1. Konsep Utama (The Core)
Protagonis: Kaelan Veyris (Reinkarnasi Ryan Hartman).
Bakat: EX-Grade Talent "All" (Potensi melampaui dewa, penguasaan semua elemen & jalur).
Organisasi: Nox Astra (Simbol: 9 Bintang). Bergerak dari bayangan untuk menguasai 5 benua.
Misi Utama: Membangun kekuatan absolut melalui panti asuhan rahasia dan jaringan teleportasi kuno.
2. Hierarki Kekuatan (Power System)
Grade Bakat: F (Terendah) sampai S (Legenda), SS (Mitos), dan EX (Kaelan).
Jalur Utama:
Sword Path: Sword Trainee hingga Transcendent Sword (Tebasan Dimensi).
Mage Path: Mana Initiate hingga Transcendent Mage (Manipulasi Realitas).
Hybrid Path: Gabungan keduanya (Kaelan & Nox).
Sihir Langka: Teleportasi jarak jauh (Teknik kuno yang hanya dikuasai Kaelan/Nox Astra).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seat Bos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJAMUAN BERDARAH DI IBUKOTA
Berita musnahnya lima ribu pasukan elit Kadipaten Arlan tanpa menyisakan satu pun saksi mata telah mengirimkan gelombang trauma ke seluruh penjuru Kerajaan Valdoria. Lembah Sunyi kini dijuluki sebagai "Makam Para Bangsawan". Tidak ada mayat, tidak ada darah, hanya keheningan yang mematikan.
Di Ibukota, Raja Valdoria duduk di singgasananya dengan wajah yang seolah menua sepuluh tahun dalam semalam. Di depannya, lencana Duke Arlan yang penyok diletakkan di atas meja marmer—dikirim oleh kurir misterius tanpa identitas.
"Tiga kadipaten menyerang, satu lenyap dalam semalam," suara Raja bergetar. "Aldric tidak mungkin memiliki kekuatan sebesar itu. Siapa... siapa sebenarnya Nox Astra ini?!"
"Yang Mulia," seorang penasihat berjubah putih maju. "Kita harus meminta bantuan kepada Kekaisaran Suci Solaris. Hanya para Paladin mereka yang bisa melawan sihir ruang dan kegelapan seperti ini. Tapi... harganya akan sangat mahal."
Raja mengepalkan tangannya. "Berikan apa pun yang mereka minta! Tanah, emas, atau pelabuhan. Aku tidak peduli. Aku ingin Veyris rata dengan tanah dan kepala bocah Kaelan itu dibawa ke hadapanku!"
Sementara itu, di sebuah kedai mewah di pusat Ibukota Valdoria.
Seorang anak laki-laki berusia enam tahun duduk di pojok ruangan, mengenakan pakaian bangsawan kelas menengah yang rapi. Di depannya ada sepiring kue manis. Ia tampak seperti anak kecil biasa yang sedang menunggu orang tuanya.
Namun, di bawah meja, tangan Kaelan sedang memutar-mutar sebuah koin mana yang terhubung dengan telinga Nox dan Mira.
"Nox, bagaimana posisinya?" bisik Kaelan melalui transmisi mental.
"Saya sudah berada di langit-langit aula pertemuan rahasia para bangsawan pendukung Raja, Tuan. Ada dua belas orang di sini. Mereka sedang merencanakan serangan jalur logistik untuk membakar lumbung pangan rakyat Veyris," suara Nox terdengar jernih di kepala Kaelan.
"Bagus. Mira, kau siap dengan Spatial Isolation?"
"Siap, Tuan. Begitu Anda memberi tanda, ruangan itu akan terputus dari dunia luar. Tidak ada suara teriakan yang akan terdengar hingga ke koridor istana," jawab Mira dari dimensi bayangan.
Kaelan menyesap tehnya, matanya yang biru menatap ke arah istana megah yang terlihat dari jendela kedai. Kalian ingin meminta bantuan Kekaisaran Suci? Sayang sekali, kalian tidak akan punya waktu untuk mengirim surat itu.
Malam itu, di Aula Emas Istana.
Dua belas bangsawan paling berpengaruh di Valdoria sedang tertawa sambil mengangkat gelas anggur. Mereka yakin bahwa dengan dukungan Kekaisaran Suci, pemberontakan Veyris hanya akan menjadi catatan kaki di buku sejarah.
"Untuk kehancuran Aldric!" seru salah satu Baron.
Ceklek.
Pintu aula mendadak terkunci. Cahaya lilin di dalam ruangan berubah menjadi ungu redup. Suara musik dan hiruk pikuk di luar istana mendadak hilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.
"Apa yang terjadi dengan lampunya?"
Dari kegelapan di atas atap, sosok hitam terjun dengan sangat anggun. Nox mendarat di tengah meja perjamuan, menghancurkan botol-botol anggur mahal. Belati Destruction-nya mengeluarkan uap hitam yang haus nyawa.
"Siapa kau?!" teriak seorang Duke sambil mencoba menghunuskan pedang hiasannya.
Nox tidak menjawab. Ia bergerak seperti tarian maut. Dalam satu putaran, tiga kepala bangsawan jatuh ke dalam piring makanan mereka sendiri. Darah segar menyemprot ke dinding emas, mengotori lukisan para leluhur raja.
"Penjaga! Penjagaaa!" teriak mereka, namun suara mereka hanya memantul di dinding ruangan. Mira telah mengunci ruang itu sepenuhnya.
Di sudut ruangan, sebuah celah dimensi terbuka. Kaelan melangkah keluar dengan tenang. Ia berjalan di atas genangan darah tanpa mengotori sepatunya.
"Kalian merencanakan untuk membakar lumbung pangan rakyatku?" tanya Kaelan. Suaranya kecil, namun setiap kata terasa seperti palu yang menghantam dada mereka. "Rakyat Veyris sudah cukup menderita karena pajak kalian. Sekarang, kalian ingin mereka kelaparan?"
"K-Kaelan Veyris?! Kau... kau monster!" teriak sang Perdana Menteri yang tersisa.
Kaelan mengangkat tangannya. Mata birunya bersinar dengan otoritas Bakat EX.
"Aku bukan monster. Aku adalah konsekuensi dari keserakahan kalian."
Kaelan menjentikkan jarinya.
"Nox Astra: Soul Crush."
Tekanan mana yang luar biasa padat mendadak menghimpit ruangan itu. Para bangsawan yang tersisa merasa paru-paru mereka meledak. Jantung mereka berhenti berdetak secara paksa oleh kehendak Kaelan. Dalam sepuluh detik, dua belas orang paling berkuasa di Valdoria tewas tanpa sempat melawan.
"Nox, ambil daftar aset mereka. Mira, pindahkan semua emas di brankas rahasia mereka ke gudang Veyris malam ini juga," perintah Kaelan.
"Dimengerti, Tuan."
Kaelan menoleh ke arah kursi kosong di ujung meja. Ia mengambil sebuah pisau makan dan menancapkannya ke atas meja, tepat di atas peta Veyris.
"Besok pagi, Raja akan mendapati bahwa dia tidak lagi memiliki menteri untuk memerintah," gumam Kaelan. "Veyris tidak akan lagi bertahan. Sekarang, saatnya kita menyerang jantung mereka."
Pagi harinya, Ibukota gempar. Dua belas bangsawan ditemukan tewas di dalam ruangan yang terkunci rapat dari dalam. Tidak ada tanda-tanda masuk paksa. Hanya ada satu pesan yang ditulis dengan darah di dinding aula:
"Kegelapan telah sampai di pintu rumahmu."
Raja Valdoria jatuh pingsan setelah melihat pemandangan itu. Di saat yang sama, pasukan Veyris yang dipimpin oleh Aldric mulai bergerak maju, merebut satu demi satu kota perbatasan tanpa perlawanan berarti karena moral pasukan kerajaan sudah hancur lebur oleh teror Nox Astra.