Leticha gadis 22 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya demi menyelamatkan perusahaan. Seharusnya saudaranya yang dijodohkan, tetapi karena menurut sang ayah Leticha membutuhkan seorang pemimpin dalam keluarga, membuat sang ayah memilih untuk menjodohkannya.
Leticha berusaha dengan semampunya untuk membatalkan perjodohan dengan pria berusia 36 tahun. Pria agamis dengan segala ilmu pengetahuan, tetapi usahanya tidak berhasil yang akhirnya membuatnya menikah dengan pria tersebut.
Tidak sampai di sana, Leticha masih terus mencari cara agar bisa berpisah dari tingkah lakunya agar tidak disukai, tetapi suaminya memiliki hati dan sifat yang benar-benar sabar.
Jangan lupa terus ikuti cerita saya.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 Kesepakatan
Setelah makan siang itu selesai, Leticha bermain seperti anak kecil bersama Lula dan juga Lio, rumah tersebut memiliki taman yang cukup luas dan bahkan banyak permainan anak-anak, membuat kedua anak itu memang tidak perlu harus ke taman bermain. Ternyata Lula dan Lio sangat akrab dengan Leticha.
Leticha juga seperti anak kecil ikut main selonjoran yang didorong oleh Lula, mereka juga bermain ayunan, bermain bola-bola kecil sembari kejar-kejaran dengan lemparan masing-masing. Leticha benar-benar menikmati perannya bermain dengan kedua anak tersebut dengan senyumnya yang lebar dan tampak tidak terpaksa sama sekali.
Tawanya juga terdengar begitu keras sama seperti dua bocah tersebut. Leticha bahkan sudah seperti bocah.
Sementara di sisi lain yang tidak jauh dari tempat tersebut terdapat bangku dengan meja bulat. Rakash bersama kedua orang tuanya dan juga Kakak serta kakak iparnya duduk dengan menikmati teh dan cemilan yang baru saja diantarkan asisten rumah tangga.
"Kamu yakin akan melanjutkan pernikahan dengan Leticha?" tanya Karin sepertinya sudah mulai ragu dan mungkin apa yang dilakukan Leticha berhasil.
"Semua keputusan tetap ada pada kamu Rakash. Jika memang kamu memiliki ketulusan ingin membantu keluarga mereka dengan mengikat hubungan bisnis dengan keluarga kita, maka itu juga merupakan hak kamu. Papa hanya tidak ingin menganggap bahwa pernikahan ini benar-benar dijadikan sebagai bisnis. Kamu sudah dewasa dan wanita yang kamu butuhkan untuk mencari pendamping wanita yang benar-benar menjadi istri kamu," ucap Edwin.
"Tetapi Mama rasa tidak ada yang salah pada Leticha, di luar dengan semua tingkah lakunya hari ini dan juga tata caranya berbicara, dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki kebanyakan wanita, gadis itu tampak jujur dan berekspresi apa adanya tanpa berlebihan," ucap Sulis tersenyum melihat ke Leticha yang asik berbicara.
"Benar apa kata Mama, di luar tingkahnya naudzubillah seperti tadi, dengan melihatnya bermain bersama dengan Lula dan Lio, telah memperlihatkan kepribadiannya yang sesungguh, calon istri kamu tampak bebas dan aku rasa tidak ada masalah jika tetap menjadikannya sebagai istri," sahut Tio ternyata tidak ilfil sama sekali dengan calon istri adik iparnya.
Rakash tidak berkomentar apapun dengan matanya juga melihat ke arah calon istrinya yang tampak begitu ceria.
****
Pertemuan singkat terhadap keluarga calon suaminya sudah selesai dan sekarang pasangan suami istri itu sudah kembali ke Jakarta dengan berada di dalam mobil menunggu macet yang cukup panjang.
"Orangtuaku akan membicarakan pertemuan dengan kedua orang tua kamu, setelah itu akan dilanjutkan dengan proses lamaran dan pernikahan," ucap Rakash.
Leticha yang sejak tadi fokus pada ponselnya mengerutkan dahi dan melihat serius ke arah Rakash.
"Kita jadi menikah?" tanyanya memastikan.
"Apa kita berdua pernah membatalkan untuk rencana pernikahan?" Rakash bertanya kembali.
"Orang tua kamu tidak keberatan aku menjadi istri kamu?" tanyanya.
"Sampai saat ini mereka tidak mengatakan apa-apa dan hanya menyampaikan akan menyesuaikan waktu agar bisa bertemu dengan kedua orang tua kamu," jawab Rakash.
"Gagal lagi," batin Leticha.
"Kenapa? Apa kamu memiliki harapan bahwa kedua orang tuaku tidak memakai kamu dan tidak melanjutkan hubungan kita?" tebak Rakash.
Leticha tidak mengatakan apapun dengan ekspresinya tampak kesal.
"Kita berdua akan menikah dan kita tidak memiliki perasaan ataupun satu sama lain, bagaimana mungkin kita akan menjalani pernikahan?" tanya Leticha
"Kita belum menjalaninya dan kita tidak akan tahu," jawab Rakash.
"Lalu bagaimana jika pernikahan 1 tahun 2 tahun dan bahkan sampai beberapa tahun tidak ada yang berubah dalam hubungan kita? kita tidak mungkin melanjutkan hubungan itu. Jika tidak ada perubahan dalam hubungan pernikahan kita atau bisnis Papa sudah semakin membaik, Maka aku meminta untuk kita berpisah," ucap Leticha.
"Kamu menambah syarat dari apa yang kamu katakan kemarin?" tanya Rakash.
"Iya," jawabnya benar-benar berbicara agar pernikahan itu tidak jadi.
"Baiklah! Aku bukanlah tipe orang yang bisa memaksa, jika memang kamu tidak menginginkan pernikahan kita untuk dilanjutkan ketika tidak ada perubahan dalam hubungan kita. Maka aku memberi kebebasan kepada kamu untuk memilih," jawab Rakash.
"Apa sebenarnya keuntungan yang diambil laki-laki ini ketika menikah denganku? kenapa dia tidak memiliki niat sama sekali untuk membatalkan pernikahan itu. Jelas-jelas di sini dia yang dirugikan dan dimanfaatkan oleh Papa untuk memperbaiki bisnis Papa, aku juga sudah melakukan berbicara agar membatalkan pernikahan ini dan ternyata dia tetap saja menikah denganku meski dengan semua syarat yang tidak masuk akal yang telah aku ajukan," batin Leticha.
*****
Leticha sekarang tidak memiliki kuasa apapun untuk membatalkan pernikahan itu. Leticha harus menumpahkan rasa kegundahan hatinya kepada sahabatnya Winona.
"Sudahlah terima saja takdir dalam hubungan pernikahan ini. Bukankah kamu juga mengambil keuntungan agar bisa lebih bebas lagi dan tidak terus dikekang oleh kedua orang tuamu," ucap Winona.
"Iya, kalau memang aku memiliki kebebasan dan bagaimana jika semakin parah. Jika laki-laki tua itu memiliki banyak aturan?" tanya Leticha.
"Bukankah kamu yang mengatakan sendiri bahwa apapun syarat yang kamu minta dan seperti apapun yang kamu lakukan, dia diam saja dan bahkan tidak berkomentar apapun. Artinya ketika kalian sudah menikah, maka dia juga akan memberikan kebebasan penuh kepada kamu," sahut Winona.
"Lalu bagaimana jika itu hanya akal-akalannya saja, karena kami berdua belum menikah dan dia setuju setuju saja dan mungkin saja ketika kami sudah menikah dia akan membuat aturan begitu banyak dan lebih parah daripada Papa," ucapnya dengan penuh ketakutan.
"Leticha, kamu sebaiknya berpikir positif saja, dengan keluarganya tampak legowo menerima kamu dan padahal kamu sudah memberikan pandangan buruk tentang diri kamu sendiri, biasanya buah itu tidak jauh jatuh dari pohonnya dan artinya keluarganya baik dan maka anaknya juga baik," ucap Winona.
Leticha tidak berbicara apapun lagi, kepalanya justru semakin sakit karena memikirkan pernikahan yang tetap harus dijalankan.
****
Leticha berada di dapur baru saja bangun tidur dengan meneguk ke air putih.
"Selamat sebentar lagi kamu akan menjadi istri dari pria dewasa itu," Leticha menoleh ke belakang melihat Vanila sudah berdiri saja di belakangnya dengan kedua tangannya dilipat di dada.
"Kamu puas melakukan semua ini kepadaku dan bukankah seharusnya kamu yang menikah dengan dia," ucap Leticha
"Itu artinya Papa lebih peduli kepadaku dan lebih memikirkanku, tidak memiliki rasa ketakutan sama sekali mengenai aku dan sementara kamu memiliki ketakutan yang besar. Jadi kamu harus cepat-cepat dinikahkan," jawabnya.
"Benarkah! jangan terlalu percaya diri, siapa tahu saja Pilihan papa kali ini benar-benar tepat untukku," ucap Leticha.
"Memang sangat tepat untuk kamu, menikah dengan pria yang usianya jauh di atas kamu yang melebihi cocok menjadi Ayah kamu, karena seorang ayah tidak bisa mendidik kamu maka harus mencari orang lain untuk mendidik kamu," jawabnya.
"Baiklah! aku tidak mempermasalahkan sama sekali hubungan ini. Aku akan membuat kamu menyesal karena sudah menolak pernikahan ini dan menjadikan aku sebagai penggantinya," ucap Leticha terlihat begitu kesal kepada saudaranya itu.
"Kenapa aku harus menyesal? Aku masih sangat muda dan kenapa juga harus menikah dengan laki-laki berusia 36 tahun yang lebih pantas dipanggil Om, itu cocok untuk kamu," ucapnya tersenyum penuh kemenangan dan kemudian langsung berlalu dari hadapan Leticha.
"Dasar wanita menyebalkan! menutup diri dengan bertopeng hijab dan ternyata kelakuan sangat buruk," umpat Letisha kesal.
Bersambung...