NovelToon NovelToon
Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
​Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
​Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

“Bukan begitu, Mas Arga. Hanya saja kualitas bangunan di Tambak Lorok memang kurang baik, sering terkena rob, dan ruang kenaikan nilainya kecil. Saya khawatir Anda akan rugi—”

“Ada berapa unit lahan dan bangunan di sana? Berapa harga rata-rata terendah saat ini?” Arga memotong langsung.

“Saya bisa menegosiasikan harga sekitar 15 juta per unit dari para pemilik lama. Masalahnya, jumlahnya ada 500 unit—itu cukup banyak,” jawab Bagus dengan hati-hati. Ia tidak menyangka Arga bersedia menampung begitu banyak properti berkualitas rendah.

Benar saja, Arga mengernyit. Saat Bagus menghela napas lega (mengira Arga akan batal), Arga justru melontarkan pernyataan yang kembali mengguncang ruangan.

“Hanya 500 unit? Sedikit juga. Baiklah, saya ambil semua.”

Semula Arga mengira satu kawasan itu memiliki ribuan titik. Tak disangka hanya 500 unit. Namun tak apa—keuntungan sekecil apa pun tetaplah keuntungan di masa depan.

Saat itulah Bagus Mahendra menyadari bahwa Arga tidak bercanda. “Baik. Saya akan utus tim untuk membantu negosiasi dengan para warga. Diperkirakan selesai dalam dua minggu.”

“Itu terlalu lama,” Arga menggeleng.

Dalam dua minggu, kabar tentang proyek sabuk pantai dan revitalisasi pasti sudah menyebar. Saat itu, tidak ada yang mau menjual.

“Tiga hari. Saya beri waktu tiga hari. Berapa tambahan dana yang dibutuhkan agar mereka mau melepasnya cepat?”

“Jika kita tawarkan 20 juta per unit tunai, saya bisa selesaikan dalam dua hari.”

“Baik. 20 juta per unit. Sepakat.”

Usai berkata demikian, Arga menyerahkan kartu debitnya kepada Bagus. “Ini uang mukanya. Siapkan kontraknya.”

Bagus kembali tertegun. Lima ratus unit properti disepakati hanya dalam dua menit? Ia sedikit linglung, namun rasa terkejut itu berubah jadi kegembiraan. Bagaimanapun, meski marginnya kecil, transaksi massal ini tetap memberikan komisi besar dan menuntaskan beban bisnis yang selama ini merepotkan perusahaannya.

“Mas Arga, terima kasih banyak telah mempercayakan bisnis ini kepada saya!” Bagus menjabat tangan Arga dengan penuh rasa hormat.

“Justru saya yang berterima kasih, Pak Bagus,” jawab Arga sedikit canggung. Seandainya Bagus tahu kawasan ini akan segera meledak harganya karena proyek pemerintah dalam hitungan hari, ekspresinya pasti tidak akan setenang sekarang. Namun, dalam bisnis, visi adalah segalanya.

Di sisi lain, Dodi dan Vina yang menyaksikan semuanya sudah terperangah hingga tak mampu berkata-kata. Lima ratus unit dengan harga 20 juta per unit—totalnya mencapai 10 miliar! Dan itu dibeli semudah membeli kacang goreng?

Dodi teringat kembali saat ia menawarkan gaji 7 juta per bulan kepada Sherly. Tak heran wanita secantik itu bahkan tidak sudi meliriknya. Dengan wajah pucat, Dodi menarik Vina pergi dari tempat itu secepat mungkin karena menanggung malu yang luar biasa.

Dalam perjalanan, Sherly terus menatap Arga tanpa berkedip.

“Apakah wajahku kotor?” Arga menyentuh wajahnya dan bertanya sambil melirik spion.

Sherly menggeleng sambil tersenyum manis. “Tadi teman kuliahmu itu menghinamu sedemikian rupa. Mengapa kamu tidak menyuruh Pak Bagus mengusir mereka saja?”

“Bagiku, mereka hanya debu. Aku malas memikirkan mereka. Lagipula sekarang Pak Bagus bekerja untukku, dan mereka datang untuk membeli unit milik Pak Bagus. Aku tidak mungkin menghambat orang mencari uang, kan?” jawab Arga santai.

Sherly langsung paham. Arga bukan hanya berjiwa besar, tapi juga sangat cerdik dalam menjaga relasi bisnis. “Pantas saja… Kalau aku, mungkin aku sudah menyuruh satpam menyeret mereka keluar.”

“Memang sulit menghadapi orang picik,” celetuk Arga spontan.

“Oh? Maksudmu aku picik?” Sherly melotot manja.

“Bukan, bukan. Maksudku hatimu itu luas… seluas samudera,” ujar Arga sambil tertawa kecil untuk meredakan suasana.

“Dasar! Aku tidak mau bicara denganmu!” Sherly mendengus manja, memalingkan wajah sambil merona merah.

Sebelum turun dari mobil, Sherly berkata, “Mas Arga, lusa itu ulang tahunku. Kamu harus datang!”

“Oh? Apakah aku perlu membawa kado?”

“Kalau tidak bawa kado, awas ya!” Sherly memberikan ancaman manis dengan jarinya.

“Haha, tenang saja. Aku pasti memberimu hadiah yang sangat istimewa.”

Setelah tiba di rumah, Arga langsung menelepon Hadi Setiawan dari bank. Ia meminta bantuan untuk mengolah bongkahan giok Imperial Green besar yang ia dapatkan kemarin menjadi satu set perhiasan kelas dunia.

Begitu mengetahui bahwa Arga akan menjadikan giok seharga puluhan milliar itu sebagai hadiah ulang tahun, Hadi sampai mati rasa. “Mas Arga… kado ulang tahun Anda… nilainya benar-benar tidak masuk akal.”

Namun, itu belum semuanya. Arga masih menyiapkan satu kejutan besar lainnya untuk Sherly.

......................

Dua hari kemudian, Arga mengenakan setelan jas terbaiknya, membawa sebuah kotak hadiah eksklusif, lalu menuju kediaman megah Keluarga Gunawan.

Begitu memasuki area tersebut, kemewahan langsung terpampang nyata. Aliran air mancur yang jernih, pelayan yang sibuk berseliweran, serta deretan mobil mewah menunjukkan kasta keluarga Sherly. Di sana bahkan hadir beberapa tokoh publik dan pengusaha ternama Jawa Tengah.

“Sepertinya aku harus bekerja lebih keras lagi. Dengan pencapaianku sekarang, aku baru memulai langkah pertama untuk benar-benar layak bersanding dengan Sherly,” batin Arga.

Pada saat itu, Pak Rendra (ayah Sherly) yang berdiri tidak jauh menyipitkan mata ke arah Arga. “Apakah itu pemuda yang dimaksud Sherly?”

Begitu memasuki aula megah di dalam mansion Keluarga Gunawan, Arga langsung tertegun.

Aula itu begitu luas dengan langit-langit tinggi yang dihiasi lampu gantung kristal. Di sekeliling ruangan tersusun meja-meja panjang yang dipenuhi aneka hidangan laut segar, daging wagyu, dan kuliner Nusantara kelas atas. Para pelayan berseragam rapi mondar-mandir membawa nampan berisi gelas-gelas kristal, siap melayani para tamu undangan yang terdiri dari pejabat daerah, pengusaha properti, hingga sosialita Semarang.

“Beginilah sebenarnya gambaran keluarga old money...” gumam Arga dalam hati sembari mencari sosok Sherly.

Tak lama kemudian, ia melihat sesosok perempuan anggun di sudut aula, membelakanginya sedikit, tengah menikmati potongan buah tropis. Tanpa sadar, Arga melangkah mendekat. Ia menjulurkan tangan, mencubit pipi perempuan itu sambil berseloroh:

“Gadis manis ini kalau disenggol sedikit pasti langsung nangis, ya?”

“Hah?! Apa-apaan sih!”

Perempuan itu menjerit kaget dan spontan mundur, menatap Arga dengan wajah penuh kemarahan sekaligus ketakutan. Arga membeku. Ia seketika menyadari—ini bukan Sherly.

Meski tinggi badan dan wajahnya sangat mirip, auranya berbeda total. Sherly memiliki tatapan lembut yang menenangkan, sementara gadis di hadapannya ini memiliki sorot mata yang penuh kecerdikan dan kesan manja yang kental.

“Maaf, aku salah orang. Kukira kau Sherly,” ucap Arga cepat.

Gadis itu menyipitkan mata, mengamati Arga dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan meremehkan. “Kau Arga, ya? Kakakku pernah cerita soal pemuda kampung yang tiba-tiba beruntung. Ternyata aslinya lebih biasa saja dari dugaanku.”

1
Jack Strom
Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom: Eh jangan, entar leduk... 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!