Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.
Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Usah, Shanum
"Astaghfirullah... Mas Abi? Ini sudah subuh?" tanya Shanum dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Shanum merasa malu karena sang suami sudah siap, sementara ia masih bergelut dengan selimut.
"Sudah, segera ambil wudhu. Terus kita salat berjamaah," ucap Abi tenang.
Shanum mengangguk cepat, "I-iya, Mas. Maaf, aku kesiangan," ucap Shanum.
"Nggak apa-apa, kamu tadi kelihatan nyenyak banget," jawab Abi singkat sambil mulai membentangkan dua sejadah di tengah ruangan yang beralaskan karpet bulu tersebut.
Beberapa menit kemudian, Shanum keluar dari kamar mandi dengan mukena putih yang tampak sangat bersih. Ia berdiri tepat di belakang Abi dan di dalam kamar yang remang hanya diterangi lampu tidur yang kekuningan, Abi memulai takbirnya.
Suara Abi saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an terdengar begitu merdu dan tenang, mengisi setiap sudut ruangan. Shanum yang menjadi makmum di belakangnya merasa hatinya bergetar.
Selama ini, Shanum selalu salat sendirian di dapur atau kamarnya yang sempit sambil mendengarkan omelan Ibunya. Namun kini, ada seorang imam yang berdiri kokoh di depannya dan menuntun setiap gerakannya menuju Sang Pencipta.
Seusai salam, Abi tidak langsung bangkit. Ia duduk bersila dan memutar tasbih di jemarinya sambil melafalkan dzikir dengan khusyuk. Shanum pun tetap duduk di atas sejadahnya, ia menunduk dalam sambil mengikuti bacaan dzikir suaminya di dalam hati.
Setelah doa penutup yang dipanjatkan Abi dengan suara lirih namun penuh makna, pria itu memutar tubuhnya menghadap Shanum. Shanum segera maju sedikit, meraih tangan Abi dan mencium punggung tangannya dengan takzim.
Tiba-tiba, tangan bebas Abi mendarat di puncak kepala Shanum yang tertutup mukena dan membacakan doa singkat yang merupakan sunnah bagi seorang suami kepada istrinya.
"Semoga Allah memberkahi hubungan kita, Shanum," ucap Abi tulus.
Shanum mendongak dan matanya berkaca-kaca, "Amin. Terima kasih, Mas," ucap Shanum dan diangguki Abi.
Setelah itu, Abi kembali ke meja kerjanya dan kembali menatap layar laptop dengan serius, jari-jemarinya mulai menari di atas keyboard dan menyusun materi perkuliahan yang sempat tertunda.
Shanum yang sudah melepas mukenanya merasa tidak enak jika hanya berdiam diri di kamar mewah itu, ia melirik jam di dinding yang ternyata masih pukul setengah enam pagi.
Kebiasaannya sebagai gadis desa yang selalu bangun paling awal untuk memasak dan mengurus rumah tidak bisa hilang begitu saja, "Mas... aku boleh turun ke bawah? Mau bantu-bantu di dapur," tanya Shanum hati-hati.
Abi mendongak sebentar dan menatap istrinya yang kini sudah rapi dengan hijab instannya, "Boleh, kalau capek istirahat saja. Ada asisten rumah tangga Eyang di bawah yang bantu," jawab Abi singkat sebelum kembali fokus ke layarnya.
Shanum mengangguk pelan dan melangkah keluar kamar, ia menyusuri lorong rumah joglo yang megah itu dengan perasaan takut dan gugup. Sesampainya di dapur yang luas dan modern, sangat kontras dengan dapur tungku kayu bakar di rumahnya, Shanum melihat Tante Utami dan Bunda Rina sudah berada di sana.
Aroma harum nasi goreng margarin dan kopi mulai tercium, Shanum menarik napas dalam-dalam dan mencoba mengumpulkan keberanian.
"Pagi, Bunda... Pagi, Tante... Ada yang bisa Shanum bantu?" tanya Shanum lembut sambil berdiri di ambang pintu dapur.
Tante Utami berbalik dan tersenyum lebar, "Eh, pengantin baru sudah bangun! Sini, Shanum. Tolong bantu Tante potong-potong buah ya, ini untuk sarapan," ucap Tante Utami ramah.
Shanum melangkah mendekat dengan ragu, tangannya sedikit gemetar saat menerima pisau dan talenan kayu dari Tante Utami. Ia mulai mengupas buah pepaya dan melon dengan gerakan yang sangat rapi, hasil bertahun-tahun membantu menyiapkan dagangan di pasar bersama Ayahnya.
Disisi lain, Bunda Rina tampak sangat sibuk dengan panci sup ayamnya. Beliau memasukkan potongan sayuran dengan gerakan cepat dan sesekali menghela napas panjang yang terdengar berat di telinga Shanum, setiap kali Shanum tak sengaja berpapasan mata dengan mertuanya saat hendak mengambil wadah, Bunda Rina segera membuang muka, berpura-pura sangat fokus pada uap yang mengepul dari kompor.
"Wah, rapi sekali potongan buahnya, Shanum. Memang beda ya kalau yang pegang sudah ahli dapur," puji Tante Utami tanpa menyadari ketegangan yang menggantung di udara.
"Mbak Rina, lihat ini. Menantu Mbak cekatan sekali. Kita jadi lebih cepat selesai kalau begini," lanjut Tante Utami.
Bunda Rina hanya berdehem singkat, "Iya, namanya juga gadis desa, pasti sudah biasa urusan begini," jawab Bunda Rina dengan nada datar yang sulit diartikan.
Kalimat itu terdengar seperti pengakuan, namun di telinga Shanum itu terasa seperti pengingat akan jarak status sosial mereka yang terbentang lebar.
Shanum menunduk lebih dalam dan fokus pada biji-biji melon yang ia bersihkan, hatinya mencelos dan ia bisa merasakan bahwa Bunda Rina tidak nyaman dengan keberadaannya di dapur itu.
Bukan karena Shanum melakukan kesalahan, tapi mungkin karena sosoknya tidak sesuai dengan bayangan menantu ideal yang diinginkan untuk putra kebanggaannya, yang merupakan seorang Dosen lulusan universitas ternama.
"Bunda... apa ada lagi yang bisa Shanum bantu untuk supnya? Mungkin bumbunya kurang?" tanya Shanum memberanikan diri dan mencoba mencairkan suasana dengan suara yang sangat lembut.
Bunda Rina menghentikan adukannya sejenak, namun tetap tidak menoleh. "Tidak usah, Shanum. Ini resep keluarga, kamu fokus saja di meja makan, takutnya nanti rasanya malah berubah kalau banyak tangan," jawab Bunda Rina dingin.
Kata-kata Bunda Rina terasa seperti tamparan halus bagi Shanum, ia merasa seperti orang asing yang sedang mengganggu ritual suci keluarga tersebut.
Tante Utami yang sedang sibuk menata piring di meja saji, menyahut dengan ceria. "Loh, nggak apa-apa toh Mbak, biar Shanum belajar resepnya. Nanti kan di Bandung dia yang harus masakin Abi setiap hari," ucap Tante Utami.
Bunda Rina tidak merespon, ia justru mematikan kompor dan segera mengangkat panci itu ke meja makan tanpa meminta bantuan Shanum yang sudah bersiap mengulurkan tangan. Shanum terdiam di tempatnya berdiri, rasa sesak kembali memenuhi dadanya dan mengingatkannya pada perlakuan Ibunya di rumah, namun kali ini rasanya berbeda.
Jika Ibunya menyerang dengan makian keras, Bunda Rina menyerangnya dengan mengabaikan Shanum. Shanum menyadari satu hal, meskipun Mbah Dyah sangat menyukainya, restu dari Ibu mertuanya masih setipis benang.
'Bunda pasti nggak suka punya menantu kayak aku,' batin Shanum pedih.
Shanum menarik napas panjang dan menelan kembali rasa pahit yang sempat singgah di kerongkongannya, ia membasuh wajahnya dengan air dingin di wastafel dan memastikan tidak ada sisa kesedihan yang tertinggal di matanya.
"Biar Shanum yang bawa buahnya ke meja depan ya," ucap Shanum dengan nada riang yang dibuat sealami mungkin.
Tante Utami mengangguk ceria, "Yasudah, kamu panggil suami kamu ya," ucap Tante Utami dan diangguki Shanum.
.
.
.
Bersambung.....
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊