Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilau yang Membutakan
Klub malam The X tidak pernah seramai malam itu. Musik house berdentum keras, namun di sudut bar, Cindy justru merasa dunianya sedang runtuh. Ia berdiri dengan gaun perak yang tampak lusuh di matanya, melayani tamu dengan gerakan lambat dan tidak fokus. Pikirannya melayang pada saldo bank yang nyaris nol dan ancaman kolektor yang mulai meneleponnya setiap jam.
"Cindy! Kamu melamun lagi? Tamu di meja delapan butuh pesanan ulang, dan kamu justru menumpahkan minuman ke baju mereka tadi!" bentak manajernya.
Cindy tidak menyahut. Ia hanya merogoh ponselnya, mengetik pesan penuh amarah kepada Indra untuk kesekian kalinya. Ia butuh pelarian. Ia butuh Indra untuk datang, membawanya pergi dari kekacauan ini, dan memberikan uang lagi agar ia bisa bernapas sedikit lebih lega.
Indra, yang saat itu sedang berada di kantor dengan tumpukan dokumen audit yang membuatnya hampir gila, akhirnya menyerah. Ia tahu ia tidak bisa membiarkan Cindy mengamuk. Dengan perasaan muak dan terpaksa, ia menyetujui pertemuan itu.
Namun, sepanjang malam mereka di apartemen, pikiran Indra tidak ada di sana. Ia justru membayangkan Gendis. Ia membayangkan istrinya yang kini jauh lebih bersinar, wanita yang kini sering menghiasi sampul majalah bisnis sebagai The Most Influential Female Executive of the Year.
Di sampul majalah itu, Gendis terlihat memukau. Ia mengenakan setelan jas custom berwarna off-white, rambutnya yang panjang tertata sempurna dengan belahan tengah yang tegas, dan tatapan matanya tajam, penuh otoritas. Indra sering melihat majalah itu tergeletak di meja tamu, seolah Gendis sengaja menaruhnya di sana untuk mengingatkan Indra akan apa yang perlahan-lahan hilang dari jangkauannya.
Sementara Indra terpuruk dalam kecemasan, Gendis justru sedang berada di puncak dunianya. Hari-harinya dipenuhi dengan rapat-rapat strategis, bertemu dengan para CEO lintas industri, dan negosiasi besar yang nilainya miliaran rupiah. Pesona Gendis begitu magnetis hingga banyak pengusaha papan atas, investor muda, hingga diplomat mencoba menarik perhatiannya.
Setiap kali Gendis membuka ponselnya, layar itu dipenuhi oleh undangan makan malam, ajakan liburan eksklusif, hingga kiriman bunga yang memenuhi kediaman mereka. Gendis tidak pernah menanggapi satu pun. Ia hanya membiarkan pesan-pesan itu bertumpuk sebagai bukti bahwa nilai jualnya di pasar jauh lebih tinggi daripada pria pengecut yang menjadi suaminya.
Indra, yang diam-diam sering memeriksa ponsel Gendis saat istrinya tertidur hanya untuk memastikan tidak ada pengkhianatan fisik justru mendapati dirinya sendiri yang terbakar cemburu. Melihat deretan pesan pemujaan dari pria-pria yang jauh lebih kaya, lebih tampan, dan lebih berkuasa daripada dirinya, membuat Indra sadar, ia sedang memegang sesuatu yang terlalu berharga, dan ia tidak punya kapasitas untuk menjaganya.
Siang hari di Grand Indonesia, pusat perbelanjaan paling prestisius di Jakarta, Gendis sedang berjalan santai. Ia mengenakan blouse sutra dengan potongan leher yang elegan dan celana kulot mahal yang membuat langkahnya terlihat sangat berwibawa. Tas bermerek dan sepatu hak tinggi dari desainer Italia yang ia kenakan berkilau di bawah lampu mall.
Cindy, yang kebetulan sedang berada di sana untuk mengembalikan barang hasil shopping ilegalnya demi uang tunai, melihat sosok itu. Kebenciannya memuncak. Ia tidak bisa melihat Gendis berjalan dengan begitu anggun sementara dirinya berantakan.
Dengan sengaja, Cindy mempercepat langkahnya dan menubrukkan tubuhnya ke bahu Gendis dengan keras, berharap wanita itu jatuh dan terlihat konyol.
Bruk!
Gendis sedikit terhuyung, namun dengan keseimbangan yang luar biasa, ia tidak jatuh. Ia justru berbalik dengan gerakan yang sangat tenang. Ia menatap Cindy dari atas ke bawah, seolah sedang menilai kualitas kain pakaian yang dikenakan wanita itu.
"Ternyata kamu lagi," ucap Gendis dengan senyum tipis yang meremehkan. "Wah, kita akan sering bertemu sepertinya. Meskipun aku tidak mengenalmu, apa kau begitu mengagumiku sehingga selalu mengikutiku ke mana pun aku pergi?"
Cindy tertawa sinis, meski ada rasa gentar di dadanya. "Mengagumimu? Jangan mimpi! Aku hanya jijik melihatmu berpura-pura suci padahal suamimu setiap malam ada di bawah kakiku!"
Gendis tidak menanggapi omong kosong itu. Ia justru menangkap tatapan iri dari mata Cindy yang tengah memperhatikan sepatu mahalnya tanpa bisa dicegah oleh perempuan itu. Tak urung pandangan Gendis jadi ikut turun ke arah sepatu hak tinggi miliknya yang sangat mahal, sebuah karya seni dari kulit ular eksotis yang bertabur kristal Swarovski. Sepatu itu sangat mencolok dan memancarkan kemewahan yang tak tersentuh.
Gendis melepas sepatu itu dengan gerakan lambat yang sengaja dipertontonkan. Ia menatap sepatu itu sejenak, lalu menatap Cindy dengan senyum tipis yang penuh empati palsu.
"Ambillah untukmu jika mau," ucap Gendis dengan suara yang lembut namun menghina. "Aku yakin kau tak akan mampu membelinya, dan melihatmu terus mengikutiku dengan penampilan seperti itu membuatku kasihan. Ambil saja, kau hanya seorang perempuan malam, dan aku rasa kau butuh sedikit 'kilau' untuk menutupi harga dirimu yang murah."
Cindy mematung. Harga dirinya ditampar di depan keramaian. Ia ingin berteriak, ia ingin memaki, namun ia tidak bisa bergerak.
Kemegahan Gendis begitu nyata, dan sepatu itu, ia tahu harganya mungkin setara dengan gaji manajer klubnya selama satu tahun.
Gendis tidak menunggu jawaban. Ia berbalik dan berjalan menuju toko sepatu desainer kelas atas di depan mereka dengan kaki tanpa alas, namun tetap terlihat seperti seorang dewi.
Ia masuk ke dalam toko dengan kepala tegak, sementara Cindy masih berdiri mematung dengan tatapan penuh kemarahan yang membeku. Gendis membeli sepatu baru dengan santai, sementara pelayan toko yang mengenalinya melayani dengan penuh hormat. Begitu ia keluar dengan sepatu barunya, ia melewati Cindy lagi. Sebelum pergi, Gendis berhenti sebentar dan memanggil pelayan toko yang tadi melayaninya.
"Permisi," ujar Gendis pada pelayan itu sambil menunjuk sepatu yang ia tinggalkan di lantai tadi. "Ambillah sepatu itu. Harganya sangat mahal, tapi aku tidak butuh lagi. Aku tidak bermaksud menghinamu, aku hanya ingin memberikan sesuatu yang bernilai. Perempuan itu," Gendis melirik Cindy sekilas dengan tatapan dingin, "tampaknya terlalu malu untuk mengambil barang pemberianku."
Gendis melangkah pergi, meninggalkan Cindy yang kini menjadi pusat perhatian orang-orang yang lewat. Sementara sang pelayan merasa seperti sedang kejatuhan jackpot dan segera mengamankan benda mahal yang sudah diberikan secara cuma-cuma oleh Gendis. Cindy merasa sangat kecil. Ia tidak mengambil sepatu itu, namun ia juga tidak bisa memaki. Ia merasa benar-benar kalah.
Cindy kini menyadari satu hal yang paling menakutkan, Gendis tidak menganggapnya sebagai lawan. Gendis menganggapnya sebagai debu yang bisa disapu kapan saja. Dan debu tidak pernah menang melawan pemegang sapu.
Sementara itu, Indra yang baru saja menerima laporan dari departemen keuangan bahwa terjadi ketidaksesuaian dalam audit internal, mendapati ponselnya penuh dengan ancaman Cindy. Ia merasa terpojok dari segala sisi.
Di rumah, ia takut kehilangan Gendis yang semakin tak tersentuh. Di kantor, ia takut akan hasil audit yang semakin membengkak. Dan di luar, Cindy terus menuntut uang yang kini sudah mulai sulit ia dapatkan tanpa meninggalkan jejak korupsi yang lebih besar.
Malam itu, Indra pulang ke rumah dengan perasaan hancur. Ia melihat Gendis sedang duduk di ruang kerja, mengetik sesuatu di laptop dengan wajah yang begitu damai.
"Gendis," panggil Indra dengan suara serak.
Gendis menoleh. Ia menutup laptopnya dengan gerakan yang tidak terburu-buru. "Ya, Mas? Ada apa? Kamu kelihatan berantakan sekali."
"Apakah, apakah kamu masih mencintaiku?" tanya Indra dengan nada memohon yang menyedihkan.
Gendis menatap suaminya lama. Ia tidak langsung menjawab. Ia justru tersenyum kecil, senyum yang sama dengan yang ia berikan pada Cindy di mal tadi.
"Cinta adalah investasi, Mas. Dan dalam sebuah investasi, jika manajemennya buruk dan integritasnya nol, maka kerugian adalah konsekuensi yang tak terelakkan."
Gendis beranjak berdiri, melewati Indra dengan aroma parfum mahal yang tertinggal di udara, meninggalkan pria itu sendirian dalam ruangan yang terasa semakin dingin dan kosong.