NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dunia Novel Menjadi Suami Villain

Transmigrasi Dunia Novel Menjadi Suami Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Sistem / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Fantasi / Harem
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.

Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.

Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.

Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tambang Kristal Merah

Beberapa hari setelah kesepakatan itu, angin tidak lagi membawa hawa beku yang menggigit tulang. Pemandangan hamparan salju abadi Wilayah Utara telah tertinggal jauh di belakang mereka.

Saat ini, Wu Xuan, Xu Mei, dua jenderal veteran Ranah Kuno tahap awal dari Utara, serta Mandou yang melangkah dengan keagungan buasnya, berdiri di depan sebuah monumen keputusasaan alam. Di hadapan mereka, menjulang sebuah pintu gua raksasa yang terbuat dari batuan purba berwarna merah gelap. Pintu itu tertutup rapat, disegel oleh rantai-rantai formasi raksasa yang berkarat oleh waktu namun masih memancarkan tekanan yang dalam.

Ini adalah pintu masuk menuju Tambang Kristal Merah.

Lokasi ini adalah sebuah anomali geografis yang sangat langka di kekaisaran Great Yan, bahkan di Benua Tianlan. Jika seseorang melihat Peta Kosmik Kekaisaran Great Yan, tempat ini adalah sebuah titik buta—sebuah persimpangan absolut di mana nadi spiritual dari empat wilayah besar kekaisaran saling bertabrakan. Garis perbatasan Wilayah Barat, Wilayah Pusat, Wilayah Selatan, dan Wilayah Utara bertemu di titik koordinat ini, menciptakan sebuah pusaran energi yang menolak hukum alam yang normal.

Tidak ada salju utara di sini. Tidak ada hutan zamrud selatan, tidak ada padang rumput pusat, dan tidak ada tebing curam barat. Ini adalah hamparan gurun pasir berwarna merah darah. Pasir di tempat ini setajam pecahan kaca, berterbangan ditiup angin kencang yang membawa bau karat dan sisa-sisa pembantaian dari jutaan tahun yang lalu.

Wu Xuan berdiri di barisan paling depan, jubah hitamnya berkibar menahan badai pasir merah. Matanya yang keemasan menatap ukiran-ukiran monster purba di pintu gua raksasa itu.

Di dalam hatinya, sifat asli pemuda itu menyeringai kegirangan.

'Ah, aroma petualangan,' monolog batin Wu Xuan dengan nada humoris yang sangat kontras dengan wajah tirannya. 'Gurun pasir tersembunyi, pintu raksasa tersegel, harta karun di ujung jalan, dan bos monster yang menunggu di dasar. Di duniaku dulu, ini adalah definisi dari sebuah "Dungeon Raid" tingkat tinggi. Aku punya Tank, DPS, dan aku adalah pemain VIP pay-to-win yang kebetulan sudah membaca buku panduan (walkthrough) dari developer secara lengkap.'

Wu Xuan mengangkat tangannya. Dari balik lengan jubahnya, plat giok kepemilikan tambang yang ia ambil dari ruang kerja Duke Bei Han melayang ke udara.

Tambang Kristal Merah ini telah lama dihentikan operasinya. Bukan karena kehabisan sumber daya, melainkan karena tingkat kematian penambang dan prajurit pelindung mencapai angka sembilan puluh persen. Ancaman di dalamnya terlalu buas, terlalu brutal. Rahasia umum di kalangan petinggi kekaisaran mengatakan bahwa untuk sekadar memulai kembali ekspedisi ke dalam tambang ini, sebuah faksi membutuhkan setidaknya satu ahli di Ranah Primordial Suci murni sebagai pembuka jalan.

"Mundur selangkah," titah Wu Xuan pelan namun bergema mengalahkan suara badai pasir.

Xu Mei dan kedua jenderalnya segera mundur. Mandou menggeram pelan, menyiagakan ketiga kepalanya.

Wu Xuan mengalirkan sedikit energi dari Akar Spiritual Samudra Terdalam ke dalam plat giok tersebut. Seketika, giok itu memancarkan cahaya biru terang, menembakkan seberkas sinar yang menghantam tepat di tengah lubang kunci formasi pintu raksasa.

KRAAAAK... BZZZTTT...

Suara gesekan batu yang memekakkan telinga bergema hingga ribuan mil jauhnya. Rantai-rantai formasi yang menyegel pintu itu perlahan memudar menjadi debu cahaya. Pintu gua setinggi ribuan meter itu mengerang, bergeser terbuka secara perlahan, melepaskan embusan angin panas dari dalam kegelapan yang membawa bau belerang dan darah purba.

Tepat saat pintu itu terbuka dan hawa membunuh dari dalam gua menerjang keluar, tubuh Wu Xuan merespons secara otomatis.

Sebagai manifestasi perlindungan dari Tubuh Domain Kuno miliknya—sebuah tubuh yang menyimpan beberapa dunia mikro di dalam tubuhnya—zirah tempur bawaannya aktif dengan sendirinya.

Cahaya keemasan yang menyilaukan meledak dari tubuh Wu Xuan. Dalam hitungan detik, jubah sutra hitamnya tergantikan oleh sebuah zirah tempur emas murni yang memancarkan keilahian. Zirah itu sangat elegan, tidak terlihat berat, mengikuti lekuk otot tubuhnya dengan sempurna. Di bagian pinggang dan pundaknya, tersemat jubah dari kain putih suci yang berkibar lembut, memberikan kontras yang sangat mempesona antara kekejaman logam dan kelembutan sutra.

Di belakangnya, Xu Mei dan kedua jenderalnya telah mengenakan zirah khas komandan militer Wilayah Utara. Zirah mereka terbuat dari logam es abadi berwarna biru mengkilap, sangat tebal dan praktis, dirancang untuk menahan serangan brutal monster. Namun, berdiri di samping Wu Xuan yang berzirah emas, zirah biru mereka terlihat seperti perlengkapan prajurit rendahan di hadapan seorang Dewa Perang surgawi.

"Kita masuk," ucap Wu Xuan singkat, melangkah dengan tenang menembus kegelapan pintu gua.

Mandou berjalan tepat di sampingnya, sementara Xu Mei dan kedua jenderalnya mengikuti dengan formasi berlian, menjaga sisi belakang dan sayap.

Begitu mereka melewati ambang pintu dan masuk sepenuhnya ke dalam lorong tambang kristal merah, hukum alam di sekitar mereka mendadak hancur berantakan.

BRUK!

Kedua jenderal Ranah Kuno tahap awal itu langsung terhuyung ke depan. Kaki mereka menghantam lantai batu merah dengan keras. Bahkan Xu Mei, yang terbiasa dengan tekanan berat, terkesiap pelan. Napasnya tercekat, bahunya merosot ke bawah seolah ada gunung tak kasat mata yang tiba-tiba menimpa punggungnya.

"Y-Yang Mulia Archduke!" seru salah satu jenderal, suaranya terdengar panik sambil berusaha menopang tubuhnya dengan tombak birunya. "Aura spiritual kita... ditekan! Gravitasinya... gravitasinya tidak masuk akal!"

Xu Mei mencoba mengaktifkan aliran Qi di kakinya untuk meringankan beban, namun ia menyadari hal yang lebih mengerikan. "Formasi Anti-Penerbangan... dan formasi ini juga membatasi dao ruang!"

Kepanikan mulai merayap di wajah orang-orang Utara itu. Tambang ini adalah sebuah jebakan maut. Lorong merah ini memancarkan formasi alami yang luar biasa ekstrem: Anti-Penerbangan, Anti-Spasial, dan peningkatan gravitasi spiritual hingga ribuan kali lipat. Di tempat ini, kultivator yang terbiasa terbang membelah langit dipaksa merangkak layaknya manusia fana, dan bahkan keagungan Ranah Primordial Suci tidak luput dari tekanan penindasan ini.

Namun, di tengah kepanikan itu, satu orang tetap berdiri tegak dengan keanggunan yang tak tergoyahkan.

Wu Xuan menoleh ke arah mereka. Zirah emasnya tidak sedikit pun membebani pergerakannya. Tentu saja ia merasakan tekanan gravitasi dan penyegelan spasial itu, tetapi sebagai seorang "penjelajah" yang telah membaca novel aslinya, ia sudah mempersiapkan mental dan energinya untuk debuff area ini. Ditambah lagi, dengan alam mikro di dalam dantiannya, gravitasi planet di luar tubuhnya tidak akan bisa menghancurkan gravitasi bintang di dalam tubuhnya.

"Tenangkan diri kalian," ucap Wu Xuan dengan suara bariton yang berat dan menenangkan, sama sekali tidak terpengaruh oleh tekanan. "Ini adalah resonansi alami dari Kristal Merah Darah. Tetap berpijak di tanah dan jangan mencoba melawan arusnya dengan paksa. Kalian hanya akan membakar meridian kalian sendiri."

Wu Xuan melangkah mundur, mendekati Xu Mei yang masih berusaha menstabilkan napasnya.

Dengan gerakan yang sangat natural dan dipenuhi oleh aura perlindungan, Wu Xuan menempatkan dirinya sedikit di depan wanita itu. Setiap kali formasi gua memancarkan fluktuasi gravitasi yang bergejolak, atau saat bongkahan kristal di langit-langit gua retak dan berjatuhan, Wu Xuan dengan sigap menggeser posisinya. Bahunya yang lebar berbalut zirah emas selalu menjadi perisai pertama yang menghalangi Xu Mei dari bahaya apa pun.

Matanya yang keemasan selalu menyempatkan diri untuk melirik ke belakang, menatap wanita cantik berzirah biru itu. Tatapan Wu Xuan bukanlah tatapan seorang komandan yang mengevaluasi bawahannya, melainkan tatapan seorang pria yang memastikan hartanya tidak tergores sedikit pun.

"Kau baik-baik saja, Mei?" bisik Wu Xuan pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh gema langkah kaki mereka, namun cukup keras untuk menyentuh telinga Xu Mei. Senyum tipis yang hangat terukir di bibirnya.

Dada Xu Mei berdebar sangat kencang. Di bawah tekanan gravitasi yang menyiksa, perlakuan Wu Xuan ini adalah sebuah kelainan emosional yang memabukkan.

Kedua jenderal di belakang mereka terlalu sibuk memindai struktur energi gua dan menahan tekanan formasi untuk menyadari dinamika romantis ini. Namun bagi Xu Mei, yang menjadi target dari perlindungan itu, setiap detik adalah siksaan sekaligus ekstase.

Selama puluhan tahun menikah dengan Duke Bei Han, ia selalu dituntut menjadi wanita baja, seorang Nyonya Utara yang harus berdiri setara dan menahan beban wilayah bersama suaminya. Saat bencana datang, suaminya menghilang, meninggalkannya sendirian menghadapi kehancuran.

Namun pria ini... Archduke Xuan, seorang tiran berdarah dingin yang bisa meratakan sebuah kota tanpa berkedip... kini memperlakukannya seolah ia adalah porselen langka yang sangat rapuh.

Logika Xu Mei menjerit bahwa ini mungkin hanya taktik manipulasi sang Archduke, tetapi hatinya yang lelah telah menyerah. Setiap kali pandangan penuh kepedulian dari mata keemasan itu menyentuhnya, sisa-sisa es di hati Xu Mei mencair, meluluhlantakkan pertahanan mentalnya lapis demi lapis.

'Dia kejam pada lawan, tapi dia begitu lembut padaku,' batin Xu Mei, menundukkan wajahnya yang mulai merona merah, diam-diam melangkah lebih dekat ke balik bayangan bahu lebar Wu Xuan.

Ia tidak perlu menyentuh, ia tidak perlu merayu dengan kata-kata gombal rendahan; sebuah tindakan protektif di tempat yang penuh keputusasaan adalah afrodisiak yang paling mematikan bagi wanita politisi yang sedang rapuh.

Perjalanan mereka terus berlanjut ke kedalaman tambang. Cahaya merah dari dinding kristal menjadi satu-satunya sumber penerangan, menciptakan bayang-bayang panjang yang menari di lantai gua.

Tiba-tiba, Mandou menghentikan langkahnya. Ketiga kepala singa purba itu menggeram rendah, bulu-bulu di lehernya berdiri tegak.

Wu Xuan mengangkat tangannya, mengisyaratkan kelompok itu untuk berhenti. Matanya menyipit ke arah kegelapan lorong di depan mereka.

Krrrrk... krrrrrk... sssshhhh...

Suara gesekan benda keras pada lantai batu bergema dari berbagai arah. Dari dalam celah-celah dinding kristal merah dan lorong yang gelap, puluhan pasang mata menyala kemerahan muncul.

"Kita punya tamu," ucap Wu Xuan santai. Ia bahkan tidak berniat mengulurkan tangannya untuk memanggil Pedang Pelahap Dunia. Baginya, ini hanyalah monster kelas teri.

Makhluk-makhluk itu merayap keluar. Mereka adalah Kalajengking Kristal Darah dan Kadal Pasir Merah. Tubuh mereka sepenuhnya tertutupi oleh lapisan kristal yang setajam pedang, berevolusi secara sempurna untuk hidup di dalam gua dengan gravitasi ekstrem ini. Aura mereka memancarkan fluktuasi puncak Ranah Roh.

Namun, sebelum monster-monster itu sempat melompat, dua siluet biru melesat melewati Wu Xuan dan Xu Mei.

"Biarkan kami yang membersihkan jalan dari sampah ini, Yang Mulia Archduke! Kami tidak akan membiarkan tangan emas Anda kotor oleh darah serangga!" teriak salah satu jenderal Utara.

Sebagai bawahan yang ingin membuktikan nilai mereka—dan mungkin karena sedikit rasa iri melihat betapa mendominasinya Wu Xuan—kedua jenderal Ranah Kuno itu menerjang ke depan dengan tombak dan kapak es abadi mereka.

Meskipun gravitasi menekan mereka, fondasi Ranah Kuno mereka bukanlah pajangan.

"Seni Tombak Pembeku Kutub!"

"Kapak Pemecah Gletser!"

Kedua jenderal itu melepaskan serangan area yang masif. Qi elemen es meledak di dalam gua yang panas tersebut. Suhu di sekitar lorong turun drastis. Tombak biru menembus cangkang kristal kalajengking dengan mudah, membekukan darah mereka secara instan sebelum mereka bisa menyemburkan racun. Sementara kapak raksasa membelah kadal-kadal pasir itu menjadi dua bagian yang beku, hancur berkeping-keping menghantam lantai.

Pertarungan itu selesai dalam waktu kurang dari lima menit. Puluhan beast Ranah Roh diubah menjadi patung es yang pecah berserakan.

Kedua jenderal itu mundur kembali ke formasi dengan napas sedikit terengah namun wajah penuh kebanggaan. "Jalan telah bersih, Duchess, Yang Mulia Archduke."

"Kerja bagus," Wu Xuan mengangguk pelan, memberikan pujian basa-basi.

Namun, mata keemasan sang Archduke tidak menatap tumpukan es di depannya. Ia menatap ke arah retakan-retakan kecil di lantai gua.

Darah dari monster-monster yang mati itu tidak menggenang di lantai. Sebaliknya, cairan merah itu diserap secara instan oleh urat-urat kristal merah di bawah pijakan mereka, layaknya air yang tumpah ke atas spons yang kering.

Batin Wu Xuan tersenyum dingin. 'Trik klasik Dungeon. Darah kroco adalah kunci untuk membangunkan sang bos yang tertidur.'

Tiba-tiba, seluruh lorong Tambang Kristal Merah itu bergetar hebat. Bukan getaran gravitasi, melainkan getaran mekanis yang sangat dalam. Suara detak jantung yang luar biasa masif terdengar dari kedalaman bawah tanah gua, bergema melalui dinding-dinding kristal hingga membuat zirah biru kedua jenderal itu berdenting.

Cahaya merah di dalam gua mendadak menyala terang benderang.

Sesuatu yang luar biasa purba dan mematikan baru saja mencium aroma darah, dan ia kini telah terbangun dari tidur pulasnya.

Bersambung...

1
Fajar Fathur rizky
thor gambar yan meli mana thor
EGGY ARIYA WINANDA: Nanti kalau wu xuan udah pulang ke selatan dinasti.
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 46
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 45 thor
Fajar Fathur rizky
thor bikin wuxuan licik orang yang mau meracuni klanya bikin bantai bikin orang yang mau meruntuhkan tambang spritual juga di bantal semua sampai tak tersisa bikin faksi ibu kota ketakutan bikin wuxuan meracuni semua anggota Kekaisaran great yan termasuk kedua leluhur itu bikin ranah kultivasi mereka turun sampai ranah primordial suci tahap awal bikin mereka menua
Fajar Fathur rizky
thor bikin wuxuan bikin pil racun yang menurunkan ranah kultivasi kedua leluhur itu sampai ranah primordial suci tahap awal thor bikin wuxuan licik
Fajar Fathur rizky
bikin semua orang yang di suruh itu mati oleh wuxuan
Fajar Fathur rizky
yan maier yang ada elu yg bakal di taklukkan oleh wuxuan
Fajar Fathur rizky
bikin Kekaisaran great yan bangkrut thor
Fajar Fathur rizky
bikin nanti bantai leluhur itu dan kaisar Kekaisaran great yan dengan cara paling kejam thor
Fajar Fathur rizky
cepat bikin wuxuan bantai para pembunuh itu dengan cara paling kejam thor bikin tubuh mereka jadi makanan hewan kontraknya
Fajar Fathur rizky
di tunggu updatenya thor bab 44 thor
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 43 thor
Fajar Fathur rizky
cepat naikin ranah kultivasi wuxuan sampai ranah tinggi thor pengen liat dia bantai kaisar Kekaisaran great yan termasuk dua leluhur itu dan taklukin ibu suri itu thor
Fajar Fathur rizky
cepat bikin ranah kultivasi yan dobu dan yan chaoran turun sampai ranah primordial suci tahap awal
Fajar Fathur rizky
cepat update bab 43 thor
Fajar Fathur rizky
nanti jika wuxuan jika sudah berada di ranah tribulasi dunia tahap puncak bantai kedua leluhur Kekaisaran great yan itu dengan cara paling kejam Dan keji thor
Fajar Fathur rizky
chapter 42 bikin wuxuan kejam kepada musuhnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai yantian dengan cara paling kejam mati di tangan rakyatnya sendiri
Fajar Fathur rizky
cepat bikin wuxuan bantai kaisar dan kedua leluhur Kekaisaran great yan dengan cara licik memberikan racun yang membuat ranah kultivasi kedua leluhur Kekaisaran great yan turun begitu juga ranah kultivasi kaisar yan turun
Fajar Fathur rizky
bikin nanti dinasty menjadi dinasty wu bukan yan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!