Di Medan tahun 2026, Rania Putri pendiri startup yang membantu UMKM dengan teknologi data terpaksa bekerja sama dengan perusahaan besar dari Jakarta yang dipimpin oleh Reza Aditya, mantan kekasihnya yang menghilang tanpa kabar sepuluh tahun lalu.
Pada awalnya, mereka hanya fokus pada pengembangan aplikasi "UMKM Connect", namun menemukan kode aneh dalam sistem yang menyimpan jejak masa lalunya. Saat menyelidiki asal usul kode tersebut, mereka mengungkap rahasia mengejutkan, perpisahan mereka dulu adalah rencana jahat dari Doni Pratama, mantan sahabat Rania yang mengambil alih bisnis keluarga dia.
Di tengah penyelidikan yang penuh kejadian lucu dan tantangan bisnis, rasa cinta lama mereka kembali muncul. Setelah berhasil membongkar kejahatan Doni dan mendapatkan dukungan pemerintah, mereka tidak hanya menyelesaikan proyek aplikasi yang bermanfaat bagi jutaan UMKM, tapi juga menemukan kesempatan kedua untuk cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : Kantor Pemerintah dan Wajah Asing
Hujan gerimis mulai menyiram jalan-jalan Jakarta sejak pagi hari. Rania menatap keluar dari jendela taksi yang mengangkutnya menuju Kantor Direktorat Jenderal Koperasi dan UMKM di Jalan Merdeka Barat. Gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di sekelilingnya terlihat suram di bawah langit yang kelabu, berbeda jauh dengan pemandangan kota Medan yang lebih hangat dan penuh warna. Di sebelahnya, Siti sedang menekan tombol-tombol hp nya dengan cepat, memeriksa kembali presentasi yang akan mereka sampaikan dalam rapat nanti.
“Kamu sudah siap kan, Rania?” tanya Siti tanpa melihat ke arahnya, masih fokus pada layar hp nya. “Saya sudah mengecek tiga kali slide presentasi—semua data sudah sesuai dan grafiknya tidak ada yang salah.”
Rania mengangguk pelan, meskipun perhatiannya masih terpaku pada pemandangan luar jendela. “Ya, sudah siap. Cuma sedikit merasa tidak nyaman saja dengan cuaca Jakarta yang terlalu dingin.”
Siti akhirnya menoleh dan tersenyum lembut. “Tenang saja, nanti di dalam kantor pasti ada pendingin udara yang lebih kuat lagi. Bawa jaket kamu ya jangan sampai sakit.”
Rania menghela napas dan menyentuh kantong tas ranselnya yang berisi jaket tipis yang dia bawa dari Medan. Benar saja, udara di dalam taksi sudah cukup dingin, apalagi jika dibandingkan dengan cuaca tropis Medan yang selalu hangat bahkan di musim hujan. Namun, yang sebenarnya membuatnya merasa tidak nyaman bukanlah cuaca—melainkan rasa takut yang terus muncul setiap kali dia memikirkan nama yang tercantum dalam daftar tim dari “Inovasi Nusantara”: Reza Aditya.
Setelah sekitar sepuluh menit berkendara melalui jalanan yang mulai macet, taksi akhirnya berhenti di depan gerbang utama kantor pemerintah yang megah. Rania membayar sopir dan segera turun bersama Siti, berjalan cepat menuju pintu masuk agar tidak terkena hujan gerimis yang masih terus turun. Di dalam lobi yang luas dan bersih, mereka langsung menuju meja resepsionis untuk mengkonfirmasi kehadiran mereka dalam rapat koordinasi.
“Nama saya Rania Putri dari Nusantara Analytics, dan ini temanku Siti Nurhaliza,” ucap Rania dengan suara yang jelas dan tegas. “Kita sudah terdaftar untuk rapat pada pukul sepuluh pagi.”
Petugas resepsionis yang sedang mengoperasikan komputer mengangguk dan mengetikkan sesuatu di layarnya. “Silakan cek nama Anda di daftar hadir, Bu. Setelah itu bisa naik ke lantai tiga, ruang rapat Bhinneka.”
Rania mengambil pena yang disediakan dan menandatangani nama nya di daftar yang ada di atas meja. Saat menggulir halaman daftar tersebut untuk mencari kolom yang tepat, matanya tidak sengaja melihat nama lain yang sudah ditandatangani sebelumnya—Reza Aditya. Tangannya sedikit gemetar saat menuliskan nama nya, tapi dia berhasil menyembunyikannya dengan cepat dan menyerahkan kembali daftar kepada petugas.
“Terima kasih,” ucap Rania sebelum berjalan menuju lift bersama Siti. Di dalam lift yang hanya dihuni oleh mereka berdua, suasana terasa sangat sunyi hingga hanya terdengar suara mesin lift yang bekerja dan bunyi tetesan air hujan dari luar jendela kecil lift.
“Kamu tahu kan, tidak apa-apa kalau kamu ingin pulang sekarang,” ucap Siti dengan lembut, merasakan ketegangan yang terpancar dari tubuh Rania. “Kita bisa mencari alasan yang masuk akal dan mengajukan permintaan untuk mengganti perwakilan kita.”
Rania menggelengkan kepala dengan tegas. “Tidak bisa, Siti. Kita sudah sampai di sini. Selain itu, aku perlu menghadapinya sendiri. Aku tidak bisa terus lari dari masa lalu ku.”
Siti mengangguk dengan pengertian, menyadari bahwa tidak ada yang bisa dia katakan untuk mengubah keputusan Rania. Lift akhirnya berhenti di lantai tiga, dan pintunya terbuka perlahan menuju koridor yang bersih dan rapi dengan ubin lantai yang mengkilap. Mereka berjalan menuju arah ruang rapat Bhinneka yang terletak di ujung koridor, dengan langkah yang sengaja diperlambat oleh Rania karena merasa detak jantungnya semakin cepat mendekati ruangan tersebut.
Saat mereka sampai di depan pintu ruang rapat, suara pembicaraan sudah bisa terdengar dari dalam. Rania mengambil napas dalam-dalam sebelum membuka pintunya perlahan. Cahaya terang dari lampu plafon menyambut mereka, serta pandangan dari beberapa orang yang sudah duduk di dalam ruangan yang luas dan dilengkapi dengan meja bundar besar serta peralatan konferensi modern.
“Selamat pagi, Bu Rania, Bu Siti,” suara Bapak Rio Pratama yang sudah mereka kenal dari telepon terdengar dengan ceria. Dia berdiri dan mengajak mereka untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan di sebelah kanan meja. “Maafkan kami sudah mulai sebentar, tapi baru saja menunggu Anda berdua.”
Rania mengangguk dan tersenyum meskipun hatinya masih berdebar kencang. Dia melihat sekeliling ruangan, mencoba mencari wajah yang dia takuti tapi juga nantikan. Beberapa orang sudah duduk di sekitar meja—seorang pria dengan jas biru muda yang tampak sibuk mengetik di laptopnya, seorang wanita dengan rambut ikal yang sedang membaca berkas dengan cermat, dan dua orang pria lain yang sedang berbincang dengan suara rendah. Namun, satu kursi di ujung meja masih kosong—kursi yang kemungkinan besar adalah tempat untuk ketua tim dari “Inovasi Nusantara”.
“Silakan duduk saja ya,” ucap Bapak Rio sambil menunjukkan kursi di sebelahnya. “Kita akan mulai rapat sebentar lagi setelah semua peserta datang.”
Rania dan Siti segera duduk, menyusun tas dan laptop mereka di atas meja. Rania mengeluarkan botol air putih dari tasnya dan meminumnya dengan cepat, mencoba menenangkan diri yang masih tertegang. Saat dia hendak membuka laptopnya untuk memeriksa presentasi terakhir, suara langkah kaki yang kuat terdengar dari arah pintu ruangan.
“Maafkan saya terlambat sebentar,” suara tersebut terdengar dalam dan jelas, membuat seluruh orang di dalam ruangan menoleh ke arah pintu. “Ada kemacetan yang cukup parah di jalanan tengah kota.”
Rania merasa tubuhnya menjadi kaku seketika. Suara itu—suara yang sudah tidak dia dengar selama sepuluh tahun—masih sama seperti yang dia ingat: dalam, sedikit dalam nada, dan memiliki irama yang khas saat berbicara. Dia tidak berani menoleh ke arah pintu, takut akan apa yang akan dia lihat. Namun, ketika orang tersebut berjalan melewati sisi kirinya untuk mencapai kursi di ujung meja, bayangan tubuhnya yang tinggi dan tegap terpantul di layar laptop Rania yang masih terbuka.
“Perkenalkan lagi, saya Reza Aditya dari Inovasi Nusantara,” ucapnya saat sudah duduk di kursinya. “Senang bisa bertemu dengan semua orang yang akan menjadi rekan kerja kita dalam proyek ini.”
Rania akhirnya berani menoleh perlahan ke arahnya. Wajah Reza yang ada di depannya sekarang jauh berbeda dari yang dia ingat sepuluh tahun lalu. Rambutnya yang dulu keriting alami sekarang sudah diatur rapi dan sedikit memutih di bagian pelipis. Wajahnya yang dulu masih tampak muda dan polos kini sudah memiliki lekukan yang menunjukkan kedewasaan dan tanggung jawab. Namun, matanya yang berwarna coklat tua masih sama seperti yang dia ingat—cerdas, penuh perhatian, dan saat ini sedang menatap langsung ke arahnya.
Mata mereka saling bertemu selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Rania merasa napasnya terhenti, sementara Reza tampaknya juga sedikit terkejut melihatnya. Namun, kedua-duanya segera mengalihkan pandangan masing-masing—Rania ke arah meja, dan Reza ke arah Bapak Rio yang mulai membuka rapat.
“Baiklah, karena semua peserta sudah hadir, mari kita mulai rapat ini,” ucap Bapak Rio dengan suara yang jelas dan tegas. “Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat kepada kedua tim yang telah lolos dalam seleksi proposal proyek aplikasi UMKM Connect. Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, proyek ini akan menjadi kolaborasi antara Nusantara Analytics dari Medan dan Inovasi Nusantara dari Jakarta.”
Rania mencoba fokus pada apa yang dikatakan Bapak Rio, tapi pikirannya masih terganggu oleh kehadiran Reza di ruangan yang sama. Dia bisa merasakan pandangannya yang terkadang menyilang dengan pandangannya, membuatnya merasa tidak nyaman tapi juga ingin tahu apa yang ada dalam pikirannya.
“Sebelum kita membahas rincian proyek, mari kita kenalan lebih jauh dengan anggota tim masing-masing,” lanjut Bapak Rio. “Silakan mulai dari tim Nusantara Analytics ya, Bu Rania.”
Rania berdiri perlahan, merasa semua mata di ruangan tertuju padanya. Dia mengambil napas dalam sebelum mulai berbicara. “Perkenalkan, saya Rania Putri, pendiri dan CEO Nusantara Analytics. Bersama saya adalah Siti Nurhaliza, desainer grafis kami yang akan menangani antarmuka pengguna aplikasi. Tim kami juga terdiri dari Budi Santoso sebagai programmer utama dan Rina Dewi sebagai ahli bisnis, yang sayangnya tidak bisa hadir hari ini karena ada urusan penting di Medan.”
Dia menjelaskan secara singkat tentang latar belakang startup mereka, pengalaman yang mereka miliki dalam bekerja dengan UMKM di Sumatera Utara, serta visi mereka tentang proyek aplikasi ini. Saat berbicara, dia sengaja menghindari melihat ke arah Reza, fokus hanya pada Bapak Rio dan anggota tim lain yang sedang mendengarkan dengan saksama.
Setelah Rania selesai, giliran Reza untuk memperkenalkan tim nya. Dia berdiri dengan postur yang tegap dan percaya diri, membuat Rania tidak bisa tidak melihatnya sekilas. “Perkenalkan, saya Reza Aditya, CEO Inovasi Nusantara. Anggota tim saya yang hadir hari ini adalah Bima Wijaya, kepala divisi teknologi kami, dan Maya Sari, ahli riset dan pengembangan bisnis kami. Tim kami memiliki pengalaman lebih dari lima tahun dalam mengembangkan platform digital skala besar untuk berbagai sektor industri.”
Reza menjelaskan tentang perusahaan nya dengan jelas dan terstruktur. Dia berbicara tentang teknologi yang mereka gunakan, klien yang pernah mereka layani, serta bagaimana mereka berencana untuk membantu mengembangkan aplikasi UMKM Connect menjadi platform yang skalabel dan dapat diandalkan. Saat berbicara, matanya terkadang menyilang dengan pandangan Rania, tapi dia segera mengalihkannya seperti tidak sengaja.
Setelah semua anggota tim memperkenalkan diri, Bapak Rio mulai menjelaskan rincian proyek secara detail. Dia menjelaskan tentang tujuan utama proyek, target pengguna yang akan dilayani, anggaran yang tersedia, serta tenggat waktu yang harus dipatuhi. Rania mencatat setiap poin penting dengan seksama, mencoba sekuat mungkin untuk fokus pada pekerjaan dan bukan pada kehadiran Reza di sebelahnya.
“Untuk memastikan kolaborasi berjalan dengan baik, kami telah menetapkan struktur kerja yang jelas,” ucap Bapak Rio sambil menampilkan slide presentasi di layar proyektor di depan ruangan. “Tim Nusantara Analytics akan bertanggung jawab untuk riset lapangan, pengumpulan data tentang UMKM lokal, serta pengembangan fitur-fitur yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Sementara itu, tim Inovasi Nusantara akan menangani bagian teknologi inti, keamanan data, dan skalabilitas platform.”
Rania mengangguk dengan setuju. Struktur kerja yang diusulkan memang sesuai dengan apa yang mereka harapkan—mereka akan fokus pada sisi lokal yang mereka ketahui dengan baik, sementara tim dari Jakarta akan menangani bagian teknologi yang membutuhkan sumber daya lebih besar. Namun, dia juga tahu bahwa kolaborasi seperti ini akan membutuhkan komunikasi yang baik dan saling pengertian antara kedua tim.
“Saya punya satu pertanyaan,” suara Reza terdengar dari ujung meja. Rania merasa tubuhnya sedikit kaku kembali. “Bagaimana kita akan mengkoordinasikan kerja antara tim Medan dan Jakarta? Mengingat jarak yang cukup jauh, kita perlu sistem komunikasi yang efektif agar tidak terjadi kesalahpahaman.”
“Bagus sekali pertanyaannya, Pak Reza,” ucap Bapak Rio dengan senyum. “Kami telah menyusun jadwal rapat mingguan secara daring, serta rapat tatap muka minimal sekali dalam sebulan yang akan bergantian diadakan di Medan dan Jakarta. Selain itu, kami akan menggunakan platform kerja bersama yang akan memudahkan semua anggota tim untuk berbagi dokumen dan melacak kemajuan proyek secara real-time.”
Reza mengangguk dengan puas. “Baik, itu sangat baik. Saya juga ingin menyarankan agar kita menetapkan peran dan tanggung jawab yang jelas untuk setiap anggota tim agar tidak terjadi tumpang tindih pekerjaan.”
Rania akhirnya merasa perlu untuk ikut berbicara. Dia berdiri perlahan dan menatap langsung ke arah Reza—pertama kalinya sejak mereka bertemu di ruangan ini. “Saya setuju dengan usulan Pak Reza. Selain itu, saya juga ingin menyarankan agar kita melakukan kunjungan lapangan bersama ke beberapa UMKM di Sumatera Utara dalam waktu dekat. Sehingga tim dari Jakarta juga bisa langsung melihat kondisi sebenarnya dari para pelaku usaha yang akan kita bantu.”
Reza melihatnya dengan mata yang penuh perhatian. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, dia melihat sedikit senyum muncul di bibirnya. “Sangat baik ide nya, Bu Rania. Saya pikir itu akan sangat membantu kita dalam memahami kebutuhan sebenarnya dari pengguna aplikasi kita.”
Rania merasa hati nya berdebar cepat saat melihat senyumnya—sama seperti senyum yang dulu selalu membuatnya merasa tenang dan bahagia. Namun, dia segera menyadari diri nya dan mengalihkan pandangan ke arah Bapak Rio.
“Bagus sekali,” ucap Bapak Rio dengan senyum lebar. “Ide dari kedua pemimpin tim ini sangat berharga. Mari kita masukkan kunjungan lapangan ke dalam jadwal kerja kita minggu depan.”
Rapat berlanjut selama hampir dua jam penuh, membahas berbagai aspek proyek mulai dari metodologi pengembangan, timeline kerja, hingga mekanisme pemantauan dan evaluasi. Rania dan Reza terkadang harus berbicara satu sama lain untuk membahas poin-poin penting, dan meskipun awalnya terasa canggung, mereka perlahan mulai menemukan ritme kerja yang sesuai. Siti yang duduk di sebelah Rania bisa merasakan perubahan suasana di ruangan tersebut—dari awalnya tegang menjadi semakin kondusif seiring berjalannya waktu.
Setelah semua poin penting dibahas dan disepakati, Bapak Rio mengakhiri rapat dengan ucapan semangat. “Saya yakin bahwa dengan kolaborasi antara dua tim yang hebat ini, proyek UMKM Connect akan menjadi sangat sukses dan memberikan manfaat yang besar bagi ribuan pelaku usaha di Indonesia. Saya tunggu kabar baik dari kalian semua.”
Semua peserta rapat berdiri dan mulai membersihkan barang-barang mereka dari meja. Rania berusaha untuk keluar dari ruangan sesegera mungkin agar tidak harus bertemu dengan Reza secara langsung. Namun, ketika dia sedang berjalan menuju pintu bersama Siti, suara Reza terdengar dari belakangnya.
“Bu Rania, bolehkah saya berbicara sebentar?”
Rania berhenti langkahnya dan menoleh perlahan. Reza sudah berdiri di belakangnya, dengan wajah yang tampak ingin mengatakan sesuatu. Siti melihatnya dengan pandangan yang penuh kekhawatiran, tapi Rania mengangguk kepadanya untuk menunjukkan bahwa dia bisa menangani sendiri.
“Silakan saja, Pak Reza,” jawab Rania dengan suara yang mencoba tetap tenang. “Ada apa?”
Reza melihat ke arah Siti yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka, kemudian kembali menatap Rania. “Bolehkah kita berbicara sendirian sebentar? Ada beberapa hal tentang proyek yang saya ingin bahas lebih lanjut.”
Rania mengangguk dengan hati-hati. “Baiklah. Kita bisa berbicara di ruang tunggu di luar saja.”
Mereka berdua berjalan keluar dari ruang rapat dan memasuki ruang tunggu kecil yang terletak di dekat lift. Suasana terasa sangat sunyi setelah keramaian di dalam ruang rapat tadi. Hanya terdengar suara langkah kaki dari orang-orang yang lewat di koridor dan bunyi mesin pendingin udara yang bekerja.
“Maafkan saya jika selama rapat tadi saya tidak mengatakan apa-apa tentang masa lalu kita,” ucap Reza dengan suara yang rendah dan penuh perhatian. “Saya tidak ingin mengganggu fokus kita pada pekerjaan.”
Rania mengangguk pelan. “Saya juga berpikiran sama. Pekerjaan harus menjadi prioritas utama kita sekarang.”
“Benar sekali,” ucap Reza dengan mengangguk. “Tapi saya ingin kamu tahu bahwa saya sangat menyesal dengan apa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu. Saya tidak punya kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat itu.”
Rania merasa dada nya terasa sesak mendengar kata-kata tersebut. Semua rasa sakit dan kecewa yang dia coba sembunyikan selama bertahun-tahun mulai muncul kembali ke permukaan. “Kenapa kamu menghilang begitu saja, Reza? Tanpa memberikan penjelasan apapun, tanpa memberi saya kesempatan untuk memahami apa yang terjadi?”
Reza menghela napas dalam-dalam, melihat ke arah lantai seolah mencari kata-kata yang tepat. “Ada alasan yang sangat kuat mengapa saya harus pergi saat itu, Rania. Alasan yang saya pikir akan terbaik bagi kamu dan keluarga kamu.”
“Dan kamu pikir memutus semua hubungan tanpa kabar adalah yang terbaik bagi saya?” tanya Rania dengan suara yang sedikit naik. “Kamu tidak tahu seberapa sakitnya bagi saya saat itu. Saya merasa seperti kamu telah mengkhianati semua yang kita bangun bersama.”
“Saya tahu, dan saya tidak pernah berharap kamu akan memaafkan saya begitu saja,” ucap Reza dengan mata yang berkaca-kaca. “Tapi saya berharap setidaknya kamu bisa memberi saya kesempatan untuk menjelaskan segalanya dengan jelas. Tidak sekarang mungkin, tapi ketika kita punya waktu yang cukup dan tidak ada tekanan pekerjaan yang mengganggu.”
Rania terdiam sejenak memikirkan kata-katanya. Bagian dari dirinya ingin tahu dengan sangat apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu, tapi bagian lain dari dirinya takut akan kebenaran yang mungkin tidak bisa dia terima. Namun, dia juga tahu bahwa jika mereka harus bekerja sama dalam waktu yang cukup lama, mereka tidak bisa terus menghindari masalah ini.
“Baiklah,” jawab Rania akhirnya dengan suara yang lembut tapi tegas. “Kita akan menemukan waktu yang tepat untuk membicarakan semua itu. Tapi untuk saat ini, saya ingin kita fokus pada proyek ini. Banyak orang yang mengharapkan hal baik dari kita, dan saya tidak ingin masalah pribadi kita mengganggu pekerjaan kita.”
Reza mengangguk dengan puas. “Saya mengerti sepenuhnya, Rania. Saya juga akan fokus pada pekerjaan. Dan saya berjanji bahwa saya akan melakukan yang terbaik untuk memastikan proyek ini sukses—bukan hanya untuk perusahaan saya, tapi juga untuk semua UMKM yang akan kita bantu, termasuk warung keluarga kamu di Medan.”
Rania merasa sedikit terkejut mendengarnya menyebutkan warung keluarga nya. “Kamu masih ingat tentang warung Nenek Aminah?”
Reza tersenyum lembut. “Bagaimana mungkin saya bisa melupakannya? Bubur pedas yang dibuat nenek kamu adalah yang terbaik yang pernah saya rasakan sepanjang hidup saya. Saya masih ingat bagaimana kita sering makan bersama di sana setelah kuliah, dan nenek kamu selalu memberikan porsi lebih banyak untuk saya.”
Rania merasa mata nya sedikit berkaca-kaca mendengarnya. Momen-momen indah dari masa lalu mulai muncul kembali—ketika mereka masih bahagia bersama, sebelum segala sesuatu berubah menjadi buruk.
“Saya harus pergi sekarang,” ucap Rania dengan cepat, tidak ingin Reza melihatnya menangis. “Siti sedang menunggu saya, dan kita harus segera kembali ke Medan untuk memberi kabar kepada tim kita.”
“Baiklah,” ucap Reza dengan mengangguk. “Saya akan menghubungi kamu melalui email untuk membahas jadwal kunjungan lapangan minggu depan. Semoga perjalanan kamu kembali ke Medan aman dan nyaman.”
Rania hanya mengangguk dan segera berjalan meninggalkan ruang tunggu, menyusuri koridor menuju lift dengan langkah yang cepat. Ketika dia sampai di tempat Siti sedang menunggu, teman sekampusnya itu melihatnya dengan wajah yang penuh perhatian.
“Kamu baik-baik saja kan, Rania?” tanya Siti dengan lembut.
Rania mengangguk dengan susah payah. “Ya, saya baik-baik saja. Cuma sedikit capek karena perjalanan dan rapat yang panjang.”
Siti tahu bahwa itu bukan seluruh kebenaran, tapi dia juga tahu bahwa Rania akan memberi tahu dia saat dia siap. Mereka berjalan bersama menuju lift dan kemudian keluar dari gedung kantor. Hujan gerimis sudah berhenti, dan sinar matahari mulai muncul dari balik awan yang sebelumnya menutupi langit. Udara menjadi lebih segar setelah hujan, dan mereka berjalan menuju parkiran mobil dengan langkah yang lebih ringan.
“Saya benar-benar tidak menyangka mereka akan memiliki tim yang begitu profesional,” ucap Siti sambil menyesuaikan tas di pundaknya. “Sangat berbeda dengan yang saya bayangkan sebelumnya—saya kira mereka akan lebih sombong atau merasa lebih tinggi dari kita.”
Rania tersenyum meskipun hati nya masih terasa berat. “Beberapa dari mereka memang terlihat baik, tapi kita tidak bisa terlalu percaya dulu ya. Kita harus tetap waspada dan fokus pada tujuan kita.”
Mereka sampai di depan mobil yang mereka gunakan untuk perjalanan dari stasiun ke kantor. Sebelum masuk ke dalam mobil, Rania melihat sekeliling area sekitar kantor pemerintah—ada beberapa gedung lain yang juga terlihat sibuk dengan aktivitas pagi hari. Di kejauhan, sebuah gedung tinggi dengan tulisan besar “Inovasi Nusantara” terpampang jelas—kantor pusat dari perusahaan yang akan mereka kerja sama dengan.
“Kita harus berhati-hati dalam setiap langkah kita mulai sekarang,” ucap Rania kepada Siti yang sudah masuk ke dalam mobil. “Kolaborasi seperti ini bisa jadi membawa manfaat besar, tapi juga bisa jadi menjadi sumber masalah jika kita tidak berhati-hati.”
Siti mengangguk sambil menyalakan mesin mobil. “Ya, kamu benar. Kita harus fokus pada apa yang kita butuhkan dan tidak terjebak pada hal-hal yang tidak penting.”
Perjalanan kembali dari kantor pemerintah ke arah stasiun kereta tidak terlalu macet, berbeda dengan saat pagi hari. Rania melihat pemandangan jalanan Jakarta yang mulai kembali ramai dengan aktivitas sore hari. Saat mereka melewati sebuah kawasan dengan banyak ruko dan toko kecil, dia melihat beberapa usaha kecil yang tampak sedang berjuang untuk menarik pelanggan—beberapa bahkan memasang spanduk dengan tulisan “Bisa Dipesan Online” atau “Siap Antar”.
“Itu kan yang kita inginkan bukan?” ucap Siti sambil menunjuk ke arah salah satu toko yang sedang memasang banner baru. “Banyak usaha kecil mulai menyadari pentingnya kehadiran online. Cuma sayangnya, tidak semua punya kemampuan atau sumber daya untuk membuat platform sendiri yang baik.”
Rania mengangguk. “Itulah mengapa proyek ini begitu penting. Banyak UMKM yang punya produk atau jasa bagus tapi tidak tahu cara memasarkannya dengan baik di dunia digital.”
Ketika mereka hampir sampai di stasiun, Rania melihat sebuah gerobak makanan yang sedang berhenti di pinggir jalan—gerobaknya tertulis “Warung Cepat Saji” dengan menu makanan yang cukup variatif. Seorang pria dengan baju kerja biru sedang menyajikan makanan kepada pelanggan yang sedang menunggu. Rania tidak bisa tidak melihat bahwa wajahnya mirip dengan seseorang yang dia kenal, tapi dia segera menyadari bahwa itu hanya ilusi akibat kelelahan dan pikiran yang masih terganggu dengan pertemuan tadi.
“Sampai di sini saja dulu ya, Bu,” suara sopir mobil rental terdengar dari depan. “Saya harus menjemput tamu lain di stasiun dalam waktu sebentar lagi.”
Rania membayar uang sewa mobil dan berterima kasih kepada sopirnya. Dia dan Siti segera turun dari mobil dan berjalan menuju arah stasiun untuk mengambil kereta pulang ke Medan malam itu. Namun, sebelum masuk ke dalam stasiun, Rania melihat sebuah toko buku kecil yang terletak di pinggir jalan dengan banyak buku bekas yang ditampilkan di rak luar.
“Kita berhenti sebentar ya, Siti,” ucap Rania sambil menunjuk ke arah toko buku. “Aku ingin melihat apakah ada buku tentang teknologi atau bisnis yang bisa bantu kita dalam proyek nanti.”
Siti mengangguk dan mengikuti langkah Rania menuju toko buku tersebut. Di dalam toko yang kecil tapi penuh dengan aroma kertas lama, pemilik toko—seorang wanita berusia sekitar lima puluhan dengan rambut putih pirang—menatap mereka dengan senyum ramah.
“Selamat datang, nak. Mau cari buku apa hari ini?” tanya pemilik toko dengan suara yang hangat.
Rania melihat sekeliling rak buku yang tersusun rapi. Ada banyak buku tentang bisnis, teknologi, hingga buku resep masakan. Saat dia melihat rak buku tentang bisnis dan teknologi, matanya tertuju pada sebuah buku berjudul “Strategi Digital untuk UMKM” yang ditulis oleh seseorang dengan nama yang dia tidak kenal—Bimo Wijaya. Namun, yang lebih menarik adalah sebuah buku kecil berwarna coklat tua yang terletak di sudut rak bawah.
Dia menarik buku itu dengan hati-hati, melihat sampul buku yang tertulis “Catatan Harian Seorang Pengusaha Muda”. Saat membukanya, dia menemukan tulisan tangan yang rapi dengan catatan tentang pengalaman seseorang dalam memulai bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan besar. Di halaman terakhir buku tersebut, terdapat sebuah catatan kecil: “Perjalanan panjang selalu dimulai dengan langkah kecil yang penuh keyakinan—bahkan jika harus menghadapi hal yang tidak diinginkan.”
Rania merasa ada sesuatu yang menarik dari buku itu, tapi dia tidak punya waktu untuk membacanya lebih jauh saat ini. Dia menyimpan buku itu ke dalam tasnya setelah melihat harga yang tertera di sampul belakang—harganya cukup terjangkau untuk sebuah buku bekas.
“Sudah dapat buku yang kamu cari?” tanya Siti yang sudah berdiri di belakangnya.
“Ya, ada beberapa buku yang mungkin bisa bantu kita memahami lebih banyak tentang strategi bisnis untuk UMKM,” jawab Rania sambil membayar buku tersebut kepada pemilik toko.
Setelah keluar dari toko buku, mereka segera melanjutkan perjalanan ke stasiun. Kereta malam yang akan mereka tumpangi sudah siap berangkat dalam waktu kurang dari satu jam lagi. Di dalam stasiun yang ramai dengan penumpang yang akan pulang ke berbagai daerah, Rania melihat beberapa orang yang sedang membaca buku atau melihat ponsel mereka dengan fokus—beberapa bahkan sedang membaca proposal atau presentasi seperti yang mereka lakukan tadi pagi.
“Saya masih tidak bisa percaya kita benar-benar akan bekerja sama dengan perusahaan besar seperti itu,” ucap Siti sambil menunggu kereta yang sudah muncul di rel jauh. “Kamu benar-benar siap menghadapi semua tantangan yang akan datang kan, Rania?”
Rania mengangguk dengan suara yang lebih tenang. “Ya, saya siap. Tapi aku juga tahu bahwa ini bukan hanya tentang kita dua atau perusahaan kita—ini tentang banyak orang yang mengandalkan kita untuk memberikan solusi yang tepat bagi mereka.”
Ketika kereta akhirnya tiba dan pintunya terbuka, mereka segera masuk dan mencari tempat duduk yang masih kosong. Di dalam kereta yang luas dengan lampu yang cukup terang, Rania melihat sekeliling kabin yang penuh dengan penumpang yang sedang bersiap untuk perjalanan panjang pulang ke daerah masing-masing. Beberapa dari mereka sedang membaca, beberapa lagi sedang tidur dengan kepala bersandar pada jendela.
Saat kereta mulai bergerak perlahan keluar dari stasiun Jakarta, Rania melihat pandangan kota yang semakin jauh di baliknya. Cahaya gedung-gedung tinggi mulai berkurang dan digantikan oleh pemandangan jalanan yang semakin sepi saat menjauhi pusat kota.
“Kamu tahu kan, Rania,” ucap Siti dengan suara yang pelan, “kadang kala hal yang paling sulit dalam hidup adalah menghadapi sesuatu yang sudah kita tinggalkan lama tapi harus kita hadapi kembali. Tapi seperti yang kamu katakan tadi—kita tidak bisa terus lari dari masa lalu kita jika ingin maju ke masa depan yang lebih baik.”
Rania mengangguk dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Dia melihat ke luar jendela kereta yang sudah mulai memasuki rel yang melalui daerah pedesaan dengan pemandangan sawah dan kebun yang tertata rapi. Suara mesin kereta yang stabil menyatu dengan hembusan angin dari luar jendela, membuat suasana menjadi lebih tenang.
“Sampai di Medan nanti kita bisa mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk kunjungan tim dari Jakarta minggu depan kan?” tanya Siti dengan suara yang lebih rileks.
“Ya,” jawab Rania dengan senyum yang lebih tenang. “Kita harus mulai menyiapkan segala sesuatu dengan baik. Mulai dari dokumentasi data UMKM lokal hingga presentasi yang akan kita siapkan untuk kunjungan mereka ke Medan. Kita harus menunjukkan bahwa kita punya nilai tambah yang tidak bisa diberikan oleh perusahaan besar—pemahaman tentang kondisi lokal yang mendalam.”
Saat kereta melaju dengan kecepatan yang stabil melalui rel yang melengkung ke arah utara, Rania melihat bulan yang mulai muncul di atas langit yang semakin gelap. Cahaya bulan yang terang benderang menyinari pemandangan sawah yang luas di bawahnya. Dia merasakan bahwa meskipun jalan panjang yang harus ditempuh dan masa lalu yang harus dihadapi, ada harapan bahwa semua akan berjalan dengan baik—bahwa kolaborasi ini bisa menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar dari yang mereka bayangkan.
“Kita akan melakukan yang terbaik untuk semua orang yang mempercayakan kita dengan usaha mereka,” ucap Rania dengan suara yang lebih tenang. “Baik untuk kita, baik untuk mereka, dan baik untuk semua UMKM yang mengandalkan kita.”
Siti mengangguk dengan senyum yang lebih hangat. “Ya, kita akan melakukannya. Karena seperti yang kamu katakan kan, Rania—kerja sama yang baik akan menghasilkan sesuatu yang berharga, tidak peduli dari mana kita berasal atau seberapa besar perusahaan kita.”
Ketika kereta semakin dekat dengan stasiun terakhir sebelum Medan, Rania melihat pemandangan kota yang semakin jelas dengan lampu-lampu jalan yang mulai menyala terang. Dia merasakan bahwa meskipun masih ada banyak hal yang harus dihadapi dan banyak pertanyaan yang belum terjawab, dia sudah siap menghadapinya semua—untuk keluarga, untuk warung, untuk semua UMKM yang menunggu bantuan dari mereka.
“Sampai di Medan nanti kita akan langsung mulai mempersiapkan segala sesuatu ya,” ucap Siti dengan suara yang penuh semangat. “Kita akan menunjukkan bahwa usaha kecil juga bisa memberikan kontribusi besar bagi banyak orang.”
Rania mengangguk dengan senyum yang lebih meyakinkan. “Ya, kita akan melakukannya. Karena ini bukan hanya tentang kita atau perusahaan kita—ini tentang semua orang yang berjuang dengan usaha mereka setiap hari.”
Ketika kereta akhirnya berhenti di stasiun Medan yang sudah terang dengan lampu sorot yang menyala terang di malam hari, mereka segera turun dan berjalan menuju keluar stasiun dengan langkah yang lebih cepat. Di luar stasiun yang ramai dengan orang-orang yang sedang pulang dari kerja atau sedang bersiap untuk malam hari, Rania melihat wajah-wajah yang lelah tapi penuh harapan—sama seperti mereka ketika memulai perjuangan ini beberapa tahun yang lalu.
“Kita akan mulai dengan yang terbaik untuk semua orang,” bisik Rania kepada Siti yang sedang menunggu di depan gerbang stasiun. “Karena itu yang benar-benar penting bagi kita semua.”