Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Sore hari pun tiba, namun belum benar-benar dikatakan senja, hanya siang yang baru menurun sedikit di jam 2, Xiao Han kini berada di ruang pelatih untuk berbicara dengan Chen Hao.
“Jiang Tao?” Chen Hao mengangkat alis. “Anak nakal itu? Yang hampir dikeluarkan karena bolos dan berantem?”
Xiao Han mengangguk. “Katanya, sih begitu.” Dirinya sedang duduk di kursi lipat, kaki diluruskan karena mulai membengkak, dia memberinya es batu yang dibungkus dengan handuk.
“Dia berbakat,” kata Xiao Han. “Kecepatan di atas rata-rata, refleksnya juga bagus, tapi tidak pernah bermain dalam tim.”
“Karena dia tidak mau.” Chen Hao menghela napas. “Aku sudah tahu anak itu, tidak naik kelas, dan menetap di kelas 7, catatan pelanggarannya lebih dari siswa kelas 9. Mu Qingyao, pusing tujuh keliling menghadapinya si bengal itu.”
“Karena dia bosan.”
“Bosan?”
Xiao Han menatap langit-langit ruang pelatih yang mulai mengelupas catnya. “Dia cepat. Sejauh pengamatanku. Di kelas dan di lapangan, dia lebih cepat dari semua orang. Tapi tidak ada yang bisa mengejarnya. Jadi dia merasa sendiri, hingga bosan datang menyapanya, kemudian membuat onar karena tidak memiliki teman.”
Chen Hao tidak menjawab. Ia mengambil bola bekas di sudut ruangan, memutarnya di ujung jari, gerakan yang sama persis dengan Jiang Tao tadi.
“Kau mirip dengannya,” kata Xiao Han tiba-tiba.
“Apa?”
Keheningan menggantung di antara mereka. Di luar, langit mulai jingga. Suara anak-anak pulang sekolah perlahan menghilang.
“Jiang Tao akan datang,” ucap Xiao Han. “Mungkin besok. Mungkin lusa. Tapi dia akan datang.”
“Kau yakin?”
“Aku yakin.” Xiao Han tersenyum kecil. “Orang yang suka berlari tidak akan pernah bisa diam lama-lama, aku tahu rasanya dirundung sepi.”
Xiao Han terdiam sejenak, semenjak ayahnya meninggal, dia mengurung diri. Tapi, satu orang telah menyelamatkannya saat itu, yang tak lain adalah Shen Yuexi.
Chen Hao akhirnya meletakkan bola. Ia berjalan ke pintu, dan berhenti sebentar di ambangnya.
“Besok,” katanya, “Kalau dia datang, kau yang urus. Aku akan sibuk dengan yang lain.”
“Setuju.”
“Dan Han.”
“Ya?”
“Hati-hati dengan kakimu. Aku tidak butuh asisten pelatih yang terlalu cacat juga, urus anak-anak itu dulu di lapangan.”
Pintu tertutup. Xiao Han tertawa pelan, bukan karena lucu, tapi karena kata ‘cacat’ yang keluar dari mulut Chen Hao terdengar berbeda dari Jiang Tao. Dari Chen Hao, itu terdengar seperti peringatan. Dari Jiang Tao, itu terdengar seperti … meremehkan orang yang belum dia kenal. Mungkin, Coach telah sedikit merubah penilaiannya. Mungkin juga hanya rasa iba biasa. Entahlah, bagi Xiao Han. Pelatih itu sulit untuk ditebak.
Untuk saat ini, kepalanya hanya fokus pada satui, tentang Jiang Tao.
Dia takut aku tidak bisa mengejarnya, pikir Xiao Han tentang Jiang Tao. Dia takut semua orang tidak bisa mengejarnya.
Kemudian, Xiao Han mengeluarkan ponselnya. Pesan dari Shen Yuexi masuk dua jam lalu, stiker kelinci dengan bendera semangat belum dibalas.
Ketak.
Ketik.
Ketak.
Ketik.
Jari-jarinya mulai mengetik.
Klik.
^^^| Hari ini aku ketemu anak nakal. Mirip aku dulu |^^^
Denting!
Balasan stiker kelinci tertawa itu datang lebih cepat dari kalimat selanjutnya.
| Yang nakal? Apa yang mirip? Aku kenal dirimu seperti apa, Han. |
^^^| Aku serius |^^^
^^^| Dia cepat |^^^
^^^| Lebih cepat dari aku seusianya |^^^
^^^| Hanya saja dia tidak punya teman |^^^
Titik tiga bergelombang muncul, dan menghilang, kemudian muncul lagi. Shen Yuexi mengetik ragu.
| Maka kau harus jadi temannya dulu |
Xiao Han menatap layar. Kata-kata Shen Yuexi selalu sederhana. Selalu seperti itu. Tapi, kesederhanaannya selalu menimbang salah, memilah kata agar Xiao Han tak perlu memikirkan banyak hal.
“Dasar ... kalau di depan mata asal blak-blakan. Tapi, kalau di WhatsApp kayak beda orang.” Sudut bibir Xiao Han melengkung, tapi indah.
Denting!
“Stiker WhatsApp-nya kenapa kelinci terus? Sekarang kelinci mengangguk.” Xiao Han tertawa kecil, memasukkan ponsel ke saku kembali.
Kakinya berjalan menuju lapangan.
***
Di luar lapangan yang langitnya sudah disulam semburat jingga nan indah. Kepala Xiao Han masih memikirkan satu orang, bayang imajinya tentang Jiang Tao yang masih berdiri di tengah lapangan dengan bola kempisnya, yang berkata aku tidak butuh, tapi ... matanya berkata sebaliknya.
Besok, pikir Xiao Han. Besok aku akan tunggu.
Derap langkahnya menuju lapangan, melanjutkan pekerjaannya sebagai asisten kepelatihan di Hangzhou Xuejun.
Waktu berputar menuju pukul setengah tiga.
“Hehhh ... siapa mereka?” kata Xiao Han lembut, irisinya menyapu wajah anak-anak yang menunggu.
Sudah ada delapan anak yang berdiri di sana. Dua wajah baru berdiri di belakang Wei Ying, terlihat canggung dengan pakaian olahraga yang terlalu besar atau terlalu kecil.
“Kak Han!” Wei Ying melambai. “Ini teman-teman sekelasku. Mereka mau coba latihan.”
Xiao Han menghitung cepat. Delapan. Ditambah empat lagi yang belum dapat. Masih kurang dari target minimal dua belas.
“Bagus,” katanya. “Coach Chen belum datang, jadi kita pemanasan dulu.”
Xiao Han memimpin pemanasan sederhana, peregangan, lari kecil mengelilingi lapangan, lalu latihan passing berpasangan. Gerakannya masih timpang, tapi ia tidak menggunakan tongkat hari ini. Hanya penopang di betis yang masih terpasang di balik celana training.
Ding.
Sistem muncul ketika Xiao Han mulai mengamati dua wajah yang baru datang.
...\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=...
...Huang Lei, Kelas 7...
...Rating: D...
...Speed: 55...
...Shooting: 30...
...Dribbling: 45...
...Stamina: 48...
...Teamwork: 40...
...Potential: D...
...Growth Rate: D...
...\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=...
Xiao Han menyipit. Sun Xiao. Anak laki-laki dengan rambut agak panjang yang menutupi dahi, tubuhnya kecil dan lincah. Statistiknya tidak setinggi Wei Ying, tapi potensinya B-. Untuk anak yang baru pertama kali muncul, ini cukup menjanjikan.
...\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=...
...Sun Xiao, Kelas 7...
...Rating: C-...
...Speed: 72...
...Shooting: 50...
...Dribbling: 58...
...Stamina: 60...
...Teamwork: 62...
...Potential: B-...
...Growth Rate: B...
...\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=...
“Sun Xiao,” panggil Xiao Han saat latihan passing usai.
Anak itu mendekat dengan langkah ragu. “Iya, Pelatih?”
“Kau pernah main bola sebelumnya?”
“Pernah, waktu SD. Tapi berhenti karena orang tua aku suruh fokus belajar.”
“Sekarang kenapa mau ikut?”
Sun Xiao menunduk. “Aku … aku kangen main bola.”
Xiao Han tersenyum. “Bagus. Tunjukkan padaku apa yang kau bisa.”
Latihan dilanjutkan dengan permainan kecil 4 lawan 4. Xiao Han sengaja menempatkan Wei Ying di satu tim dengan Lin Feng.
Lin Feng terlihat lebih pendiam, jarang berbicara. Bahkan, Xiao Han belum pernah mengobrol dengannya empat mata.
Sementara Sun Xiao di tim lawan. Dirinya ingin melihat bagaimana keduanya bereaksi di bawah tekanan.
Hasilnya menarik. Wei Ying tetap menjadi pengatur permainan yang tenang, tapi Sun Xiao menunjukkan kecepatan yang mengesankan. Dua kali ia melewati bek lawan dengan gerakan tubuh yang sederhana tapi efektif. Sayangnya, umpan terakhirnya masih kurang akurat.
“Dia butuh latihan finishing dan passing,” gumam Xiao Han pada dirinya sendiri, mencatat di buku.
Dari belakang tubuh Xiao Han, terdengar derap langkah yang santai.
Chen Hao datang saat latihan sudah berjalan setengah jam. Ia berdiri di pinggir lapangan, mengamati Xiao Han yang mondar-mandir di sisi lapangan, memberi instruksi sederhana pada anak-anak.
“Jangan lihat bola terus. Lihat teman kalian. Sepak bola dimainkan dengan mata, bukan hanya kaki.”
“Wei Ying, coba umpan pendek ke Sun Xiao. Dia punya kecepatan, manfaatkan itu.”
“Li Wei, kau terlalu terburu-buru. Tahan bola dulu, tunggu dukungan.”
Chen Hao mendekat. “Kau punya bakat jadi pelatih,” katanya tanpa basa-basi.
Xiao Han terkejut. “Apa?”
“Cara kau bicara pada mereka. Sederhana. Tidak berlebihan. Mereka mendengarkan.” Chen Hao menatap lapangan. “Itu yang paling penting. Bukan taktik rumit, bukan formasi. Tapi kemampuan membuat anak-anak mendengarkan, tapi ... belum cukup bagimu anak muda.”
Xiao Han tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya menerima pujian itu dengan anggukan kecil.
“Tapi,” Chen Hao melanjutkan. “Kita masih butuh empat pemain lagi. Delapan tidak cukup untuk tim inti plus cadangan.”
“Empat?”
“Ya, target Bu Ya Lin itu dua belas. Tapi idealnya kita butuh enam belas lagi, bukan empat. Untuk latihan yang efektif, kita butuh minimal dua puluh empat untuk latihan sebelas lawan sebelas, dan dua cadangan di masing-masing tim. Enam belas adalah angka yang realistis.”
Xiao Han mengingat misi sistem. [ Cari 16 pemain berbakat ]. Ternyata Chen Hao punya target yang sama.
“Aku, kan sudah bilang ingin keliling kelas,” kata Xiao Han. “Mungkin ada anak-anak yang suka bola tapi tidak berani datang.”
“Hmm, lakukan tugasmu dengan baik, anak muda.”
“Baiklah, kaki ini masih bisa berjalan.” Xiao Han tersenyum. “Jika lelah, aku istirahat.”
Chen Hao menggeleng pelan, tapi ada senyum di sudut bibirnya. “Jangan memaksakan diri. Nanti pacarmu marah.”
Xiao Han hampir tersedak. “Dia bukan pacarku.”
“Hmm ... anak muda jaman sekarang suka berbohong. Terserah kau saja.” Chen Hao berbalik, melangkah ke tengah lapangan. “Wei Ying! Ajarin Sun Xiao teknik passing yang benar. Lihat posisi kaki saat mengumpan!”
Xiao Han menghela napas, tapi ia tersenyum. Sesuatu mulai terbangun di lapangan beton yang kemarin terasa sunyi.
Dia membuka buku catatannya, menulis daftar nama di halaman baru.
...1. Wei Ying (7) - CM - S...
...2. Wang Lei (8) - CB - C...
...3. Li Wei (8) - LW - D+...
...4. Maling'sheng (9) - ST - C-...
...5. Hu Tao (7) - GK - D...
...6. Lin Feng (8) - D...
...7. Huang Lei (7) - D...
...8. Sun Xiao (7) - ? - C-...
Butuh empat belas lagi. Setidaknya, misi dari sistem.
Dirinya menutup buku, melirik langit yang mulai beranjak jingga. Di kejauhan, di jendela ruang B lantai dua, ia melihat bayangan sesosok tubuh yang berdiri. Mu Qingyao. Masih memperhatikan.
Xiao Han tidak peduli. Dirinya punya target. Dia punya waktu satu bulan. Dan punya Wei Ying, dan anak-anak lain yang mulai percaya bahwa sepak bola bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Di kejauhan, Xiao Han tak sengaja menangkap seorang anak yang bersembunyi, menonton kegiatan ekstrakurikuler berlangsung.
Dialah Jiang Tao.
Sepertinya, dia tak menyadari Xiao Han melihatnya.