“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Benny, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
4 jam perjalanan dengan bis dan angkutan umum, sampailah Syafira dan anak kembarnya di kampung orang tuanya dulu.
Di sebuah rumah kayu jati yang masih tampak kokoh dan unik, rumah orang tua Syafira itu tampak lega karena tak banyak perabotan, ditambah teras dan pekarangannya yang cukup luas.
“Assalamualaikum, Bu Tatik,” sapa Syafira setengah berteriak berharap sang tuan rumah segera keluar.
Namun sayang, hingga 3 kali panggilan tak ada sahutan dari dalam, pemilik rumah juga tidak muncul batang hidungnya.
Melihat anak-anaknya yang terlihat lelah, Syafira mengajaknya untuk duduk di teras rumah sembari menunggu Bu Tatik, pembeli rumah orang tuanya dulu. Ia mengeluarkan minuman dari tas besarnya, sisa perbekalan selama di jalan. “Minum dulu, kita istirahat di sini sebentar, ya.”
Kedua bocah itu mengangguk, meski mereka tampak tak begitu nyaman dengan kondisi saat ini.
Hingga beberapa menit kemudian, terdengar suara seorang laki-laki memanggil nama mantan istri Khale itu. “Syafira?”
Syafira lalu berdiri dan menghampiri lelaki yang juga tengah menghampirinya.
Lelaki tampan dan bertubuh tegap itu tampak memastikan bahwa yang ia lihat adalah benar Syafira teman SMAnya dulu.
“Darma?” Syafira pun meyakinkan dirinya tak salah mengenali lelaki di hadapannya.
Keduanya lalu tersenyum dan saling berjabat tangan.
Pandangan Darma kemudian beralih pada kembar. “Anak-anak kamu, Syaf? Ternyata kamu sudah menikah ya, lama sekali tidak mendengar kabarmu semenjak kuliah di Jakarta.”
Mengangguk, Syafira kemudian menanyakan keberadaan Bu Tatik pada Darma.
Melihat kondisi mereka bertiga, Darma yang tak tega dengan peluh yang membasahi tubuh kembar, buru-buru mengajak mereka masuk ke dalam.
“Bude masih di rumah keripik kalau jam segini, pintunya tidak dikunci kok, jaga-jaga kalau kamu datang katanya. Karena beliau masih repot, jadi aku yang diminta menyambutmu. Ayo masuk,” ajaknya.
Dengan keluguannya, Khanza bertanya soal rumah keripik. “Rumah keripik itu apa, Bunda? Rumahnya terbuat dari keripik?”
Rumah keripik itu rumah yang membuat keripik untuk dijual, Mas ganteng,” jawab Darma tersenyum gemas pada Khanza.
Darma lalu menjelaskan pada Syafira bahwa Bu Tatik yang tak lain adalah budenya itu memang bekerja di produksi rumahan keripik milik bapaknya, sekaligus sebagai pengawas para pekerja di bawahnya. Ia lalu mempersilakan Syafira dan kembar beristirahat di kursi panjang yang tampak nyaman dan menyalakan kipas angin. Lelaki seusia Syafira itu juga mengajak mereka makan siang meski hari sudah sore.
Awalnya, Syafira menolak karena mereka sudah memakan bekal selama di perjalanan, tapi setelah mendengar suara perut keroncongan Khayra, Darma langsung menggandeng tangan kembar untuk menyantap makanan di meja makan yang sudah dimasakkan budenya.
***
Menjelang petang, selesai makan dan mandi, kembar tampak terlelap di atas kasur sebuah kamar yang sudah disiapkan untuk mereka. Darma lalu mengajak Syafira duduk di ruang tamu, berbincang soal kabar masing-masing setelah lama tak bersua. Lelaki itu juga menanyakan perihal suami Syafira yang tidak ikut bersama mereka.
Menunduk lesu, Syafira mengatakan bahwa dirinya telah resmi bercerai dengan sang suami beberapa tahun lalu. Namun, ia tak mengatakan apa alasannya dan hanya menjelaskan bahwa ia ingin kembali tinggal di kampung mendiang orang tuanya. “Jakarta terlalu keras, Dar. Aku ingin memulai hidup baru bersama anak-anakku di sini. Mencari pekerjaan baru, tempat tinggal baru, dan sekolah baru untuk mereka di sini.
“Kamu sendiri, sudah menikah, Dar? Anak kamu berapa sekarang?” Syafira berganti bertanya soal kehidupan Darma kini.
Menunduk sembari tersenyum, Darma menggeleng dan mengatakan bahwa ia belum menikah hingga saat ini.
Sempat tak percaya, Syafira menduga teman SMAnya itu adalah tipe pria pemilih, karena diketahui saat masih duduk di bangku sekolah, banyak murid perempuan yang menyukai Darma, bahkan dari sekolah lain.
Tertawa kecil, Darma kembali menjelaskan bahwa benar ia memang belum menikah. “Siapa sih, Syaf, wanita zaman sekarang yang mau sama laki-laki sepertiku yang hanya kerja di desa bantu-bantu usaha orang tua?”
Mengatakan bahwa Darma masih sama seperti dulu yang suka merendah, Syafira tak ingin membahas soal pribadi teman lamanya itu.
“Mungkin kamu ada kenalan tetangga yang punya rumah kontrakan, Dar? Ehm, siapa tahu juga di rumah keripik milik bapakmu masih ada lowongan. Aku bisa bekerja apa saja,” ujar Syafira membuat Darma terdiam.
Sekian detik Darma mematung memandangi wajah cantik Syafira penuh iba. Bagaimana tidak, sungguh Bunda kembar itu diketahui dulunya adalah salah satu murid berprestasi hingga mendapatkan beasiswa di salah satu perguruan tinggi negri di Jakarta. Mana mungkin ia akan memperkerjakannya di produksi rumahan orang tuanya yang rata-rata hanya menerima lulusan SMP dan SMA.
Belum sempat lelaki itu menjawab, terdengar suara wanita paruh baya menyambar. “Tinggal di sini saja dulu, Syaf, itung-itung temani Ibu.”
Melihat kedatangan budenya, Darma buru-buru menimpalinya, bahwa ia pun setuju dengan permintaan Bu Tatik yang tinggal seorang diri di rumah ini. Bagaimanapun, rumah ini dulunya adalah rumah masa kecil Syafira hingga remaja. Tentu, janda anak dua itu akan lebih nyaman bila kembali tinggal di sini dari pada harus mencari rumah kontrakan di desa yang hampir tak ada. Untuk sekolah kembar, Darma juga menyarankan agar mereka sekolah di TK tempat Syafira dulu bersekolah.
“TK kamu dulu sekarang sudah bagus kok, Syaf, ‘kan dekat juga dengan rumah. Kamu santai dulu saja di sini, nanti pelan-pelan aku bantu mencarikan pekerjaan yang pas untuk kamu,” jelas Darma.
***
“Sial, ke mana dia. Nomorku diblokir.” Putra tampak marah ketika mengetahui Syafira tak ada di rumahnya hingga hari ini setelah mendapat laporan dari anak buahnya yang mengatakan rumah Syafira kosong sedari kemarin siang, juga dari rekaman CCTV.
Laki-laki itu murka, karena merasa Syafira sengaja kabur darinya, apalagi saat melihat perpisahan mereka bertiga dengan Ria, tentu mereka tak sedang akan pergi berlibur.
“Pak, kami sudah crosscheck ke sekolah anak-anak itu, pihak sekolah mengatakan kemarin mereka izin pulang lebih cepat dan tidak masuk selama beberapa hari ini karena ada urusan keluarga,” lapor salah seorang anak buah Putra.
“Cih, keluarga yang mana, dia saja hidup sebatang kara. Kalau memang benar kamu sengaja kabur dariku, berani sekali kamu, Syaf.” Putra mengepalkan tangannya, lalu bergegas menuju mobil dan mengendalikan kemudi menuju sebuah tempat yang tak lain adalah apartemen Khale.
Membohongi pihak keamanan di bawah, Putra yang mengaku kerabat Khale dan sudah memiliki janji untuk bertemu dengan salah seorang pemilik unit apartemen, menanyakan nomor unit milik Khale.
Begitu Khale membuka pintu unitnya, Putra yang sudah berdiri di hadapannya langsung menyelonong masuk ke dalam begitu saja tanpa permisi. “Di mana mereka?”
Khale yang tak terima karena Putra seakan sedang menggeledah apartemennya, ia membentak Putra yang dianggapnya tak sopan lalu memaksanya keluar.
“Banyak bicara! Di mana kamu sembunyikan calon istriku!” Hantaman keras dari kepalan tangan Putra mendarat di wajah tampan Khale.
Bruk!
Ayah kandung kembar itu pun tersungkur ke lantai.
Sementara itu, Ria yang memakai masker dan wig, sengaja mendatangi sekolah kembar untuk mengurus surat pindahan Khanza dan Khayra, setelah mendapat panggilan dari Syafira.
“Ria, setiap kita berkomunikasi, tolong hapus riwayatnya. Tulis nama orang lain pada nomor baruku. Setelah urusan sekolah kembar selesai, jangan lagi hubungi aku dan aku tidak akan menghubungimu lagi demi keamanan kita masing-masing. Terima kasih banyak atas bantuanmu. Jangan lupa selalu berhati-hati dalam berpenampilan agar tak ada yang mengenalimu.”
...****************...
kan dia mau berubah dan bertanggung jawab🤭
KLO pun nggak BS balikan SM khale biar aja Syafira menjanda selama nya, tp hub anak² SM khale bagus..
kayaknya ada sesuatu antara putra dan Karina 🤔
ekhh khale bodoh harusnya kau jgn percaya sama perempuan siluman itu...suami paling bodoh