Seri pertama Cinta Tak Perna Salah mengangkat
Kisah Cinta antara Jeanne dan Jeremy yang berawal cinta itu tumbuh saat mereka usia remaja di sebuah asrama tentara. Kedua orang ini adalah anak tentara ini, Jeanne dan Jeremy sama - sama didik dalam tradisi dan kebiasaan orangtua mereka agar anak - anak ini kuat. Ketika mereka dewasa perpisah terjadi karena tugas dari orangtua mereka. Namun perasaan cinta itu sudah semakin tumbuh. Namun terhalang Karena keakraban orangtua, ditambah orangtua Jeremy menjadikan Jeanne seperti anak perempuan mereka.
Namun takdir berkata lain Jeremy Alexander Purba ditugaskan di Papua, tepatnya di kesatuan yang dulu ditumbuh dan dibesarkan. Dan mereka bertemu kembali setelah Jeanne sudah menjadi dokter, perasaan yang lama tersimpan, kembali bersemi.
Bagaimana kisah cinta Jeanne dan Jeremy ini???
Apakah salah Jeremy mencintai Jeanne yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LMR Part 3
Luka operasi Jemy membaik, meskipun kemarin berdarah lagi, tetapi dirawat oleh istrinya dengan baik. Hari ini juga di sore hari Jemy dan Jean akan kembali ke Jakarta. Semua barang - barang Jemy di masukan di dalam koper. Anggotanya yang lain semalam sudah pulang bersama tersangka menggunakan pesawat tentara.
Jemy tidak mengenakan seragam, dia menggunakan baju preman. Ditemani oleh Musa yang dipercayakan mengawal Jeremy Alexander Purba dan keluarganya. Meskipun mereka seletting, seangkatan namun Jemy memiliki berkat yang lebih dari Tuhan dengan prestasi yang dia raih sehingga kenaikan pangkatnya lebih cepat dari pada Musa sahabatnya.
Jean sudah pamitan dengan mami, papi dan adek Joan. Mereka tidak mengantar, karena Jemy, Jean dan Musa di antar khusus dengan staf kodim.
Jemy mengandeng tangan istrinya, dibelakang ada Musa sahabatnya. Hanya empat puluh lima menit penerbangan. Jemy dan Jean sudah dirumah. Jemy membuka jendela - jendela rumah. Dan mengecek mobil mereka yang dua hari di tinggal.
"Katanya kapten Jemy terluka ya???"
Tetangga Jemy dan Jean, yang juga perwira, istrinya suka sekali kepoi kehidupan Jemy dan Jean. Sebenarnya Jean risih, namun oleh suaminya dia disuruh cuek aja. Jemy hanya tersenyum, sedangkan Jean yang sedang membersihkan car port melihat kearah suaminya. Sementara Kapten Max cepat - cepat menarik istrinya masuk.
"Maafkan istri saya kapten Jemy."
"Tidak masalah sunbae. Ibu mungkin pengen tahu."
Jean tersenyum kearah suaminya. Jean langsung di suruh suaminya bersiap - siap karena mereka mau pergi belanja beberapa kebutuhan rumah tangga. Karena bahan makanan yang kemarin sudah Jean perintahkan buat anggota Jemy membawa ke mess untuk di olah.
Selama tersangka ditahan di kesatuan ini, anggota intel terus berusaha mendapatkan informasi tentang jaringan ini, dari mereka yang di tangkap di Jogja. Dan beberapa hari kemudian Informasi sudah diterima dari tersangka teroris yang di periksa secara khusus. Ternyata cabang mereka ada dimana - mana dan sudah mulai berkembang. Setiap daerah mempunyai ketua. Sedangkan ketua utamanya berpindah - pindah. Kandang di Indonesia, lebih banyak di luar negeri. Foto dan informasi ketua utama sudah ditangan tentara. Jemy juga ikut selama introgasi kepada mereka. Dan strategi penyerangan sudah disiapkan. Pasukan khusus juga sudah disiapkan.
"Abang harus selesaikan misi ini dek."
"Abang mau pergi lagi??"
"Iya sayang."
"Malam ini."
"Abang berangkat kali ini ke Sumatera sayang."
Sementara suaminya mempersiapkan baju - bajunya selama bertugas, Jean memperhatikan suaminya. Mereka baru melakukan beres - beres perlengkapan Jemy, setelah suaminya melakukan setoran wajibnya. Yang katanya itu vitamin bagi tubuhnya. Jean tetap memandang suaminya. Kebetulan Jemy baru selesai mandi masih bertelanjang dada.
"Sayang kenapa??"
"Abang, adek tahu hanya ada, satu ,dua .... Tiga luka di tubuh abang. Pulang ke Jakarta tidak ada luka tambahan ya." Jemy tersenyum melihat istrinya memeriksa tubuhnya dan dia langsung memeluknya.
"Iya sayangku, cintaku, mami dari anak - anakku. I love you. Abang janji akan menjaga tubuh ini, baik - baik sayang."
"Terima kasih. Ahk... Sedih di tinggal lagi." Jean hampir menangis,namun oleh Jemy langsung dicium mesra di bibir dan kedua matanya.
"Setelah selesai kita akan bulan madu sayang, Hanya seminggu abang pergi bertugas. Jaga diri baik - baik ya."
"Iya abang."
Pukul sepuluh malam, suaminya di jemput. Seperti biasa, Jemy akan memberi ciuman mesra dan kemudian dia keluar rumah. Dia tidak mengijinkan Jean keluar rumah, akhirnya Jean hanya melihat dari jendela. Jemy tersenyum, melihat istrinya. Terus terang hatinya sangat berat namun dia harus melakukan tugas ini. wujud tanggung jawabnya sebagai abdi negara membela bangsa.
Seminggu Jean tidak mendapat kabar dari suaminya. Jean tahu bahwa tugas suaminya ini berat. Yang dia lakukan hanya berdoa. Setiap saat ketika berjalan, mandi, memeriksa pasien, sebelum melakukan operasi. Setiap saat dia berdoa mohon perlindungan Tuhan atas suaminya dan rekan - rekan suami.
Hari ini ulang tahun dokter Vincent yang ke dua puluh tujuh. Dokter Vincent mengadakan syukuran kecil - kecilan dengan mentraktir makan tenaga medis di poli mereka pada sebuah restoran yang ada di mall. Selepas berdinas, bagian kami rombongan menuju restoran tersebut. Ada dokter Ricardo yang ikut bersama kami, beliau adalah kepala poliklinik dibagian kami. Seniornya dokter Jean. Selesai makan bersama, yang akan piket langsung ke rumah sakit. Sementara yang bertugas piket tadi makanan mereka dibungkus.
Jean sebenarnya berat hati untuk mau pergi. Namun oleh bujukan dokter Ricardo katanya untuk menghargai undangan orang. Maka Jean pergi. Dia tidak mau membuat rekan kerjanya, dokter Vincent kecewa di hari ulang tahunnya. Jean tidak tahu, bahwa sebenarnya dokter ini, suka dan jatuh cinta padanya saat pertama bertemu, namun dia kalah dari temannya yang lebih mengenal akan Jeanne Sipora Aritonang.
Jean tidak tahu bahwa hari ini juga suaminya sedang berada dalam misi yang membahayakan. Dia harus membebaskan dua anggotanya yang di kurung disalah satu ruang rahasia pembetontak alias teroris. Kiriman vidio yang dibagikan kepada mereka memperlihat dua anggitanya di siksa. Jemy marah dan sedih menjadi satu, dia pun sudah mengatur strategi penyerangan untuk membebaskan anggotanya.
Sekarang Jemy sudah berada diruangan tersembunyi, naasnya salah satu anggotanya yang menjadi sandera kena peluru dari sniper mereka dan akhirnya dia tumbang dalam pelukan Jemy. Dan kembali sniper tersebut ditembak balik oleh penembak jitu dari anggota Jemy. Sertu Anto meninggal dengan senyuman, namun meninggalkan duka bagi Jemy. Sepanjang perjalanan menuju tempat aman, dia menangis sambil memeluk tubuh kaku anggotanya. Anto adalah anggota termuda dipasukan elite yang di pimpin oleh Kapten Jeremy Alexander Purba.
Jean sampai dirumah, dia mendapat kabar bahwa ada satu orang dari tim khusus ada yang meninggal. Jean menangis di kamarnya, dia menyesali kenapa harus keluar bersenang dengan teman - temannya, sedangkan suaminya sedang berjuang disana. Dia berdoa semoga berita itu tidak benar. Sampai pukul sepuluh malam, Jean mendengar bunyi mobil berhenti didepan rumah dan dia mendengar ada sapaan selamat malam buat suaminya.
"Sayang, sudah tidur."
"Abang....." Jean langsung berlari membuka pintu rumah dan berada dalam pelukan suaminya.
"Sayang...... Kenapa? Kenapa menangis."
"Tadi adek dapat kabar dari pos depan bahwa mereka sedang menanti kedatangan jenasah dari salah satu tim khusus."
"Sayang......Mas kehilangan anggota abang. Sertu Anto meninggal waktu kita sudah mau keluar dari tempat itu. Ternyata ada sniper yang menembak ke arah abang, dan Anto melindungi abang." Jean memeluk suaminya dan memberi ciuman sebagai tanda dia peduli akan perjuangan suaminya.
Jean memasak ramen sesuai pesan suaminya. Jean membuat satu porsi ramen yang lengkap. Setelah menemani suaminya makan, mareka kembali ke kamar. Jemy belum bisa tidur karena bayangan Anto masih berada dalam ingatannya. Dia tidak menyangka bahwa Anto akan meninggal dalam pelukannya ketika menerima tembakan yang mengena titik kematiannya. Karena saat itu, Anto tidak menggunakan pelindung seperti mereka.
"Abang sedih sekali sayang. Kenapa dia mau melakukan itu."
Jean menutup mata suaminya dengan tangannya, berusaha menghapus memori itu. Walaupun sesaat, Jean mau suaminya bisa beristirahat karena dia tahu suaminya selama bertugas bisa tidak tidur seminggu. Dia kuat, tubuhnya dilatih untuk bertahan.
Jean memeluk erat tubuh suaminya, membujuknya dan Jemy tertidur dalam pelukan istrinya. Sampai pagi, Jean tidak bisa beranjak sampai jam doanya dia lakukan hanya di tempat tidur. Dalam keadaan memeluk suaminya.
"Sayang, adek bangun siapkan sarapan ya."
"Adek ijin dulu ke rumah sakit. Temani abang dulu."
Jean kuatir mendengar kata itu. Dia dengan cepat memeriksa kondisi suaminya. Ternyata Jemy mulai demam. Ketika Jean melihat tubuh suaminya mengecek takut ada luka di badan namun semua baik saja. Namun ketika melihat ke betis suaminya ada luka yang mengering luarnya namun disekitarnya ada warna merah dan kekuningan. Ketika Jean menyentuh Jemy merespon dengan menarik kakinya.
"Kena apa lukanya sayang."
"Ranting tajam sayang."
"Luka ini akan membuat abang demam. Ini infeksi."
Dengan cepat dia mengambil kotak obatnya. Di tas kerja Jean dia keluarkan perlengkapannya sebagai dokter. Di mulai dengan mengukur tensi suaminya.
"Sayang per tensi kamu rendah. Ini karena kelelahan. Sebentar makan kacang ijo ya. Adek akan buat."
"Iya. Sayang mau apa dengan alat itu."
"Ade mau bedah luka abang yang sudah infeksi."
"Sayang......." Jemy ketakutan.
"Atau adek bawa Abang kerumah sakit aja ya???"
"Ngak mau, sama adek saja." Jean mencium suaminya sangat mesra.
"Abang harus percaya sama istrimu ini. Oke."
Jemy mengangguk, dan bedah ringan pun terjadi. Jean membelah luka itu dan keluar darah bercampur nanah. Kemudian dengan kasa steril dia membersihkan luka itu. Jaringan yang sudah busuk di gunting. Luka yang terlihat kecil itu berubah menjadi besar. Ketika semua jaringan mati itu di angkat. Jean mulai mengoles salep antibiotik dan menutup luka itu dengan pelester antie air.
Jemy melihat bedah ringan yang dilakukan istrinya dia kagum sekalian takut, karena istrinya memagang pisau bedah itu biasa saja.
"Sayang cium abang lagi."
Jean pun mencium suaminya. Kemudian dia memberikan air putih untuk di minum. Jean sudah menghubungi pihak rumah sakit ijin. Karena suaminya demam dan urusan pemakaman bagi anggota suaminya. Jean sudah mengorder bubur ayam di kantin dalam kompleks asrama. Dan dia ke kantin untuk mengambil dua porsi. Ketika membayar, dia melihat tiga anggota khusus suaminya sedang sarapan, Jean langsung membayar apa yang mereka makan. Jack yang melihat menyapa istri komandan.
"Jack, ibu sudah bayar ya."
"Siap ijin ibu, terima kasih."
"Ibu, kaki bapak." Jean tersenyum kearah mereka.
"Sudah ibu bersihkan."
"Terima kasih."