NovelToon NovelToon
Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."

Sinopsis Cerita:

Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Rantai Penekan Dewa dan Serigala Baja Berdarah

Kereta tahanan itu terbuat dari kayu besi hitam yang tebal dan ditarik oleh dua ekor Burung Unta Angin Suci raksasa. Roda kayunya berderit keras setiap kali menghantam bebatuan kristal di sepanjang jalan hutan.

Di dalam sangkar yang sempit itu, Ye Chen duduk bersila dengan mata terpejam. Pergelangan tangan dan kakinya dibelenggu oleh rantai perak yang memancarkan cahaya rune biru redup.

Rantai Penekan Dewa (God-Suppressing Chains).

"Jangan mencoba memberontak, Pengembara," salah seorang pengawal yang menunggang burung unta di samping kereta meludah ke tanah. "Rantai itu menyegel semua aliran Qi Dewa. Semakin kau meronta, rantai itu akan semakin menyedot energimu sampai kau kering."

Ye Chen tidak membuka matanya, apalagi membalas.

Di dalam hatinya, dia tertawa dingin. Rantai ini memang dirancang untuk menekan sirkulasi Qi para kultivator Alam Dewa. Namun, masalahnya... Qi Ye Chen saat ini masih tersegel secara alami oleh hukum atmosfer dunia ini. Dia tidak menggunakan Qi untuk bernapas atau bergerak, melainkan mengandalkan kekuatan fisik murni dari Tulang Emas Gelap-nya.

Bagi Ye Chen, rantai ini tidak lebih dari sekadar aksesoris yang agak berat.

"Mutiara Penelan Surga..." panggil Ye Chen dalam meditasinya.

Sambil menikmati goncangan kereta, Ye Chen perlahan-lahan mencerna Inti Dewa dari Macan Tutul Kristal yang dia bunuh sebelumnya. Energi murni itu perlahan mencuci meridiannya, mengganti sisa-sisa Qi Roh (Spirit Qi) dunia bawah menjadi Qi Dewa (Divine Qi) yang sejati.

Di dunia ini, tingkatan kekuatan telah berubah total.

Berdasarkan apa yang ia dengar dari percakapan para pengawal di sepanjang jalan, kultivator di Alam Dewa dibagi menjadi beberapa tahap baru:

Dewa Fana (Mortal God) - Tahap adaptasi awal. Setara dengan puncak dunia bawah (Mahayana), tapi di sini mereka adalah prajurit biasa.

Dewa Sejati (True God) - Ahli yang telah memahami hukum alam secara utuh.

Raja Dewa (God King) - Penguasa wilayah.

"Gadis berambut perak itu... auranya berada di tahap Dewa Fana Tingkat Menengah," analisis Ye Chen. "Dan para pengawal ini berada di Dewa Fana Tingkat Awal. Aku saat ini, secara teknis, bahkan belum mencapai Dewa Fana karena proses konversiku belum selesai."

Kereta tiba-tiba melambat.

Gadis berambut perak itu, Yin Xue (Salju Perak), Nona Muda Kedua dari Klan Pedang Perak, memacu burung untanya mendekati kereta tahanan.

Mata biru esnya menatap Ye Chen dengan tatapan menyelidik.

"Kau tidak berteriak kepanasan, dan kau tidak pingsan karena gravitasi Hutan Hukuman Surga," kata Yin Xue, suaranya sedingin angin utara. "Kau membunuh macan tutul itu. Aku tahu kau bukan warga biasa. Kau Ascender (Pendaki) dari alam bawah, kan?"

Ye Chen membuka matanya. Pupil naganya menatap lurus ke dalam mata biru Yin Xue.

"Jika aku mengiyakan, apakah kau akan melepaskan rantaiku?" tanya Ye Chen datar.

"Tidak. Ascender yang baru naik adalah mangsa empuk. Jika klan lain menemukanmu, kau akan dijadikan pupuk obat atau budak tambang seumur hidup," kata Yin Xue. "Di tanganku, kau akan menjadi Umpan Binatang Buas. Jika kau selamat dari tiga perburuan, aku akan memberimu status pelayan Klan Pedang Perak."

"Umpan?" Ye Chen menyeringai tipis. "Gadis kecil, kau sedang membawa harimau ke dalam kandang dombamu sendiri."

"Sombong!" salah satu pengawal mengangkat cambuknya untuk memukul Ye Chen dari sela jeruji.

"Berhenti!" Yin Xue mengangkat tangannya. "Simpan tenaga kalian. Kita sudah memasuki wilayah Lembah Darah Besi. Tetap waspada."

Mendengar nama lembah itu, raut wajah para pengawal langsung menegang. Mereka mencabut pedang mereka dan membentuk formasi pelindung di sekitar kereta Yin Xue.

Ye Chen mengendus udara.

Aroma karat yang kental dan bau busuk yang familiar menyapa hidungnya. Itu adalah bau niat membunuh dari sekawanan predator.

"Penyergapan," gumam Ye Chen.

AWOOOOO!

Lolongan panjang memecah kesunyian hutan.

Dari balik pohon-pohon kristal raksasa, puluhan mata merah menyala muncul dalam kegelapan. Bayangan-bayangan besar melompat keluar, mengepung konvoi Klan Pedang Perak.

Mereka adalah serigala. Namun, ukuran mereka sebesar banteng, dan seluruh tubuh mereka tidak ditutupi bulu, melainkan pelat baja alami yang berkarat oleh darah kering.

Serigala Baja Berdarah (Blood Steel Wolves).

Tingkat: Binatang Buas Dewa Tingkat 1 Puncak.

"Formasi Pedang Perak! Lindungi Nona Muda!" teriak kapten pengawal.

Sekitar dua puluh pengawal melompat dari burung unta mereka. Pedang mereka bersinar dengan Qi Dewa elemen logam dan es.

Pertempuran pecah. Suara dentingan pedang melawan kulit baja serigala bergema di lembah.

TRANG! CRASS!

Darah mulai mengalir. Beberapa pengawal langsung tercabik-cabik karena kalah jumlah. Serigala ini menyerang dengan koordinasi yang mengerikan, saling menutupi titik buta teman mereka.

Yin Xue tidak tinggal diam. Dia menghunus pedang tipisnya yang memancarkan udara beku.

"Tarian Es Bulan Sabit!"

Yin Xue melesat dengan anggun. Setiap sabetan pedangnya membekukan pelat baja serigala sebelum akhirnya memecahkannya menjadi kepingan es. Dia menumbangkan tiga serigala dalam sekejap.

"Nona Muda luar biasa!" puji kapten pengawal.

Namun, lolongan yang jauh lebih keras menggetarkan tanah.

Seekor Alpha Serigala seukuran rumah kecil melompat dari atas tebing, mendarat tepat di tengah formasi para pengawal. Pelat baja di tubuhnya berwarna merah menyala, memancarkan panas yang mencairkan es milik Yin Xue.

"Dewa Fana Tingkat Akhir?!" wajah Yin Xue pucat pasi. "Alpha Serigala Baja Darah telah bermutasi!"

Alpha itu mengayunkan cakar depannya. Tiga pengawal terlempar, dada mereka terkoyak.

Melihat Yin Xue sebagai ancaman terbesar, Alpha itu menerjang ke arahnya. Rahangnya yang penuh gigi setajam gergaji terbuka lebar.

Yin Xue menyilangkan pedangnya, menyalurkan seluruh Qi Dewa-nya.

BLARR!

Benturan itu melempar Yin Xue ke belakang. Dia membentur kereta tahanan tempat Ye Chen berada, memuntahkan seteguk darah perak.

"Nona!" teriak sisa pengawal, tapi mereka tertahan oleh serigala lainnya.

Alpha Serigala itu berjalan perlahan mendekati Yin Xue, air liur menetes dari rahangnya. Ia bersiap untuk memberikan gigitan fatal.

Di dalam sangkar, Ye Chen menatap pemandangan itu.

Jika Yin Xue mati, konvoi ini akan hancur, dan dia harus berjalan kaki entah ke mana. Selain itu, menjadi "tawanan" adalah tiket masuk paling mudah ke dalam sebuah Klan tanpa dicurigai.

"Hei, Anjing Besi," panggil Ye Chen dari dalam sangkar.

Telinga Alpha Serigala itu berkedut. Ia menoleh ke arah kereta tahanan, menatap manusia yang terikat rantai itu.

"Kau menghalangi pemandanganku."

Alpha itu menggeram marah karena merasa diremehkan oleh mangsa di dalam kandang. Ia meninggalkan Yin Xue dan melompat ke arah kereta tahanan, menerkam jeruji kayu besi dengan cakarnya.

"Jangan bodoh! Rantai itu menekan kekuatanmu!" teriak Yin Xue yang masih terkapar. "Kau akan mati!"

Ye Chen tersenyum.

Dia berdiri. Kedua tangannya yang dibelenggu rantai perak diangkat ke depan.

Saat cakar serigala raksasa itu menembus jeruji sangkar untuk mencabiknya...

Ye Chen tidak menggunakan Qi. Dia mengencangkan otot lengannya. Tulang Emas-nya berderit keras.

TRANG!

Ye Chen merentangkan tangannya dengan kekuatan ledakan fisik yang sangat brutal.

Rantai Penekan Dewa, artefak yang dirancang untuk menahan ahli Qi, putus berkeping-keping karena tidak kuat menahan gaya tarik murni yang setara dengan kekuatan jutaan ton.

"A-Apa?!" Yin Xue terbelalak. Memutuskan rantai penekan tanpa Qi? Hanya monster tipe fisik murni yang bisa melakukan itu!

Ye Chen menangkap cakar serigala raksasa itu yang masuk ke dalam sangkarnya.

"Kau punya baja," bisik Ye Chen, matanya menyala emas. "Aku punya emas."

Ye Chen menarik cakar itu, memaksa kepala Alpha Serigala menghantam jeruji kayu besi hingga hancur.

Ye Chen melangkah keluar dari sangkar yang berlubang.

Serigala Alpha meraung, mencoba menggigit Ye Chen.

Ye Chen mengepalkan tangan kanannya yang kini bebas dari rantai.

Tinju Asura: Hantaman Bintang Jatuh!

Pukulan Ye Chen melesat ke atas, menghantam tepat di bawah rahang Alpha Serigala.

DUMMMMM!

Gelombang kejut fisik meledak di udara. Pelat baja di bawah rahang serigala itu penyok ke dalam, meremukkan tengkoraknya secara instan. Tubuh raksasa Alpha itu terlempar ke belakang sejauh puluhan meter, menabrak pohon kristal dan mati tanpa sempat mengeluarkan suara lagi.

Sisa kawanan serigala membeku. Melihat Alpha mereka dibunuh dengan satu pukulan tangan kosong, nyali mereka hancur. Mereka berbalik dan melarikan diri ke dalam hutan.

Hening kembali menyelimuti Lembah Darah Besi.

Ye Chen berdiri santai di luar sangkar yang hancur. Dia memutar-mutar pergelangan tangannya, menikmati kebebasan bergeraknya.

Sisa pengawal Klan Pedang Perak menatapnya dengan horor. Tawanan yang mereka ejek tadi baru saja membunuh monster yang hampir menghabisi Nona mereka.

Yin Xue bangkit dengan susah payah, memegangi dadanya. Dia menatap Ye Chen.

"Kau... kau membohongiku. Kau bukan Ascender biasa. Siapa kau sebenarnya?!" Yin Xue menodongkan pedangnya, meski tangannya gemetar.

Ye Chen menoleh padanya. Tatapannya dingin, namun tidak memancarkan niat membunuh.

"Aku Ye Chen. Dan mulai sekarang, anggap saja aku adalah Umpan yang terlalu besar untuk kalian telan."

Ye Chen melangkah mendekati Yin Xue. Para pengawal mencoba maju, tapi satu lirikan dari pupil naga Ye Chen membuat mereka terpaku di tempat.

"Kau punya peta ke wilayah berpenghuni. Aku punya tinju untuk memastikan kau sampai di sana hidup-hidup," kata Ye Chen, berhenti satu langkah di depan pedang Yin Xue.

"Kesepakatan baru. Aku akan mengawalmu ke Klan Pedang Perak. Sebagai gantinya, kau tutup mulut tentang darimana asalku, dan berikan aku identitas resmi di duniamu ini."

Yin Xue menggigit bibirnya. Gadis yang angkuh itu tahu dia tidak punya pilihan. Pria ini bisa membunuh mereka semua dalam hitungan detik jika dia mau.

Perlahan, Yin Xue menurunkan pedangnya.

"Baik. Kesepakatan diterima... Tuan Ye."

Ye Chen tersenyum tipis. Langkah pertamanya di Alam Dewa Kuno telah aman. Klan Pedang Perak akan menjadi batu loncatannya untuk memahami dunia ini, dan menembus ranah Dewa Fana.

(Akhir Bab 24)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!