bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi
itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia
ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ketenangan di mata nya
Beberapa menit setelah percakapan itu berlalu—
Arabella mulai bergerak pelan dalam tidurnya.
Alisnya sedikit mengernyit, lalu perlahan matanya terbuka.
Pandangan pertamanya—
ibunya.
Yang kini sudah sadar.
“Bu…”
Suaranya serak, nyaris berbisik.
Dalam hitungan detik, Arabella langsung bangkit dan memeluk ibunya erat.
Seolah takut kehilangan lagi.
“Ibu… ibu udah sadar…”
Tangannya gemetar.
Memeluk dengan rindu yang selama ini ia tahan.
Ibunya mengusap rambut Arabella pelan.
“Iya, Nak… ibu di sini…”
Suaranya lemah, tapi hangat.
Arabella memejamkan mata.
Menikmati momen itu.
Namun beberapa detik kemudian—
ia tersadar sesuatu.
Ia menoleh ke kanan.
Ke sofa.
Kosong.
Dahinya sedikit berkerut.
“Yoga… mana, Bu?”
Ibunya tersenyum tipis.
“Dia keluar sebentar…”
Arabella menatap ibunya, menunggu.
“Dia jemput Althea… sama Naur dan Tya.”
Mata Arabella sedikit melebar.
“Mereka… ke sini?”
“Iya…”
Ibunya mengangguk pelan.
“Katanya kamu pasti butuh mereka.”
Hati Arabella menghangat.
Tanpa ia sadari—
Yoga memikirkan sampai sejauh itu.
—
Sekitar setengah jam berlalu—
Suasana rumah sakit yang tadinya tenang—
tiba-tiba pecah oleh suara langkah kaki tergesa.
“Ibuuuuu!”
Dua suara remaja bersamaan.
Pintu terbuka cepat.
Naur dan Tya masuk hampir bersamaan, langsung berlari ke arah ranjang.
Mereka memeluk ibunya erat.
“Ibu nggak apa-apa kan?!”
“Kami kangen…”
Suara mereka bercampur antara lega dan takut.
Ibunya Arabella tersenyum haru.
“Iya… ibu nggak apa-apa…”
Tangannya bergetar membalas pelukan anak-anaknya.
Di belakang mereka—
Althea masuk dengan langkah cepat.
“Ara!”
Ia langsung memeluk Arabella tanpa ragu.
“Kamu gimana? Kamu nggak apa-apa kan?”
Nada suaranya penuh khawatir.
Arabella mengangguk kecil dalam pelukan itu.
“Aku… aku nggak apa-apa…”
Namun—
alih-alih benar-benar fokus—
tatapan Arabella perlahan bergeser.
Ke arah pintu.
Dan di sanalah—
Yoga muncul.
Baru saja masuk ke ruangan.
Langkahnya tenang.
Namun matanya langsung mencari satu orang.
Arabella.
Dan saat mata mereka bertemu—
semuanya seakan melambat.
Arabella masih berada dalam pelukan Althea.
Namun tatapannya terkunci pada Yoga.
Begitu juga Yoga.
Tidak ada kata.
Tidak ada gerakan.
Hanya tatapan.
Yang entah kenapa—
terasa begitu nyaman.
Seolah dunia di sekitar mereka menghilang sejenak.
Tidak ada rumah sakit.
Tidak ada masalah.
Tidak ada perjanjian.
Hanya mereka berdua—
yang saling menemukan ketenangan dalam diam.
Yoga tersenyum tipis.
Hampir tak terlihat.
Namun cukup untuk membuat hati Arabella bergetar.
Dan untuk pertama kalinya—
Arabella tidak menghindar.
Ia membalas tatapan itu.
Dengan perasaan yang perlahan mulai ia akui—
meski masih ia sembunyikan dalam hati.
Althea perlahan melepaskan pelukannya.
Seketika—
tatapan antara Arabella dan Yoga terputus.
Seolah mereka baru saja tersadar dari sesuatu yang terlalu dalam.
Althea mengangkat sebuah tas kecil.
“Ara, ini… aku bawain baju ganti kamu.”
Arabella menerimanya pelan.
“Makasih, Thea…”
Suasana sempat hening.
Tidak ada yang bicara.
Hanya suara alat medis yang samar terdengar.
Hingga akhirnya—
Yoga berdehem kecil, memecah keheningan.
“Ara…”
Arabella menoleh.
“Kamu makan dulu, ya.”
Nada suaranya lembut, tapi tegas.
“Kamu belum makan dari tadi.”
Ia lalu melirik ke arah Althea.
“Thea, tolong ajak dia ke kantin.”
Althea langsung mengangguk.
“Siap, bos.”
Sedikit bercanda.
Arabella ragu sejenak.
Matanya menatap Yoga.
Seolah ingin memastikan.
Lalu ia melangkah mendekat.
Berhenti tepat di hadapan Yoga.
“Kamu… nggak ikut?”
Yoga menggeleng pelan.
“Nggak.”
“Aku di sini aja… jagain ibu kamu.”
Ia tersenyum tipis.
“Lagipula… ini waktu kamu sama teman kamu.”
Nada suaranya santai.
“Terlalu banyak aku nanti ganggu.”
Arabella terdiam.
Ada rasa hangat—
tapi juga aneh—
di hatinya.
Ia mengangguk kecil.
“Yaudah…”
Lalu sedikit menunduk.
“Nanti… aku bawain makan buat kamu.”
Yoga menatapnya beberapa detik.
Lalu mengangguk.
“Iya.”
Sederhana.
Tapi cukup.
—
Althea yang melihat itu dari samping—
langsung menyeringai jahil.
“Cieee…”
Ia mendekat ke Arabella.
“Perhatian banget sama pacarnya.”
Arabella langsung refleks menyentuh tangan Althea.
“Thea…”
Nada suaranya setengah malu, setengah peringatan.
“Ayo jalan!”
Ia langsung menarik tangan sahabatnya itu keluar.
Namun belum sempat benar-benar pergi—
dari dalam ruangan—
dua suara teriak terdengar.
“Kak!”
“Aku juga mau makanan!”
Naur dan Tya kompak berseru.
Membuat suasana langsung mencair.
Arabella menoleh.
“Iya! Iya!”
Ia mengangkat tangan.
“Nanti kakak bawain!”
Kedua adiknya langsung tersenyum lebar.
“Jangan lama ya!”
“Laper!”
Arabella tertawa kecil.
“Iya, cerewet…”
—
Pintu pun tertutup.
Arabella dan Althea berjalan menuju kantin.
Meninggalkan ruangan itu.
Di dalam—
Yoga duduk di kursi dekat ranjang.
Menatap ibu Arabella.
Sementara di luar—
Arabella berjalan dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Di satu sisi—
semuanya terasa seperti nyata.
Perhatian.
Kehangatan.
Kebersamaan.
Namun di sisi lain—
ia tahu.
Semua ini…
berawal dari sebuah perjanjian.
Dan entah kenapa—
itu justru yang paling membuat hatinya tidak tenang.
...****************...
Di kantin rumah sakit—
suasananya tidak terlalu ramai.
Hanya beberapa orang yang makan dengan tenang.
Arabella dan Althea duduk berhadapan.
Makanan sudah tersaji di depan mereka.
Namun—
bukannya langsung makan—
Althea justru menatap Arabella penuh arti.
Seperti menahan sesuatu sejak tadi.
“Ara…”
Arabella yang sedang mengaduk makanannya menoleh.
“Hm?”
Althea menyipitkan mata.
“Jujur deh.”
Nada suaranya mulai serius.
“Hubungan kamu sama Yoga sekarang… gimana sih?”
Pertanyaan itu membuat tangan Arabella berhenti.
Sendoknya diam di udara.
Ia menunduk.
Beberapa detik.
Seolah menyusun jawaban.
Lalu—
dengan suara pelan—
“Aku… nyaman.”
Althea langsung fokus.
Arabella melanjutkan.
“Bahkan… terlalu nyaman.”
Ia tersenyum kecil.
Namun ada keraguan di sana.
“Aku… jatuh cinta, Thea.”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Jujur.
Tanpa ditutup-tutupi.
Althea langsung membelalakkan mata.
“Serius kamu?!”
Arabella mengangguk pelan.
Namun belum selesai—
ia kembali bicara.
“Tadi siang…”
Althea sedikit maju.
“Iya? Kenapa?”
Arabella menatap meja.
“Aku sebenarnya… nggak bener-bener tidur.”
Althea langsung terdiam.
Arabella menarik napas pelan.
“Aku denger… percakapan Yoga sama ibu.”
Seketika—
ekspresi Althea berubah.
“Terus?!”
Nada suaranya penuh penasaran.
Arabella mengangkat wajahnya.
Matanya sedikit berkaca.
“Dia… bilang dia jatuh cinta sama aku.”
Hening.
Beberapa detik.
Althea benar-benar tidak bereaksi.
Seolah otaknya butuh waktu mencerna.
“…Hah?!”
Akhirnya ia bersuara.
“Serius?! Yoga yang itu?!”
Arabella mengangguk.
“Iya…”
“Aku denger sendiri…”
Suaranya lirih.
“Dia bilang dia nggak mau lihat aku sedih…”
“Dia sakit kalau aku nangis…”
Tangannya sedikit menggenggam sendok.
“Dan dia… pengen jaga aku.”
Althea langsung menutup mulutnya sendiri.
Kaget.
Benar-benar kaget.
“Ini… ini…”
Ia sampai kehabisan kata.
“Ini gila sih, Ra…”
Arabella tertawa kecil.
Namun pahit.
“Iya… aku juga ngerasa gitu.”
Althea bersandar di kursi.
Menatap sahabatnya itu lama.
“Dari awal kalian berantem…”
“Terus jadi perjanjian…”
“Sekarang malah… saling jatuh cinta?”
Ia menggeleng pelan.
“Ini bukan rumit lagi, Ra…”
“Ini udah kayak drama banget.”
Arabella tersenyum tipis.
Namun matanya tidak sepenuhnya bahagia.
“Masalahnya…”
Ia menunduk lagi.
“Status kita masih sama, Thea.”
“Perjanjian.”
Satu kata.
Namun berat.
Althea langsung paham.
Wajahnya berubah lebih serius.
“Kamu takut?”
Arabella mengangguk kecil.
“Aku takut… semua ini cuma sementara.”
Suaranya semakin pelan.
“Takut kalau nanti selesai…”
“…semuanya ikut selesai.”
Hening.
Althea menatapnya lembut.
Lalu menghela napas.
“Denger ya, Ara.”
Nada suaranya tegas tapi hangat.
“Perasaan itu nggak bisa bohong.”
Arabella perlahan mengangkat wajahnya.
“Kalau dia beneran sayang sama kamu…”
“Dan kamu juga sama dia…”
Althea sedikit tersenyum.
“Perjanjian itu… cuma awal.”
Ia menunjuk dada Arabella.
“Yang sekarang itu… nyata.”
Arabella terdiam.
Kata-kata itu masuk—
dan menetap.
Namun tetap saja—
di hatinya—
ada satu hal yang belum bisa ia abaikan.
Sebuah rahasia.
Yang belum diketahui banyak orang.
Dan bisa menghancurkan semuanya—
kalau suatu saat terungkap.
Arabella menatap makanannya.
Lalu berbisik pelan—
“Semoga…”