NovelToon NovelToon
Gema Yang Tertinggal

Gema Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Ketos / Pengganti / Tamat
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.

Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Langkahku terasa limbung saat keluar dari lobi gedung bertingkat itu. Matahari Jakarta yang terik seolah berusaha membakar sisa-sisa amarah yang masih mengendap di dadaku. Aku butuh udara yang tidak terkontaminasi oleh aroma parfum Baskara atau tawa ceria Rasya.

Aku melangkah cepat menuju restoran pasta di seberang jalan. Di pojok ruangan yang agak tersembunyi, Danesha sudah melambai. Ia tampak modis dengan kacamata hitam yang bertengger di kepalanya, namun raut wajahnya langsung berubah serius saat melihatku mendekat.

"Na, muka kamu kayak baru habis perang dunia ketiga," cetus Danesha saat aku mengempaskan diri di hadapannya.

Aku tidak menjawab. Aku langsung menyambar gelas es teh manis milik Danesha dan meminumnya hingga separuh. Tenggorokanku terasa kering, bukan karena haus, tapi karena menahan sesak sejak insiden kopi pagi tadi.

"Aku buang kopinya, Dan. Di depan mukanya. Di depan Rasya juga," ucapku parau.

Danesha terbelalak. "Kamu gila? Kopi vanilla kesukaan kamu itu? Yang dibeliin Baskara?"

"Dia ngerendahin aku, Dan. Dia kasih kopi itu pakai pesan kalau itu cuma biar kerjaan nggak terhambat. Dia kasih perhatian, tapi di depanku dia mesra-mesraan sama Rasya. Aku bukan mainan yang bisa dikasih permen terus dipukul lagi," suaraku mulai bergetar.

Danesha menghela napas panjang, ia menggeser piring pasta yang baru datang ke tengah meja. "Tapi Na, kamu sadar nggak? Baskara bilang 'dulu cintaku, sekarang bahkan cuma secangkir kopi' di depan Rasya. Itu kalimat bahaya. Rasya itu nggak bodoh. Dia pasti mulai nyambung-nyambungin titik yang hilang."

Aku terdiam. Bayangan wajah bingung Rasya tadi pagi kembali muncul. "Aku nggak peduli lagi, Dan. Aku cuma mau kontrak ini selesai dan aku pergi. Aku nggak sanggup lihat dia setiap hari menghukum aku dengan kebaikannya yang palsu."

"Kebaikannya nggak palsu, Aruna. Itu masalahnya," potong Danesha tegas. "Baskara itu masih ingat semua detail tentang kamu. Dia masih simpan pulpen pemberian kamu. Dia masih tahu kopi favorit kamu. Dia bukannya jahat, dia cuma lagi self-defense karena dia takut hancur lagi kalau dia bersikap manis sama kamu."

Aku menunduk, memainkan ujung garpu dengan gelisah. "Terus aku harus gimana? Rasanya kayak aku pelan-pelan mati di kantor itu."

Belum sempat Danesha menjawab, lonceng di pintu restoran berdenting. Jantungku serasa merosot ke perut saat melihat siapa yang masuk. Rasya. Ia sendirian, matanya mengedar ke seluruh ruangan hingga akhirnya terkunci pada mejaku.

Ia tidak tampak ceria seperti biasanya. Wajahnya tegang, dan ia langsung melangkah menuju meja kami tanpa ragu.

"Mbak Aruna, maaf mengganggu makan siangnya," ucap Rasya pelan, suaranya terdengar sangat serius. Ia menatap Danesha sekilas, lalu kembali padaku. "Ada yang ingin aku tanyakan. Soal kalimat Baskara tadi pagi... dan soal kenapa dia punya foto Mbak di dompet lamanya yang nggak sengaja aku lihat semalam."

Duniaku runtuh seketika. Rahasia yang kupendam rapat-rapat kini mulai terkoyak dari sudut yang paling tidak terduga.

Gelas es teh di tanganku berdenting pelan saat aku meletakkannya kembali ke meja. Suasana restoran yang tadinya bising oleh suara denting alat makan mendadak terasa senyap di telingaku. Pertanyaan Rasya bukan sekadar rasa penasaran; itu adalah tuntutan akan sebuah kebenaran yang selama ini coba kukubur hidup-hidup.

Aku melirik Danesha yang juga mematung, seolah ikut menahan napas bersamaku. Aku bisa saja berbohong. Aku bisa saja mengatakan itu hanya foto lama sebagai teman kampus, atau sekadar ketidaksengajaan. Tapi melihat tatapan Rasya yang begitu tulus sekaligus terluka, aku menyadari bahwa aku tidak berhak menambah daftar kebohongan dalam hidup Baskara.

Aku menarik napas panjang, menatap Rasya tepat di manik matanya. Wajahku datar, mencoba menutupi badai yang mengamuk di dalam sana.

"Rasya," suaraku terdengar jauh lebih tenang dari yang kubayangkan. "Aku menghargai keberanianmu datang ke sini untuk bertanya. Tapi, aku bukan orang yang tepat untuk menjawab semua keraguanmu."

Rasya sedikit mengernyit, tangannya meremas tali tasnya dengan erat. "Tapi Mbak Aruna, kalimat Baskara tadi pagi... soal 'dulu cintaku' dan foto itu... semuanya merujuk pada satu hal, kan?"

Aku menggeleng pelan, memaksakan senyum tipis yang terasa pahit. "Apapun yang kamu lihat atau dengar, itu adalah bagian dari masa lalu Baskara. Dan sebagai orang yang sekarang ada di sampingnya, kamu berhak mendapatkan penjelasan langsung dari mulutnya, bukan dariku."

"Mbak, tolong jujur saja," desak Rasya, suaranya mulai bergetar.

"Aku jujur, Rasya. Jika aku yang bicara, itu hanya akan memperkeruh suasana," aku berdiri, mengisyaratkan bahwa percakapan ini harus berakhir. "Baskara adalah pria yang sangat menghargaimu. Tanyalah padanya malam ini. Biarkan dia yang memutuskan bagian mana dari sejarahnya yang ingin dia bagikan padamu. Itu haknya, dan itu hakmu sebagai pasangannya."

Aku menyambar tasku, mengabaikan tatapan khawatir Danesha. "Maaf, aku harus kembali ke kantor lebih awal. Ada pekerjaan yang belum selesai."

Aku melangkah melewati Rasya yang masih berdiri terpaku di samping meja. Saat aku mendorong pintu kaca restoran, udara panas Jakarta kembali menerpaku, namun kali ini terasa lebih menyesakkan. Aku tahu, dengan menyuruh Rasya bertanya langsung, aku baru saja melempar granat ke tengah hubungan mereka.

Sore ini di kantor, segalanya pasti tidak akan pernah sama lagi. Baskara mungkin akan semakin membenciku karena membiarkan kekasihnya tenggelam dalam keraguan, atau mungkin, ini adalah awal dari akhir persembunyianku.

1
byyyycaaaa
mampir juga di kembali bertemu bukan bersatu yuk 🙏
falea sezi
ada yg baru kah thor
falea sezi
q ksih hadiah
falea sezi
wahh kok end berasa kurang hehe
falea sezi
jangan ada badai lagi y
falea sezi
banyak up berasa kurang nthor suka deh novel mu q ksih hadiah karena novel mu bagus
falea sezi
klo baskara main gila. cerai nah laki. tolol
falea sezi
ulet bulu ini gatel amat ya
falea sezi
ada baby. mocy ya di perut hehe
falea sezi
moga cpet ada bayi thor
falea sezi
rasya mau jd ulet bulu ya jalang
falea sezi
lanjuttt
falea sezi
lanjut donkk mau tau endingnya gimana
falea sezi
resain Aruna klo g bokek resain pergi aja bodoh amat
falea sezi
bas lu jd serakah ya skg aneh biarin Aruna move on lu jg uda punya pcr. egois bgt sih lu
falea sezi
wes bas urus aja pcrmu np ngurusin Aruna behh ne cowo gk bs move on ya lu
falea sezi
resain pergi jauh Aruna jangan nyari sakit sendiri
falea sezi
abis kerjain proyek resain aja runa cari krja lain dan cari cogan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!