NovelToon NovelToon
Sang Sopir Penakluk

Sang Sopir Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Bad Boy
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
​Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
​Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Ketika Bima kembali ke Garuda Group, ia menyipitkan mata sambil bersenandung kecil, kembali pada sikap santainya yang biasa. Sari dan yang lainnya masih menunggu di ruang rapat. Begitu ia masuk, semua orang langsung menghela napas lega.

“Bima! Kamu sudah kembali? Bajingan-bajingan itu tidak melakukan apa-apa padamu, kan?” Bang Jaka dan beberapa orang lain berlari menghampiri lebih dulu. Mereka memeriksa tubuh Bima dari atas sampai bawah. Setelah memastikan tidak ada tangan atau kaki yang patah—bahkan tidak ada luka kecil—mereka akhirnya tenang.

Wajah Sari dan Dewi yang berdiri di belakang juga tampak lebih rileks.

“Hanya sekelompok sampah. Apa yang bisa mereka lakukan padaku? Kalian seharusnya bertanya apa yang kulakukan pada mereka.” Bima tertawa.

“Benar! Dari cara tadi saja aku sudah tahu! Orang-orang itu pasti sudah dihajar habis oleh Kakak Bima!” seru Agus girang.

“Omong kosong! Tadi kamu berjalan di belakang kami dengan kaki gemetar. Jangan kira kami tidak melihat!” Bang Jaka menimpali, dan semua orang langsung menertawainya.

“Baiklah. Kalau tidak ada apa-apa, kembali bekerja.” Dewi akhirnya angkat bicara dengan tenang. Wibawanya sebagai Manajer HRD masih terasa kuat. Agus dan yang lainnya tidak berlama-lama lagi dan segera kembali ke pos masing-masing.

Di ruang kantor yang kini sepi, hanya tersisa Bima, Sari, dan Dewi.

“Bos, barusan aku sudah menghemat satu miliar untukmu. Tidakkah seharusnya aku mendapat sedikit hadiah?” Bima bersandar di meja Sari sambil tersenyum.

“Hadiah? Bukankah semua masalah ini justru disebabkan olehmu?” Sari mendengus dingin.

“Wah, kamu benar-benar tidak punya hati nurani! Aku bekerja seperti sapi dan kuda di sisimu! Makan bersamamu, minum bersamamu, tidur bersamamu! Bangun lebih pagi dari ayam, tidur lebih malam dari anjing, bekerja lebih keras dari sapi! Tidak menenangkanku saja sudah keterlaluan—sekarang malah menyalahkanku!”

Wajah Sari langsung memerah padam. Matanya membelalak. “Apa maksudmu makan, minum, dan tidur bersama? Kalau kamu berani bicara sembarangan lagi, aku… aku akan…”

Ia terdiam lama tanpa tahu harus berkata apa karena terlalu malu. Dewi, yang memperhatikan pertengkaran mereka, tampak memandang Bima dengan tatapan penuh makna.

“Ups, salah ucap. Maksudku bukan setiap hari tidur bersama… hanya sesekali saja,” Bima tertawa nakal.

“Kalau kamu bicara omong kosong lagi, keluar dari sini!” Sari hampir saja ingin merobek mulut pria itu.

“Sudah cukup.” Dewi akhirnya memotong perdebatan mereka. “Bima, katakan yang sebenarnya. Bagaimana pembicaraanmu dengan kelompok itu? Apakah mereka akan datang membuat masalah lagi di perusahaan?”

“Kami sempat bicara. Aku tidak setuju dengan mereka, jadi kami berkelahi. Auraku meledak dan aku menjatuhkan mereka semua. Mungkin mereka tidak akan datang lagi.” Bima tertawa.

Sari langsung memutar matanya. “Kamu menjatuhkan belasan orang sendirian? Jangan membual!”

“Bisakah kamu sedikit saja memberiku muka? Kalau begini, bagaimana kita bisa hidup rukun di masa depan? Baiklah, aku katakan yang sebenarnya. Aku memang sempat bernegosiasi dengan mereka. Mereka meminta satu miliar. Menurutku itu tidak masuk akal, jadi aku mencari bantuan. Kebetulan aku bertemu seorang bos kecil di Jakarta Barat bernama Bang Tigor. Aku memintanya membantu memberi pelajaran kepada Dedi.”

“Bang Tigor?” Alis Dewi terangkat. Tatapannya pada Bima semakin penuh rasa ingin tahu. Sari mungkin tidak tahu tentang geng-geng di kawasan kumuh, tetapi Dewi cukup memahami situasinya. Dibandingkan Dedi, Bang Tigor hanyalah pemain kecil. Mungkinkah orang seperti itu mampu menekan Dedi?

“Baiklah. Kalau begitu, aku bisa tenang sekarang.” Sari mengangguk. Beban di hatinya akhirnya sedikit berkurang. Ia sebenarnya tidak takut pada para gangster itu, namun jika mereka benar-benar datang membuat keributan setiap hari, urusannya pasti akan sangat merepotkan.

“Oh ya, Mbak Dewi…” Bima tiba-tiba menoleh pada Dewi. “Kepala keamanan Garuda Group itu si gendut… namanya Bambang, bukan?”

Begitu mendengar nama itu, wajah Dewi langsung menjadi tidak enak. “Benar.”

“Penampilannya hari ini sangat mengecewakan. Bu Sari, saya menyarankan agar dia langsung dipecat.”

“Tidak.” Bima menggeleng. “Aku tidak ingin memecatnya saja. Aku ingin memecat seluruh anggota departemen keamanan.”

“Apa?!” Sari dan Dewi berseru hampir bersamaan.

“Memecat semua orang di departemen keamanan? Kalau begitu siapa yang akan bertanggung jawab atas keamanan Garuda Group?”

Bima memandang mereka seperti melihat orang bodoh. “Bukankah setelah dipecat kalian bisa merekrut yang baru? Yang satu direktur perusahaan, yang satu Manajer HRD. Masa hal sekecil ini saja tidak bisa? Apa kalian kalah pintar dari aku yang hanya sopir?”

Sari merasa harga dirinya sebagai orang cerdas benar-benar dihina. Dengan gigi terkatup, ia berkata marah, “Menurutmu merekrut orang itu semudah membalikkan telapak tangan? Lalu bagaimana dengan keamanan sementara?”

Bima menyeringai nakal. “Dada besar tapi otak kosong.”

“Zaman sekarang kekurangan apa saja boleh—tapi tidak pernah kekurangan orang. Kalau sementara… ya sudah. Paling-paling beli beberapa anjing penjaga lagi.”

“Beli lebih banyak anjing?!” Sari dan Dewi serempak memutar mata. Apa sebenarnya yang ada di kepala pria ini? Siapa pernah melihat sebuah perusahaan besar seperti Garuda Group menugaskan beberapa ekor anjing sebagai petugas keamanan di depan gerbang lobi?

“Apa aku salah? Anjing jauh lebih setia dan hebat daripada para satpam sampah itu!” kata Bima sambil tersenyum santai.

“Bima…” Sari mengira pria itu sengaja mencari gara-gara. Ia sudah mengepalkan tangan kecilnya, siap melayangkan pukulan ke arah bahu Bima.

Dewi buru-buru maju menengahi. “Jangan marah, Bu Sari. Sebenarnya menurutku apa yang dikatakan Bima ada benarnya. Waktu itu kita merekrut petugas keamanan dengan tergesa-gesa. Kualitas mereka tidak merata, dan dalam pekerjaan pun sering terjadi kesalahan seperti tadi. Memecat semuanya lalu merekrut ulang juga bukan ide yang buruk.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Saya akan segera menyuruh orang mengeluarkan pengumuman perekrutan. Jika dipercepat, dua atau tiga hari lagi kita bisa mengadakan bursa kerja. Setelah pelatihan singkat, mereka bisa langsung mulai bekerja. Saat itu juga kita akan mengganti seluruh tim keamanan pimpinan Pak Bambang yang sekarang.”

Sari menahan emosinya, lalu akhirnya mengangguk. “Baik. Aku serahkan urusan ini padamu, Dewi. Cari orang yang cocok untuk memimpin proses wawancara. Prinsipnya, lebih baik ketat dalam seleksi daripada kebobolan lagi.”

Dewi mengangguk. Ia melirik ke arah Bima yang sedang bosan memainkan kuku jarinya, lalu setelah berpikir sejenak berkata, “Bu Sari, bagaimana kalau wawancara perekrutan kali ini diserahkan kepada Asisten Bima?”

“Dia?” Sari terkejut.

“Ha? Aku?” Bima juga sama kagetnya. Ia langsung melambaikan tangan. “Tidak, tidak! Jangan membuat ide buruk seperti itu! Aku ini cuma supir, mana mengerti soal SDM!”

1
Sastra Aksara
Terimakasih kak 😍🙏
Rio Armi Candra
kopi dah meluncur Thor 👍👍👍💪
Rio Armi Candra
jiahahaha 🤣🤣🤣🤣.. kereeeen bima👍👍👍
Jack Strom
Ihhh... Seram!!! 😁
Jack Strom
Mantap. 😁
Jack Strom
Hadeh, jadi kacau... 😔
Jack Strom
MC nya konyol namun asik!!! 😁
Jack Strom
Eh... Chapternya dah habis... 😭😭😭
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Hahaha... sudah 5 orang... 👍👍👍👍😁
Jack Strom
Eh, muncul satu lagi!!! 😁
Jack Strom
Ayo, hajar premannya!!! 😁
Jack Strom
Hahaha... Mantap!!!
Jack Strom
Hahaha... Nyosor masuk parit loe, mampooos!!! 😁
Jack Strom
Ia ia, makan teruuus!!! 😁
Jack Strom
Keren!!! 😁
Jack Strom
Hahaha... 😁
Jack Strom
Hahaha... Sangat konyol!!!
Jack Strom
Mantap!!! 😁
Jack Strom
Hahaha... Dasar tukang onar!!! 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!