"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."
Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.
Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.
Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.
Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#8
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam dan Violet yang berada di kamarnya belum juga bisa memejamkan mata.
Tubuh nya terlentang, sedangkan tatapannya lurus ke arah langit- langit dengan kepalanya yang dipenuhi banyak pikiran. Tidak, bukan karena ia takut, bukan juga karena khawatir Adriel akan mengetuk pintu nya meski secara teknis ini adalah malam pertama mereka, ya sebab karena pernikahan ini bukanlah keinginan keduanya dan ia cukup jelas meyakinkan bahwa sejak tadi sore kalau laki-laki itu enggan memperumit situasi yang sudah rumit ini dengan masalah baru.
Mungkin Violet tidak bisa tertidur karena pikirannya tak berhenti bekerja. Akhirnya ia terduduk di tepi ranjang yang terasa dingin itu, menatap kosong ke depan dan membiarkan semua pertanyaan yang tak sempat ia pikirkan seharian itu akhirnya naik ke permukaan.
Teresa di mana sekarang.
Apakah Jenderal Hartawan sedang menghubungi pengacara.
Apa yang Adriel Voss mau dari semua ini.
Dan yang terakhir itu yang paling berat.
Karena bagi Violet yang sudah cukup lama hidup diantara orang-orang yang melakukan sesuatu bukan tanpa alasan cukup yakin bahwa laki-laki secerdik dan se strategis Adriel voss tidak akan membiarkan akad itu diselesaikan ketika dengan jelas bahwa dia sedang dibohongi, kecuali jika dia punya tujuan lain.
Dan tujuan itulah yang menjadi pertanyaan paling utama di kepala Violet saat ini.
Kenapa? apa alasannya?
Di luar jendela, angin menggerakkan dedaunan pohon-pohon tinggi di halaman dengan suara yang menyerupai bisikan. Rumah ini sunyi dengan cara yang berbeda dari sunyi yang pernah Violet kenal. Sunyi rumah Hartawan adalah sunyi yang penuh tekanan tersembunyi, sunyi orang-orang yang memilih untuk tidak bicara karena kata-kata mereka tidak saling menginginkan.
Sunyi rumah ini berbeda. Lebih dalam. Seperti rumah yang sudah terbiasa ditinggali oleh seseorang yang tidak membutuhkan suara untuk merasa penuh.
Atau seseorang yang sudah lama tidak punya siapapun untuk diajak bicara.
Violet membuka matanya.
Dan ketika ia sontak terkejut saat ini mendengar samar- samar seorang laki-laki yang sedang mengerang.
Atau lebih tepatnya menjerit.
Membalalak lah matanya yang tadi sudah mulai mengantuk. Violet spontan menajamkan indera pendengaran dan tidak salah lagi itu benar-benar suara Adriel voss!
Violet sontak berdiri, kakinya melangkah begitu saja tanpa ia kehendaki. Di luar suasana ruangan tampak sepi, tadinya ia ingin masuk kembali karena tidak mendengar lagi suara itu namun langkahnya untuk berbalik tertahan ketika ia menyipitkan mata dan menemukan bahwa Adriel ternyata tertidur di sofa dengan cahaya ruangan yang remang- remang itu.
Dan kini suara yang tadinya hanya erangan biasa benar-benar menjadi sebuah jeritan. Pantas lah Violet sampai bisa mendengar nya dari kamarnya karena laki-laki itu ternyata tertidur di ruang tengah.
Mungkin karena efek kelelahan atau apa, Violet tak mengerti. Tapi ketika akhirnya ia mendekat, Violet semakin mendengar dengan jelas bahwa Adriel bukan mengeras biasa dalam tidurnya, lebih tepatnya pria itu sedang mengigau dalam mimpinya dan sekarang Violet bisa mendengar gumamannya dengan jelas.
"Jangan! "
"Kumohon jangan! "
"Jangan pergi! "
Kepala Adriel bergerak ke kiri dan ke kanan dengan raut wajahnya yang terlihat ketakutan. Selama mengenal pria itu, baru kali ini Violet melihat sisi yang berbeda dari jenderal muda yang terkenal bengis tersebut. Di hadapan bunga tidur nya, Adriel terlihat lemah, sebuah sisi yang tentu saja tak akan diperlihatkan nya pada siapapun tapi kini Violet tidak sengaja melihat nya.
Sepertinya laki-laki itu bermimpi buruk. Dan bukan hanya bunga tidur, dari cara Adriel mengigau Violet bisa menebak bahwa mimpinya itu mungkin berasal dari trauma nya.
Tapi trauma apa yang sedang dirasakan nya ini? mengapa begitu menyeramkan.
Violet hendak berbalik namun tangannya tiba-tiba ditahan.
Tep!
Tangan besar Adriel lah yang menggamit lengannya. Untuk seperkian detik Violet tersentak karena mengira Adriel bangun.
"Ku mohon jangan pergi, tetaplah disini bersama ku.... "
Deg!
Siapa sebenarnya yang di mimpikan nya itu? apakah kekasihnya? mengapa terasa begitu menyayat, tapi Violet tak punya waktu untuk berlarut karena ia harus pergi dan bersyukur nya laki-laki itu masih memejamkan matanya.
Karena kalau dia tahu violet ada disini dan melihat sisi terlemah nya, mungkin violet akan berakhir di tiang gantungan.
Karena seperti kabar yang selalu menyertai namanya, seperti itulah kekejaman Adriel voss.
Namun untuk saat ini, Violet tidak membiarkan dirinya tetap disini, jadi pelan- pelan ia melepaskan genggaman tangan Adriel lantas berbalik dan berjalan mengendap-endap untuk kembali ke kamarnya.
Tapi sebelum menutup pintu, Violet berbalik dan menetap laki-laki itu sebentar lagi. Kini satu pikiran bertambah di kepalanya, kenyataan bahwa Adriel voss yang terkenal kejam ternyata memiliki sisi lemahnya juga dan siapa seseorang yang ada di dalam mimpinya itu hingga dia terlihat sangat se frustasi itu dalam mimpinya?
Tapi untuk apa ia memikirkan nya? nasibnya di rumah ini pun ia tak tahu.
Bisa saja cepat atau lambat Adriel akan menendangnya dari sini.
Hufftt! Sadarlah Violet!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi datang dengan cahaya yang masuk dari celah tirai dan suara langkah Matilda di lorong yang sudah mulai sibuk sejak sebelum Violet sepenuhnya sadar.
Violet duduk di tepi ranjang, merapikan rambutnya dengan tangan, dan mendengarkan suara rumah yang pelan-pelan bangun di sekelilingnya. Air mengalir dari arah kamar mandi di ujung lorong. Aroma kopi naik dari lantai bawah. Suara pintu yang dibuka dan ditutup dengan presisi orang yang sudah sangat hafal dengan berat dan sudut setiap daun pintunya.
Adriel sudah bangun lebih awal.
Violet tidak tahu kenapa itu hal pertama yang ia simpulkan dari semua suara yang ada. Tapi entah bagaimana suara-suara itu membentuk pola yang jelas tentang laki-laki yang sudah bergerak di lantai bawah bahkan sebelum fajar benar-benar selesai.
Ia lantas vberganti pakaian dan turun.
Adriel duduk di meja makan dengan seragam dinas yang sudah terpasang sempurna dan dokumen-dokumen tersebar di hadapannya. Kopi hitam di sisi kanannya masih mengepul. Ia tidak mengangkat kepala ketika Violet masuk.
Matilda muncul dari dapur. "Nyonya mau sarapan apa?"
"Apa saja yang ada."
"Ada nasi goreng, roti, atau bubur."
"Roti saja."
Violet duduk di ujung meja yang berseberangan. Matilda menghidangkan roti dan segelas air putih lalu kembali ke dapur dengan langkah yang tidak bersuara.
Hening.
Adriel membalik halaman dokumennya. Penanya bergerak cepat di sudut halaman.
Tanpa sadar Violet melirik laki-laki itu sebentar, Adriel voss yang dilihatnya saat ini sungguh sangat jauh berbeda dari yang dilihatnya semalam.
Lalu tiba-tiba saja mata Adriel voss melirik balik ke arahnya dari pinggir dokumen yang sedang dibacanya. Sadar sudah tertangkap basah Violet lantas menatap ke depan dengan terburu-buru lalu mulai makan dengan tenang. Atau setidaknya menampilkan ketenangan dengan cukup meyakinkan meski jantung nya berdegup kencang
"Kau tidak minum kopi?"
Violet mengangkat wajah. Adriel masih menatap dokumennya, seolah pertanyaan itu keluar tanpa perlu benar-benar melihat lawan bicara.
"Tidak biasa," jawab Violet.
"Kenapa."
Nada suaranya datar. Seolah bukan orang penasaran. Lebih seperti kebiasaan.
"Kopi bikin saya terlalu waspada," kata Violet pelan. "Kalau sudah begitu, akan susah untuk berhenti mikir."
Gerakan pena di tangan Adriel berhenti sebentar.
Lalu lanjut lagi.
"Kau sedang banyak pikiran?"
"Iya."
"Tentang apa."
Violet menurunkan rotinya. Ia diam sebentar, lalu memutuskan tidak ada gunanya menahan pertanyaan itu lebih lama.
"Tentang kenapa Tuan membiarkan akad itu selesai kemarin?"
Hening.
Berbeda dari sebelumnya, kali ini lebih terasa. Adriel lalu menutup dokumennya dengan rapi. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia akhirnya mengangkat wajah.
Tatapannya langsung dalam, membuat Violet refleks menahan napas.
Violet menahan diri untuk tidak mengalihkan pandangan.
"Kau sudah selesai makan?"
"Belum."
"Selesaikan dulu."
Nada suaranya tetap tenang, tapi jelas tidak memberi ruang untuk dibantah.
Violet menarik napas pelan, lalu mengambil rotinya lagi.
Adriel berdiri. Dokumennya dirapikan dalam satu gerakan. Ia mengambil jaket dari gantungan dan memakainya tanpa tergesa.
Tangannya berhenti di gagang pintu.
Ia tidak berbalik.
"Nanti malam kita bicara."
Pintu lalu tertutup.
Suara itu terdengar jelas di ruangan yang kembali sunyi.
Violet diam sejenak.
Ia menatap roti di tangannya. Tiba-tiba rasanya jadi hambar.
Lalu ia menoleh ke arah pintu yang sudah tertutup itu.
"Nanti malam kita bicara."
Kalimat itu terus terulang di kepalanya.
Sederhana, tapi terasa berat.
Violet sudah cukup lama belajar membaca orang untuk tahu satu hal. Orang seperti Adriel tidak akan bicara tanpa tujuan.
Kalau ia bilang akan bicara, berarti ada sesuatu yang memang ingin ia sampaikan.
Dan apapun itu, Violet harus menghadapinya malam ini.
*****
BERSAMBUNG