itu, ia melihat bayangan jalan Bela Diri, aliran energi, dan esensi langit dan bumi yang murni.
Ini bukan sekadar tempaan besi… ini adalah Kebenaran Mendalam dari Dao Bela Diri!
Saat percikan itu menyentuh kulitnya, ia merasakan aliran hangat yang menembus sampai ke tulang sumsum. Cedera parah yang didapatnya saat disergap musuh — cedera yang butuh setengah tahun untuk sembuh — seketika berkurang drastis. Hanya dengan satu percikan, lukanya pulih sekitar dua puluh persen.
DANG!!
Lin Qian memukul lagi. Lebih keras, lebih cepat. Percikan api berhamburan memandikan seluruh tubuh Xue Yan. Rasanya seperti dimandikan air mata kehidupan. Luka-lukanya kini pulih hampir setengahnya.
Xue Yan menatap sosok Lin Qian yang berdiri tegak di tengah kobaran api. Di matanya, sosok itu kini membesar — memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan, seperti dewa penolong yang turun ke bumi.
Semua rasa benci, semua amarah, semua dendam… lenyap seketika tanpa sisa.
Matanya berkaca-kaca.
Aku mengerti… aku akhirnya mengerti.
Ternyata tujuan Senior menangkap ku bukan untuk mempermalukan, bukan untuk dijadikan peliharaan… tapi untuk mendidik ku! Semua penghinaan, semua kerja keras, semua rasa malu itu… adalah cara beliau melunakkan hatiku, membuang sifat sombongku!
Ayah Kaisar selalu bilang aku ini manja dan tidak pernah mengalami kesulitan. Beliau bilang aku tidak akan pernah jadi besar kalau tidak ditempa kesusahan. Ternyata Senior ini sedang melatihku dengan caranya sendiri!
Xue Yan merasa sangat bersalah. Penyesalan itu begitu dalam hingga ia ingin menampar dirinya sendiri.
Beliau menyelamatkanku, merawat ku, membimbingku lewat tempaan hidup. Tapi apa yang kulakukan? Hanya memikirkan balas dendam. Aku… benar-benar tidak punya hati nurani.
Tekad baru yang kuat memenuhi dadanya. Ia mulai menggerakkan alat peniup api dengan semangat berapi-api — tubuhnya bergerak makin cepat, menimbulkan angin kencang. Semakin cepat ia bergerak, semakin banyak Dao yang ia serap, semakin cepat lukanya sembuh.
"Bagus! Anjing pintar, kerja bagus!" puji Lin Qian terkejut heran melihat perubahan drastis pada peliharaannya.
Senior memujiku! Xue Yan sangat bahagia. Ia tidak lagi merasa pekerjaan ini memalukan. Baginya kini, membantu Senior menempa senjata adalah kehormatan terbesar dalam hidupnya.
Tak lama kemudian, bentuk pisau dapur itu mulai terlihat jelas. Lin Qian mengangkatnya dan mencelupkannya ke dalam air pendingin.
Srrttt!!
Uap panas mengepul tinggi. Saat pisau itu diangkat kembali, Xue Yan tersentak hebat. Cahaya yang memancar begitu halus namun tajam, mengandung kekuatan alam yang murni — jelas sudah melampaui apa pun yang pernah dilihatnya seumur hidup.
Beruntungnya aku! Aku menyaksikan kelahiran senjata ilahi, dan ikut andil dalam pembuatannya!
Ia menatap Lin Qian dengan kekaguman dan rasa terima kasih yang mendalam. Keberuntunganku berubah. Tinggal di sini lebih lama, siapa tahu aku bisa jadi orang hebat!
Lin Qian hanya menggelengkan kepala melihat peliharaannya melompat-lompat kegirangan sambil menjilat-jilat udara.
Dasar anjing gila. Persis Husky di duniaku dulu. Husky lintas dunia rupanya.
"Tuan, ada tamu datang berkunjung," suara Han Yu terdengar dari pintu bengkel.
"Oke, sebentar." Lin Qian mengelap pisau barunya yang berkilat tajam, lalu berjalan keluar dengan santai.
-----Bersambung Bab 8 --------