“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”
Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.
— Cinta Ribuan Duri —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Hari yang Tampak Biasa
Pagi di kota itu selalu dimulai dengan suara yang sama. Deru kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti, langkah orang-orang yang terburu-buru, dan udara yang masih menyimpan sisa dingin malam.
Ardila Syafa berdiri di depan cermin kamar sambil merapikan kancing terakhir pada kemeja putihnya. Rambut panjangnya yang hitam jatuh rapi di bahunya. Penampilannya sederhana, tapi tetap terlihat elegan.
Ia menarik napas pelan sebelum mengambil tas kerjanya. Hari ini seharusnya menjadi hari yang biasa saja. Seperti hari-hari sebelumnya.
“Ardila, sudah siap?” suara ibunya terdengar dari luar kamar.
“Iya, Ma. Sebentar!”
Ardila segera membuka pintu kamarnya. Di lantai bawah, aroma sarapan sudah memenuhi rumah besar itu. Meja makan sudah dipenuhi berbagai hidangan sederhana namun hangat.
Ayahnya duduk sambil membaca koran pagi.
“Pagi, Pa,” sapa Ardila sambil menarik kursi. Ayahnya menurunkan korannya sedikit lalu tersenyum tipis.
“Pagi. Mau berangkat cepat lagi?” Ardila mengangguk sambil mengambil roti panggang.
“Kalau datang lebih awal, kerjaan bisa selesai lebih cepat.” Ibunya duduk di seberangnya sambil memperhatikan putrinya itu.
“Kamu sebenarnya tidak perlu bekerja terlalu keras, Ardila.” Ardila hanya tersenyum kecil.
Kalimat itu bukan pertama kali ia dengar.
Sebagai anak dari pemilik perusahaan besar, banyak orang mengira hidup Ardila pasti sangat mudah. Namun kenyataannya, ia justru lebih memilih menjalani hidup seperti orang biasa. Ia tidak ingin semua orang memandangnya hanya karena status keluarganya.
“Aku suka bekerja, Ma,” jawabnya santai.
Ayahnya terkekeh kecil.
“Dari kecil memang begitu. Tidak bisa diam.”
Ardila ikut tersenyum.
Suasana pagi itu terasa hangat. Percakapan ringan di meja makan selalu menjadi bagian kecil yang ia sukai sebelum memulai hari yang sibuk. Setelah sarapan selesai, Ardila segera berpamitan.
“Ardila berangkat dulu ya, Pa, Ma.”
“Jangan pulang terlalu malam,” pesan ibunya.
“Iya.”
Mobil yang ia kendarai keluar dari halaman rumah besar itu dan perlahan menyatu dengan lalu lintas kota yang mulai padat.
Gedung tinggi berlapis kaca berdiri megah di tengah kawasan bisnis. Di depan gedung itu tertulis nama perusahaan yang cukup dikenal.
Tempat Ardila bekerja. Namun tidak banyak orang yang tahu bahwa perusahaan itu sebenarnya milik keluarganya. Ardila sengaja merahasiakannya. Ia tidak ingin diperlakukan berbeda.
Begitu memasuki lobby kantor, beberapa karyawan langsung menyapanya.
“Pagi, Kak Ardila!”
“Pagi!”
Ardila membalas dengan senyum ramah.
Ia berjalan menuju meja kerjanya yang berada di lantai tiga. Ruangan itu dipenuhi deretan meja kerja dengan tumpukan dokumen, komputer, dan suara keyboard yang terus berbunyi.
“Pagi, Ardila,” sapa seorang rekan kerjanya.
“Pagi.”
Ardila segera duduk dan membuka laptopnya.
Pekerjaan hari itu sebenarnya tidak terlalu berat. Beberapa laporan harus ia periksa, beberapa data harus diperbarui, dan beberapa dokumen harus dikirim ke bagian lain.
Hal-hal kecil yang bagi sebagian orang mungkin terasa membosankan. Namun bagi Ardila, pekerjaan itu justru terasa menenangkan. Ia bisa fokus tanpa harus memikirkan hal lain.
“Dil, nanti ikut makan siang bareng nggak?” tanya salah satu teman kantornya.
Ardila mengangguk.
“Boleh.”
Obrolan kecil seperti itu membuat suasana kantor terasa lebih hidup.
Waktu berlalu tanpa terasa.
Jarum jam di dinding perlahan mendekati waktu makan siang. Ardila baru saja selesai merapikan beberapa berkas ketika ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuatnya sedikit terkejut.
Mama. Biasanya ibunya jarang menelepon di jam kerja. Ardila segera mengangkat telepon itu.
“Iya, Ma?”
“Ardila, kamu lagi sibuk?”
“Tidak terlalu. Kenapa?”
Suara ibunya terdengar sedikit berbeda dari biasanya.
“Nanti malam kamu pulang lebih cepat ya.”
Ardila mengernyit pelan.
“Ada apa?”
“Ada yang ingin Mama dan Papa bicarakan.”
Nada suara ibunya terdengar lembut, tapi juga serius.
Hal itu membuat Ardila sedikit penasaran.
“Penting?”
“Ya… cukup penting.”
Ardila terdiam sejenak.
“Baik, nanti Ardila pulang lebih awal.”
“Bagus. Mama tunggu di rumah.” Telepon itu pun berakhir.
Ardila menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya meletakkannya kembali di meja.
Entah kenapa hatinya tiba-tiba dipenuhi rasa penasaran. Ayah dan ibunya jarang sekali berbicara dengan nada seperti itu.
“Kenapa?” tanya temannya yang duduk di sebelahnya.
“Tidak tahu,” jawab Ardila pelan. “Mama minta aku pulang lebih cepat malam ini.”
“Wah, jangan-jangan mau kasih kejutan.” Ardila tertawa kecil.
“Entahlah.”
Namun jauh di dalam hatinya, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Hari itu sebenarnya terasa sangat biasa.
Tidak ada hal istimewa.
Tidak ada kejadian besar.
Namun Ardila tidak tahu bahwa malam nanti akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya. Sebuah keputusan yang akan melibatkan dua keluarga yang telah lama saling mengenal. Sebuah pertemuan yang akan membawa seseorang baru ke dalam hidupnya.
Dan sebuah jalan yang tanpa ia sadari… perlahan akan mengubah masa depannya. Ardila hanya bisa menjalani hari itu seperti biasa.Tanpa mengetahui bahwa takdir sedang menyiapkan sesuatu untuknya.Sesuatu yang akan membuat kehidupannya tidak pernah sama lagi