Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 8
Hari itu juga hujan--tepat tiga bulan setelah Zenna dipecat dan ia tak kunjung mendapat pekerjaan.
Ia sudah memasukkan ribuan lamaran, baik secara daring maupun berdesakan dengan pelamar lainnya di jalan. Ia sudah melakoni beberapa wawancara, tetapi di penghujung hari, tak ada kabar indah yang menghampiri.
Zenna sudah tak punya uang sepeser pun. Di rumahnya nyaris tak ada makanan. Hutang di warung dan tetangga menumpuk. Asuransi kesehatan ibunya pun menunggak, sehingga Zenna tak bisa membawa sang ibu ke rumah sakit, meski sudah waktunya melakoni kemoterapi.
Tuhan, apa yang harus kulakukan...?
Zenna sudah lelah berjalan seharian menyebar CV dan lamaran. Ia pun terduduk lemas di pinggir jalan, menangis sendirian di bawah hujan.
"Zenna... kamu Zenna, kan?"
Suara yang halus dan tak asing itu membuat Zenna mendongak. Tepat di depan matanya, Rendy Wangsa menyapanya dari balik jendela mobil Ferrari merah yang kini menepi dari ramainya lalu lintas--atau sengaja menepi.
"Tuan... Rendy?" Zenna tertegun. "Kenapa Tuan di sini...?"
"Justru aku yang tanya, apa yang kamu lakukan, Zenna? Duduk di pinggir jalan padahal sedang hujan... sampai basah kuyup begini?"
Rendy tanpa ragu turun dari mobilnya dan menghampiri Zenna, lalu melepas jasnya dan menyampirkannya ke kepala dan bahu Zenna sebagai perlindungan.
"T-tuan...!" cicit Zenna, kaget dan gugup tiba-tiba diperlakukan seperti itu.
"Panggil aku Rendy. Sudah jangan banyak bicara. Ikut aku, masuk ke dalam mobilku. Ayo!"
Zenna sejenak bergeming, sebab tak yakin tawaran itu benar, atau menuruti tawaran itu adalah hal benar. Bagaimana pun, ia dan Rendy tak sungguh saling mengenal, dan bagaimana pun, ia masih tahu diri untuk tidak mengotori mobil mewah itu dengan tubuh dan pakaiannya yang seperti orang buangan sekarang.
Rendy mengangkat alis melihat sikap Zenna, tetapi kemudian dengan cepat ia malah duduk di sisi Zenna, membiarkan tubuh dan pakaiannya kotor dan basah juga.
"Apa yang Tuan lakukan...?" pekik Zenna.
"Sudah kubilang, panggil aku Rendy. Bisa?"
Zenna enggan mengiyakan. Rendy mendesah, dan memutuskan mengalah.
"Ya sudah. Kalau kamu tak mau berteduh denganku, maka aku akan ikut hujan-hujanan bersamamu," kata Rendy kalem. "Mau begini sampai malam? Tak masalah. Terserah kamu."
Zenna terperangah. Tanpa sadar, wajahnya merona merah.
"Tidak... Tuan, tolong jangan seperti ini...," Zenna tak tahu lagi harus berkata apa.
Rendy tersenyum dan bertutur lembut, "Kalau begitu, ayo berteduh denganku. Jangan khawatir, Zenna, aku tak akan menyakitimu. Aku janji."
Kata-kata itu sungguh menyentuh. Pertahanan Zenna runtuh. Ia pun menerima uluran tangan Rendy untuk membantunya berdiri.
Sentuhan itu kuat, hangat, dan membikin detak jantungnya meningkat.
"Maaf membuat mobilmu kotor, Tuan...," bisik Zenna saat sudah duduk dengan kikuk di kursi penumpang depan, sementara Rendy langsung mengemudikan mobilnya dengan lancar.
"Tak masalah. Bisa dicuci nanti," sahut Rendy ringan. "Bagaimana kabarmu, Zenna? Lama sekali kita tidak berjumpa, sejak peristiwa di hotel malam itu..."
Organ-organ Zenna bergeliat tak nyaman kala mengingat malam petaka itu, tapi ia berupaya keras menyembunyikan perasaannya.
"Terus terang, aku jadi kepikiran... apalagi ketika aku berkunjung lagi ke hotel itu dan tahu kamu sudah tak bekerja lagi di sana. Kuharap tak ada lagi kejadian buruk yang menimpamu, Zenna. Katakan, kamu baik-baik saja, kan?"
Zenna sama sekali tak menyangka Rendy akan berkata begitu. Hatinya pun bergetar.
"Aku--aku baik-baik saja," kata Zenna parau. "Pihak hotel memecatku setelah kejadian malam itu... tapi barangkali itulah yang terbaik..."
Rendy menghela napas panjang.
"Ya, aku setuju," angguknya. "Jujur aku sempat datang lagi untuk memintamu berhenti dan pindah dari sana. Tapi rupanya kamu sudah pergi. Jadi, yah, tak ada lagi yang bisa kulakukan, selain berharap kamu baik-baik saja di mana pun kamu berada..."
Sekilas Rendy menoleh dan tersenyum lembut ke arah Zenna, yang tak tahu harus menanggapi apa.
"Kamu sedang tak diburu janji atau waktu, kan? Apa kamu keberatan mampir ke suatu tempat denganku? Setelah itu, aku janji akan mengantarmu pulang."
Zenna memandang lurus Rendy, dan rasanya kian sulit mengendalikan gemuruh di dadanya sendiri.
"Mampir ke mana, Tuan...?" ia bahkan tak bisa mencegah suaranya untuk tidak gemetar.
"Bagaimana kalau ke salah satu restoran milikku? Kebetulan aku melewatkan makan siang. Apa kamu sudah makan? Mau makan denganku?"
Demi kesopanan, Zenna tak menolak, meski dalam hati ia merasa sungkan setengah mati.
Rendy membawanya ke sebuah restoran masakan Korea yang besar dan mewah di bilangan selatan ibukota. Para pelayan sigap menyambut Rendy dan menyiapkan hidangan di salah satu private dining room di lantai tiga.
Rendy lantas menyuruh satu pelayan untuk mengantar Zenna ke kamar mandi dan berganti pakaian dengan seragam pelayan yang ada di loker. Sementara ia sendiri mengeringkan diri dan berganti dengan setelan bersih miliknya yang tersimpan di kantornya di lantai empat restoran.
"Maaf ya, bukan maksudku menyuruhmu jadi pelayan di sini sebagai bayaran makan sore, tapi di sini pakaian baru dan bersih yang tersedia ya cuma itu," ucap Rendy setengah bergurau, setelah mereka kembali berkumpul di private dining room. "Aku tak mau kamu sakit kalau terlalu lama pakai baju basah begitu. Kuharap kamu mengerti."
Zenna tersenyum lemah dan mengucapkan terima kasih. Benaknya masih berkabut dan batinnya kian bergemuruh--ia masih frustasi dengan nasib buruknya sendiri, tapi di sisi lain, ia juga kaget dan bingung dengan pertemuan dan perlakuan tak terduga ini, dari orang yang dulu pernah menyelamatkannya dari upaya pemerkosaan.
Bukannya aku tak senang bisa bertemu lagi dengannya... tapi mengapa tiba-tiba...? Dan mengapa dia sebaik ini padaku, yang bukan siapa-siapa...?
Tanya itu disimpannya rapat-rapat dalam hati. Zenna berusaha tetap sopan dan menjaga jarak meski harus duduk semeja dengan Rendy di ruangan privat mewah yang kini menyajikan aneka masakan lezat khas Korea Selatan.
"Tidak enak, ya?" Rendy menatapnya lekat saat Zenna hanya makan sepotong Bulgogi Kimbap dan beberapa sendok Sundubu Jjigae--sup pedas yang berisi tahu sutra, sayuran, dan telur mentah.
"Enak... enak kok, sungguh," sahut Zenna rikuh.
"Hmm," Rendy meletakkan sumpitnya dan memandang Zenna lembut. "Apa kamu sedang banyak pikiran, Zenna?"
Zenna menunduk, kesulitan memilah kata.
"Sepertinya berat sekali, ya," raut wajah Rendy kini terlihat penuh simpati. "Kalau ada yang bisa kubantu, katakan saja. Jangan sungkan."
Keraguan menggayut dalam diri Zenna, juga rasa sungkan, seperti awan kelabu yang menutupi langit terang. Tetapi sesuatu di kedalaman hatinya terus menjerit, mendesaknya melakukan tindakan drastis untuk memecahkan beban yang selama ini menghantui hidupnya dan ibunya tercinta.
"Aku--maafkan aku--tapi apakah restoran ini masih membuka lowongan, Tuan...?"
Rendy mengerutkan alis.
"Kenapa kamu tanya begitu?"
Zenna menelan ludah untuk menjernihkan suara.
"Kalau--kalau boleh, aku ingin melamar dan bekerja di sini..."
Mata lentik Rendy melebar, ekspresinya seperti pertapa yang tiba-tiba mendapat pencerahan.
"Oh... jadi itu masalahmu? Kamu butuh pekerjaan?"
Wajah Zenna sudah semerah ceri, dan ia tak berani lagi menatap Rendy.
"Maafkan aku, Tuan..."
"Kenapa minta maaf?" Rendy tertawa, jelas menurutnya sikap Zenna menggelikan. "Melamar pekerjaan bukan tindakan kriminal. Dan kamu datang ke orang yang tepat... atau aku yang datang ke kamu di momen yang tepat? Berarti pertemuan kita ini adalah takdir, iya kan?"
Tanggapan Rendy membuat Zenna semakin rikuh dan bingung, dan tak bisa berkata-kata.
"Kamu tak perlu khawatir lagi. Mulai besok, kamu bisa bekerja denganku," kata Rendy tenang.
Zenna seperti mendapat pengumuman bahwa ia menang lotre. Hatinya seketika melambung tinggi.
"B-benarkah itu, Tuan?"
Rendy mengangguk. "Ya, tapi bukan sebagai pelayan restoran ini."
Zenna memandang Rendy bingung. "Lantas... sebagai apa?"
Tiba-tiba Rendy tersenyum lebar. Matanya berkilauan.
"Sebagai istriku."
***