"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Pembalasan Kiara
BAB 17: Pembalasan Kiara
Malam semakin larut, namun suasana di dalam penthouse mewah itu terasa jauh lebih dingin daripada udara malam di luar. Kiara duduk di tepi ranjang kamar tamu dengan kedua lutut yang ditekuk erat di depan dada. Gaun hitam mewah pemberian Adrian sudah ia tanggal kasar, digantikan oleh kaus tidur kebesaran yang usang—seolah dengan melepas gaun itu, ia bisa menghapus sisa-sisa penghinaan yang ia terima di lobi restoran tadi.
Begitu sampai di apartemen satu jam yang lalu setelah mengabaikan puluhan panggilan telepon dari Adrian, Kiara langsung melangkah menuju kamar tamu. Ia membanting pintu dan memutar anak kuncinya dua kali.
Cklek. Cklek.
Pintu terkunci rapat. Kiara tidak sudi tidur di kamar utama. Ia tidak sudi berbagi ranjang dengan pria yang baru saja menurunkannya menjadi sekadar "pembantu riset" demi menjaga gengsi di depan wanita kalangan atas pilihannya.
Tok! Tok! Tok!
"Kiara, buka pintunya," terdengar suara bariton Adrian dari balik pintu, mengetuk dengan ritme yang konstan namun sarat akan emosi yang mulai tersulut. "Kita perlu bicara. Jangan bersikap kekanak-kanakan dengan mengunci diri seperti ini."
Kiara tetap diam. Ia menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya, menutup telinganya rapat-rapat. Suara Adrian yang biasanya terdengar seksi, kini hanya terdengar seperti belati yang siap mengiris kembali luka di hatinya.
"Kiara! Aku tahu kamu di dalam. Kubilang buka pintunya!" suara Adrian meninggi, mulai kehilangan kesabaran karena gila kepemilikannya terusik melihat mainannya berani menutup akses untuknya.
Hening. Tidak ada jawaban dari dalam kamar.
Adrian menggeram frustrasi di luar. Pria itu mengembuskan napas kasar, lalu berjalan cepat menuju ruang kerjanya. Hanya butuh waktu satu menit bagi sang profesor untuk kembali ke depan kamar tamu dengan sebuah kunci cadangan di genggamannya.
Cklek.
Pintu kamar tamu terbuka. Adrian melangkah masuk dengan aura dominasi yang pekat, bersiap untuk memarahi Kiara karena kelakuannya yang membangkang. Namun, begitu matanya menangkap sosok Kiara yang meringkuk rapuh di bawah selimut tipis dengan tubuh yang sedikit bergetar, langkah kaki Adrian mendadak melambat. Kemarahannya menguap, digantikan oleh rasa tidak nyaman yang asing di dalam dadanya.
Adrian berjalan mendekati ranjang, lalu merebahkan tubuh tegapnya di samping Kiara. Tanpa meminta izin, lengan kekarnya langsung merayap melingkari pinggang Kiara dari belakang, menarik tubuh mungil itu masuk ke dalam dekapan hangatnya tanpa celah.
"Lepas, Adrian..." lirih Kiara dengan suara yang sangat serak karena habis menangis. Ia mencoba menggeliat, mendorong tangan Adrian dari perutnya, namun pria itu justru mempererat pelukannya, menyembunyikan wajah tampannya di tengkuk Kiara.
"Jangan cemburu pada Clarissa, Sayang," bisik Adrian rendah, suaranya terdengar begitu seksi dan posesif tepat di telinga Kiara. "Aku harus mengatakan itu di depannya demi melindungimu dari ibuku. Clarissa tidak ada apa-apanya dibanding kamu yang sudah membuatku gila setiap malam di apartemen ini."
Mendengar bisikan posesif nan tengil yang seolah menganggap semuanya baik-baik saja itu, air mata Kiara yang sempat mengering kembali meluncur deras membasahi bantal.
Kata-kata Adrian tidak membuatnya tenang, melainkan justru memicu ledakan emosi batin yang teramat dahsyat di dalam dadanya. Rasa sedih, marah, kecewa, dan serba salah mendadak bercampur aduk menjadi satu, menciptakan rasa sesak yang teramat menyiksa hingga dadanya terasa nyeri.
Kiara membalikkan tubuhnya dengan sentakan kasar, memaksa Adrian untuk menatap langsung ke dalam manik matanya yang sembap, merah, dan dipenuhi kabut kehancuran.
"Jangan cemburu, kamu bilang?!" teriak Kiara dengan suara tertahan, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. "Untuk apa aku cemburu pada dr. Clarissa? Aku tidak punya hak untuk itu, Adrian! Aku hanya marah dan benci pada diriku sendiri!"
Adrian tertegun, menatap lekat-lekat kehancuran di wajah istri kontraknya.
"Aku merasa serba salah, Adrian! Aku benci situasi ini!" isak Kiara, dadanya naik-turun dengan ekstrem menahan sesak. "Untuk apa... untuk apa aku menyetujui pernikahan kontrak ini? Menikah di atas kertas, menyerahkan segalanya padamu, melayanimu, bahkan sampai... sampai menyerahkan tubuhku dan melakukan hubungan intim denganmu di kamar ini?!"
Kiara mencengkeram kemeja Adrian kuat-kuat, meluapkan seluruh rasa terhina yang membakar jiwanya.
"Pada akhirnya, di luar sana aku tetap tidak diakui! Statusku disembunyikan, harga diriku diinjak-injak, dan aku harus tersenyum melihat wanita lain menggelayuti lengan suamiku sendiri!" Kiara tertawa sumbang di sela tangisnya, sebuah tawa yang terdengar sangat menyedihkan.
"Setelah apa yang kita lakukan di ranjang ini, dan setelah caramu menyembunyikanku di depan Clarissa tadi... aku tidak merasa seperti seorang istri, Adrian. Aku malah merasa... merasa seperti wanita penjual diri yang sengaja kamu sewa dan kamu bayar mahal hanya untuk memuaskan nafsumu dan ego cemburumu kapan saja kamu mau! Aku merasa sehina itu, Adrian!"
Mendengar kalimat terakhir yang keluar dari bibir Kiara, mata elang Adrian seketika membelalak sempurna. Jantung sang profesor seolah berhenti berdetak seketika. Kata-kata "wanita penjual diri" yang diucapkan Kiara dengan begitu penuh luka menampar egonya yang setinggi langit dengan hantaman yang luar biasa telak. Pria itu membeku, menatap wajah Kiara yang kini kembali menangis tergugu sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tenggelam dalam penyesalan dan kehancuran batin yang teramat dalam akibat kontrak gelap mereka.