NovelToon NovelToon
My People

My People

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.

Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.

Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.

"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"

Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.

Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"

Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.

"Kamu bangun..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Menikah

Saat Bai Xuning keluar ke dapur untuk menyiapkan sarapan hangat bagi mereka berdua, Hu Lian berusaha dengan susah payah untuk bangun dari ranjang.

Setiap gerakan masih membuatnya merasakan rasa pegal di tubuhnya, namun dia tetap bersikeras untuk berdiri dan mengambil beberapa berkas penting dari dalam lemari miliknya—di antaranya dokumen identitas mereka berdua yang sudah dia siapkan jauh-jauh hari.

Saat duduk di tepi ranjang sambil menata berkas-berkas itu, sebuah pemikiran tegas muncul di benaknya.

Aku harus menikah dengannya sebelum benar-benar hamil.

Dia sangat yakin dengan hal itu—dengan fisik dan energi yang dimiliki Bai Xuning, bahkan kemarin malam dia merasakan bagaimana bagian pria itu benar-benar bisa mencapai dalam hingga dekat rahimnya.

Dalam waktu dua bulan saja, kemungkinan besar perutnya akan mulai membesar jika mereka terus berbagi kedekatan seperti itu.

Hu Lian tidak ingin mengalami kehamilan sebelum menikah, jadi dia telah mengambil keputusan yang tegas. Hari ini, tepat pada hari ini, dia akan mengajak Bai Xuning pergi langsung ke kantor catatan sipil untuk melakukan pernikahan resmi.

Dia menarik napas dalam-dalam, mengatur pakaiannya dengan hati-hati.Bai Xuning masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi sarapan hangat—terdapat bubur ayam hangat, telur mata sapi, dan secangkir teh hangat yang tidak lagi mengandung bahan herbal khusus.

Namun wajahnya langsung menunjukkan ekspresi tertekan dan khawatir saat melihat Hu Lian yang sudah berganti pakaian dengan sangat rapi, mengenakan baju yang lebih formal dari biasanya.

"..Sayang kamu mau kemana?" tanya dia dengan suara yang sedikit gelisah, segera menaruh nampan di atas meja dan mendekati kekasihnya.

Dia melihat tumpukan berkas di atas tempat tidur dan rasanya semakin khawatir, khawatir kalau Hu Lian marah dan ingin pergi meninggalkannya.

Hu Lian melihatnya dengan ekspresi yang tenang Dia menggeleng perlahan dan menarik tangannya agar mereka bisa duduk bersama di tepi ranjang.

"Jangan khawatir, aku tidak akan pergi kemana-mana," ucapnya dengan suara yang lembut namun jelas. "Aku sudah mengambil keputusan penting, Xuning... hari ini kita akan pergi ke kantor catatan sipil untuk menikah."

Dia kemudian menjelaskan alasan di balik keputusannya dengan jujur, mulai dari kekhawatirannya tentang kehamilan hingga harapannya untuk membangun kehidupan bersama yang resmi dan penuh tanggung jawab.

Matanya tidak pernah lepas dari wajah Bai Xuning saat berbicara, ingin melihat bagaimana reaksi pria itu.Bai Xuning langsung membeku di tempatnya, matanya melebar lebar dengan wajah yang penuh rasa tidak percaya.

Menikah? Mereka akan menikah! Pikiran itu bergema keras di benaknya, membuat seluruh tubuhnya menjadi hangat dalam sekejap.

Tanpa berpikir panjang, dia berdiri dengan cepat dan mulai menunjukkan tanda-tanda panik karena kegembiraan yang meluap-luap.

"Sayang... kita akan menikah! Lalu apa kita akan tinggal bersama? Ya... tentu saja kita harus tinggal bersama! Kita juga akan tidur dan makan bersama setiap hari... aku... aku..."Kata-katanya keluar terbata-bata, tidak bisa diatur dengan baik karena emosi yang terlalu besar.

Air mata kegembiraan mulai mengalir perlahan di pipinya, menetes ke bawah dagunya.

Dia mencoba untuk mengelus matanya namun malah membuatnya semakin banyak mengalir. Ini adalah momen yang dia impikan sejak lama—mempunyai Hu Lian sebagai istri sahnya dan membangun rumah tangga bersama.

Tanpa sadar, dia menjepit tangan Hu Lian dengan erat, tubuhnya sedikit menggigil karena kegembiraan.

"Aku tidak percaya... ini benar-benar terjadi ya? Aku akan menjadi suamimu yang baik, aku akan selalu merawat mu dan tidak akan pernah menyakitimu lagi..." ucapnya dengan suara yang bergetar, mata yang sudah merah karena menangis tetap menatap Hu Lian.

Hu Lian dengan lembut menghapus air mata yang menetes di pipi Bai Xuning menggunakan ibu jarinya, kemudian memberikan senyum hangat yang penuh cinta.

"Jangan menangis.. ini adalah hal bahagia kan?" ucapnya dengan suara yang menenangkan.

Kemudian dia berdiri perlahan dan menepuk bahu pria itu. "Sekarang kamu segera berganti pakaian yang rapi . Kita harus menikah hari ini juga—tidak ada yang bisa menghentikannya."

Bai Xuning mengangguk dengan cepat, mengelus matanya yang masih merah lalu langsung berlari ke arah lemari untuk mengambil pakaian terbaiknya.

Dia memilih jas warna biru tua yang selalu disimpan untuk acara penting, bersama dengan kemeja putih bersih dan dasi yang sesuai.

Saat Bai Xuning sedang berganti pakaian dengan tergesa-gesa, Hu Lian juga menyusun kembali berkas-berkas yang diperlukan—KTP, buku nikah, dan surat keterangan lain yang sudah dia siapkan.

Dia melihat ke arah cermin, menyusun rambutnya dengan rapi dan memastikan penampilannya benar-benar sesuai untuk hari spesial ini.

Setelah beberapa menit, Bai Xuning keluar dengan tampilan yang sangat rapi dan tampak sangat tampan.

Dia mendekati Hu Lian dan dengan hati-hati mengambil tangannya. "Aku sudah siap sayang.."

Keduanya segera berangkat ke kantor catatan sipil, dan tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan seluruh proses administrasi. Semua berkas yang disiapkan Hu Lian sebelumnya membuat segala sesuatunya berjalan lancar.

Tak lama kemudian, mereka telah mendapatkan buku pernikahan resmi yang menjadi bukti bahwa mereka kini sah menjadi pasangan suami istri.

Bai Xuning dengan hati-hati menyimpan buku pernikahan di dalam kantong jasnya, kemudian segera menggenggam tangan Hu Lian dengan erat sepanjang jalan keluar dari gedung.

Wajahnya terpampang senyum lebar yang tidak bisa disembunyikan—dia benar-benar bahagia, rasanya seperti berada di atas awan.

"Sekarang kamu benar-benar milikku..." ucapnya dengan suara yang penuh kebahagiaan, terkadang dia mengangkat tangan Hu Lian untuk memberikan ciuman lembut pada bagian belakang tangannya.

Setiap orang yang lewat bahkan bisa merasakan kebahagiaan yang meluap dari diri pria itu.

Hu Lian juga tidak bisa menyembunyikan senyum bahagia di wajahnya, meskipun terkadang dia masih menunjukkan wajah yang sedikit malu.

Setelah memberitahu kabar bahagia pernikahan mereka kepada keluarga dan teman-teman terdekat, Bai Xuning dan Hu Lian segera berangkat untuk bulan madu ke sebuah pemukiman pedesaan yang damai, jauh dari hiruk-pikuk kota.

Tempat itu memiliki rumah kayu kecil yang menghadap ke sawah hijau luas dan sungai yang mengalir dengan tenang.

Selama sebulan penuh, mereka menikmati setiap momen bersama tanpa gangguan apapun.

Bai Xuning selalu bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan hangat di teras rumah, sementara Hu Lian masih tertidur nyenyak di dalam kamar.

Setelah sarapan, mereka sering berjalan santai menyusuri tepi sungai, mengumpulkan bunga liar atau hanya duduk bersama menikmati keheningan alam.

Di malam hari, Bai Xuning akan memasak hidangan spesial menggunakan bahan-bahan segar dari sekitar pemukiman, dan mereka makan bersama sambil melihat langit yang penuh bintang.

Kadang-kadang mereka berdansa lambat di ruang tamu yang hanya diterangi lilin, atau hanya berpelukan di depan perapian sambil bercerita tentang impian mereka untuk masa depan—membangun keluarga kecil yang bahagia, memiliki kebun sendiri, dan selalu bersama hingga tua nanti.

Bai Xuning juga selalu sangat hati-hati merawat Hu Lian, memastikan dia tidak merasa sakit atau lelah sedikit pun.

Setiap sentuhan dan kedekatan yang mereka bagikan penuh dengan cinta dan rasa hormat yang lebih dalam dari sebelumnya.

Hu Lian merasa sangat bahagia dan tenang, tahu bahwa dia telah memilih pasangan yang tepat untuk menjalani hidup bersama.

Pada malam terakhir bulan madu, mereka duduk di tepi sungai dengan membawa secangkir coklat panas.

Bai Xuning mengambil tangan Hu Lian dan menatapnya dengan mata yang penuh cinta.

"Terima kasih telah menjadi istriku," ucapnya dengan suara yang lembut namun tegas. "Aku akan mencintaimu selama-lamanya, tidak peduli apa yang terjadi."

Dia menerima pelajaran terbesar adalah bahwa cinta tanpa rasa hormat dan tanggung jawab hanyalah hasrat semata.

Dia belajar bahwa untuk mencintai seseorang dengan benar, dia harus menghargai keinginan dan batasan mereka.

Tidak ada yang lebih penting daripada kebahagiaan dan keselamatan pasangan kita.

Bai Xuning juga menyadari bahwa perubahan tidak datang dengan sendirinya—dia harus mau berusaha dan belajar setiap hari.

Dulu dia sering ceroboh dan tidak memikirkan perasaan Hu Lian, tapi akhirnya dia belajar bahwa menjadi pasangan yang baik membutuhkan usaha yang terus-menerus.

Kita harus siap mendengarkan, belajar dari kesalahan, dan selalu berusaha menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

Dan yang paling penting,belajar bahwa pernikahan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab baru.

Kesempatan kedua bisa membawa kebahagiaan besar, tapi harus didukung dengan perubahan nyata dan rasa hormat.

Komunikasi yang terbuka dan jujur adalah kunci untuk menghindari kesalahpahaman. Setiap hubungan membutuhkan usaha dari kedua pihak—tidak ada yang bisa menjalankannya sendirian.

Mengetahui nilai diri sendiri dan menghargai pasangan adalah dasar dari hubungan yang sehat.

Hu Lian tersenyum dan menyandarkan wajahnya di bahunya. "Aku juga mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini..."

Diia belajar bahwa cinta tidak selalu tentang kesempurnaan atau hal-hal yang mudah.

Pelajaran terbesar yang Hu Lian dapatkan adalah pentingnya memberikan kesempatan kedua, tapi dengan syarat yang jelas dan batasan yang tegas.

Dia tidak boleh memaafkan hanya karena takut kehilangan orang yang di cintai—Dia harus memastikan bahwa orang tersebut benar-benar berubah dan menghargainya.

Selain itu, Hu Lian juga belajar bahwa komunikasi dan tanggung jawab adalah dasar dari hubungan yang sehat.

Kita harus berani mengatakan apa yang kita rasakan, baik itu suka maupun tidak suka.

Jangan pernah menyimpan perasaan dalam hati karena takut menyakiti pasangan—karena pada akhirnya, kebenaran akan lebih baik daripada kesalahpahaman yang berkepanjangan.

Dan Hu Lian menyadari bahwa menjadi mandiri dan tahu nilai diri sendiri adalah hal yang sangat penting.

Kita tidak boleh kehilangan diri kita sendiri dalam sebuah hubungan. Hanya dengan tahu siapa diri kita dan apa yang kita inginkan, kita bisa membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!