NovelToon NovelToon
Se Atap Dengan Mantan Suami

Se Atap Dengan Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mantan
Popularitas:38.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.

Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Aksa sudah rapi dengan kemeja kerjanya. Ia berdiri di depan cermin sambil membetulkan simpul dasinya. Namun, ada sesuatu yang terasa ganjil. Biasanya, ia akan mendengar suara langkah kaki atau panggilan Jasmine yang mengingatkannya untuk sarapan, namun suasana rumah pagi ini terasa sangat sunyi.

Aksa melirik jam tangannya. Sudah hampir jam delapan, tapi Jasmine sama sekali tidak muncul.

"Jasmine?" panggil Aksa sambil melangkah keluar kamar.

Ia mengecek dapur, ruang tengah, hingga balkon. Semuanya rapi dan bersih, tapi kosong. Perasaan tidak enak mulai menyergap hatinya.

Aksa segera bergegas menuju kamar Jasmine. Ia mengetuk pintu kayu itu dengan keras.

"Jasmine! Kamu di dalam? Kamu sudah bangun?" teriaknya.

Hening. Tidak ada sahutan sama sekali dari dalam. Aksa mencoba memutar gagang pintu, namun ternyata pintu itu terkunci rapat dari dalam.

"Jasmine! Buka pintunya!" panggilnya lagi, kali ini dengan nada suara yang mulai panik.

Ketakutan bahwa sesuatu yang buruk terjadi pada wanita itu membuat napas Aksa memburu.

Tanpa membuang waktu, ia berlari kembali ke kamarnya. Dengan tangan gemetar, ia menggeledah laci nakas dan mengambil kunci cadangan yang tersimpan di sana.

Aksa kembali ke depan kamar Jasmine dan segera memasukkan kunci itu ke lubangnya. Begitu terdengar bunyi klik, ia langsung mendorong pintu itu dengan kasar, siap menghadapi apa pun yang ada di balik pintu tersebut.

"Jasmine!"

Aksa menghambur ke arah tempat tidur. Ia melihat Jasmine masih terbaring di balik selimut tebal yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Namun, ada yang salah. Tubuh Jasmine tampak gemetar hebat di balik kain itu.

Aksa menyentuh kening Jasmine dan langsung menarik tangannya kembali karena terkejut. Kulit Jasmine terasa sangat panas, seolah membakar telapak tangannya.

"Jasmine! Hey!" teriak Aksa sambil mengguncang bahu Jasmine pelan.

"Jasmine, kamu dengar saya? Buka matamu!"

Jasmine hanya melenguh kecil tanpa membuka mata. Napasnya terasa pendek dan panas. Wajahnya yang semula pucat kini berubah menjadi kemerahan karena suhu tubuh yang sangat tinggi.

"Sial, badan kamu panas sekali!" umpat Aksa pada dirinya sendiri.

"Jasmine, bertahanlah. Saya di sini," bisik Aksa cemas. Ia segera berlari menuju kamar mandi untuk mengambil handuk kecil dan air hangat, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar.

Aksa dengan cekatan memeras handuk kecil yang sudah direndam air hangat. Ia melipatnya perlahan, lalu meletakkannya di atas kening Jasmine. Begitu handuk itu menyentuh kulitnya, Jasmine sedikit mengerang karena suhu tubuhnya yang sangat kontras.

"Jasmine, dengar saya. Kita ke rumah sakit sekarang ya?" bujuk Aksa dengan nada sangat khawatir. Tangannya yang lain menggenggam tangan Jasmine yang terasa sangat panas.

"Badan kamu panas sekali, ini bukan demam biasa."

Jasmine membuka matanya sedikit, tatapannya terlihat sayu dan tidak fokus. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, gerakannya terlihat sangat lemah.

"Ngga... Aku ngga mau," gumam Jasmine.

"Tapi suhu tubuhmu terlalu tinggi, Jasmine. Saya takut terjadi sesuatu kalau tidak segera ditangani dokter," paksa Aksa lagi. Ia sudah bersiap untuk menyusupkan lengannya ke bawah tubuh Jasmine guna menggendongnya.

"Ngga mau... di sini saja," rintih Jasmine lagi. Ia mencengkeram ujung selimutnya.

"Baiklah, kita tidak ke rumah sakit sekarang. Tapi kalau panasmu tidak turun juga, saya akan panggil dokter pribadi ke sini. Kamu jangan membantah lagi, mengerti?" ucap Aksa akhirnya mengalah.

Aksa langsung meraih ponselnya dan menghubungi Dokter Rama, dokter pribadinya.

Tak butuh waktu lama, Dokter Rama tiba dengan tas medisnya. Aksa segera menuntunnya ke kamar Jasmine dengan wajah yang sangat tegang.

"Dia demam tinggi sejak pagi tadi. Semalam dia sempat menangis histeris dan sepertinya sangat tertekan," jelas Aksa cepat saat Dokter Rama mulai memeriksa Jasmine.

Aksa tidak beranjak sedikit pun. Ia berdiri di samping ranjang, memperhatikan setiap gerak-gerik dokter yang memeriksa suhu tubuh dan denyut nadi Jasmine. Dokter Rama kemudian memberikan suntikan penurun panas dan menyiapkan beberapa obat.

"Kondisinya memang drop karena kelelahan fisik dan beban pikiran yang berat," ujar Dokter Rama sambil merapikan peralatannya.

Rama menatap Aksa dengan serius. "Obat sudah saya berikan, tapi panasnya sangat tinggi. Aksa, kalau kamu ingin panasnya lebih cepat turun, coba lakukan metode skin to skin."

Aksa mengernyitkan dahi. "Maksudmu?"

" Sentuhan kulit langsung antara kamu dan dia bisa membantu menyalurkan suhu tubuh dan membuatnya lebih tenang. Itu cara alami yang sangat efektif untuk menurunkan demam," jelas Dokter Rama.

Aksa masih mematung di pinggir ranjang, otaknya berusaha mencerna instruksi Dokter Rama yang terdengar asing baginya. Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Nama Bara muncul di layar.

"Halo," jawab Aksa singkat.

"Lo di mana? Meeting sama klien sepuluh menit lagi mulai. Lo nggak biasanya telat, Aksa," suara Bara terdengar heran di seberang sana.

"Saya nggak ke kantor hari ini. Ada urusan yang jauh lebih penting. Batalkan semua jadwal saya," ucap Aksa tegas sebelum langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Bara.

Ia kemudian segera mencari tahu di internet melalui ponselnya tentang "Metode Skin to Skin pada orang dewasa yang demam". Matanya membaca cepat penjelasan yang muncul.

Aksa mengembuskan napas panjang. Ada keraguan besar di matanya. Ia melirik Jasmine yang masih menggigil hebat dengan bibir yang memucat. "Demi kesembuhannya," gumam Aksa meyakinkan diri.

Perlahan, Aksa mulai membuka dasi dan kancing kemejanya satu per satu hingga dadanya terekspos. Ia kemudian naik ke atas ranjang, menyelinap masuk ke balik selimut tebal yang sama dengan Jasmine.

"Apa... apa yang kamu lakukan?" suara Jasmine terdengar lirih, nyaris seperti bisikan. Matanya terbuka sedikit, menatap Aksa dengan bingung dan waswas.

"Dokter bilang metode skin to skin bisa menurunkan panasmu lebih cepat," jawab Aksa berusaha terdengar tenang, meski jantungnya berdegup tidak karuan.

"Ngga mau... jangan," tolak Jasmine lemah, mencoba menjauhkan tubuhnya. Namun, tenaganya benar-benar habis. Ia bahkan tidak bisa mengangkat tangannya untuk mendorong Aksa.

Aksa tidak menghiraukan penolakan itu. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai membuka pakaian atas yang dikenakan Jasmine secara perlahan.

Pakaian itu terlepas, menyisakan Jasmine hanya dengan br a tipis yang menutupi sebagian dadanya. Aksa menelan ludah susah payah.

Tanpa menunggu lebih lama, Aksa menarik tubuh Jasmine ke dalam dekapannya. Ia membiarkan dada bidangnya bersentuhan langsung dengan kulit lembut Jasmine.

"Sssshhh... diamlah. Ini demi kebaikanmu," bisik Aksa tepat di telinga Jasmine.

......................

Clarissa mondar-mandir di ruang tamu dengan wajah memerah karena amarah. Ia sesekali membanting tas branded nya ke atas sofa, tidak mampu lagi menahan kekesalan yang sudah di ubun-ubun.

"Jadi gimana, Tante?!" teriak Clarissa pada Sonia.

"Aksa makin susah dihubungi! Aku nggak mau pernikahan aku dengan Aksa gagal total hanya karena perempuan itu!"

Sonia yang sedang duduk tenang hanya melirik Clarissa sekilas.

"Clarissa, duduklah. Jangan membuat dirimu terlihat seperti perempuan murahan yang sedang mengemis perhatian," ucap Sonia.

"Tapi Tante...."

"Tenanglah. Jangan gegabah," potong Sonia cepat.

"Kalau kamu terus-terusan marah dan menyerang Aksa sekarang, dia justru akan semakin jauh. Aksa itu pria yang keras, dia tidak suka ditekan."

Sonia bersandar di sofa, jemarinya yang terawat rapi saling bertautan.

"Kita harus bermain cantik. Biarkan Aksa merasa dia sedang menang saat ini. Kita butuh rencana yang lebih matang untuk menyingkirkan pengganggu itu tanpa membuat tangan kita kotor," lanjut Sonia dengan senyum tipis yang penuh arti.

"Percayalah pada Tante, posisi kamu sebagai calon istri Aksa tidak akan berubah semudah itu."

1
sunaryati jarum
Clarissa lebih baik sekutu dengan Aksa.Terus terang dan minta perlindungan padanya
olyv
nah benar g usah buang² tenaga buat meladani wanita gila itu tunggu aja kehancuran mu clarissa
olyv
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ kelakuan mu aksa
olyv
eh apaan ni aq ngakak 🤣🤣
olyv
Wkwkwkwk aksa g ada sopan² nya pd tuan rumah 🤣
olyv
hayoloh aksa nurut aja mau dapat restu g sih 🤣
olyv
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ aksa cebakur
olyv
Wkwkwk tanya² dulu aksa, bakal susah nih dapat restu kakak ipar 😁
Lilik Juhariah
kasihan juga Clarisa di tempat didikan yg salah, knp aku Melo banget ada anak yg nasibnya sprt clarisa
olyv
👍👍
olyv
nah itu lebih baik 😑👍
Oma Gavin
up rutin kak ceritanya bagus sayang kalau loncat" up nya
Redmi Nam
GK sabar liat Sonia ketangkep
Uning Sodik
duuuujh...
olyv
hhmm sabar y jasmine
olyv
astagah 🤣
Redmi Nam
thor up nya lama banget...
sekali up 1 aja
Lilik Juhariah
semangat kak
Lilik Juhariah
hemmm si emak tiri minta di pindah ke dunia lain kayknya
olyv
aska kalang kabut 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!