"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Persiapan Nikah
...GAMON...
...Bab 23: Persiapan Nikah...
...POV Bima & Rina...
---
...Seminggu Setelah Lamaran...
...Lima Hari Rina Nggak Bisa Berhenti Senyum...
...Tiga Hari Bima Mulai Sering "Ilang"...
---
Sabtu – 09.00 WIB
Apartemen Rina – Lantai 12
Pagi itu Rina udah bangun sejak jam 6. Padahal hari Sabtu. Biasanya dia molor sampe jam 8. Tapi hari ini beda. Hari ini dia janjian sama Bima buat mulai urus persiapan nikah.
Dia berdiri di depan cermin kamar. Rambut udah diikat rapi. Kaos putih dipadu jeans. Simple. Tapi matanya—matanya bersinar kayak anak kecil yang mau pergi liburan.
Cincin di jari manisnya digerak-gerakin. Diputer-puter. Dilihat dari berbagai sudut. Masih nggak percaya.
"Bim!" teriaknya sambil tetap liat cincin. "Bangun! Kita mau ke gedung!"
Dari kamar, Bima muncul. Rambut acak-acakan. Mata masih sayu. Pake kaos oblong yang sama kayak kemarin—ketauan deh abis bangun tidur doang.
"Jam berapa?" tanyanya sambil menguap.
"Jam 9! Lo tau sendiri kita janjian jam 10 sama pihak gedung!"
Bima geleng-geleng. Tapi senyum. Liat Rina excited kayak gini, dia jadi ikut seneng. At least, dia berusaha ikut seneng.
"Iya, iya. Gue mandi dulu."
Rina nutup pintu kamar mandi buat Bima. Balik lagi ke ruang tamu. Di meja, udah ada laptop terbuka, list vendor pernikahan, dan segelas kopi yang udah dingin.
Dia duduk. Buka browser. Ketik: "dekorasi pernikahan minimalis modern"
Satu jam kemudian, Bima keluar. Udah rapi. Kemeja biru muda, celana bahan, sepatu pantofel. Rambut disisir rapi.
Rina liat, langsung senyum lebar.
"Ganteng banget, Bim."
Bima tersipu. "Lo juga cantik."
Rina berdiri. Jalan ke arah Bima. Rapihin kerah bajunya—padahal udah rapi. Cuma alasan buat deket.
"Siap?"
"Siap."
---
10.30 WIB
Gedung Pernikahan – Jakarta Selatan
Gedungnya nggak terlalu besar. Tapi cantik. Tembok putih, taman kecil di depan, jendela-jendela besar yang masukin cahaya. Di dalem, ruangan masih kosong. Tapi Rina udah bisa bayangin dekorasi, pelaminan, tamu-tamu.
"Gimana, Mas, Mbak?" tanya Pak Hendra, manager gedung. "Kapasitas 200 orang. Ada taman buat foto pre-wedding. Parkir luas. Sound system include."
Rina liat Bima. Matanya nanya.
Bima angguk. "Gue oke. Lo?"
Rina senyum. "Oke. Tapi boleh liat ruang gantinya?"
Pak Hendra ngangguk. "Tentu, Mbak. Saya antar."
Mereka jalan ke belakang. Rina excited. Bima di belakang, ikut jalan.
Tapi di sela-sela jalan, Bima berhenti.
Matanya nanjak ke luar jendela. Dari situ, ada taman kecil. Bangku taman. Pohon rindang. Di bangku itu, ada sepasang muda lagi ngobrol. Ceweknya ketawa. Cowoknya elus rambut cewek itu.
Bima tatap itu. Nggak kedip.
Dia ingat dulu. Waktu dia sama Keana. Mereka juga pernah duduk di taman kayak gitu. Keana ketawa karena dia becanda nggak lucu. Dia elus rambut Keana—lembut, hitam, panjang.
"Bim!"
Suara Rina. Dari jauh.
Bima kaget. Kedip. Buang bayangan.
"Iya, bentar."
Dia jalan. Tapi di dalem kepala, bayangan itu nggak pergi.
---
12.30 WIB
Restoran Padang – Dekat Gedung
Mereka makan siang. Rina lahap. Sambil makan, dia masih sibuk ngecek ponsel—vendor dekorasi, katering, undangan.
"Bim, lo tahu nggak, ternyata kita harus booking vendor dari sekarang. Kata Pak Hendra, bulan depan banyak yang nikah. Takut keabisan."
Bima makan. Pelan.
"Iya. Terserah lo aja, Rin."
Rina berhenti makan. Tatap Bima.
"Lo kenapa? Kok diem aja?"
"Nggak. Capek aja."
Rina diem sebentar. Matanya nyari sesuatu di wajah Bima.
"Bim."
"Hmm?"
"Lo... mau nikah, kan?"
Bima kaget. "Iya. Kok nanya gitu?"
Rina senyum. Tapi senyumnya agak tegang.
"Soalnya kadang lo kayak... nggak di sini. Kayak ada di tempat lain."
Bima nahan napas.
"Gue di sini, Rin."
Rina tatap dia. Lama. Lalu balik makan.
"Iya. Gue tahu."
Tapi di dalem hati, dia nggak yakin.
---
15.00 WIB
Rumah Bima – Tempat Orang Tua
Mereka lanjut ke rumah orang tua Bima. Ibu udah nunggu di teras.
"Nak! Rin! Sini sini!"
Ibu peluk mereka bergantian. Wajahnya cerah.
** "Ibu dengar lo mau nikah! Alhamdulillah!"**
Rina senyum. "Iya, Bu. Mohon doanya."
Ibu tarik mereka masuk. Di ruang tamu, Bapak lagi baca koran. Tapi begitu lihat mereka, koran langsung ditutup.
"Wah, calon manten dateng!"
Bapak tertawa. Suaranya berat. Tapi hangat.
Mereka ngobrol. Ibu bawain kue dan teh. Rina cerita rencana pernikahan. Bapak nasehatin soal rumah tangga. Ibu udah nangis duluan—padahal nikahnya masih dua bulan lagi.
Bima diem. Lebih banyak diem.
Ibu liat. Tapi nggak nanya.
---
18.30 WIB
Perjalanan Pulang – Dalam Mobil
Rina nyetir. Bima di samping. Sepanjang jalan, dia liat ke luar jendela. Lampu-lampu Jakarta mulai nyala. Macet di mana-mana.
"Bim."
"Hmm?"
"Ibu lo nangis tadi."
Bima senyum tipis. "Iya. Dia emang gitu."
"Lo nggak nangis?"
Bima nengok. "Nangis kenapa?"
Rina lurus ke depan. Tangannya di setir agak kaku.
"Nangis... karena seneng."
Bima diem.
Rina nggak nunggu jawaban. Dia tahu mungkin nggak bakal ada jawaban.
---
21.00 WIB
Apartemen Rina – Lantai 12
Rina udah selesai mandi. Di kamar, dia lagi lotion-an. Bima di ruang tamu, ponsel di tangan. Tapi nggak liat layar. Matanya kosong ke arah televisi yang mati.
Rina keluar. Rambut masih agak basah. Wangi sabun.
Dia duduk di samping Bima.
"Bim."
Bima nengok. "Hmm?"
Rina pegang tangannya. Cincin di jarinya—masih nyala kena lampu ruangan.
"Aku tahu lo capek. Aku juga capek. Tapi..."
Dia berhenti. Cari kata.
"Aku mau lo tahu. Aku seneng. Beneran."
Bima tatap dia.
"Gue juga seneng, Rin."
Rina senyum. Tapi senyumnya tipis.
"Beneran?"
Bima diem sebentar.
"Beneran."
Rina nggak nanya lebih. Dia nyender di pundak Bima.
Mereka diem. Nonton TV yang mati.
---
23.00 WIB
Kamar Tidur
Rina udah tidur. Bima di samping. Masih buka mata.
Dia inget hari ini. Gedung. Restoran. Rumah orang tua. Ibu nangis. Rina excited.
Semua berjalan sesuai rencana.
Tapi kenapa di dada masih ada yang aneh?
Kenapa pas liat taman tadi, dia malah inget Keana? Kenapa pas Rina excited milih vendor, dia malah mikir "apa ini yang gue mau?"
Dia tahu ini yang dia mau. Rina baik. Rina sempurna.
Tapi kenapa...
Ponsel di nakas. Layar nyala—notifikasi. Bukan siapa-siapa. Cuma email.
Bima raih. Buka. Nggak tahu kenapa, jarinya buka galeri foto.
Foto lama. Foto Keana. Foto yang dia pikir udah dia hapus. Tapi ternyata masih ada di backup.
Dia tatap foto itu. Keana tertawa. Pegang es krim. Rambut berantakan. Latar belakang Bandung.
Dulu, di foto itu, dia yakin kalau mereka akan bersama selamanya.
Sekarang?
Dia tutup galeri. Taruh ponsel. Balik badan.
Di samping, Rina tidur. Napasnya pelan. Tangannya—yang pake cincin—ngelindur di atas bantal.
Bima pejam mata.
Tapi tidurnya nggak dateng.
---
Bersambung ke Bab 24: Malam Sebelum Nikah
---
...📝 Preview Bab 24:...
Besok Bima nikah.
Malam ini, dia sendirian di kost lama. Buka kotak kenangan. Foto Keana, tiket bioskop, karcis angkringan, surat-surat lama.
Dia baca satu per satu. Nangis.
Lalu dia simpan balik. "Ini terakhir," bisiknya.
Tapi di ujung malam, dia nggak yakin.
Bab 24: Malam Sebelum Nikah—segera!
---