Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.
Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.
Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Waktu kehilangan maknanya di dasar Hutan Wanamarta malam itu. Bagi Gatotkaca, sang senopati agung Pringgandani yang terbiasa menghitung persekian detik lintasan anak panah musuh, detak jarum semesta seakan berhenti sepenuhnya saat tubuh Dewi Pregiwa luruh ke dalam dekapannya.
Tangan besarnya yang terbungkus sarung tangan baja—tangan yang sama, yang belum genap sepeminuman teh berlalu telah meremukkan tombak murni dan mencekik leher perwira Astina hingga membiru—kini menahan pinggang ramping sang putri dengan sisa-sisa tenaga yang sengaja ia redam hingga ke titik paling nadir. Ia menahan napasnya. Otot-otot di lengannya menegang kaku, bukan karena menahan beban yang berat, melainkan karena ketakutan yang luar biasa.
Gatotkaca dilanda teror batin yang jauh lebih mengerikan daripada kepungan ribuan gajah perang. Ia adalah makhluk yang diciptakan untuk menghancurkan. Di dalam nadinya mengalir lahar Kawah Candradimuka. Ia takut, teramat sangat takut, jika ia salah menggeser satu inci saja letak jarinya, ia akan mematahkan tulang rusuk putri dari pamannya ini. Tubuh Pregiwa terasa begitu kecil, begitu ringan, dan begitu rapuh di antara kedua lengan besarnya, bagaikan seekor merpati putih yang tak sengaja jatuh ke dalam pelukan seekor naga hitam.
Aroma wangi bunga melati yang menguar dari rambut Pregiwa—yang kini kusut masai tersapu angin malam—menggantikan bau anyir darah pasukan Kurawa yang sedari tadi memenuhi rongga penciuman Gatotkaca. Wangi itu murni, menenangkan, dan anehnya, membuat sang manusia baja merasa mabuk kepayang. Ia menunduk menatap wajah wanita di pelukannya. Wajah itu hanya berjarak beberapa jengkal dari dada bidangnya yang dilindungi zirah emas berukir kalamakara.
Dalam sisa-sisa cahaya obor yang meremang di atas tanah berlumpur, Gatotkaca bisa melihat pantulan kobaran api kecil di sepasang mata bulat Pregiwa. Mata itu tidak lagi memancarkan kengerian. Mata itu menatap lurus ke kedalaman pupil mata Gatotkaca, mencari jiwa manusia di balik wujud separuh raksasa yang menakutkan ini. Dan Pregiwa menemukannya. Di balik tatapan buas sang penjaga langit, Pregiwa melihat sepasang mata seorang pria yang kesepian, tulus, dan kini... sedang dilanda salah tingkah yang luar biasa.
"K-kanda Pregiwa..."
Sebuah suara lirih yang gemetar memecah keheningan magis di antara mereka berdua. Pregiwati, sang adik yang sedari tadi meringkuk ketakutan di balik bayang-bayang tebing, perlahan merangkak maju. Wajahnya sembab oleh air mata, ujung kain kembennya kotor oleh tanah basah.
Suara itu menyentak kesadaran Gatotkaca. Ia tersadar dari lamunannya yang memabukkan bagai orang yang baru saja diguyur air es. Jantungnya berdebar liar membentur tulang rusuk bajanya, sebuah sensasi anatomis yang sama sekali tidak pernah ia pelajari di medan latihan militer Pringgandani.
Dengan gerakan yang sangat berhati-hati, seolah sedang meletakkan kristal dewata yang paling tipis, Gatotkaca perlahan membantu Pregiwa kembali berdiri tegak. Ia segera menarik kedua tangannya mundur, menjauhkannya dari tubuh sang putri secepat mungkin, seakan ia baru saja menyentuh bara api yang membakar. Ia memundurkan langkahnya dua tindak, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dagunya menyentuh pelat pelindung lehernya. Rasa bersalah dan canggung seketika menyelimuti dadanya.
"M-maafkan hamba, Tuan Putri," rutuk Gatotkaca dengan suara parau yang bergetar. Tangannya mengepal erat di sisi tubuh, menyembunyikan getaran aneh yang menjalar di ujung-ujung jarinya. "Tangan hamba... kotor. Kasar. Hamba kelancangan menyentuh kulit Tuan Putri yang suci."
Pregiwa, yang kini bersandar pada seonggok batu berlumut untuk menahan rasa sakit di pergelangan kakinya, justru tersenyum kian lembut. Ia menoleh ke arah adiknya, merangkul bahu Pregiwati yang masih terisak pelan, lalu kembali menatap raksasa canggung di hadapannya.
"Jika bukan karena tangan kasar dan kuat itu yang merengkuhku, Kanda Ksatria, niscaya tubuh ini sudah hancur menghantam bebatuan Wanamarta, atau lebih buruk lagi, terseret ke dalam kereta tahanan Astina," ucap Pregiwa tenang, suaranya bagai embun yang membasahi padang pasir di hati Gatotkaca. "Kanda tidak perlu meminta maaf karena telah menyelamatkan nyawa kami."
Gatotkaca menelan ludah. Tenggorokannya kembali terasa kering. Ia tidak berani menatap wajah Pregiwa, namun dari sudut matanya, ia melihat sang putri sedikit meringis kesakitan saat mencoba memindahkan tumpuan berat badannya. Mata elang Gatotkaca langsung menangkap pembengkakan kebiruan di pergelangan kaki kiri Pregiwa, tepat di atas batas sandal selopnya yang talinya sudah putus.
Naluri pelindungnya kembali menyala, mengalahkan sejenak rasa canggungnya.
Tanpa permisi, Gatotkaca melangkah maju dan seketika menjatuhkan dirinya berlutut dengan satu kaki di atas tanah berlumpur. Tubuh besarnya yang menjulang tinggi itu kini merendah, sejajar dengan posisi Pregiwa yang bersandar di batu. Zirah lututnya menghantam tanah basah, menghasilkan suara logam yang meredam detak jantungnya sendiri.
Pregiwati sedikit tersentak mundur melihat raksasa itu tiba-tiba berlutut begitu dekat dengan mereka, namun Pregiwa menahan tangan adiknya. Sang putri menatap takjub. Seorang panglima tertinggi, pahlawan perang yang ditakuti di seluruh daratan Jawadwipa, kini berlutut merendahkan dirinya di atas lumpur tebing, semata-mata karena melihat pergelangan kaki seorang wanita yang bengkak.
"Kaki Tuan Putri... terluka," gumam Gatotkaca pelan, suaranya diusahakan selembut mungkin agar tidak mengagetkan kedua putri itu. Ia mengangkat sebelah tangannya, ingin memeriksa luka tersebut, namun tangannya kembali terhenti di udara. Ia menatap telapak tangannya sendiri—telapak tangan yang tebal, kapalan, dan baru saja mematahkan leher manusia. Ia ragu. Ia mengurungkan niatnya dan menurunkan tangannya kembali ke lututnya sendiri.
"Hanya terkilir, Kanda," jawab Pregiwa, suaranya sedikit tertahan karena menahan perih. "Saat lari dari kejaran Lesmana, hamba tersandung akar pohon beringin dalam kegelapan. Tidak apa-apa. Hamba masih sanggup berjalan jika dibantu oleh Yayi Pregiwati."
Gatotkaca menggeleng pelan namun tegas. Rahangnya yang bersudut tajam mengeras. Kali ini, auranya sebagai seorang komandan lapangan kembali mengambil alih, meski tetap dibalut dengan rasa hormat yang mendalam.
"Tidak, Tuan Putri. Hutan Wanamarta di pertengahan malam bukanlah taman keraton tempat orang bisa berjalan tertatih," ucap Gatotkaca merendahkan baritonnya. Mata tajamnya menyapu sekeliling hutan yang gelap gulita. "Bau darah dari cecunguk-cecunguk Astina yang saya hancurkan tadi mulai menyebar terbawa angin. Dalam hitungan jam, aroma anyir ini akan mengundang kawanan macan kumbang dan babi hutan buas dari lereng gunung. Terlebih lagi... udara malam ini terlalu tajam."
Gatotkaca menatap kain kemben dan jarik tipis yang dikenakan oleh kedua putri itu. Pakaian bangsawan yang terbuat dari sutra halus itu tidak dirancang untuk menahan hawa beku hutan belantara. Tubuh Pregiwati sudah menggigil hebat, sementara bibir Pregiwa mulai memucat menahan dingin yang menusuk tulang.
"Hamba tidak akan membiarkan Tuan Putri berdua membeku atau menjadi incaran hewan buas malam ini," lanjut sang ksatria, kali ini ia memberanikan diri menatap mata Pregiwa. "Hamba harus membawa Tuan Putri keluar dari dasar tebing ini, sekarang juga."
Pregiwa membalas tatapan itu. Ia mengangguk pelan, sepenuhnya menyerahkan nasibnya pada pria di hadapannya. "Lalu, ke mana kita akan berlindung, Kanda? Jarak ke keraton Amarta masih teramat jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki, terlebih dalam kondisiku yang seperti ini."
"Ada sebuah gua suci peninggalan resi kuno di lereng utara Wanamarta," jelas Gatotkaca. "Letaknya tersembunyi di balik tirai air terjun kecil. Kering, terlindung dari angin malam, dan hewan buas tidak berani mendekat ke sana. Hamba sering menggunakannya untuk berteduh saat patroli udara sedang dilanda badai petir yang hebat. Kita akan bermalam di sana. Esok pagi, saat matahari telah terbit dan kabut menipis, hamba akan mengawal Tuan Putri kembali ke pangkuan ayahanda Arjuna di Amarta."
Pregiwa menghela napas lega. Rencana itu terdengar sangat logis dan menenangkan. "Kalau begitu, bimbinglah kami ke sana, Kanda. Hamba akan berusaha menahan sakit di kaki ini."
Gatotkaca terdiam sesaat. Dadanya bergemuruh. Ia harus menyampaikan bagian tersulit dari rencananya, sesuatu yang pasti akan membuat jantungnya kembali melompat keluar dari rongganya. Ia menundukkan kepalanya lagi, memandangi tanah berlumpur di bawah lututnya.
"Gua itu... berada jauh di atas tebing batu, Tuan Putri. Tidak ada jalan setapak untuk mendakinya dari bawah sini," ucap Gatotkaca terbata-bata, suaranya nyaris terdengar seperti bisikan yang tertiup angin. Ujung-ujung telinganya kembali memerah, terasa panas di tengah udara malam yang membeku. "Satu-satunya cara untuk mencapai gua itu dalam waktu singkat... hamba harus... membawa Tuan Putri mengudara."
Pregiwa terdiam. Mengudara? Terbang menembus malam yang pekat ini bersama manusia separuh raksasa?
"M-maksud Kanda... terbang?" tanya Pregiwati dengan mata terbelalak, ketakutannya kembali muncul. Ia menatap sosok besar Gatotkaca dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Ya, Tuan Putri Pregiwati," Gatotkaca mengangguk pelan. "Dan karena Tuan Putri Pregiwa tidak bisa bertumpu pada kakinya, hamba... hamba harus kelancangan untuk... memegang... menggendong tubuh Tuan Putri secara langsung."
Kalimat itu akhirnya keluar dari bibir sang ksatria, diiringi helaan napas berat seolah ia baru saja memikul bongkahan gunung batu di pundaknya. Gatotkaca memejamkan matanya, menunggu penolakan, kemarahan, atau setidaknya jeritan jijik dari sang putri bangsawan karena harus disentuh sedemikian rupa oleh makhluk kasar sepertinya.
Namun, yang terdengar justru kebalikannya.
Terdengar suara tawa kecil yang sangat pelan dan renyah. Suara itu begitu jernih, mengalahkan derik jangkrik di Hutan Wanamarta. Gatotkaca perlahan membuka matanya dan mendongak. Ia melihat Pregiwa sedang tersenyum geli. Ketegangan dan ketakutan yang merantai wajah cantik sang putri kini memudar, digantikan oleh kehangatan yang memancarkan pesona luar biasa.
Bagi Pregiwa, melihat seorang pahlawan perang yang begitu menakutkan bagi musuh-musuhnya berubah menjadi sosok pemalu yang kebingungan meminta izin hanya untuk menyentuhnya, adalah sebuah pemandangan yang anehnya sangat menyentuh hati. Tidak ada niat jahat di mata ksatria ini. Tidak ada nafsu kotor seperti yang terpancar dari mata Lesmana Mandrakumara. Yang ada hanyalah penghormatan yang teramat dalam, dan kepolosan yang begitu murni.
"Kanda Gatotkaca," panggil Pregiwa dengan nada yang sangat lembut, menyebut nama sang ksatria untuk pertama kalinya.
Mendengar namanya disebut dari bibir itu, pertahanan batin Gatotkaca runtuh tak bersisa. Seluruh persendian di tubuhnya terasa meleleh.
"Nyawa hamba, dan nyawa adik hamba, telah sepenuhnya berada di dalam genggaman tangan Kanda malam ini," lanjut Pregiwa sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia melepaskan pegangannya dari batu berlumut itu. "Apa lagi yang harus hamba ragukan dari seorang pelindung yang bersedia berlutut di atas tanah kotor hanya untuk menanyakan keadaan kaki hamba? Bawalah kami, Kanda. Bawalah hamba terbang mengarungi langit Wanamarta."
Gatotkaca tertegun. Kata-kata itu mengalir masuk ke dalam jiwanya, membasuh semua rasa rendah dirinya. Ia menarik napas panjang, mengisi paru-paru besarnya dengan udara malam yang dingin, lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengangguk mantap. Mode keraguan di dalam dirinya seketika sirna, digantikan oleh tekad pelindung yang menyala terang bagai seribu obor.
Ia berdiri dari lututnya. Tubuh besarnya kembali menjulang, menutupi hembusan angin malam yang mencoba menusuk tubuh kedua putri itu.
"Tuan Putri Pregiwati," ucap Gatotkaca kepada sang adik. "Hamba mohon, naiklah ke atas punggung hamba. Berpeganganlah pada pundak zirah ini sekuat tenaga. Jangan pernah melepaskannya, apa pun yang terjadi, hingga kaki Tuan Putri menyentuh dasar gua."
Pregiwati, yang kini mulai menaruh kepercayaan pada raksasa baik hati ini, mengangguk pelan. Dengan langkah hati-hati, ia memutar ke belakang Gatotkaca. Sang ksatria sedikit menunduk, membiarkan putri kecil itu memanjat dan melingkarkan lengannya yang kurus mengelilingi leher besar Gatotkaca yang dilapisi pelindung leher dari kain beludru tebal. Punggung Gatotkaca terasa sekokoh dinding benteng, memancarkan hawa panas tubuh yang seketika mengusir rasa menggigil dari tubuh Pregiwati.
Kini, giliran sang ksatria menghadapi ujian terberatnya malam itu.
Gatotkaca berbalik menghadap Pregiwa. Sang putri berdiri dengan satu kaki di atas tanah, menatapnya dengan senyum tipis yang penuh keyakinan. Gatotkaca membungkukkan badannya. Dengan gerakan yang seribu kali lebih lambat dan hati-hati dibandingkan saat ia menangkap tombak musuh, ia menyusupkan tangan kanan besarnya ke punggung Pregiwa, melewati sela kemben sutranya, dan tangan kirinya menopang lipatan lutut sang putri.
Saat ia mengangkat tubuh Pregiwa, Gatotkaca kembali menahan napas. Tubuh itu benar-benar sangat ringan. Pregiwa tidak memberontak; ia justru secara naluriah mengalungkan kedua lengan rampingnya ke sekeliling leher Gatotkaca, menyandarkan sisi wajahnya yang lelah tepat di tengah-tengah dada bidang sang ksatria, tepat di atas lambang bintang kebesaran Pringgandani.
Bagi Gatotkaca, saat dada Pregiwa bersentuhan dengan dadanya, seluruh semesta di sekitarnya seolah meledak menjadi jutaan keping cahaya. Ia bisa mencium aroma melati itu semakin kuat, menguasai seluruh indra penciumannya. Ia bisa merasakan embusan napas hangat Pregiwa menerpa celah leher zirahnya. Dan yang paling menggetarkan, ia bisa merasakan ritme detak jantung Pregiwa yang berdegup pelan namun teratur, berpadu dengan detak jantungnya sendiri yang berpacu liar tak karuan.
"Hamba mohon izin, Tuan Putri," bisik Gatotkaca parau.
"Terbanglah, Kanda," balas Pregiwa lirih, mempererat pelukannya di leher sang ksatria.
Gatotkaca memejamkan mata. Ia memusatkan seluruh cakra batinnya, memanggil kekuatan angin yang tersembunyi di dalam darahnya. Tidak ada kepakan sayap burung, tidak ada ledakan tanah seperti saat ia turun tadi. Dengan kelembutan yang nyaris mustahil dilakukan oleh makhluk berukuran sebesar dirinya, tubuh Gatotkaca perlahan terangkat dari permukaan tanah.
Ia memutus hukum gravitasi. Udara malam yang dingin di sekitar mereka tiba-tiba terasa menghangat, seolah Gatotkaca menciptakan kubah tak kasat mata dari aura tubuhnya sendiri untuk melindungi dua bunga teratai di pelukannya dari tajamnya angin malam.
Mereka mulai mengudara. Melesat menembus kanopi dedaunan pinus, meninggalkan dasar tebing Hutan Wanamarta yang berbau kematian, dan menembus lapisan kabut tipis menuju keheningan langit malam.
Di pelukan sang manusia baja, Pregiwa memejamkan matanya. Ia mendengar detak jantung di balik zirah keras yang menyangga kepalanya. Itu bukanlah detak jantung monster yang haus darah, melainkan detak jantung seorang pria yang menyimpan kelembutan luar biasa di balik cangkang besinya yang menakutkan. Di atas langit Wanamarta yang gelap gulita itu, di tengah hembusan angin malam yang mendesing di telinganya, Pregiwa tahu dengan pasti, bahwa ia belum pernah merasa seaman ini seumur hidupnya.
Sementara itu, bagi Gatotkaca, malam ini bukan lagi tentang patroli menjaga perbatasan Amarta. Malam ini, ia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada tahta, lebih suci daripada pusaka dewata, dan lebih rapuh daripada selembar daun kering. Malam ini, sang ksatria langit telah menemukan alasan sejatinya mengapa ia dilahirkan dengan otot kawat dan tulang besi: untuk menjadi perisai abadi bagi wanita yang kini tertidur di pelukannya.