Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.
Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.
Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.
Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Jadi Pengasuh Ezio
Empat puluh lima menit berlalu sejak Bu Lita duduk menunggu dengan hati yang tidak benar-benar tenang. Waktu terasa berjalan lambat, setiap detiknya seperti ditarik lebih panjang dari biasanya. Ia beberapa kali bangkit dari duduknya, melangkah ke arah jendela, lalu kembali duduk. Di dapur, Bu Rika masih terdengar membereskan sesuatu, meski pekerjaan sebenarnya sudah hampir selesai. Sementara itu, dari lorong menuju kamar tamu, sesekali terdengar rengekan Ezio yang belum benar-benar reda.
Lalu, di tengah suasana yang menggantung itu, terdengar suara bel sepeda berbunyi pelan dari luar pagar.
Ting!
Bunyi itu sederhana, namun cukup membuat Bu Lita spontan berdiri. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia mengenali suara itu. Tak lama kemudian terdengar bunyi gerbang rumah Pak Wijaya yang dibuka perlahan, disusul suara roda sepeda yang bergesekan dengan paving halaman.
“Alhamdulillah, Raisa datang juga,” gumam Bu Lita lirih.
Ia segera melangkah keluar menuju teras. Wajahnya yang sejak tadi menyimpan kecemasan kini tampak jauh lebih lega ketika melihat sosok Raisa berdiri di halaman.
Gadis itu terlihat sedikit terengah, mungkin karena mengayuh sepeda cukup cepat. Rambut panjangnya dikuncir tinggi, beberapa helai terlepas dan menempel di pelipis yang sedikit berkeringat. Ia mengenakan celana bahan sederhana dan kemeja putih yang rapi, tampak bersih meski jelas ia tidak datang dengan persiapan panjang.
Raisa terlebih dahulu memarkirkan sepedanya di sisi tembok teras. Ia memastikan standar terpasang dengan benar sebelum akhirnya melangkah mendekat.
“Assalamualaikum, Bu Lita. Maaf kalau lama menunggunya,” ucap Raisa dengan sopan. Ia menunduk, mencium tangan Bu Lita dengan takdzim.
“Waalaikumsalam, alhamdulillah. Nggak pa-pa, yang penting kamu bisa datang,” jawab Bu Lita, suaranya mengandung kelegaan yang nyata. Tangannya sempat menyentuh punggung Raisa dengan lembut, seperti menyambut anak sendiri.
Pada saat itu, samar-samar Raisa mendengar suara tangisan Ezio dari dalam rumah. Suara itu tidak terlalu keras, tetapi cukup jelas bagi telinga yang peka.
Hatinya langsung tergerak.
Namun ia berusaha menahan diri, tidak ingin terlihat tergesa.
“Kita masuk dulu yuk, ngobrol di dalam,” ajak Bu Lita sambil menggiring Raisa masuk ke rumah.
Begitu berada di ruang tamu, Bu Lita mempersilakan Raisa duduk di sofa yang tadi ia tempati. Raisa duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya bertaut di atas pangkuan. Tatapannya masih menyiratkan rasa ingin tahu, sekaligus sedikit kegelisahan.
Tangisan Ezio terdengar lagi, kali ini sedikit lebih jelas karena pintu kamar tamu mungkin sedang tidak tertutup rapat.
Raisa menahan napas sebentar.
Namun sebelum Bu Lita sempat membuka pembicaraan, Raisa sudah lebih dulu bertanya dengan nada sopan.
“Maaf Bu Lita, apakah benar ada lowongan pekerjaan?”
Bu Lita mengangguk perlahan. Wajahnya berubah lebih serius, seolah hendak menyampaikan sesuatu yang penting.
“Iya, ada. Maka dari itu Ibu minta kamu datang ke sini untuk membicarakannya. Dan, berharap Raisa mau menerima pekerjaan ini, karena Ibu sangat membutuhkan kamu,” ucapnya mantap.
Raisa mengerjap pelan. Ia memang datang dengan harapan, tetapi tidak menyangka nada Bu Lita akan seserius itu.
“InsyaAllah Bu, kalau pekerjaannya cocok buat saya. Memangnya kerja sebagai apa Bu?” tanyanya hati-hati, penuh rasa penasaran.
Bu Lita menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.
“Ibu ingin kamu bekerja jadi pengasuh Ezio. Ibu gaji kamu sebanyak dua juta, tapi menginap di sini. Dan, kamu tetap dapat jatah liburan tiap hari Minggu. Ibu sangat berharap kamu mau bekerja di sini. Kerjaan kamu hanya mengasuh Ezio. Tidak mengerjakan pekerjaan yang lain,” jelasnya perlahan namun tegas.
Raisa terdiam.
Dua juta.
Nominal itu terbilang besar baginya. Terlebih dengan kondisi dirinya yang sampai sekarang belum juga mendapatkan pekerjaan tetap. Ia bahkan sempat berpikir untuk menerima pekerjaan apa saja demi membantu orang tuanya.
Ia mengerjap lagi, mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
“Bu Lita, bukannya sudah ada Mbak Lena yang mengasuh Ezio?” tanyanya ragu.
Tangisan Ezio kembali terdengar, kali ini lebih jelas. Seolah menjadi jawaban atas pertanyaannya.
Bu Lita menatap Raisa dalam-dalam.
“Kamu dengarkan suara tangisan Ezio?” tanyanya pelan namun penuh makna. “Ibu tidak peduli dengan pengasuh itu. Yang Ibu butuhkan adalah kamu. Dan Ibu yang akan menggajimu, bukan Krisna. Demi Ezio. Kamu bekerja untuk Ibu, bukan buat Krisna.”
Raisa terdiam.
Kalimat itu terasa berat.
“Tolong bantu Ibu, Raisa. Ibu nggak tega lihat Ezio selama beberapa hari rewel saat kamu nggak ada. Ibu … mohon ya.”
Ada getar halus dalam suara Bu Lita. Permohonan yang tidak dibuat-buat.
Tangisan Ezio kembali terdengar dari arah lorong, kali ini lebih panjang. Raisa tanpa sadar melirik ke arah sumber suara. Jantungnya terasa seperti ditarik.
“Tapi Bu … kalau saya menerimanya, bagaimana dengan Mas Krisna dan Mbak Lena ... saya tidak enak?” ucapnya jujur.
Ia bukan tipe yang ingin menimbulkan masalah. Ia tahu situasi di rumah ini tidak sesederhana sekadar lowongan pekerjaan.
“Kamu tidak perlu pikirkan. Itu akan menjadi tanggung jawab Ibu,” tegas Bu Lita. “Yang penting kamu mau kan bantu Ibu?”
Raisa kembali terdiam.
Pikirannya berputar cepat.
Gaji dua juta lumayan besar, hitung-hitung bisa bantu Mak dan Bapak. Lagian … sampai sekarang aku belum dapat pekerjaan. Sebaiknya aku terima saja deh, ketimbang jadi pengangguran sejati, batinnya.
Ia menarik napas pelan.
Di sisi lain, suara tangisan Ezio seperti terus memanggil sesuatu di dalam dirinya. Kenangan-kenangan kecil tentang anak itu, tentang cara ia dulu menggendongnya, tentang tawa yang sering muncul saat ia menggelitik perut mungil itu, semuanya berdesakan dalam benaknya.
Ia menatap Bu Lita yang masih menunggu jawaban dengan penuh harap.
“Baik Bu, kalau begitu saya mau,” ucap Raisa akhirnya.
Wajah Bu Lita langsung berubah cerah.
“Alhamdulillah,” ucapnya lega. “Kalau begitu kita langsung ke Ezio saja.”
Ia berdiri lebih dulu, lalu memberi isyarat pada Raisa untuk mengikutinya menuju lorong kamar tamu.
Bersambung ... ✍️
menanti gebrakan apa yang akan dilakukan Lena untuk mencelakai/ mengusir Raisa.. Lena sudah diliputi amarah dan cemburu,, bahaya menanti mu Raisa hati hati lah.
Ego dan gengsi Krisna kesentil dengan kehadiran Raisa yang ternyata menenangkan buat Ezio.
Ketahuan tuh watak aslinya Lena, awas ya kalau kamu ada niat jahat ke Raisa
2 juta....terima Raisa, kan urusan kamu sama bu Lita, nah kalo Lina sama Krisna.
Sudah gak sabar pingin ngendong dan nenangin Ezio ya Raisa
😄😄😄😄