Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.
Dihina. Ditolak. Dilupakan.
Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.
Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.
Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.
Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?
Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:
Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.
Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Murni di Ambang Pintu
Pak Hartoko meletakkan kopi dan roti itu di meja. “Semalaman ini bapak teleponi kamu, kenapa nggak kamu angkat? Ini kan janji kerja kita Siman. Kalau begini ceritanya, proyek bazar itu akan menumpuk. Bapak sungkan sekali, Man. Bapak kan sudah percaya sekali sama kamu.”
Mata Siman menunduk. Bahkan ia lupa dengan ponselnya yang tak terisi baterai. Semalaman ia begadang dengan harapan ada inspirasi, bukan telepon dari Pak Hartoko. Rasa bersalah makin menumpuk. Akik di jarinya kini terasa panas menyengat, bukan panas pembangkit semangat, melainkan panas karena malu dan rasa hina.
“Nanti… nanti malam akan saya selesaikan, Pak. Besok pagi Bapak pasti sudah bisa lihat hasilnya,” Siman berjanji, penuh keyakinan palsu, berusaha memperbaiki kesalahan. Padahal waktu pengerjaannya akan terasa begitu singkat.
“Hmm,” Pak Hartoko mengangguk, lalu menatap Siman. Matanya kini lebih serius, mengiris masuk ke dalam hati Siman. “Siman. Saya ini bukan hanya sekadar mau kasih kamu modal. Saya juga bukan cuma mau kasih kamu tempat gratisan. Saya ingin melihat kamu, orang seperti kamu ini bangkit. Kamu jangan lupakan orang-orang yang mendukungmu Siman, di belakangmu itu.”
Kata-kata Pak Hartoko seperti sambaran petir di siang bolong. Siman terpaku. Dia ingat Murni. Dia ingat Bapak dan Ibunya. Dia ingat senyum Bang Bimo dan pujian Pak Harun. Orang-orang yang tulus percaya padanya, bahkan sebelum ia bisa mempercayai dirinya sendiri. Tapi kenapa semua itu seolah menguap saat ia menghadapi rintangan kecil ini?
“Mungkin… mungkin saya ini memang tidak punya bakat, Pak,” Siman berbisik, suara rendahnya dipenuhi kekosongan. “Mungkin saya hanya kebetulan saja berhasil waktu itu.” Akik di jarinya terasa mati. Tidak ada denyutan. Tidak ada panas. Tidak ada cahaya.
Pak Hartoko menatap Siman lama, raut wajahnya menyiratkan kesedihan, namun juga pengertian yang mendalam. Ia kemudian menghela napas panjang, dan berkata pelan, "Kamu pernah di titik ini, Siman. Dulu. Jauh sebelum kamu berani melamar kerja di bengkel saya ini. Apakah itu sebuah kebetulan? Jangan cuma mengandalkan keberuntungan saja."
Mendengar perkataan Pak Hartoko itu, mata Siman terbelalak. Bagaimana mungkin Pak Hartoko tahu tentang Siman dulu? Akik itu memang telah membuat Siman mendapatkan berbagai hal itu, namun, untuk sebuah kehampaan Siman saat ini? Akik itu terdiam, tidak bersuara, tidak membalas. Itu bukanlah janji Murni. Itu hanyalah diriku. Aku hanya punya diriku. Aku harus melakukan ini sendiri.
Ia mendongak, matanya bertemu pandang dengan Pak Hartoko. Wajah Siman memang dipenuhi keringat dingin, tapi ada sebersit tekad yang kini membakar kembali hatinya. Ia ingat pesan Murni: “Kamu itu Siman, bukan orang lain.”.
“Aku… aku janji, Pak. Nanti malam pasti beres!” Siman menegaskan. Tekad itu begitu kuat. Ada dorongan di balik kepalanya.
“Bukan soal janji, Siman,” Pak Hartoko berkata lembut. “Kalau kamu tidak punya inspirasi atau buntu ide, ya sudah. Bilang saja. Bapak tidak mau anak muda jadi kacau begitu karena omongan Bapak.” Ia kemudian beranjak. Namun, saat sampai di ambang pintu, ia berbalik. “Pulang saja kalau memang tidak kuat. Kembali ke tempat kerjamu semula.”
Kalimat terakhir Pak Hartoko itu seperti tamparan keras bagi Siman. Kembali ke pekerjaan kuli? Atau menjadi part-timer di bengkel? Ini bukan hanya tentang menyerah, tapi tentang mengakui kekalahan di hadapan orang-orang yang sudah begitu percaya padanya.
Pintu ditutup, menyisakan Siman sendiri dalam kegelapan. Ia mengepalkan tangan, mencengkeram akiknya kuat-kuat. Bukan akiknya yang dingin atau mati, tetapi kemarahannya yang memuncak pada dirinya sendiri. Marah karena ragu. Marah karena takut. Akik di jarinya mulai memanas, berdenyut keras, seolah sebuah kekuatan besar baru saja bangkit dari dalam.
Namun, di tengah kemarahannya itu, Siman tahu ini bukan hanya soal emosi. Ia harus bertindak. Berpikir jernih. Seperti kata Murni: 'kamu itu kan pintar, Siman. Kamu pasti bisa.' Kata-kata itu, kini tidak lagi seperti obat penenang, melainkan seperti bara api yang membakar dari dalam dirinya.
Pintu studionya tiba-tiba terbuka perlahan. Cahaya sore masuk, bersama dengan sosok yang tak kalah familier.
"Siman, kamu kenapa? Wajahmu seperti melihat hantu?"
Punggung Siman langsung tegak. Bayangan Dina yang menghantuinya seolah meluap ke udara, digantikan oleh aroma Murni yang khas, perpaduan wangi sabun cuci dan sedikit aroma bunga melati yang Siman yakini berasal dari bantal tidur gadis itu. Murni berdiri di ambang pintu, kantong belanjaan berisi bumbu dapur tergantung di lengannya. Sorot matanya, yang selalu Siman rasakan menenangkan, kini menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.
"Mur... kamu..." Siman terbata, tak mampu menyembunyikan wajah kuyu dan mata sembabnya yang sudah tidak ia dapat sembunyikan lagi. Ia mengusap pipi yang basah dengan punggung tangan, berusaha menenangkan diri.
Murni melangkah masuk, perlahan, matanya menelusuri ruangan studio kecil Siman yang terasa pengap. Ia melihat monitor yang menampilkan kanvas kosong, remahan roti kering di meja, dan secangkir kopi dingin yang sudah tidak tersentuh lagi. Murni menghampiri Siman, meletakkan kantong belanjaannya di sudut meja, lalu menatap Siman lekat-lekat.
"Aku… aku kira kamu sudah pergi ke bengkel. Kata Pak Hartoko tadi di depan. Ini kenapa kok sampai begitu? Jangan-jangan Bapak bilang ke kamu untuk tidak bekerja sama aku?" tanya Murni lembut, namun ada nada keprihatinan yang menusuk hati Siman. Gadis itu meraih kursi, menempatkannya tepat di depan Siman.
"Nggak... nggak ada apa-apa, Mur." Siman menggeleng pelan. Sebuah dusta lagi. Rasanya dia tak ingin membebani Murni dengan kekacauan batinnya. Akik di jarinya terasa dingin, tidak bereaksi sama sekali, seolah ikatan yang dulu ia rasakan kini menguap begitu saja. Ini adalah realitas yang menghantuinya selama seminggu terakhir.
"Jangan bohong, Siman," Murni memegang tangan Siman, mengusap punggung tangannya perlahan. Sentuhannya hangat, tulus, menghapus sebagian beku di hati Siman. "Aku tahu kamu sudah janji sama aku untuk tidak lagi bohong, kan? Kenapa kok tiba-tiba jadi begitu lagi? Mana janji yang kamu ucapkan padaku untuk bisa membalaskan semuanya kepada Dina?"
Mendengar nama Dina, tubuh Siman menegang. Luka itu. Kehampaan yang sama yang menghantamnya berhari-hari. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, berusaha menenangkan dirinya. Murni adalah satu-satunya orang yang tak bisa ia tipu, tak bisa ia hindari kejujuran darinya.
"Aku... aku takut, Mur," Siman akhirnya mengakui, suaranya parau dan hampir berbisik. "Sudah sepuluh hari studio ini buka, tapi nggak ada satu pun klien yang datang. Nggak ada pekerjaan. Aku takut... aku takut aku nggak bisa, Mur. Semua yang terjadi selama ini... apa cuma kebetulan saja? Apa Dina benar, aku memang cuma sampah?"
Air mata Siman mulai menggenang lagi. Murni segera merangkul Siman, memeluknya erat, menepuk-nepuk punggungnya pelan. "Siman... omongan Dina itu bukan kebenaran, itu cuma racun. Kamu nggak pernah sampah, Man. Kamu sudah tunjukkin ke semua orang bahwa kamu hebat. Bapak sama Ibu juga bangga sama kamu. Mereka semua butuh kamu untuk membimbing."
***