Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.
Semua orang mengira ia telah mati.
Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.
Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Tebing Langit Senja
Di utara Benua Arcapura, berdiri sebuah kawasan pegunungan purba yang telah dikenal sejak masa kerajaan-kerajaan pertama di tanah itu berdiri.
Orang-orang menyebutnya Pegunungan Arcapura.
Gunung-gunungnya menjulang seperti tiang penyangga langit. Kabut tebal menyelimuti lerengnya sepanjang tahun, sementara hutan rimba yang menutupinya dipenuhi legenda tentang roh kuno, pendekar sakti, dan pusaka yang mampu mengguncang dunia.
Namun di antara seluruh tempat di pegunungan itu, ada satu wilayah yang bahkan para pendekar legendaris pun enggan mendekatinya.
Sebuah jurang raksasa yang membelah tebing batu setinggi ribuan meter.
Tempat itu dikenal dengan nama—
Tebing Langit Senja.
Selama ratusan tahun, tak terhitung jumlah orang yang jatuh ke dalam jurang tersebut.
Tak satu pun pernah kembali hidup.
Bahkan menurut catatan perguruan-perguruan tua, tiga Pendekar Puncak yang kekuatannya hampir setara penguasa langit pernah mencoba menjelajahinya.
Mereka pun menghilang tanpa jejak.
Karena itulah Tebing Langit Senja dikenal sebagai salah satu dari Empat Kawasan Kematian di Benua Arcapura.
Hari ini, angin gunung bertiup keras di tepi jurang itu.
Di sana berdiri seorang pemuda bersandar pada batu besar setinggi dua orang dewasa.
Namanya Arka Wijaya.
Rambutnya hitam legam, matanya tajam seperti bilah pedang.
Seluruh pakaiannya yang gelap telah basah oleh darah. Luka-luka terbuka memenuhi tubuhnya—bekas sabetan senjata, hantaman tenaga batin, dan racun yang masih menghitam di kulitnya.
Ia baru berdiri di sana beberapa tarikan napas.
Namun darah sudah menggenang di bawah kakinya.
Dadanya naik turun dengan napas berat.
Setiap tarikan napas terdengar begitu menyakitkan hingga siapa pun yang melihatnya akan merasa ngeri.
Seluruh otot tubuhnya bergetar halus, tanda bahwa tenaga batinnya hampir habis.
Jika bukan karena batu besar yang menopang punggungnya, mungkin ia bahkan tidak sanggup berdiri.
Namun kedua matanya tetap dingin.
Tenang.
Tajam seperti es.
Tatapan itu penuh keganasan seekor serigala yang telah terpojok.
Sudut bibirnya melengkung membentuk senyum tipis—senyum yang sarat ejekan dan penghinaan.
Di hadapannya berdiri ratusan orang.
Kerumunan pendekar berpakaian gelap menutup seluruh jalan keluar dari tebing itu.
Bendera perguruan berkibar di antara mereka.
Pedang, tombak, dan berbagai senjata pusaka memantulkan cahaya matahari yang redup.
Jika ada orang dari dunia luar kebetulan melihat pemandangan ini, ia pasti akan tercengang.
Karena orang-orang yang berkumpul di sana adalah tokoh-tokoh paling kuat di Benua Arcapura.
Kepala perguruan besar.
Pemimpin keluarga bangsawan.
Bahkan beberapa tetua tua yang telah lama menghilang dari dunia pendekar.
Jika salah satu dari mereka muncul di sebuah kota, seluruh wilayah biasanya akan gempar.
Namun hari ini—
mereka semua berkumpul hanya untuk satu orang.
Arka Wijaya.
Lebih tepatnya, untuk satu benda di tangannya.
Seorang pria tua melangkah maju dari kerumunan.
“Arka Wijaya!” teriaknya dengan suara yang dipenuhi tenaga batin.
“Kau sudah terpojok! Serahkan Permata Racun Nirwana, dan kami mungkin masih akan memberimu kematian yang layak!”
Beberapa pendekar lain ikut berteriak.
“Hari ini kami akan menegakkan keadilan!”
“Artefak itu tidak pantas berada di tanganmu!”
“Serahkan Permata Racun Nirwana!”
Teriakan demi teriakan menggema di antara tebing batu.
Namun Arka Wijaya hanya tertawa pelan.
Tawa yang dingin.
Perlahan ia mengangkat tangan kanannya.
Di telapak tangannya muncul sebuah permata kecil berwarna hijau giok yang memancarkan cahaya samar.
Begitu benda itu terlihat—
seluruh kerumunan langsung terdiam.
Tatapan mereka terpaku pada permata itu, dipenuhi keserakahan yang tak dapat disembunyikan.
Benda itu adalah artefak paling legendaris di Benua Arcapura.
Permata Racun Nirwana.
Arka Wijaya memandang mereka satu per satu.
Matanya dipenuhi kebencian yang begitu dalam.
“Guruku…” katanya perlahan.
“menghabiskan hidupnya menyelamatkan orang.”
Angin gunung bertiup semakin kencang.
“Tak terhitung nyawa yang ia sembuhkan. Ia menolong siapa saja tanpa meminta balasan.”
Suara Arka berubah dingin.
“Namun demi Permata Racun Nirwana ini… kalian semua membunuhnya tujuh tahun yang lalu.”
Suasana langsung membeku.
Arka Wijaya tertawa pahit.
“Aku membenci diriku sendiri.”
“Selama tujuh tahun ini… aku gagal membunuh kalian semua.”
Air mata berdarah mengalir dari sudut matanya.
Tujuh tahun yang lalu, setelah kematian gurunya, kebencian telah mengakar dalam hatinya.
Ia meninggalkan jalan pengobatan yang diwariskan sang guru.
Sebaliknya…
ia memilih menguasai racun mematikan dari Permata Racun Nirwana.
Dan ketika ia akhirnya berhasil—
balas dendam pun dimulai.
Dalam waktu singkat, racun menyebar hingga ribuan li.
Ribuan orang mati.
Seluruh Benua Arcapura gemetar.
Kini para pendekar terkuat berkumpul untuk merebut artefak itu darinya.
Arka Wijaya menatap mereka dengan senyum menghina.
“Kalian menginginkan Permata Racun Nirwana ini?”
Tawanya tiba-tiba meledak keras.
“Kalian hanya sedang bermimpi!”
Sebelum siapa pun sempat bereaksi—
Arka Wijaya melemparkan permata itu ke dalam mulutnya.
Lalu menelannya.
Kerumunan langsung gempar.
“Apa?!”
“Dia menelan permata itu!”
“Arka Wijaya sudah gila!”
“Cepat bunuh dia!”
Namun cahaya hijau samar tiba-tiba memancar dari tubuh Arka Wijaya.
Energi racun kuno berputar liar di dalam tubuhnya.
Arka Wijaya tertawa keras.
“Aku memang tidak mampu membunuh kalian semua…”
“Tapi jangan bermimpi kalian bisa membunuhku!”
Ia mengerahkan sisa tenaga terakhirnya.
Lalu melompat ke belakang.
Di belakangnya hanya ada satu hal.
Jurang tanpa dasar.
Tebing Langit Senja.
“Hentikan dia!!”
Beberapa pendekar berusaha meraih tubuhnya.
Namun mereka terlambat.
Tubuh Arka Wijaya telah jatuh bebas ke dalam kegelapan jurang.
Angin gunung meraung di telinganya.
Saat tubuhnya jatuh semakin dalam, ia menggenggam sebuah liontin perak di dadanya—satu-satunya benda yang ia miliki sejak kecil.
Tak ada lagi yang menahannya di dunia ini.
Hanya satu penyesalan yang tersisa.
Ia belum sempat membalas kematian gurunya.
Dan belum pernah menemukan siapa orang tua kandungnya.
Arka Wijaya perlahan memejamkan mata.
Tubuhnya terus jatuh semakin dalam ke jurang yang seakan tak berujung.
Namun tak seorang pun tahu—
bahwa di dalam tubuhnya, Permata Racun Nirwana mulai memancarkan cahaya yang semakin terang.
Cahaya itu menelan seluruh tubuhnya.
Dan takdir Arka Wijaya—
baru saja mulai berputar kembali.