Alya, wanita cantik yang sudah lelah dengan kisah kehidupannya, mencoba untuk membuka hatinya kembali untuk seorang pria yang dijodohkan oleh bos di kantornya. Ia berharap itu yang menjadi cinta terakhirnya. Namun, siapa sangka ternyata pria itu menyimpan sebuah masa lalu yang membuat Alya, kembali berpikir apakah ia harus hidup tanpa cinta untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon empat semanggi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Ayah.
Raka memandangi Alya yang terus-terusan gelisah. Ia tahu kegelisahan Alya, dan ia telah berusaha untuk menenangkan wanita itu, namun tetap saja Alya masih tetap saja gelisah.
Hari ini, mereka akan bertemu dengan Waldo, ayah Alya. Sebelumnya Raka telah menghubungi pria itu. Awalnya Waldo tak ingin bertemu, namun setelah mendengar penjelasan Raka panjang lebar, akhirnya ia mau bertemu Raka dan Alya.
Alya tak ingin bicara dengan ayahnya, ia meminta Raka yang berbicara dengan pria itu.
Mereka berencana untuk bertemu pria itu dirumahnya di kota Deo, karena Waldo tak bisa meninggalkan pekerjaannya.
Jika bukan karena paksaan dari Raka, Alya tak akan mau bertemu dengan ayahnya.
Entah mengapa, rasa sakit itu masih ada dalam hatinya. Alya kembali teringat masa-masa sulit yang ia alami, saat pria itu memilih untuk meninggalkannya yang saat itu masih berusia sepuluh tahun.
Beruntungnya karena waktu itu, Alya selalu dikelilingi oleh orang-orang yang baik, sehingga ia bisa melewati kesulitan itu.
Untuk biaya sekolahnya, Alya termasuk salah satu siswi yang beprestasi, sehingga ia bisa mendapatkan beasiswa hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Alya jatuh bangun saat itu, tapi karena nasehat sang ibu yang seolah-olah terus mengingatkannya membuat Alya tetap kuat hingga saat ini.
"kau sudah siap?" suara berat Raka membuyarkan lamuan Alya.
Alya menarik nafas sebentar, kemudian menoleh keluar jendela.
Wanita cantik itu mengerutkan keningnya saat melihat keadaan sekitar.
"benar ini alamatnya?" tanya Alya tak percaya, karena Ia pernah melihat postingan Clara, salah satu saudari tirinya, dimana tempat tinggal mereka yang berada dalam sebuah kompleks perumahan. Namun, saat ini bukan perumahan mewah yang mereka datangi, melainkan sebuah perkampungan yang cukup jauh dari kota.
Karena itu Alya bertanya pada Raka, mungkin saja mereka salah alamat. Alya terlalu tenggelam dalam pikirannya sehingga ia tak sadar, Raka telah membawanya ke tempat ini.
"yaa, benar ini alamatnya, ini yang dikirimkan pak Waldo padaku" jawab Raka. Pria itu kembali mengangkat sudut bibirnya, "apa kau pernah ke sini?"
"enggak,,ini pertama kalinya" jujur Alya.
"sebaiknya kita turun, dan memastikan apa benar ini rumah ayahmu," ucap Raka.
Tak menunggu lama, Alya dan Raka turun dari mobil, Alya memandangi sekitarnya. Ia mencoba untuk mengingat-ingat tempat ini, namun tak ada ingatan sedetik pun tentang tempat ini. Ini pertanda ia benar-benar baru datang ke tempat ini.
Alya pikir ayahnya tinggal di kota Deo, bersama isteri dan kedua anaknya namun ternyata ia salah.
"ayoo,," ajak Raka. Pria itu mengulurkan tanganya, dan tanpa ragu di sambut oleh Alya.
"permisi pak, apa benar ini rumah pak Waldo?" tanya Raka setelah mendekati rumah yang mereka tujuh.
Pria paruh baya, yang sedang memotong kayu itu berbalik dan matanya yang tua langsung menatap Alya. Ada keterkejutan disana, namun dengan cepat ia alihkan pandangan itu.
"iya benar, saya sendiri, Waldo" ucap pria itu.
Alya tersentak melihat ayahnya, ia tak menyangka bahwa pria tua yang berdiri didepannya saat ini adalah ayahnya.
Kondisi pria itu jauh dari kata baik, bahkan rumah yang mereka tinggali juga jauh dari kata layak. Ia tak menyangka ayahnya yang dulu gagah, dan tampan akan terlihat jauh lebih tua dari usianya.
"saya Raka pak, dan ini Alya, calon isteri saya" ucap Raka, sambil mengulurkan tangannya.
"saya yang meminta alamat bapak" tambah Raka.
Waldo tampak membersihkan tangannya pada bajunya sebelum menyambut uluran tangan Raka. Alya hanya terdiam melihat kondisi ayahnya kini.
Pria paruh baya itu juga seolah-olah tak mengenal Alya. Mungkin karena ia sadar telah menyakiti puteri kecilnya itu.
^^^^
"maaf nak, beginilah kondisi rumah saya" ucap Waldo, saat mempersilahkan Raka dan Alya masuk ke ruang tamu mereka.
"nggak apa," balas Raka.
"kalau boleh tahu, dimana isteri bapak?" tanya Raka lagi. "soalnya ada hal penting yang ingin saya sampaikan"
"ah,,isterinya kebetulan sedang keluar, jadi nggak masalah jika hanya ada saya" ucap Waldo.
Raka terdiam sebentar, lalu memandangi Alya, meminta pendapat wanita itu. Melihat anggukan Alya, Raka kemudian menyampaikan maksud kedatangan mereka.
"yaa,,jadi jika bapak nggak ada halangan bapak bisa hadir di pernikahan kami nanti." ucap Raka, setelah menjelaskan panjang lebar.
"selamat nak. Saya harap kau bahagia bersama nak Raka" ucap Waldo pada akhirnya.
"iya, terima kasih" balas Alya.
Ada kecanggungan yang begitu dalam antara ayah dan anak itu.
Alya bahkan tak tahu harus mengatakan apa pada ayahnya, ia bingung harus memulai dari mana dan harus mengatakan apa.
Kata orang, cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya, namun hal itu tak berlaku pada Alya. Ia merasa orang pertama yang melukai hatinya hingga sehancur ini adalah ayahnya sendiri.
Alya juga bingung, apa ia harus bersyukur melihat keadaan ayahnya saat ini, atau malah sebaliknya merasa kasihan. Dosa kah ia jika bahagia melihat kehidupan ayahnya yang tidak terlihat baik, setelah memilih untuk meninggalkannya seorang diri.
"maaf, saya nggak punya sesuatu untuk diberikan pada kalian" suara Waldo kembali terdengar.
"nggak apa, kami juga akan segera kembali" ucap Raka.
Raka dan Alya sudah pamit pada Waldo untuk kembali, mereka juga akan segera meninggalkan rumah itu, namun sebuah suara cempreng seorang wanita membuat kedua orang itu menghentikan langkah mereka.
"giliran dibutuhkan, baru mencari. Kalau enggak, nggak mungkin dicariin"
Alya memutar tubuhnya, begitupun Raka. seketika tubuh Alya menegang melihat kedatangan wanita itu.
Raka yang menyadari hal itu, dengan cepat merangkul pundak Alya, dan mengusapnya secara perlahan.
Penampilan wanita itu jauh berbeda dengan Waldo. Wajahnya dipenuhi makeup, bahkan di telinga dan leher wanita itu terdapat anting, kalung bahkan gelang dan cincin emas yang memenuhi jari-jarinya.
"kenapa jauh-jauh kemari hanya untuk bertemu ayahmu?" ucap wanita itu lagi. "apa kau akan menikah?"
Alya tak menjawab, dan hanya terdiam mendengar ucapan wanita itu.
"selamat sore bu, saya Raka dan ini Alya, calon isteri saya" ucap Raka.
"ohh,,pantas saja kau rela jauh-jauh ke kampung ini untuk menemui ayahmu, setidaknya kau nggak lupa kalau masih punya Ayah" wanita itu kembali mengangkat sudut bibirnya, "aku sedikit kecewa, karena kau datang hanya karena butuh, bukan karena kau merindukan ayahmu."
Alya masih terdiam dan tak juga merespon ucapan wanita itu, yang sebenarnya adalah ibu tirinya.
"kau juga sudah sangat pintar memilih calon suami seperti ibumu, ku harap ng,,,"
"Melny, hentikan ucapan mu,," sentak Waldo pada isterinya. Melny, wanita itu langsung terdiam mendengar sentakan suaminya.
Walau terlihat lebih dominan, tapi Melny masih punya rasa segan pada suaminya itu.
"maaf, atas ucapan isteri saya" Waldo meminta maaf pada Raka dan Alya, sedang Melny, wanita itu memutar bola mata kesal mendengar ucapan suaminya.
"nggak masalah pak, kami berdua baik-baik saja" balas Raka.
"kalau begitu kami berdua pamit" ucap Raka.
Raka meminta pamit, karena ia tahu suasana hati Alya sudah pasti tak baik.
"hmm,,setidaknya tinggalkan beberapa uang untuk ayahmu AaL, biar bisa bayar hutang. Kamu nggak kasihan apa, udah tua seperti ini, tapi masih motong kayu buat di jual"
deghh,,
jantung Alya seperti terjatuh saat mendengar ucapan bu Melny. Jadi, tumpukan kayu-kayu yang berada di depan rumah itu akan dijual.
Alya tak habis pikir dengan kehidupan ayahnya, setelah pergi meninggalkannya waktu itu. Selama ini, ayahnya juga tak pernah mengirimkannya uang, lalu kemana semua uang yang ayahnya peroleh, saat bekerja sebagai seorang pegawai di salah satu perusahaan.
"itu bukan urusanku, selama ini aku nggak pernah menuntut apapun dari kalian. Jadi, ini bukan tanggung jawabku untuk membayar hutang kalian" ucap Alya tiba-tiba.
"dasar,,,harusnya kau bersyukur karena kamu nggak diusir dari rumah itu" bentak Melny pada Alya.
"cukup, Melny, hentikan ucapanmu. Biarkan mereka pergi" tegur Waldo pada isterinya.
"tapi pak,,,haru,,,"
"ku bilang hentikan Melny. Jangan libatkan Alya dalam masalah itu, dia nggak tahu apa-apa" bentak Waldo lagi.
Wajah Melny tampak memerah karena dibentak oleh suaminya di depan Alya. Ia terus menatap tajam ke arah Alya, seperti ingin menghajar wanita cantik itu.
Melihat kondisi yang sudah tak memungkinkan untuk dibicarakan dengan baik, akhirnya Raka mengambil alih. Pria tampan itu, dengan cepat berpamitan pada Waldo dan Melny, walau wanita itu tak merespon. Raka kemudian membawa Alya pergi dari sana.
Alya sempat melihat wajah sedih ayahnya, saat melihat kepergian mereka. Ia masih bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada keluarga ayahnya saat ini.
biar cepet koit tuhhhh marah-marah melulu 😤
lanjuuttttt 💪💪💪🤩🤩
semoga langgeng dan harmonis terus rumah tangga nya 👍👍🤗🤗🤗
gak tergoda yg lain, atau menyakiti hati Alya 👍👍🤗