NovelToon NovelToon
This Is? Another World?

This Is? Another World?

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Akademi Sihir / Fantasi Isekai
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Raphiel-Viel

Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3.7 Kolaborasi Tiga Saudari

Pagi itu lapangan latihan Akademi Luminiella terasa lebih hidup dari biasanya. Matahari sudah naik cukup tinggi. Cahayanya keemasan menyentuh rumput yang masih basah embun. Beberapa siswa lain sudah brkumpul di pinggir. Mereka membawa tongkat latihan atau pedang kayu. Suara logam bergesekan samar terdengar dari kelompok yang sedang pemanasan.

Cae brdiridi tengah lapangan. Jubah latihan biru mudanya berkibar ringan. Rambut biru tuanya diikat tinggi. Ia memegang gulungan catatan kecil. Jari-jarinya sdikit memutih karena terlalu erat mencengkeram. Napasnya teratur. Tapi ada ketegangan kecil di bahunya. Hari ini adalah hari demonstrasi akhir. Dua minggu latihan sudah berlalu. Sekarang semua akan dinilai.

Ely berdiri di sebelah kanannya. Katana bersarung tergantung di pinggang. Tangan kanannya menyentuh gagangnya secara refleks. Ia mengenakan baju latihan sederhana dari gudang akademi. Lengan bajunya digulung hingga siku. Matanya menatap ke depan dengan tenang. Ada kewaspadaan kecil di dalamnya. Ia sudah siap. Selalu siap.

Nyx berdiri di sebelah kiri Cae. Tubuhnya terlihat lebih seimbang. Ekor hitamnya melengkung pelan. Telinganya berdiri tegak. Ia menangkap suara-suara di sekitar: bisik-bisik siswa di pinggir, hembusan angin yang menyapu rumput, detak jantung Cae yang sedikit cepat.

Guru Lumina berdiri di pinggir panggung kayu kecil. Jubahnya bergerak pelan ditiup angin. Ia mengangkat tangan. Suaranya menggema.

“Kelompok Caeril Fulvus. Mulai.”

Cae melangkah maju. Ia menatapGuru Lumina. Lalu ke penonton. Puluhan siswa duduk di bangku kayu panjang. Beberapa berbisik. Beberapa menulis catatan. Ia bisa mendengar suara bisik-bisik itu. Beberapa terdengar sinis.

Cae mengabaikan suara itu. Ia menatap Ely dan Nyx. Kedua gadis itu mengangguk pelan. Mereka sudah siap.

Cae mengangkat tangan kanan. Angin kecil mulai berputar di telapak tangannya. Gentle Gale yang sudah terlatih. Ia bicara dengan suara yang jelas.

“Kami akan menunjukkan kolaborasi tiga jenis kekuatan: buff dari Ely, buff malam dari Nyx, dan sihir menyerang angin dari saya. Semua digabungkan dalam praktik nyata.”

Ely melangkah maju. Ia mengeluarkan katana dari sarung. Cahaya matahari pagi memantul di bilahnya. Ia mengambil posisi dasar. Kaki kiri maju. Kaki kanan belakang. Tubuh sedikit condong ke depan. Gerakan itu sederhana. Tapi penuh keseimbangan.Ia sudah mengajari Cae dan Nyx gerakan dasar itu selama beberapa malam terakhir. Gerakan yang efisien. Tidak buangtenaga. Fokus pada ketepatan.

Cae mengulurkan tangan. Angin berputar lebih cepat. Gentle Gale menyentuh tubuh Ely. Gerakan Ely menjadi lebih cepat. Tebasan vertikal pertama terasa mulus. Tanpa hambatan. Nyx mengangkat tangan kanan. Cahaya perak samar muncul di telapaknya. Buff malam aktif. Peningkatan indra pendengaran membuat Ely bisa mendengar hembusan angin di sekitar pedangnya lebih jelas. Ia bisa merasakan kapan angin membantu atau menghambat.

Ely melanjutkan. Tebasan horizontal. Tusukan lurus. Gerakan kaki. Setiap gerakan terasa lebih efisien. Buff dari Cae membuatnya lebih cepat. Buff dari Nyx membuatnya lebih peka terhadap lingkungan. Sihir menyerang dari Cae berupa hembusan angin tajam yang mengikuti setiap tebasan Ely. Angin itu tidak hanya mempercepat. Tapi juga menambah kekuatan tebasan.

Penonton mulai diam. Bisik-bisik berhenti. Beberapa siswa mencondongkan tubuh ke depan. Guru Lumina mengangguk pelan. Matanya tidak lepas dari gerakan mereka.

Tapi tiba-tiba sesuatu terjadi.

Buff Ely melemah. Gerakan pedangnya terasa lambat. Nyx merasa indra pendengarannya terganggu. Suara-suara di sekitar menjadi kabur. Cae merasakan aliran mana-nya terputus sejenak. Angin yang tadi berputar di sekitar Ely mulai berantakan.

Cae langsung sadar. Ada sabotase. Mantra kecil dari luar lapangan. Ia menoleh ke arah penonton. Matanya menyipit. Ia melihat Varian de Luthaine berdiri di baris belakang. Tangan kanannya tersembunyi di balik jubah. Jari-jarinya bergerak pelan. Membuat pola kecil.

Cae menahan emosi. Ia tidak ingin menunjukkan kepanikan. Ia menutup mata sejenak. Fokus. Ia mengingat mantra Shared Sense. Ia mengulurkan tangan ke arah Nyx dan Ely. “Shared Sense,” bisiknya.

Angin kecil berputar lagi. Cahaya hijau samar muncul. Koneksi terbentuk. Cae merasakan apa yang Nyx rasakan: indra pendengaran yang terganggu. Tapi Nyx sudah mulai memfilter suara-suara itu. Nyx merasakan apa yang Cae rasakan: aliran mana yang terputus. Tapi Cae sudah mulai menariknya kembali. Ely merasakan apa yang mereka rasakan: ketegangan di udara. Tapi ia tetap tenang.

Nyx membuka mata. Ia menatap ke arah Varian. “Dia,” bisiknya. “Di baris belakang. Mantra sabotase dari jarak jauh.”

Ely mengangguk. Ia melangkah maju. Katana masih di tangan. Ia tidak menarik bilahnya. Hanya memegang sarung. Ia menatap Varian langsung. Tatapannya dingin. Varian mulai merasa tidak nyaman. Ia menurunkan tangan. Mantra sabotase terputus.

Buff Ely kembali normal. Gerakan pedangnya cepat lagi. Ia melanjutkan demonstrasi. Tebasan terakhir: gerakan vertikal yang diikuti hembusan angin tajam dari Cae. Angin itu menyapu lapangan. Membuat debu beterbangan kecil. Penonton terdiam. Beberapa bertepuk tangan pelan.

Guru Lumina mengangkat tangan. “Selesai.”

Trio turun dari panggung. Guru Lumina menatap mereka. “Presentasi kalian bagus. Meskipun ada gangguan. Aku akan investigasi siapa pelakunya.”

Caeril mengangguk. “Terima kasih, Guru.”

Mereka berjalan menjauh dari lapangan. Nyx berjalan di tengah. Ekornya melengkung pelan. Telinganya masih berdiri tegak. Ely berjalan di sebelah kanan. Nyx di sebelah kiri. Cae merasa dada terasa lebih ringan. Ia tahu… mereka berhasil. Karena mereka bertiga.

Cae menoleh ke Nyx. “Kau baik-baik saja?”

Nyx mengangguk. “Aku baik-baik saja. Aku sudah terbiasa dengan kata-kata seperti itu. Tapi sekarang… aku tidak takut lagi. Karena kalian ada.”

Ely mengangguk pelan. “Kita sudah membuktikan. Kita lebih kuat bersama.”

Cae tersenyum kecil. Senyum yang tulus. “Terima kasih. Kalian berdua… kalian sudah seperti keluarga bagiku.”

Mereka berjalan keluar dari lapangan. Angin sore berhembus lagi. Daun-daun bergesekan. Suara itu sekarang terasa seperti dukungan.

Mereka tahu… rival tidak akan berhenti. Tapi ikatan mereka semakin kuat.

Dan itu sudah cukup.

1
Wahyuningsih
q mampir thor
Raphiel-Viell: Iyah, makasih
total 1 replies
Raphiel-Viell
Mohon dikoreksi jika ada penulisan yg kurang Rapih dan kurang tepat
Bern
Menarik ya dengan berbeda perspektif gini
Nana
Gaya penulisan nya agak kaki, tapi it's okay sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!