NovelToon NovelToon
JANJI TANPA CINTA

JANJI TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / CEO / Percintaan Konglomerat / Romantis / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9: Ketegangan di Paviliun

Pukul 23.30 WIB. Mansion keluarga Setiawan telah tenggelam dalam kesunyian yang mencekam. Hanya detak jam dinding grandfather clock di lobi utama yang sesekali memecah keheningan dengan dentingnya yang berat. Di lantai dua, dalam ruang kerja yang didominasi kayu gelap, Danu Setiawan masih terjaga.

Di depannya, sebuah gelas wiski kristal tergeletak tak tersentuh. Matanya terpaku pada monitor monitor pengawas yang menampilkan area paviliun belakang. Di sana, di sebuah jendela kecil yang kacanya sudah sedikit buram, masih terpancar cahaya temaram berwarna kuning hangat.

Dia belum tidur, batin Danu.

Seharian ini, bayangan Nara yang berlutut membersihkan sepatu Karin terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Seharusnya Danu merasa menang. Seharusnya egonya terpuaskan melihat "karang" itu akhirnya terkikis oleh kenyataan. Namun, ada satu hal yang mengusik ketenangannya: mata Nara.

Mata itu tidak memancarkan dendam, tidak juga memancarkan kehancuran. Mata itu hanya memancarkan... kekosongan yang damai. Dan bagi pria yang selalu mendikte emosi orang lain seperti Danu, kedamaian itu adalah sebuah hinaan.

Danu berdiri, menyambar kemeja hitamnya yang tersampir di kursi. Ia melangkah keluar, melewati lorong-lorong sunyi mansionnya sendiri, menuju bagian paling belakang dari wilayah kekuasaannya. Tempat di mana ia menaruh "pion" barunya.

Udara malam di taman belakang terasa menusuk kulit. Suara jangkrik bersahutan di sela-sela tanaman perdu yang tertata rapi. Danu berjalan dengan langkah tanpa suara, sepatunya nyaris tak terdengar di atas jalan setapak berbatu.

Semakin mendekati paviliun, ia bisa mendengar sayup-sayup suara yang membuat langkahnya terhenti. Itu bukan suara tangisan. Itu adalah suara gumaman ritmis yang sangat lembut, mengalun seperti nyanyian tenang namun penuh tenaga.

Nara sedang mengaji.

Danu berdiri di depan pintu kayu tua paviliun itu selama beberapa saat. Ia merasa seperti penyusup di rumahnya sendiri. Ada dinding tak kasat mata yang melindungi ruangan kecil itu sesuatu yang tidak bisa ditembus oleh uang atau ancaman.

Tok. Tok. Tok.

Danu mengetuk pintu itu. Bukan ketukan lembut seorang tamu, melainkan ketukan tegas seorang pemilik yang menagih haknya.

Suara gumaman di dalam berhenti. Hening sejenak. Lalu, terdengar suara langkah kaki pelan mendekat. Pintu terbuka perlahan, menampakkan Nara yang masih mengenakan mukena putih bersihnya. Wajahnya yang tanpa riasan tampak bersinar di bawah lampu bohlam 15 watt, sisa air wudhu masih membasahi ujung keningnya.

Nara tertegun melihat siapa yang berdiri di hadapannya. "Pak Danu?"

Danu tidak menunggu izin. Ia melangkah masuk ke dalam kamar yang sempit itu, membuat ruangan yang sudah kecil terasa semakin sesak oleh kehadirannya yang dominan. Matanya berkeliling, menatap sinis pada tumpukan buku di meja kayu dan mushaf yang terbuka di atas sajadah.

"Sangat khusyuk," ujar Danu, suaranya rendah namun penuh sindiran. "Apakah kamu sedang mengadu pada Tuhan tentang betapa kejamnya saya hari ini?"

Nara membuka pintu lebar dengan tenang. Ia berdiri di dekat meja, melipat tangannya di balik mukena.

"Saya tidak perlu mengadu, Pak Danu. Tuhan maha melihat. Saya hanya sedang bersyukur."

Danu tertawa pendek, sebuah tawa dingin yang tak sampai ke mata. "Bersyukur? Setelah berlutut membersihkan kotoran di sepatu seorang remaja dan di suruh tinggal di kamar yang bahkan lebih buruk dari gudang saya. Apakah itu perlu disyukuri.

Nara menatap Danu dengan tenang. Tatapan yang membuat Danu merasa seolah dialah yang sedang diawasi.

"Saya bersyukur karena hari ini ayah saya masih bisa bernapas. Saya bersyukur karena saya masih diberi kekuatan untuk tidak membalas keburukan dengan hal yang sama. Kamar ini kecil, tapi di sini saya merasa lebih bebas daripada Bapak di dalam mansion besar itu."

Danu melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga Nara bisa mencium aroma parfum mahal yang bercampur dengan udara dingin malam. "Bebas? kamu adalah milik saya, Nara. Saya membeli waktu, tenaga, bahkan harga diri kamu dengan tumpukan uang di rumah sakit itu. Jangan bicara soal kebebasan di depan orang yang memegang kendali atas hidup mu."

"Bapak hanya memegang kendali atas raga saya," balas Nara tanpa gentar.

"Tapi jiwa saya Bapak tidak punya cukup uang untuk membelinya. Bahkan jika Bapak menyuruh saya membersihkan seluruh lantai mansion ini dengan tangan kosong, saya tetaplah Nara yang sama. Orang yang tidak akan pernah tunduk pada kesombongan bapak."

Rahang Danu mengeras. Ia merasa harga dirinya ditantang di titik paling dasar. Ia meraih lengan Nara tertutup kain mukena dan mencengkeramnya dengan intensitas yang tertahan.

"Apa yang kamu inginkan sebenarnya?" desis Danu. "Kenapa kamu tidak menangis saja? Kenapa tidak memohon agar saya mengakhiri semua ini? Semua wanita yang pernah saya temui akan merangkak di kaki saya jika saya memberi mereka tekanan setengah dari yang kamu terima!"

Nara menatap mata Danu yang berkilat penuh amarah dan... kebingungan. Untuk pertama kalinya, Nara melihat ada celah di balik topeng CEO yang sempurna itu. Pria di depannya ini tidak marah karena adiknya diganggu; dia marah karena dia tidak bisa memahami sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.

"Karena saya tidak takut pada Bapak," jawab Nara lembut, namun setiap katanya terasa seperti tamparan bagi Danu.

"Bapak memiliki segalanya, tapi Bapak adalah pria paling malang yang pernah saya temui. Bapak kesepian di tengah kemewahan, dan Bapak takut pada kebenaran yang saya bawa. Itulah sebabnya Bapak mencoba menghancurkan saya agar Bapak merasa benar."

Danu melepaskan cengkeramannya seolah-olah ia baru saja menyentuh bara api. Ia mundur selangkah, napasnya sedikit memburu. Ruangan kecil itu tiba-tiba terasa sangat panas.

"Jangan pernah merasa tahu tentang hidup saya!" bentak Danu. "kamu di sini hanya karena Karin menginginkan mainan baru. Jangan harap saya akan luluh dengan khotbah moral mu."

Nara hanya tersenyum tipis.

"Saya tidak berharap apa-apa dari Bapak. Sekarang, jika Bapak sudah selesai mengintimidasi saya di tengah malam, saya ingin melanjutkan doa saya. Masih banyak hal yang lebih penting untuk saya bicarakan dengan Tuhan daripada berdebat dengan Bapak."

Danu berdiri terpaku di tengah ruangan. Ia ingin membalas, ia ingin memerintahkan Nara untuk keluar sekarang juga dari rumahnya, namun lidahnya terasa kelu. Kehadiran Nara di ruangan itu, dengan mukena putih dan aura ketenangannya, membuat Danu merasa seperti kotoran yang mencemari tempat suci.

Tanpa sepatah kata lagi, Danu berbalik dan melangkah keluar dari paviliun. Ia berjalan cepat kembali menuju mansion, tidak lagi memedulikan langkahnya yang kini terdengar keras menapak bumi.

Sesampainya di ruang kerjanya, Danu tidak kembali ke kursinya. Ia berdiri di balkon, membiarkan angin malam menyapu wajahnya yang memanas. Di kejauhan, ia melihat lampu di paviliun belakang akhirnya padam.

Ia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah pemantik api dan menyalakannya. Api kecil itu menari-nari di kegelapan.

“Bapak kesepian di tengah kemewahan...”

Kalimat Nara terngiang kembali. Danu mengepalkan tangannya. Selama ini, semua orang memujanya, takut padanya, atau menginginkan hartanya. Nara adalah orang pertama yang menatap langsung ke dalam jiwanya dan menemukan "lubang" yang selama ini ia tutupi dengan kesuksesan.

"Kita lihat, Nara," gumam Danu ke arah kegelapan. "Kita lihat siapa yang akan bertahan paling lama. Karangmu... atau badai saya."

Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah benih yang mulai tumbuh. Bukan lagi benih kebencian murni, melainkan rasa penasaran yang berbahaya. Sebuah obsesi yang mulai bergeser arah; dari keinginan untuk menghancurkan, menjadi keinginan untuk memiliki cahaya yang dimiliki wanita itu.

Sementara itu, di dalam paviliun, Nara kembali bersujud. Ia menangis dalam sujudnya, bukan karena takut pada Danu, melainkan karena ia menyadari bahwa ujiannya baru saja dimulai. Perang yang ia hadapi bukan lagi sekadar soal sepatu atau pekerjaan, tapi perang untuk menjaga hatinya tetap bersih di tengah lingkungan yang penuh dengan racun kebencian.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!