menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
BAB 16: Luka yang Menembus Kaca Televisi
Musim di Tokyo mulai berganti. Angin yang tadinya membawa sisa panas musim panas kini berubah menjadi embusan dingin yang menusuk tulang, membawa guguran daun-daun maple yang memerah di sepanjang jalanan Marunouchi. Bagi Hana Asuka, waktu seolah kehilangan maknanya. Hari-hari yang ia lalui hanyalah pengulangan mekanis: bangun, bekerja di balik meja mahoni yang luas, dan pulang ke rumah yang terasa seperti makam yang megah.
Namun, ada sesuatu yang berbeda di dalam sorot mata Hana. Sembab yang dulu menghiasi wajahnya kini berganti dengan ketajaman yang dingin. Ambisi baru telah tumbuh di sela-sela reruntuhan hatinya. Ia tidak lagi ingin menjadi "putri yang diselamatkan". Ia ingin menjadi "ratu yang bersanding".
Hana mulai mengambil alih proyek-proyek besar di Asuka Group yang sebelumnya hanya dikelola oleh ayahnya. Ia belajar membaca laporan keuangan hingga dini hari, memahami seluk-beluk pasar saham, dan membangun koneksi dengan para investor. Setiap kali ia merasa lelah, ia akan menyentuh kunci bengkel Ota di dalam laci mejanya, membayangkan Ren sedang menunggunya di ujung kesuksesan ini.
"Aku akan mencapaimu, Ren-san," bisiknya setiap malam sebelum memejamkan mata. "Aku akan menjadi cukup kuat sehingga kau tidak perlu lagi melindungiku dari balik bayang-bayang. Aku yang akan berdiri di sampingmu."
Satu minggu kemudian, sebuah pagi yang biasa berubah menjadi hari penghakiman bagi jiwa Hana.
Hana sedang berada di ruang tunggu eksekutif sebuah bank investasi besar di pusat kota, menunggu pertemuan dengan dewan direksi. Di sudut ruangan, sebuah televisi layar datar berukuran besar menyiarkan berita internasional dari kanal finansial global. Biasanya, Hana mengabaikan kebisingan latar belakang itu, namun sebuah nama yang diucapkan oleh pembawa berita membuat dunianya seketika membeku.
"...dan berita utama pagi ini datang dari Benua Biru. Pewaris tunggal imperium Hohenzollern, Aurelius Renzo von Hohenzollern, baru saja mengumumkan pertunangan resminya."
Jantung Hana berhenti berdetak. Ia perlahan mengangkat kepalanya, menatap layar kaca dengan napas yang tertahan di tenggorokan.
Layar televisi itu menampilkan sebuah pesta kebun yang sangat megah di sebuah kastil tua di pinggiran Berlin. Kamera melakukan zoom-in pada sepasang manusia yang berdiri di atas panggung marmer yang dikelilingi oleh ribuan bunga lili putih.
Di sana, berdiri seorang pria.
Ia mengenakan setelan jas putih gading yang sangat formal, dengan tanda pangkat kebesaran keluarga Hohenzollern di dadanya. Rambut wolf cut-nya yang dulu berantakan di bengkel, kini tertata sangat rapi dan elegan. Wajahnya datar, tanpa senyum, dengan mata yang menatap tajam ke arah kamera—mata yang sama yang pernah menatap Hana dengan penuh cinta di bawah selimut sutra.
Itu adalah Ren. Benar-benar Ren.
Di sampingnya, seorang wanita cantik jelita dengan gaun haute couture berwarna perak berdiri dengan anggun. Wanita itu adalah Bangsawan Sophia dari dinasti perbankan tertua di Eropa. Kulitnya seputih salju, dan ia tersenyum dengan kemenangan yang terpancar dari wajahnya saat ia melingkarkan lengannya di lengan kokoh Aurelius.
"Pertunangan ini menandai aliansi terbesar dalam sejarah ekonomi modern, menyatukan kekuatan industri Hohenzollern dengan modal tak terbatas dari keluarga Sophia..." suara pembawa berita terus mengoceh, namun bagi Hana, suara itu terdengar seperti denging yang memekakkan telinga.
Hana tersentak. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ia mendekat ke arah televisi, tangannya menyentuh layar kaca yang dingin, mencoba mencari tanda-tanda bahwa pria di sana adalah orang lain. Ia mengamati setiap inci wajah pria itu. Bekas luka kecil di dekat alisnya yang didapat saat memperbaiki mesin motor H2R—itu masih ada di sana. Garis rahang yang keras dan cara dia berdiri yang mendominasi—itu tidak bisa dipalsukan.
"Tidak mungkin..." bisik Hana. Suaranya hilang, tertelan oleh rasa sakit yang menyerang dadanya secara tiba-tiba.
Ia mengingat janji Ren. Ia mengingat surat yang ditinggalkan pria itu di apartemen, tentang bagaimana cintanya adalah kebenaran yang mutlak. Tapi apa yang ia lihat sekarang? Dalam waktu kurang dari sebulan, pria itu sudah memiliki wanita lain di sampingnya. Wanita yang memiliki gelar, wanita yang memiliki kekayaan, wanita yang setara dengannya di mata dunia.
Air mata, yang selama beberapa hari ini berhasil ia bendung dengan ambisinya, kini memberontak. Setetes demi setetes air mata itu meluncur membasahi pipinya, jatuh mengenai kerah blazernya yang kaku.
Hana merasa seperti orang bodoh. Semua ambisinya, semua kerja kerasnya untuk menjadi "setara" dengan Ren, terasa sia-sia dalam hitungan detik. Ia menyadari bahwa seberapa pun kerasnya ia berusaha, ia hanyalah seorang putri pengusaha Jepang dari perusahaan menengah, sementara wanita di layar itu adalah bagian dari dunia yang bahkan tidak bisa ia sentuh dalam mimpinya.
"Kau membohongiku lagi, Ren-san," isak Hana. Ia menunduk, membiarkan rambutnya menutupi wajahnya yang hancur di depan publik. "Kau bilang kau melindungiku... tapi kau justru memberikan luka yang lebih dalam dari kematian."
Tiba-tiba, kamera televisi menangkap momen singkat saat Sophia berbisik di telinga Aurelius. Aurelius hanya mengangguk kaku, namun matanya tetap menatap lurus ke depan—dingin, kosong, dan tanpa nyawa.
Hana melihat kekosongan itu. Di balik kemegahan pesta pertunangan itu, Aurelius tidak terlihat seperti pria yang sedang bahagia. Ia terlihat seperti seorang tahanan yang baru saja menandatangani vonis seumur hidupnya.
Namun, bagi Hana, itu tidak mengubah kenyataan. Ren telah memilih takdirnya. Ia telah memilih untuk kembali ke pelukan takhtanya dan meninggalkan "gadis bengkelnya" di belahan bumi lain.
Hana berdiri tegak kembali dengan susah payah. Ia menghapus air matanya dengan gerakan kasar yang meninggalkan bekas kemerahan di pipinya. Ia tidak bisa hancur di sini. Ia tidak boleh membiarkan orang lain melihat kelemahannya.
Ia berbalik dan berjalan keluar dari ruang tunggu bank, membatalkan pertemuan penting itu tanpa penjelasan. Ia masuk ke dalam taksi dan meminta supir untuk membawanya ke suatu tempat yang ia harap bisa memberinya jawaban.
Hana turun di depan bengkel Kuroda Motor di Ota.
Tempat itu sudah berdebu. Garis polisi atau segel perusahaan mungkin tidak ada, namun gerbang besi yang tertutup rapat itu sudah cukup untuk menandakan bahwa pemiliknya telah pergi selamanya.
Hana mengeluarkan kunci dari tasnya. Tangannya gemetar saat ia memasukkan kunci itu ke dalam lubang gembok yang sudah mulai berkarat. Klik.
Pintu terbuka dengan derit yang memilukan. Hana masuk ke dalam kegelapan bengkel. Aroma oli yang sudah mengendap menyambutnya. Ia berjalan menuju meja kerja tempat Ren biasa menaruh kopinya. Semuanya masih sama. Sebuah kaos hitam yang belum sempat dicuci masih tersampir di kursi.
Hana mengambil kaos itu dan mendekapkannya ke wajahnya. Sisa aroma tubuh Ren masih ada di sana—sedikit bau bensin, keringat, dan parfum kayu yang samar.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Hana pada kegelapan. "Jika kau memang harus bertunangan dengan wanita itu, kenapa kau harus memberiku harapan semalam itu?"
Hana terduduk di lantai bengkel yang kotor. Di tempat inilah ia pernah merasa paling dicintai, dan di tempat ini pulalah ia menyadari bahwa cinta mereka hanyalah sebuah anomali dalam sistem dunia yang kejam. Ren adalah bintang yang terlalu tinggi untuk diraih, dan ia hanyalah debu yang sempat tersapu oleh cahayanya.
Namun, di tengah isak tangisnya, mata Hana menangkap sesuatu di bawah laci meja kerja yang tertutup. Sebuah amplop hitam yang tersegel dengan lambang elang Hohenzollern. Amplop itu diletakkan di tempat yang sangat tersembunyi, seolah-olah memang disiapkan jika suatu hari Hana kembali ke sini dengan rasa kecewa.
Hana meraih amplop itu. Di depannya tertulis: UNTUK HANA, SAAT DUNIA MULAI BERBOHONG PADAMU.
Dengan napas yang memburu, Hana merobek amplop tersebut. Di dalamnya hanya ada sebuah foto kecil—foto mereka berdua saat berada di Kamakura, yang diambil diam-diam oleh Ren—dan sebuah catatan singkat dengan tulisan tangan yang kasar namun tegas.
*Hana,
Apa yang kau lihat di televisi nanti adalah teater yang harus kumainkan untuk menjaga agar pedang ayahku tetap di dalam sarungnya. Jangan percaya pada apa yang kau lihat. Percayalah pada apa yang kau rasakan di apartemen malam itu.
Tunggu aku di puncak. Jangan berhenti berlari. Karena saat aku kembali, aku tidak ingin hanya melihatmu sebagai kenangan, tapi sebagai seseorang yang akan membantuku membakar seluruh takhta ini.*
Hana mematung. Air matanya berhenti mengalir. Jantungnya kembali berdetak dengan ritme yang baru.
"Teater..." bisik Hana. Ia menatap foto di tangannya. Di foto itu, Ren menatapnya dengan pandangan yang tidak pernah ia berikan pada Sophia di televisi tadi.
Rasa sakit itu tidak hilang sepenuhnya, namun ambisi Hana kini memiliki api baru. Jika Ren sedang berperang di Eropa dengan memakai topeng tunangan, maka ia juga akan berperang di Jepang dengan memakai topeng pebisnis tanpa ampun.
Hana berdiri, merapikan blazernya, dan menatap pintu bengkel yang terbuka. Cahaya matahari masuk menyinari debu-debu yang beterbangan.
"Baiklah, Aurelius," ucap Hana, suaranya kini stabil dan penuh dengan kekuatan. "Mainkan peranmu di sana. Aku akan memainkan peranku di sini. Dan ketika kita bertemu lagi, aku pastikan wanita itu tidak akan punya tempat lagi di sampingmu."
Hana keluar dari bengkel dan mengunci pintu itu kembali. Ia melangkah keluar dengan kepala tegak. Kesedihannya kini telah bertransformasi menjadi senjata. Ia akan merebut seluruh pasar otomotif Jepang, ia akan memperluas Asuka Group hingga ke Eropa, dan ia akan memastikan bahwa nama Hana Asuka akan menjadi satu-satunya nama yang pantas bersanding dengan Hohenzollern.
Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai.