Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Dua jam setelah rapat, Xiao Han sudah berdiri di pinggir lapangan beton yang mulai panas terkena matahari siang. Di depannya, enam orang murid berdiri dalam barisan yang tidak rapi. Seragam olahraga mereka beragam, ada yang memakai kaos polos, ada yang jersey bekas klub entah dari mana, dan satu orang—Wei Ying—dengan bangga mengenakan jersey Zhejiang yang sama seperti saat di halte bus.
Enam orang.
Satu murid ajaran baru, Wei Ying.
Lima murid senior yang tersisa.
“Ini mereka,” kata Chen Hao sambil menunjuk satu per satu. “Anggota ekskul sepak bola kita. Dari kiri. Wang Lei, kelas 8, bek.”
Xiao Han mengamati mereka. Lima anak yang berdiri di lapangan dengan ekspresi beragam, ada yang antusias, ada yang malu-malu, ada yang terlihat bosan.
Ding.
Sistem muncul di ujung pandangannya.
[ Talent Eye: Aktif ]
Satu per satu, data pemain muncul.
...\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=...
...Wang Lei, Kelas 8, Bek...
...Rating: C...
...Speed: 65...
...Shooting: 40...
...Dribbling: 55...
...Stamina: 70...
...Teamwork: 60...
...Talent: Tekel keras, positioning buruk...
...Potential: B....
...Growth Rate : C...
...\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=...
Chen Hao melanjutkan telunjuknya ke sebelah kanan. “Li Wei, kelas 8, sayap,” katanya.
Tampilan data itu sama seperti sebelumnya, dengan mencakup. [ Rating: D+ ] -> [ Speed: 80 ] -> [ Shooting: 45 ] -> [ Dribbling: 60 ] -> [ Stamina: 55 ] -> [ Teamwork: 50 ]
Talent-nya cukup menjanjikan, terpampang di sana [ Kecepatan ] namun dengan [ Finishing buruk ] di sebelahnya.
Data lain memperlihatkan [ Potential ] bernilai [ B- ] serta [ Growth Rate ] yang sedikit lebih baik. [ B ]
Tak lama, Chen Hao menggeser telunjuknya lagi. “Xiang Maling'sheng, pemain paling senior di sini, dia striker.”
“Ohh ... jadi kau kaptennya,” ucap Xiao Han.
Mata Maling'sheng penuh ambisi yang tak pudar. “Semua tergantung pelatih, Pak Han.”
Xiao Han pikir, seharusnya pemain dengan tekad yang seperti dirinya mustahil ada di tempat yang hampir mati ini.
...\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=...
...Xiang Maling'sheng, Kelas 9, Striker....
...Rating: A...
...Speed: 70...
...Shooting: 90...
...Dribbling: 50...
...Stamina: 60...
...Teamwork: 50...
...Talent: Insting gol, egois...
...Potential: A+...
...Growth Rate: A...
...\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=~\=...
“Kau menarik, Maling'sheng.” Xiao Han menepuk pundak pemain senior tersebut. “Aku menantikan kejutan darimu.”
“Terima kasih, Pak Han,” timpal Maling'sheng tanpa senyuman.
Chen Hao menyilangkan tangannya. “Sudahlah, lanjut,” katanya, telunjuk kembali bergerak. “Hu Tao, Kelas 8, Kiper.”
Xiao Han memegang dagunya. Dalam hati ia berucap. D. 50. 20. 30. 65. 55. Tentang angka-angka statistik sang Kiper. Talent-nya sih lumayan, refleks alami, hanya saja teknik dasarnya buruk. Kemudian, senyum terbit di bibirnya. Potential-nya B. Growth Rate-nya gak jomplang juga. B-.
“Salam kenal, Hu Tao.” Xiao Han melambaikan jemari-jemarinya.
“Dan dia, Lin Feng, kelas 8, seorang gelandang murni.” Chen Hao menunjuk yang terakhir. “Kalau dia.” Lalu jemarinya mengarah ke Wei Ying. “Dia anak baru, Kelas 7. Kenalanmu, kan? Han.”
“Ya, dia seorang playmaker,” balas Xiao Han.
“S-Salam kenal Pak Chen.” Wei Ying menundukkan kepalanya terbata-bata. “D-dan P-Pak H-Han.”
“Bawa santai saja, Wei Ying.” Xiao Han memalingkan wajahnya ke Lin Feng. “Kau sepertinya akan cocok dengan Lin Feng di tengah.”
Chen Hao mendecih, “Kau pikir, kau yang menangani tim? Jangan lupakan tugasmu, anak muda.”
Tapi Xiao Han membalasnya dengan senyuman, tak ada yang perlu dikhawatirkan, dia yakin, sekolah ini banyak yang potensial.
Xiao Han menutup sistem, mencerna data yang baru saja ia lihat. Lima pemain dengan potensi yang tidak merata. Dua anak—Wei Ying dan Lin Feng—punya potensi untuk berkembang. Xiang Maling'sheng, dilihat sudah cukup matang. Dua lainnya harus bekerja keras.
Chen Hao menepuk tangannya. “Baik, seperti yang kalian dengar, ini asisten pelatih baru kalian. Xiao Han. Mantan gelandang SMA Hangzhou No. 9, finalis turnamen nasional, walau dia cedera di semi-final.”
Mata kelima anak itu selain Wei Ying membelalak. Anak bermata tajam itu sudah tahu, tapi yang lain jelas baru mendengar.
“Yang cedera di semifinal?” Maling'sheng berseru. “Yang dijegal pemain Hai’an Bowen itu?”
Xiao Han tersenyum kecut. “Ya, itu aku.”
“Wah,” Wang Lei bersiul pelan. “Keren juga.”
“Jangan senang dulu,” potong Chen Hao. “Dia di sini bukan untuk cerita masa lalu. Dia di sini untuk melatih kalian. Dan dalam satu bulan, kita harus punya minimal dua belas anggota aktif. Kalau tidak, ekskul ini akan dibubarkan.”
Suasana langsung berubah. Li Wei, yang tadi terlihat malas, kini berdiri tegak. “Dibubarkan? Serius, Coach?”
“Serius.”
Xiao Han maju selangkah. “Tapi sebelum kita bicara soal jumlah anggota, aku mau lihat dulu kalian bermain. Coach Chen, boleh?”
Chen Hao mengangguk. “Lapangan ini milik kalian.”
Latihan kecil dimulai. Xiao Han membagi lima anak itu menjadi dua kelompok, tiga lawan tiga, dengan Wei Ying sebagai pengatur permainan di kedua sisi bergantian. Ia hanya memberi satu instruksi. “Mainkan sepak bola yang kalian suka.”
“Wang Lei, sementara kau jadi kiper.”
“E-EH, jadi Hu Tao yang kiper musuhku? Pak Chen.”
“Mau bagaimana lagi, kiper hanya satu. Masa harus panggil senior kalian yang sudah lulus?”
Prittttt ...
Permainan pun dimulai.
Awalnya kacau. Li Wei berlari terlalu cepat, bola lepas dari kakinya. Maling'sheng selalu menembak meski ada opsi umpan. Wang Lei tekel keras tapi sering terlambat membaca arah bola. Hu Tao di gawang hanya bisa menangkap bola lambat, refleksnya belum terlatih.
Tapi ada satu yang berbeda.
Wei Ying, dan Lin Feng.
Mereka berseberangan tim.
Setiap kali bola di kaki mereka, ritme permainan berubah. Ia tidak terburu-buru. Matanya melihat ke kiri dan kanan sebelum menerima bola. Umpannya sederhana, tapi selalu menemukan kaki rekan setim. Ketika kelompoknya kehilangan bola, ia tidak panik, ia hanya bergerak ke posisi yang tepat untuk memotong jalur umpan lawan.
Xiao Han mencatat semuanya di buku catatannya. Bukan hanya statistik dari sistem, tapi kebiasaan, postur tubuh, ekspresi saat bermain.
Chen Hao berdiri di sampingnya. “Wei Ying,” katanya. “Anak itu berbeda, ya?”
“Dia punya visi,” kata Xiao Han. “Dia bisa jadi gelandang yang mengatur permainan.”
“Tapi dia ingin jadi striker.”
“Aku tahu.” Xiao Han mengamati Wei Ying yang sedang memberi umpan terobosan kepada Maling'sheng, yang langsung disia-siakan dengan tembakan melebar. “Tapi dia terlalu pintar untuk jadi striker. Striker butuh ego. Dia terlalu … baik.”
Chen Hao tertawa kecil. “Kau juga dulu seperti itu. Pemain terbaik di sekolahmu, tapi lebih senang memberi umpan daripada mencetak gol.”
Xiao Han tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Pritttt ...
Latihan berlangsung satu jam. Matahari mulai bergeser ke barat ketika Chen Hao meniup peluit. Lima anak itu duduk di pinggir lapangan dengan napas terengah-engah, tapi wajah mereka berbeda dari pagi. Ada cahaya di mata mereka. Cahaya yang hanya muncul ketika seseorang melakukan apa yang ia sukai.
“Besok latihan lagi,” kata Chen Hao. “Bawa teman-teman kalian yang suka bola. Kita butuh banyak pemain.”
Wei Ying mengangkat tangan. “Pak, aku bisa ajak teman sekelasku. Tapi mereka malu-malu.”
“Suruh datang saja,” kata Xiao Han. “Malu tidak masalah. Yang penting mau coba.”
Maling'sheng berdiri, tangannya di pinggul. “Pelatih Han, benarkah kau yang dijegal di semifinal itu?”
Xiao Han menghela napas. “Ya. Tapi itu cerita beberapa bulan lalu.”
“Ceritakan dong,” pinta Li Wei, matanya berbinar.
Xiao Han melihat ke Chen Hao. Pelatih tua itu hanya mengangkat bahu, tersenyum tipis.
“Baiklah,” kata Xiao Han, duduk di bangku panjang yang lapuk. “Tapi sambil kalian istirahat.”
Lima anak itu berkumpul mengelilinginya. Lapangan beton yang sunyi itu dipenuhi suara tawa dan decak kagum.
Di kejauhan, di balik jendela ruang guru lantai dua, Mu Qingyao berdiri dengan tangan bersilang. Matanya tertuju pada kerumunan kecil di lapangan, pada Xiao Han yang sedang bercerita dengan tangan dan senyum, pada anak-anak yang mendengarkan dengan mata berbinar.
“Menyia-nyiakan masa depan anak-anak saja.”
Ia tidak tersenyum. Tapi ia juga tidak beranjak.