Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Dering alarm dari ponsel Valerie bergetar hebat di atas nakas, suaranya seolah menembus gendang telinga dan memaksa masuk ke dalam mimpinya. Valerie masih tertidur menelungkup, tenggelam dalam bantal empuknya.
Rambut panjangnya terurai berantakan menutupi wajah, dan dress tanpa lengan yang ia kenakan semalam masih melekat di tubuhnya—bahkan belum sempat ia ganti saking lelahnya.
Dengan mata yang masih terpejam rapat, tangan Valerie meraba-raba permukaan kasur, mencari sumber suara yang sangat mengganggu itu.
Kepalanya terasa berat, dan ia merasa waktu tidurnya baru saja dimulai beberapa menit yang lalu. Kejadian di kamar 120 semalam benar-benar menguras seluruh energinya.
Valerie akhirnya berhasil menyambar ponselnya. Ia mengintip sedikit dari balik kelopak mata yang berat. Angka 07.30 terpampang nyata di layar.
"Ya ampun..." gumamnya parau.
Dengan berat hati, ia mencoba bangkit dan duduk di tepi ranjang, berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi.
Kalau saja pagi ini bukan jadwal mata kuliah penting, Valerie pasti sudah membanting ponselnya dan lanjut tidur sampai siang. Tapi sebagai mahasiswi baru di Universitas Arthemis, ia tidak boleh menghancurkan reputasinya begitu saja.
Meski masih merasa sedikit pening dan jalannya masih sempoyongan, Valerie akhirnya menyeret tubuh rampingnya menuju kamar mandi.
Sambil berjalan, ia sempat melirik sekilas ke arah tas mininya yang tergeletak di meja, tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat penting tertinggal di tangan seorang pria bernama Damian.
Valerie berdiri dengan tatapan kosong di depan lobi apartemennya, sesekali menguap kecil untuk mengusir rasa kantuk yang masih menggelayuti matanya. Sinar matahari pagi terasa terlalu terang bagi matanya yang lelah.
Karena apartemennya terletak di area strategis ibukota, ia tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan taksi. Namun, sebelum taksi pertama muncul, sebuah raungan mesin motor sport memecah keheningan lobi.
Motor itu berhenti tepat di depan Valerie. Pengendaranya mengenakan seragam universitas yang sama, namun dibalut dengan jaket branded yang terlihat mahal.
Pria itu membuka helmnya, menampakkan wajah tampan blasteran Jawa-Amerika yang sudah sangat dikenal di seluruh penjuru Universitas Arthemis.
Dia adalah Aiden Draven, ketua klub paling bergengsi di kampus, kaya raya, dan baru satu bulan ini resmi menyandang status sebagai kekasih Valerie.
Aiden melemparkan senyum manis yang biasanya membuat banyak gadis di kampus histeris.
"Selamat pagi, sayang. Kok mukanya bete gitu sih?" tanya Aiden, sedikit heran melihat kekasihnya yang biasanya tampak segar kini terlihat sangat lesu.
Valerie berusaha memaksakan senyum tipis, lalu melangkah mendekati Aiden. Ia meraih helm cadangan yang disodorkan Aiden. "Pagi juga, sayang. Bukan bete, aku hanya mengantuk berat," jawab Valerie singkat.
Ia tidak mungkin menceritakan petualangan gilanya di kamar 120 semalam.
Valerie naik ke kursi penumpang dan berpegangan pada bahu kokoh Aiden. Begitu ia duduk dengan nyaman, ia langsung melingkarkan tangannya di perut Aiden dan menyandarkan kepalanya di punggung pria itu, mencari posisi paling nyaman untuk memejamkan mata sejenak.
Aiden sempat ingin bertanya lebih jauh—penasaran mengapa Valerie bisa sekelelahan itu—namun melihat Valerie yang sudah bersandar manja, ia mengurungkan niatnya. Ia mengusap lembut tangan Valerie yang melingkar di perutnya sebelum menarik gas perlahan menuju Kampus Arthemis.
Motor sport Aiden menderu pelan saat memasuki gerbang megah Kampus Arthemis. Arsitektur bangunannya yang modern dan elit menjadi simbol prestige di ibukota; tempat di mana masa depan para anak pejabat dan pewaris tahta pengusaha dirancang.
Di antara kerumunan kendaraan mewah lainnya, kehadiran Aiden dan Valerie tetap menjadi pusat perhatian.
Aiden, yang merupakan senior di sana, masih ingat betul bagaimana jantungnya berdebar saat pertama kali melihat Valerie di masa orientasi.
Bagi Aiden, Valerie bukan sekadar mahasiswi baru yang cantik. Ada aura pemberani dan sifat cuek yang justru terlihat sangat berkelas di matanya.
Keangkuhan Valerie yang alami bukanlah sesuatu yang menyebalkan, melainkan sebuah tantangan yang membuatnya terpikat setengah mati hingga akhirnya berhasil menjadikan gadis itu kekasihnya.
Begitu motor berhenti di area parkir khusus, beberapa pasang mata langsung melirik ke arah mereka. Hubungan Aiden dan Valerie sudah menjadi rahasia umum yang memicu rasa iri sekaligus segan.
Aiden memang sangat protektif; tatapan tajamnya seolah memberi peringatan kepada siapa pun yang mencoba mendekati Valerie.
Sejauh ini, tidak ada satu pun mahasiswa yang cukup nekat untuk mencari masalah dengan sang ketua klub bergengsi itu hanya untuk sekadar menyapa Valerie.
"Sudah sampai, Sayang," bisik Aiden lembut sambil menoleh ke belakang, menyadari Valerie masih setia bersandar di punggungnya.
Valerie perlahan membuka matanya, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di bantal apartemen.
Aiden mematikan mesin motornya, lalu segera menyusul Valerie yang baru saja turun. Tanpa banyak bicara, Aiden langsung meraih jemari mungil Valerie, menautkan jari mereka dengan erat, dan menuntun gadis itu menuju gedung fakultasnya.
Valerie hanya mengikuti dengan langkah yang masih agak malas, sesekali matanya terpejam sekejap untuk menghalau rasa kantuk yang membandel.
Aiden menghentikan langkahnya sebentar, menatap wajah Valerie dengan dahi berkerut cemas. Ia tidak tega melihat kekasihnya yang biasanya bersemangat kini terlihat sangat lesu.
"Sayang, kalau kamu memang sengantuk itu, tidur saja lagi di apartemen. Tidak usah masuk kelas dulu, ya?" saran Aiden lembut, suaranya penuh perhatian.
Valerie menggeleng pelan, mencoba menegakkan punggungnya. Sifat perfeksionis dan totalitasnya tidak mengizinkan dia untuk kalah oleh rasa kantuk. "Aku baik-baik saja, Aiden. Aku tidak akan membolos hanya karena kurang tidur," jawabnya tegas, meski suaranya terdengar sedikit parau.
Aiden hanya bisa tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Itulah Valerie yang ia kenal—gadis kesayangannya yang tidak pernah mau terlihat lemah.
Saat mereka tiba di depan ruang kelas Valerie, Aiden melepaskan genggaman tangannya. "Masuklah. Yang semangat ya belajarnya. Oh iya, jam istirahat nanti temui aku di markas, ya?" ucap Aiden sambil mengacak rambut Valerie dengan gemas.
"Aiden! Berantakan tahu!" Valerie memanyunkan bibirnya, mencoba merapikan kembali rambutnya yang sedikit kacau akibat ulah gemas kekasihnya itu. Pemandangan itu justru membuat Aiden tertawa pelan.
"Baiklah, sampai nanti," sahut Valerie akhirnya, memberikan lambaian tangan kecil sebelum melangkah masuk ke dalam kelas.
Valerie segera menuju bangku favoritnya dan duduk. Ia berniat mengambil buku catatan dari dalam tasnya, dan mencoba fokus meski saat ini rasanya ia ingin menghilang dari ruangan itu dan melanjutkan tidurnya.