NovelToon NovelToon
Cinta Ribuan Duri

Cinta Ribuan Duri

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / CEO
Popularitas:463
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”

Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.

— Cinta Ribuan Duri —

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 – Permohonan yang Menghina

Ruang tamu rumah keluarga Rafa malam itu terasa tegang. Lampu besar di langit-langit memancarkan cahaya terang, namun suasana di dalam ruangan justru terasa dingin.

Ardila masih berdiri di tengah ruangan dengan Resa yang tertidur di gendongannya. Anak kecil itu terlihat kelelahan setelah menangis cukup lama di pom bensin tadi. Kepalanya bersandar di bahu Ardila dengan napas kecil yang tenang.

Namun orang-orang di hadapannya tidak terlihat tergerak sedikit pun.

Mama Rafa berdiri dengan wajah yang jelas tidak senang. Papa Andreo duduk di kursinya dengan ekspresi serius. Sementara Rafa berdiri beberapa langkah dari Ardila, menatapnya dengan mata yang sulit dibaca.

“Anak itu tidak boleh tinggal di rumah ini,” ulang Mama Rafa dengan nada tegas.

Ardila menelan ludah.

Ia memeluk Resa sedikit lebih erat, seolah takut anak kecil itu akan diambil darinya.

“Ma… dia masih sangat kecil,” kata Ardila pelan.

Mama Rafa langsung menyela.

“Itu bukan masalah kami.”

“Dia sendirian di pom bensin,” lanjut Ardila.

“Tidak ada orang yang mencarinya.”

Papa Andreo akhirnya berbicara dengan suara datar.

“Itu urusan polisi.”

“Seharusnya kamu membawanya ke kantor polisi, bukan ke rumah ini.”

Ardila menggeleng pelan.

“Dia ketakutan.”

Mama Rafa tertawa kecil dengan nada sinis.

“Lalu kamu tiba-tiba merasa jadi penyelamat?”

Ardila menggigit bibirnya.

Ia tahu kata-kata itu menyindirnya.

Namun ia tetap mencoba bertahan.

“Setidaknya biarkan dia tinggal di sini sementara waktu.”

Mama Rafa langsung menggeleng keras.

“Tidak.”

Rafa yang sejak tadi diam akhirnya melangkah mendekat.

“Ardila,” katanya dengan suara rendah.

Ardila menatap suaminya dengan sedikit harapan.

“Mungkin kita bisa membicarakan ini baik-baik—”

Namun Rafa langsung memotong ucapannya.

“Kamu tidak bisa memutuskan hal seperti ini sendiri.”

Ardila menunduk sebentar.

“Aku tidak memutuskan sendiri.”

“Aku hanya memohon.”

Rafa menatap anak kecil yang tertidur di bahu Ardila.

“Kenapa kamu begitu peduli dengan anak itu?”

Ardila terdiam beberapa detik. Kemudian ia berkata pelan, “Karena tidak ada yang peduli padanya.”

Kalimat itu membuat Rafa mengerutkan kening. Namun Mama Rafa langsung berkata dengan nada tajam, “Kami tidak ingin masalah baru di rumah ini.”

Ardila menarik napas panjang.

“Dia bukan masalah.”

Rafa tiba-tiba mendekat satu langkah lagi.

“Kamu keras kepala sekali.”

Ardila mencoba menahan suaranya tetap tenang. “Aku hanya meminta sedikit belas kasihan.”

Rafa menatapnya tajam. “Belas kasihan?”

Ardila mengangguk kecil.

“Iya.”

Namun tiba-tiba Rafa meraih lengan Ardila dengan kasar. Gerakan itu membuat tubuh Ardila sedikit terhuyung.

“Mas…” Ardila terkejut.

“Jangan memaksakan sesuatu yang tidak diinginkan keluargaku.” Nada suara Rafa berubah dingin. Ardila mencoba melepaskan tangannya. “Tolong lepaskan…”

Namun Rafa justru mencengkeram lebih kuat.

“Kamu pikir rumah ini tempat menampung anak jalanan?” Ardila menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Dia bukan anak jalanan.” suaranya terdengar serak seperti ada jarum panjang, yang menusuknya.

Resa sedikit bergerak dalam gendongan Ardila karena gerakan mereka. Ardila langsung menenangkan anak kecil itu dengan mengusap punggungnya.

“Tolong… jangan seperti ini.”

Rafa akhirnya melepaskan tangannya dengan kasar. Ardila hampir kehilangan keseimbangan. Namun tidak ada satu pun yang menegur Rafa.

Mama Rafa hanya menonton dengan wajah dingin. Papa Andreo tetap duduk di kursinya tanpa mengatakan apa pun. Seolah apa yang dilakukan Rafa adalah hal biasa.

Ardila menunduk sebentar.

Hatinya terasa sangat sakit.

Namun ia tidak boleh menyerah.

Ia kembali menatap mereka.

“Baiklah.” Suara Ardila terdengar pelan.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam nada suaranya. Semua orang menatapnya.

Ardila menatap Mama Rafa dan Papa Andreo.

“Kalau Resa tinggal di sini…”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan,

“Bukan hanya gajiku yang akan aku berikan.”

Mama Rafa langsung mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Ardila menelan ludah.

“Setiap bulan Papa juga memberiku uang tambahan.”

Papa Andreo mengangkat alisnya.

“Uang tambahan?”

Ardila mengangguk.

“Uang jajan.”

Ia menatap mereka satu per satu.

“Papa memberikannya agar aku bisa hidup nyaman setelah menikah.”

Mama Rafa mulai tertarik.

“Lalu?”

Ardila menarik napas dalam.

“Kalau Resa boleh tinggal di sini…”

“Uang itu akan aku berikan juga kepada Mama dan Papa.”

Ruangan itu langsung menjadi sunyi.

Mama Rafa saling pandang dengan suaminya.

Rafa menatap Ardila dengan ekspresi tidak percaya.

“Kamu serius?”

Ardila mengangguk pelan.

“Iya.”

Mama Rafa menyilangkan tangannya di dada.

“Berapa?”

Pertanyaan itu membuat hati Ardila terasa semakin berat. Namun ia tetap menjawab.“500 juta, Cukup untuk Mama dan Papa!”

Papa Andreo akhirnya berdiri dari kursinya.

Ia menatap Ardila dengan tatapan tajam.

“Kamu rela melakukan itu hanya untuk anak yang bahkan tidak kamu kenal?”

Ardila menunduk sedikit.

“Dia memanggilku mama.”

Mama Rafa menghela napas panjang.

“Anak kecil sering salah panggil.”

Ardila menggeleng pelan.

“Tapi dia tidak punya siapa-siapa sekarang.”

Rafa menatap wajah istrinya lama.

“Aku tidak pernah mengerti kamu.”

Ardila hanya berkata pelan,

“Aku hanya tidak ingin meninggalkannya.”

Resa yang tertidur di bahunya bergerak sedikit.

“Mama…”

Suara kecil itu terdengar sangat lemah. Namun cukup untuk membuat Ardila semakin yakin dengan keputusannya. Ia memeluk anak kecil itu sedikit lebih erat. “Aku tidak akan membiarkannya sendirian lagi.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!