Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Valerie tersentak hebat. Ciuman menuntut dari Damian terasa seperti serangan mendadak yang membakar bibirnya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Valerie mendorong dada bidang pria itu sekuat mungkin.
"Hey! Apa-apaan kau?!" protes Valerie dengan napas terengah dan wajah yang memerah padam. "Jangan sembarangan menciumku! Kita hanya sepakat soal aku tinggal di sini, bukan hal lain!"
Damian tidak marah karena didorong. Ia justru kembali menyeringai, sebuah ekspresi predator yang baru saja memojokkan mangsanya ke tepi jurang. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap Valerie dengan tatapan yang seolah bisa menelanjangi rahasia terdalam gadis itu.
"Ah, aku lupa memberitahumu satu poin penting, Sayang," ucap Damian dengan nada santai namun tajam. "Saat kau setuju menjadi tawananku, itu artinya kau juga harus siap menjadi milikku. Jiwamu, tubuhmu, dan setiap helai rambutmu adalah milikku sekarang."
Valerie terperanjat. Rasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya. Ia merasa telah dibodohi, atau mungkin ia yang terlalu naif dan kurang teliti hingga melewatkan fakta bahwa pria seperti ini pasti memiliki seribu rencana licik di balik setiap kesepakatan.
"Kau tidak bisa seenaknya!" balas Valerie, suaranya naik satu oktaf karena emosi dan rasa takut yang bercampur. "Aku ini wanita baik-baik! Aku punya harga diri dan aku tidak sudi menjadi simpanan siapa pun, termasuk kau!"
Mendengar kata "tidak sudi", rahang Damian mengeras. Ia bergerak secepat kilat, tangan besarnya mencengkeram rambut bagian belakang Valerie, sedikit menariknya hingga wajah cantik gadis itu kembali terangkat paksa. Jarak mereka kini begitu dekat hingga napas Damian yang memburu terasa di permukaan kulit Valerie.
"Apa kau sedang mencoba mempermainkan seorang Damian Callister, Valerie?" desisnya dengan suara rendah yang sangat mengintimidasi. "Kepercayaan dirimu sungguh tinggi ya, sampai berani mendikte apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan."
Jantung Valerie seakan berhenti berdetak saat mendengar nama itu disebut. Matanya membelalak, tubuhnya seketika kaku.
"Si... siapa katamu? Damian... Callister?" tanya Valerie dengan suara yang nyaris hilang karena gugup.
Ingatannya melesat kembali ke sebuah percakapan di ruang kerja pamannya dengan rekannya yang tidak sengaja Valerie dengar dari balik pintu.
Ia ingat betul bagaimana sang paman berbicara dengan tentang sosok Damian Callister—seorang pemimpin sindikat besar yang berdarah dingin, pria yang kekuasaannya melampaui hukum dan tidak segan-segan melenyapkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Kini, Valerie sadar sepenuhnya. Pria yang ia bius semalam bukan sekadar pengusaha yang sedang dalam masalah, melainkan iblis nyata yang paling dihindari oleh dunia bawah.
Valerie meringis pelan, matanya mulai berkaca-kaca. Ia merasa benar-benar terjebak dalam permainan yang ia buat sendiri, dan sialnya, labirin ini tidak memiliki jalan keluar. "Aww... sakit,"
keluhnya dengan suara yang dibuat serapuh mungkin.
Meski tarikan pada rambutnya tidak terlalu menyakitkan, Valerie mencoba sedikit berakting agar cengkeraman Damian mengendur.
Damian mendengus, seolah bisa mencium usaha manipulasi kecil Valerie, namun ia tetap melepaskan cengkeramannya. Alih-alih menjauh, Damian justru mulai melakukan gerakan yang membuat napas Valerie tertahan di tenggorokan.
Dengan santai, Damian menendang sepatunya hingga terlepas. Tangannya kemudian naik ke kerah kemeja premiumnya, membuka satu per satu kancingnya dengan gerakan yang tenang namun penuh penekanan.
Jantung Valerie berdegup sangat kencang, dentumannya sampai terasa ke ujung telinga. Ia bingung dengan perasaannya sendiri; apakah debaran ini karena terpesona melihat aura maskulin pria berbahaya itu, atau karena rasa takut yang luar biasa membayangkan apa yang akan Damian lakukan padanya.
"Ka... kamu mau apa?" tanya Valerie gagap, ia semakin merapatkan punggungnya ke headboard kasur.
Damian meliriknya sekilas dengan tatapan predator, kemejanya kini sudah terbuka sepenuhnya memperlihatkan otot dada yang kokoh. "Aku mau menagih janji yang kemarin kau ingkari," jawabnya santai, namun nada suaranya terdengar sangat mengerikan di telinga Valerie.
Dada Valerie terasa sesak. Oh Tuhan... apakah aku akan kehilangan kesucianku malam ini di tangan pria ini? batinnya penuh kepanikan. Ia teringat kejadian semalam saat ia melarikan diri, dan kini pria yang ia tipu itu sudah siap untuk mengambil haknya secara paksa.
Damian melempar celana bahannya ke kursi terdekat, menyisakan dirinya yang hanya mengenakan boxer. Valerie menahan napas, matanya tak bisa berkompromi untuk tidak memperhatikan proporsi tubuh pria di depannya.
Ia mengakui, meski dalam keadaan terancam, Damian terlihat sangat menggoda. Rambutnya yang sedikit berantakan justru menambah aura ketampanan yang lebih mematikan—bahkan, jauh di lubuk hatinya, Valerie mengakui ketampanan Damian berada di level yang berbeda jika dibandingkan dengan Aiden.
Namun, Valerie tetaplah gadis yang realistis. Ketampanan tidak akan membuatnya luluh begitu saja jika taruhannya adalah harga diri dan keselamatannya.
Tanpa membuang waktu, Damian merangkak naik ke atas kasur. Seringainya semakin lebar saat tangan besarnya meraih pergelangan kaki jenjang Valerie.
Dengan satu tarikan kuat, tubuh Valerie merosot hingga ia kini tidur terlentang di bawah kungkungan pria itu. Mata Valerie membelalak sempurna, napasnya memburu karena terkejut.
"Damian, hentikan!" pekik Valerie.
Tapi Damian tak memberikan celah sedikit pun. Secepat kilat, ia mengunci kedua tangan Valerie di atas kepala dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menahan pinggang gadis itu. Ia menekan tubuhnya di atas Valerie, membuat gadis itu benar-benar kesulitan untuk bergerak.
"Gila, pria ini sangat kuat," pikir Valerie frustrasi. Ia mencoba meronta dan menendang, namun Damian tetap tidak bergeming sedikit pun, seolah tubuh Valerie hanyalah rintangan kecil yang tidak berarti baginya.
Damian mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidung mereka bersentuhan. "Tidak ada gunanya kau melawanku saat ini, Valerie," bisiknya dengan suara rendah yang menggetarkan dada. "Kau sudah berada sepenuhnya dalam genggamanku."
Tatapan Damian mengunci netra Valerie, tidak membiarkan gadis itu berpaling. "Jadi, daripada membuang tenaga untuk memberontak, lebih baik kau nikmati saja apa yang akan kulakukan padamu."