Marsya, seorang istri yang selalu di hina oleh suami dan keluarga nya hanya karena dia dianggap karyawan di salah satu toko kue.
Tapi tanpa sepengetahuan keluarga suami nya, bahwa toko kue itu adalah milik nya dan dia adalah seorang sarjana.
Dia sengaja menyembunyikan identitas nya atas permintaan sang ibu, kini Marsya tahu sendiri seperti apa suami nya dan juga keluarga nya.
Selain di berikan nafkah yang jauh dari kata cukup, Marsya juga di duakan oleh suami nyam dengan seorang wanita yang merupakan rekan kerja suami nya di kantor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07
"Bagai mana Marsya bisa membeli semua nya? Padahal dia kan cuma di kasih uang sebesar 30 ribu sehari, tapi kami bisa makan enak setiap hari!" Bu Ana heran dengan menantu nya.
Bu Ana menyusun semua bahan belanjaan nya di dalam kulkas, bahan masakan itu hanya cukup unyuk satu minggu ke depan nya.
"Ah, bodoh amat. Masalah hutang sama bu Eni biar lah itu menjadi urusan Marsya!" Guman bu Ana sambil tersenyum.
Sementara itu di kantor nya, Dani dan Mela sudah tiba di kantor. Seperti biasa nya mereka bergandengan tangan dengan mesra, di kantor ini tidak ada yang tahu bahwa Dani sudah menikah. Hanya Arum dan Galih yang mengetahui nya, Dani pun tidak tahu bahwa Galih adalah kakak kandung nya Marsya. Yang Dani ketahui bahwa Dani adalah kekasih nya Arum, sang pemilik perusahaan ini.
Pada saat yang bersamaan Arum dan Galih pun sudah tiba di kantor, Galih sangat geram dan ingin sekali dia mengajar Dani yang sudah berani mendua kan adik nya.
"Sabar mas!" Bisik Arum lembut.
Arum tahu bahwa saat ini Galih sedang emosi melihat Dani yang bergandengan tangan mesra dengan wanita lain.
"Selamat pagi bu Arum, pak Galih!" Mela menyapa atasan nya.
"Pagi!" Jawab Arum sambil tersenyum.
Galih menatap Dani dengan tatapan tajam dan dingin, sampai Dani pun merasa gugup. Sikap Galih tidak seperti biasa nya, tapi Dani bahkan tidak menyadari kesalahan nya.
"Ayo mas!" Arum segera mengajak Galih pergi dari hadapan kedua manusia tidak tahu diri itu.
Karena jika mereka tetap di sana, maka bukan tidak mungkin Galih akan terpancing emosi.
"Kurang ajar, berani nya dia menyakiti Marsya!" Ujar Galih dengan geram ketika dia tiba di ruangan nya Arum.
"Sabar mas, jangan terpancing emosi. Saat ini kita harus bisa mengumpulkan bukti sebanyak mungkin, karena itu akan lebih mudah bagi Marsya jika dia ingin berpisah dari Dani nanti!" Arum berusaha menenangkan Galih.
"Kasihan Marsya, pasti selama ini dia sangat menderita!" Galih merasa sedih teringat pada adik perempuan satu - satu nya.
"Mas, saat ini Marsya sudah tahu seperti apa Dani. Dan dia tengah mengumpulkan bukti - bukti nya, aku yakin saat waktu nya tiba Marsya pasti akan mengambil tindakan. Marsya bukan lah wanita yang bodoh mas, tenang saja. Marsya pasti bisa menangani mereka semua!" Arum berkata panjang lebar pada suami nya.
******
Marsya yang baru saja pulang dari toko kue nya, berjalan kaki menuju ke rumah nya. Karena dia memang sengaja meminta pada supir nya untuk berhenti di ujung jalan saja, bisa curiga suami dan juga keluarga nya jika melihat dia pulang naik mobil mewah.
"Baru pulang Sya?" Sapa Bu Eni ramah ketika Marsya melintas di depan warung nya.
"Iya bu!" Jawab Marsya sambil tersenyum ramah.
"Sya mampir dulu. Ada yang mau ibu sampai kan!" Bu Eni meminta Marsya berhenti sejenak.
"Ada apa bu?" Tanya Marsya heran, seperti nya ini adalah hal yang serius.
"Tadi ibu mertua kamu belanja lauk pauk banyak banget Sya, kata nya untuk stok satu minggu ke depan. Total belanjaan nya lebih dari 900 ribu dan dia hanya membayar 200 ribu saja. Sisa nya mertua mu menyuruh ibu agar menagih nya pada mu!" bu Eni pun menceritakan apa yang terjadi tadi pagi.
"Ya Allah bu, kenapa saya yang harus membayar nya? Kan ibu yang belanja!" Marsya keberatan jika dia harus menutup sisa kekurangan belanjaan sang ibu mertua.
"Bagai mana Sya? Ibu juga butuh modal untuk berbelanja lagi!" Bu Eni bertanya pada Marsya.
Marsya terdiam, dia tampak berfikir sejenak. Marsya sebenar nya kasihan melihat bu Eni, tapi untuk membayar nya dia tidak mau lagi. Akan semakin keenakan Dani dan keluarga nya jika Marsya masih terus menggunakan uang nya untuk memenuhi semua kebutuhan mereka.
"Begini saja bu, saya tidak punya uang untuk membayar nya. Tapi ibu Eni bisa datang langsung ke rumah dan menagih nya sama mas Dani saat dia gajian. Biasanya mas Dani mendapat kan gaji pada tanggal 2 setiap bulan nya!" Marsya menawarkan solusi pada bu Eni.
"Ya udah deh, nanti ibu akan datang ke rumah mu saat tanggal 2. Berarti 2 minggu lagi ya!" Ujar bu Eni sambil memperhatikan kalender yang ada di dinding warung nya.
"Iya bu, ibu bisa menagih nya langsung sama mas Dani. Maaf ya bu Marsya tidak bisa membayar nya!" Marsya merasa tidak enak dengan bu Eni.
"Tidak papa kok Sya, ibu paham posisi mu!" Bu Eni mengangguk kan kepala nya sambil tersenyum.
"Ya udah bu, ini sudah sore. Marsya pulang dulu!" Marsya pamit pada bu Eni.
"Silahkan Sya, maaf ya ibu menagih nya sama kamu tadi!" Bu Eni pun merasa tidak enak pada Marsya.
"Gak papa bu!" Marsya pun pergi dari warung nya bu Eni dan pulang ke rumah mertua nya.
'Enak saja minta aku yang bayar, yang belanja siapa yang bayar siapa? Tahu rasa kan kalau udah belanja sendri, emang dia fikir selama ini uang 30 ribu sehari itu cukup untuk makan mereka semua!' Batin Marsya di dalam hati.
Marsya sudah tidak mau lagi mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan mereka semua, selama ini Marsya menutupi semua nya dengan menggunakan uang nya sendiri. Tapi sedikit pun mereka tak pernah menghargai nya, bahkan mereka sering menghina Marsya sebagai orang miskin.
Tidak hanya itu, Dani pun sudah berani menduakan Marsya secara diam - diam. Marsya sudah mengetahui kebusukan Dani dan keluarga nya, perlahan rasa cinta Marsya mulai terkikis untuk Dani.
"Assalam mu'alaikum!" Marsya mengucap kan salam ketika memasuki pintu rumah nya.
Bu Ana yang sedang memainkan ponsel nya di ruang tamu hanya menoleh sejenak, bahkan dia sengaja tidak menjawab salam dari Marsya.
"Sya, sini kamu ibu mau tanya!" Ucapan bu Ana seketika membuat Marsya menghentikan langkah nya.
"Ada apa bu?" Tanya Marsya pura - pura tidak tahu.
Marsya sudah tahu bahwa bu Ana akan menyuruh nya membayar hutang di warung bu Eni, tapi Marsya tidak akan pernah melakukan nya sampai kapan pun.
"Sya, tadi ibu sudah belanja lauk pauk selama seminggu ke depan, tapi tadi uang nya kurang jadi kamu bayar ya kekurangan nya sama bu Eni!" Ujar bu Ana dengan enteng nya.
Sudah Marsya duga, pasti bu Ana akan meminta Marsya untuk membayar semua hutang nya di warung bu Eni.
"Maaf bu, Marsya tidak bisa membayar nya. Marsya tidak punya uang, kan mas Dani tidak lagi memberikan Marsya uang!" Marsya pun menolak keinginan ibu mertua nya.