Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.
Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.
Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PLAYBOY YANG TERLALU GIGIH
Beberapa hari setelah kejadian di parkiran showroom, Anela benar-benar mencoba menjalani hidupnya seperti biasa.
Ia tidak membalas pesan Rico.
Tidak mengangkat telepon.
Bahkan memblokir akun Instagram pria itu selama dua hari… sebelum akhirnya membuka blokir lagi karena penasaran.
Dan itu membuatnya semakin kesal pada dirinya sendiri.
Karena ternyata Rico tidak berhenti.
Justru sebaliknya.
Ia semakin sering muncul.
Suatu malam, sekitar jam delapan, Anela baru saja selesai memandikan Ziyo.
Anak itu sudah memakai piyama dinosaurus kesayangannya dan sedang duduk di lantai ruang tamu sambil menyusun lego.
“Ma, lihat… ini robot,” kata Ziyo bangga.
Anela tersenyum.
“Wah keren.”
Ia berjalan ke dapur kecil untuk mengambil air minum.
Rumahnya sederhana tapi hangat. Lampu kuning lembut, sofa kecil, mainan anak tersebar di karpet.
Kehidupan yang tenang.
Dan ia sangat menjaga kehidupan itu.
Ponselnya berbunyi di meja makan.
Nama di layar membuatnya langsung menghela napas panjang.
Rico.
Ia menatap layar cukup lama.
Lalu menolak panggilan.
Beberapa detik kemudian muncul pesan.
Rico:
Aku di depan rumahmu.
Anela langsung menegang.
“Apa?”
Ia berjalan cepat ke jendela ruang tamu dan sedikit membuka tirai.
Di bawah lampu jalan, sebuah mobil hitam parkir di depan rumah.
Dan Rico berdiri di sampingnya.
Tangan di saku.
Santai.
Seolah ini hal paling normal di dunia.
Anela langsung membuka pintu rumah dengan wajah kesal.
“Rico!”
Pria itu menoleh.
Ekspresinya langsung berubah sedikit lega saat melihatnya.
“Hai.”
Anela berjalan cepat menghampirinya.
“Ssst! Jangan keras-keras!”
Rico mengangkat alis.
“Kamu takut tetangga?”
“Aku takut anakku bangun!”
Rico terdiam sesaat.
“Anakmu di rumah?”
“Ya tentu saja di rumah!”
Anela melipat tangan di dada.
“Kamu ngapain datang ke sini?”
Rico menatapnya sebentar.
“Aku pengen ketemu kamu.”
“Jam delapan malam?”
“Kamu gak jawab pesan.”
Anela memijat pelipisnya.
“Ya memang sengaja.”
“Kenapa?”
“Karena aku lagi mencoba menjauh dari kamu!”
Rico terlihat benar-benar mempertimbangkan kalimat itu.
“Sejauh ini gak berhasil.”
Anela mendengus kesal.
“Kamu datang ke rumah perempuan malam-malam itu gak sopan.”
“Aku cuma di luar.”
“Masih sama saja!”
Dari dalam rumah terdengar suara kecil.
“Ma?”
Anela langsung membeku.
Ziyo.
Anak itu muncul di pintu dengan mata penasaran.
“Ma, siapa itu?”
Rico juga langsung menoleh.
Mata mereka bertemu.
Anela bergerak cepat.
Ia menutup sedikit pandangan Rico dengan tubuhnya dan menoleh ke anaknya.
“Masuk lagi sayang, Mama sebentar.”
“Tamu ya?”
“Iya.”
Ziyo menatap Rico sebentar dengan rasa ingin tahu khas anak kecil.
Lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Pintu ditutup lagi.
Anela menghela napas panjang.
Lalu menatap Rico dengan tajam.
“Kamu hampir ketemu anakku.”
Rico terlihat sedikit bersalah sekarang.
“Maaf.”
Itu pertama kalinya ia terdengar benar-benar tidak santai.
Anela menatapnya beberapa detik.
“Aku gak mau hidupku jadi drama.”
“Aku juga gak mau.”
“Dunia kamu penuh drama.”
Rico menggeleng pelan.
“Dunia aku penuh kamera. Beda.”
Anela tertawa sinis.
“Ya sama saja.”
Sunyi beberapa detik.
Lampu jalan membuat bayangan mereka jatuh panjang di aspal.
Rico akhirnya berkata pelan,
“Aku gak datang buat bikin hidupmu ribut.”
“Lalu buat apa?”
“Karena kamu menghindar.”
“Ya memang.”
“Dan aku gak suka.”
Anela mengangkat alis.
“Kenapa? Biasanya perempuan yang ngejar kamu kan?”
Rico menatapnya cukup lama.
Lalu berkata jujur,
“Biasanya mereka gak bikin aku kepikiran seperti ini.”
Kalimat itu membuat Anela sedikit kehilangan ritme.
Ia cepat memalingkan wajah.
“Aku punya anak. Aku punya hidup yang stabil sekarang.”
“Aku tahu.”
“Dan aku gak bisa sembarangan masukin orang ke hidup itu.”
Rico mengangguk pelan.
“Aku ngerti.”
“Tapi kamu tetap datang ke sini.”
“Karena kamu juga gak benar-benar nutup pintunya.”
Anela menatapnya lagi.
“Siapa bilang?”
Rico menunjuk dadanya.
“Feeling.”
Anela hampir tertawa.
“Feeling kamu sering salah?”
“Jarang.”
Mereka berdiri saling menatap beberapa detik.
Ada ketegangan yang aneh di udara.
Anela masih kesal.
Masih curiga.
Tapi juga… tidak bisa memungkiri sesuatu yang semakin jelas.
Pria ini tidak menyerah.
Dan semakin ia mencoba menjauh—
Semakin Rico mendekat.
Akhirnya Anela berkata pelan,
“Pulanglah.”
Rico menghela napas.
“Kalau aku datang lagi?”
Anela menatapnya tajam.
“Kamu keras kepala ya?”
Rico tersenyum kecil.
“Banget.”
Anela memutar mata.
“Ya sudah. Lakukan sesukamu.”
Ia berbalik hendak masuk rumah.
Tapi sebelum menutup pintu, Rico berkata:
“Anela.”
Ia berhenti.
“Ya?”
Rico berdiri di bawah lampu jalan, menatapnya dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya.
“Aku gak ngejar kamu cuma karena kamu cantik.”
Sunyi sebentar.
“Lalu?”
“Karena kamu satu-satunya perempuan yang benar-benar nyuruh aku pergi.”
Anela menggeleng kecil.
“Kalau begitu kamu harus belajar menerima penolakan.”
Rico tersenyum tipis.
“Sayangnya aku atlet.”
“Kenapa?”
“Kami dilatih buat gak berhenti sebelum menang.”
Anela mendesah.
Lalu menutup pintu rumah.
Namun saat ia bersandar di balik pintu, jantungnya masih berdetak lebih cepat dari seharusnya.
Karena semakin ia mencoba menjaga jarak—
Semakin jelas satu hal:
Rico tidak seperti laki-laki lain yang mudah menyerah.
Dan bagian kecil dalam dirinya mulai bertanya sesuatu yang berbahaya.
Bagaimana kalau… pria ini benar-benar serius?