Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membenci Dia yang Dicinta
Lampu-lampu string light berwarna kuning temaram menghiasi taman belakang gedung fakultas, menciptakan atmosfer yang seharusnya hangat untuk acara Malam Keakraban. Dentum musik akustik dari panggung kecil di sudut area menyatu dengan suara tawa mahasiswa yang bergerombol di sekitar meja prasmanan. Namun, bagi Liana Shine, udara malam itu terasa seberat timah.
Liana berdiri di dekat pilar besar, mengenakan gaun mini hitam yang elegan namun tertutup. Ia terus meremas gelas plastik berisi jus jeruk di tangannya hingga permukaannya berembun. Matanya sesekali melirik ke arah meja jajaran staf pengajar, di mana Morgan Bruggman duduk dengan postur tegak yang sempurna. Pria itu tampak sedang menyesap kopinya, namun Liana tahu bahwa di balik kacamata bacanya yang berkilat, mata Morgan tidak pernah benar-benar lepas dari gerak-geriknya.
"Kau tampak seperti orang yang sedang menunggu eksekusi mati, Liana," bisik seorang teman sekelasnya, namun Liana hanya membalas dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Pikiran Liana terus berputar pada map hitam yang ditunjukkan Morgan pagi tadi. Angka-angka transaksi, mutasi rekening atas namanya yang mengalir ke akun judi, dan foto-foto Derby di arena balap liar terus membayangi matanya. Setiap kali ia mengingat wajah Derby yang tersenyum manis saat meminta uang—dengan alasan pengobatan ibunya yang ternyata sudah meninggal—rasa mual bercampur amarah yang murni bergejolak di ulu hatinya.
Tiba-tiba, suara tawa dan dentum musik di area pintu masuk berubah menjadi keributan kecil. Beberapa mahasiswa senior tampak mencoba menahan seseorang.
"Heii! Ini acara internal fakultas ekonomi! Mana kartu mahasiswamu?" teriak salah satu panitia.
"Persetan dengan kartu! Aku mencari pacarku!"
Liana tersentak. Suara serak dan angkuh itu sangat ia kenali. Derby Neeson melangkah masuk ke tengah taman dengan gaya berandalan khasnya—jaket denim lusuh, rambut berantakan, dan aroma alkohol yang samar tercium bahkan dari jarak beberapa meter. Sebagai mahasiswa Teknik Mesin dari kampus sebelah, kehadirannya di acara ini adalah sebuah pelanggaran mencolok.
"Liana!" Derby berseru saat matanya menangkap sosok gadis itu. Ia berjalan membelah kerumunan mahasiswa dengan langkah yang sempoyongan namun penuh tekad, mengabaikan tatapan sinis dari para mahasiswa ekonomi yang merasa terganggu.
Morgan Bruggman perlahan meletakkan cangkir kopinya. Ia berdiri dari kursinya, merapikan kancing jasnya dengan gerakan yang sangat lambat dan metodis—sebuah isyarat predator yang sedang bersiap menghadapi gangguan.
Derby sampai di depan Liana dan langsung mencoba merangkul bahunya. "Kenapa kau tidak membalas pesanku seharian ini, Sayang? Dan kenapa kau berpakaian sesopan ini? Kau terlihat seperti mahasiswi teladan yang membosankan."
Liana membeku. Dulu, ia mungkin akan merasa terlindungi oleh sikap posesif Derby ini. Namun sekarang, saat tangan Derby menyentuh bahunya, Liana merasa seolah-olah ada seekor ulat bulu yang menjijikkan sedang merayap di kulitnya. Ia menyentakkan bahunya dengan kasar, membuat tangan Derby terlepas di udara.
"Jangan sentuh aku, Derby," desis Liana. Suaranya rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan.
Derby mengernyit, tawanya menghilang digantikan oleh rahang yang mengeras. "Ada apa denganmu? Oh, aku tahu. Dosen robot itu pasti sudah mencuci otakmu lagi, kan?" Derby menoleh ke arah meja dosen dan menunjuk Morgan dengan jarinya. "Heii, Profesor! Apa yang kau katakan pada pacarku sampai dia jadi aneh begini?"
Beberapa petugas keamanan kampus mulai mendekat, namun Morgan memberikan isyarat tangan agar mereka menunggu. Morgan melangkah maju, melewati barisan meja dengan kewibawaan yang menindas, hingga ia berdiri hanya dua meter di depan Derby dan Liana.
"Saudara Derby," ucap Morgan, suaranya tenang namun memiliki resonansi yang membuat orang-orang di sekitarnya terdiam. "Anda masuk tanpa undangan ke acara privat. Saya sarankan Anda pergi sebelum saya meminta pihak kepolisian untuk memproses tindakan gangguan ketertiban ini."
"Polisi? Kau selalu mengancam dengan hukum dan aturan!" Derby melangkah maju, menantang Morgan tepat di wajahnya. Ia merogoh saku jaketnya, seolah hendak mengambil sesuatu, yang membuat Liana refleks menarik lengan baju Morgan—sebuah gerakan bawah sadar untuk melindungi suaminya.
Melihat Liana justru melindungi Morgan, kemarahan Derby memuncak. "Liana! Apa-apaan kau? Aku ini pacarmu! Aku yang menemanimu di klub, aku yang mendengarkan keluhanmu soal kakakmu yang brengsek itu! Dan kau lebih memilih membela dosen kaku ini?"
Liana melepaskan lengan baju Morgan, lalu melangkah maju hingga ia berdiri tepat di depan Derby. Ia menatap Derby dengan tatapan yang sangat tajam, sebuah kebencian yang mendalam terpancar dari matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Uang itu, Derby," ucap Liana, suaranya bergetar namun jernih.
Derby tertegun. "Apa? Uang apa?"
"Uang untuk 'pengobatan ibumu'. Uang untuk 'modal usahamu'. Berapa banyak yang sudah kau ambil dari rekeningku untuk judi dan balapan liarmu?" Liana menampar dada Derby dengan telapak tangannya, tidak keras secara fisik, namun secara simbolis menghancurkan kebohongan pria itu. "Kau pembohong besar! Kau bahkan menggunakan nama ibumu yang sudah meninggal untuk menipuku!"
Wajah Derby seketika berubah pucat. Ia melirik ke arah Morgan, menyadari dari mana informasi itu berasal. "Liana, dengarkan aku ... aku bisa jelaskan ... aku hanya butuh modal sedikit lagi untuk menang dan mengganti semuanya—"
"Ganti? Dengan apa? Dengan foto-foto mesra yang kau kirimkan pada Pak Morgan?!" Liana berteriak, mengabaikan perkataan mereka padanya.
Liana mengambil gelas jus jeruk di tangannya dan menyiramkan isinya tepat ke wajah Derby. Cairan jingga itu menetes dari rambut dan hidung Derby, membuatnya tampak sangat menyedihkan dan hina di depan umum.
"Pergi dari sini, Derby. Jika aku melihat wajahmu lagi, aku sendiri yang akan memastikan kau membusuk di penjara," ancam Liana. Ia membalikkan badannya, tidak mau lagi melihat pria yang pernah ia anggap sebagai cintanya.
Derby yang merasa dipermalukan di depan umum mencoba meraih rambut Liana, namun sebelum tangannya sampai, Morgan sudah mencengkeram pergelangan tangan Derby dengan kekuatan yang luar biasa.
"Cukup," geram Morgan. Ia memutar tangan Derby hingga pria itu mengerang kesakitan, lalu dengan satu dorongan yang terkontrol, ia mendorong Derby ke arah petugas keamanan. "Bawa dia keluar. Pastikan dia tidak menginjakkan kaki di area universitas ini lagi. Selamanya."
Derby diseret keluar oleh petugas keamanan sambil terus memaki dan meneriakkan nama Liana. Suasana malam keakraban itu mendadak menjadi sangat sunyi. Semua mata tertuju pada Liana yang berdiri gemetar, menahan tangis dan amarah.
Morgan tidak mempedulikan tatapan mahasiswa lain. Ia melepaskan jas abu-abunya dan menyampirkannya ke bahu Liana, menutupi gaun hitamnya yang kini terasa terlalu dingin.
"Mari kita pulang, Liana," bisik Morgan lembut, namun tetap dengan nada yang tidak terbantahkan.
Liana tidak membantah. Ia membiarkan Morgan menuntunnya menuju area parkir. Di dalam mobil, Liana hanya diam menatap jendela, membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya jatuh membasahi pipi. Rasa benci pada Derby masih ada, namun kini rasa bersalah pada Morgan mulai merayap.
"Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal tentang uang itu?" tanya Liana lirih saat mobil mulai melaju.
Morgan tetap fokus pada jalanan, tangannya yang terbalut perban memegang kemudi dengan mantap. "Karena aku ingin kau melihatnya sendiri, Liana. Jika aku memberitahumu tanpa bukti, kau hanya akan menganggapku sebagai dosen kejam yang ingin memisahkanmu dari kebahagiaanmu. Sekarang kau tahu ... kebahagiaanmu itu dibangun di atas penipuan."
Liana memejamkan matanya, merapatkan jas Morgan yang masih beraroma kayu cendana dan kopi. Ia menyadari bahwa di balik semua aturan dan kekakuan pria ini, Morgan adalah satu-satunya orang yang tidak pernah membohonginya, bahkan jika kebenaran itu menyakitkan.
"Aku membencinya, Morgan. Aku benar-benar membencinya," bisik Liana.
"Bagus," jawab Morgan singkat. Ia melirik Liana sejenak, sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya. "Kebencian adalah langkah awal menuju kewarasan. Dan besok, kita akan mulai membereskan sisa-sisa 'debu' itu dari hidupmu."
Malam itu, Liana menyadari bahwa meskipun ia dipaksa masuk ke dalam pernikahan kontrak ini, ia baru saja diselamatkan dari penjara yang jauh lebih mengerikan. Di sampingnya, Morgan Bruggman tetap menjadi sang 'Dewa Logika' yang kaku, namun bagi Liana, kekakuan itu kini terasa seperti benteng yang paling aman di dunia.