NovelToon NovelToon
Pendekar Racun Nirwana

Pendekar Racun Nirwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.

Semua orang mengira ia telah mati.

Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.

Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

“Ahh!!”

Lili Wijaya menjerit dan meloncat mundur seperti kelinci yang terkejut. Tangannya refleks menutup bibirnya yang terasa hangat, sementara matanya yang indah terbuka lebar.

Semburat merah cepat menjalar dari pipinya hingga ke lehernya.

“Kau… Kau… Kau menciumnya lagi!!”

Arka Wijaya menatapnya dengan wajah polos, namun ada sedikit ekspresi terluka di matanya.

“Kau bereaksi sama seperti biasanya,” katanya santai.

“Waktu kita masih kecil, kita sering memainkan permainan cium mencium yang kau sukai. Tapi sekarang, setiap kali aku mencoba menciummu, kau selalu terkejut seperti ini.”

“Ka–kau tahu itu terjadi saat kita masih anak-anak!” wajah Lili Wijaya memerah seperti bunga mawar.

“Sekarang kita sudah dewasa! Tidak boleh sembarangan!”

Ia menunjuk Arka dengan jari gemetar.

“Kau… kau sebentar lagi punya istri! Mulai sekarang kau hanya boleh mencium istrimu!”

Arka memiringkan kepala.

“Kenapa?”

“Karena aku bibimu!” Lili menghentakkan kaki dengan kesal.

“Kalau begitu… apa yang harus kulakukan kalau aku ingin menciummu?” Arka berkata sambil menopang dagunya dengan tangan, menatapnya dengan senyum nakal.

Gadis lima belas tahun di hadapannya sama sekali tidak terlihat memiliki wibawa seorang “bibi kecil.”

Lili mendengus kesal.

“Kalau begitu… kau harus menikah denganku!”

“Eh?”

Arka membelalakkan mata.

“Kau itu bibiku. Mana mungkin aku menikahimu…”

“Bahkan kau sendiri tahu itu!” Lili mendengus sambil memalingkan wajah.

“Kalau kau berani mencuri ciuman lagi, akan kuberitahu istrimu. Biar dia yang mengurusmu!”

Ia menatap Arka dengan ekspresi menang.

Saat itu suara Paman Harun terdengar dari luar.

“Tuan muda, apakah sudah siap? Sudah waktunya menjemput pengantin.”

“Ya, sebentar lagi.”

Arka baru saja hendak melangkah keluar ketika Lili tiba-tiba menarik tangannya.

“Arka! Tunggu dulu.”

Ekspresinya berubah serius.

“Sebelum pergi, ulangi janji yang kita buat kemarin. Kata demi kata.”

Arka berpikir sejenak.

“Baiklah…”

“Setelah menikah dengan Ratna Pradana, aku tidak akan melupakan Bibi kecil hanya karena aku punya istri.”

“Aku akan tetap menghabiskan waktu bersamamu seperti dulu, akan mendengarkan panggilanmu, dan akan datang setiap kali kau memanggilku.”

Ia berhenti sejenak.

“Kurasa tidak ada yang terlewat.”

“Hehe… anak baik.”

Lili tersenyum manis.

Namun tangannya masih menggenggam tangan Arka.

“Tapi hari ini kita menambahkan satu lagi.”

Ia menatapnya dengan mata berkilat.

“Walaupun Ratna Pradana menjadi istrimu… di hatimu dia tidak boleh melebihi aku!”

“Ucapkan sekarang juga!”

Arka menatap matanya yang jernih.

“Kalau kau menciumku, aku akan berjanji.”

“Kalau begitu… menikahlah denganku.”

“……”

Arka langsung menyerah.

“Tuan muda! Apakah masih belum siap?” suara Paman Harun kembali terdengar dari luar.

Waktu keberangkatan hampir tiba.

Arka memegang gagang pintu.

Namun sebelum membukanya, ia berbisik pelan,

“Aku tidak bisa membuat janji itu.”

Lili terdiam.

“Karena di hatiku… kaulah yang sudah menjadi nomor satu.”

“Bahkan jika ada seratus Ratna Pradana, mereka tidak akan bisa menyusulmu.”

“Kau tidak tergantikan.”

Setelah berkata demikian, Arka mendorong pintu dan keluar.

Lili berdiri terpaku beberapa saat.

Lalu perlahan sebuah senyum manis muncul di bibirnya.

Ia melompat kecil seperti gadis yang baru mendapatkan permen kesukaannya.

Begitu Arka keluar dari kamar, rombongan pernikahan yang megah telah menunggunya.

Kuda-kuda dihias dengan kain merah dan emas.

Genderang dan gong sudah siap ditabuh.

Paman Harun tersenyum ramah.

“Tuan muda, silakan naik kuda.”

“Sepanjang perjalanan aku akan melindungimu sekuat tenaga.”

“Namun hari ini adalah hari besar tuan muda. Aku yakin semuanya akan berjalan baik.”

“Terima kasih, Paman Harun.”

Arka naik ke atas kuda.

Namun tiba-tiba sebuah suara lembut terdengar dari samping.

“Sepertinya aku datang tepat waktu.”

Arka menoleh.

Dua pemuda sedang berjalan mendekat.

Yang berbicara adalah seorang pemuda tampan berusia sekitar dua puluh tahun.

Ia memiliki wajah elegan dengan senyum ramah.

“Saudara Arka Wijaya hendak menjemput pengantin sekarang? Selamat.”

Arka sedikit mengernyit.

“Oh… Saudara Sandi Wijaya dan Saudara Daru Wijaya. Kalian datang untuk mengantarku?”

Sandi Wijaya adalah putra pemimpin Keluarga Wijaya.

Pada usia dua puluh tahun, baik penampilan, kecerdasan, maupun kemampuan tenaga dalamnya berada di puncak generasi muda keluarga.

Ia telah mencapai tingkat ketiga Alam Tenaga Roh.

Ia dianggap sebagai harapan masa depan keluarga.

Namun yang lebih membuatnya disukai orang adalah sikapnya yang selalu ramah.

Bahkan kepada Arka yang dianggap paling lemah di keluarga ia selalu bersikap sopan.

Setidaknya… di permukaan.

Pemuda di belakangnya adalah Daru Wijaya, cucu bungsu Tetua Kedua keluarga.

Usianya sembilan belas tahun dan berada di tingkat kesembilan Alam Dasar Tenaga Dalam.

Sejak kecil ia selalu mengikuti Sandi.

Namun sikapnya terhadap Arka jauh lebih dingin.

“Haha tentu saja,” kata Sandi sambil tertawa.

“Hari ini kau akan menikahi permata paling berharga di Kota Tirta Awan.”

“Ini bukan hanya peristiwa besar bagi keluarga kita, tapi juga bagi seluruh kota.”

Ia tersenyum.

“Sebagai saudaramu, tentu aku ikut bahagia.”

“Walau harus kuakui… aku juga sedikit iri.”

Arka tertawa.

“Saudara Sandi terlalu merendah.”

“Dengan bakatmu, semua wanita di Kota Tirta Awan bisa kau pilih.”

Paman Harun berkata pelan,

“Tuan muda, waktunya berangkat.”

Sandi mengangguk.

“Pergilah, Saudara Arka.”

“Kami menantikan saat kau membawa Ratna Pradana, permata Kota Tirta Awan, ke dalam keluarga kita.”

Arka mengangguk.

Rombongan pengantin pun bergerak.

Tabuhan genderang dan gong menggema.

Rombongan itu menuju kediaman Keluarga Pradana.

Begitu Arka menghilang dari pandangan…

Senyum di wajah Sandi perlahan menghilang.

Ekspresinya berubah dingin.

Tiba-tiba—

PLAK!

Ia menampar wajah Daru Wijaya dengan keras.

“Tak berguna!”

Daru Wijaya langsung berlutut gemetar.

“A-aku sudah memasukkan Serbuk Pembunuh Jantung ke dalam buburnya!”

“Aku juga menerima kabar bahwa dia benar-benar jatuh pingsan!”

“A-aku tidak tahu kenapa dia masih hidup…”

“Hmph!”

Wajah Sandi menjadi gelap.

“Aku menghabiskan banyak uang untuk racun yang bahkan Tabib Slamet tidak punya penawarnya.”

“Dan kau justru mengacaukannya!”

Ia mengepalkan tangan.

“Apa kau ingin aku melihat sendiri Ratna Pradana menikah dengan sampah seperti Arka Wijaya itu?”

Daru Wijaya buru-buru berkata,

“Kita masih punya kesempatan di jalan pernikahan!”

“Banyak bangsawan muda dari keluarga lain yang menginginkan Ratna Pradana!”

“Kalau kita sedikit memancing mereka—”

“Diam!” potong Sandi.

“Kalau memang semudah itu, untuk apa aku repot mendapatkan racun itu?”

Ia menatap tajam ke arah jalan yang telah ditinggalkan rombongan pengantin.

“Arka memang sampah…”

“Tapi kakeknya berada di puncak Alam Tenaga Roh.”

“Siapa yang berani menyentuh cucunya?”

“Belum lagi Paman Harun yang mengawal sendiri.”

Ia menggertakkan gigi.

“Tidak akan ada yang berani membuat masalah hari ini.”

Daru Wijaya berkata hati-hati,

“Bos… sebenarnya Bos tidak perlu terlalu khawatir.”

“Dengan sifat Ratna Pradana… apakah dia benar-benar akan menyukai Arka?”

“Satu-satunya alasan dia menikah dengannya adalah perjanjian lama.”

“Bahkan setelah menikah… Arka mungkin tidak akan pernah bisa menyentuhnya.”

Mata Sandi sedikit menyipit.

“Setelah Ratna Pradana masuk ke keluarga kita…”

“Kesempatan Bos untuk bertemu dengannya justru lebih banyak.”

“Sampah seperti Arka tidak mungkin dibandingkan dengan Bos.”

“Cepat atau lambat… Ratna Pradana pasti akan terkesan.”

Mendengar itu, ekspresi Sandi perlahan berubah.

Ia menyentuh ujung hidungnya.

Lalu tersenyum tipis.

“Masuk akal…”

“Sepertinya gagal membunuh sampah itu… justru bisa menjadi hal yang baik.”

1
Uswatun Hasanah
lanjutkan
Uswatun Hasanah
lanjut
Uswatun Hasanah
bagus... up
Jojo Shua
gasss
Sastra Aksara: Gasss terus 😄😄
total 1 replies
Oktafianto Gendut
alurnya kerennn
Sastra Aksara: Terimakasih kak. Terus Support yaa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!