Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.
Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
...«----------------🍀{LINDA}🍀----------------»...
Lampu jam digital di atas nakas menunjukkan pukul 19.30. Seharusnya, suara deru mesin mobil Dimas sudah terdengar di tanjakan depan apartemen sepuluh menit yang lalu. Aku berdiri di depan jendela besar ruang tamu, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip seperti kunang-kunang raksasa yang tak bernyawa. Di pantulan kaca, aku melihat sosok ku sendiri, seorang wanita dengan rambut cokelat madu yang panjang, mengenakan celemek merah jambu di atas yukata tipis.
Namun, di balik penyamaran manusia yang sempurna ini, ada sesuatu yang bergejolak. Sesuatu yang sudah lama ada.
“Kenapa dia belum pulang?” Pikiran batin itu berulang seperti kaset rusak di kepala ku. Aku bisa merasakan telinga ku, telinga rubah asli ku yang tersembunyi oleh sihir ilusi, berkedut hebat di balik rambut. Saraf-saraf ku menegang. Insting ku sebagai ras siluman tidak mengenal konsep 'lembur kantor' atau 'rapat mendadak'. Yang insting ku tahu hanyalah satu: Pasangan ku tidak ada di sarangnya. Dan itu membuat darah ku mendidih.
Aku berjalan menuju dapur, langkah ku tidak menimbulkan suara sedikit pun meski lantai kayu ini biasanya berderit. Aku mengangkat tutup panci sup soto yang aromanya sudah memenuhi ruangan. Kepulan uap panas menerpa wajah ku.
"Sup ini sudah sempurna tiga puluh menit yang lalu, Dimas," gumam ku sendirian. Suara ku terdengar serak, hampir menyerupai geraman rendah. "Jika kau membiarkannya dingin, kau tahu apa artinya itu? Kau menghina kerja keras istri yang sudah menunggu mu dengan lapar."
Aku meletakkan kembali tutup panci dengan denting logam yang tajam. Rasa lapar ini bukan hanya tentang perut. Sebagai siluman rubah, keberadaan Dimas adalah jangkar energi ku. Saat dia tidak ada, sisi liar ku mulai mengambil alih. Aku merasa gatal. Aku ingin mencakar sesuatu. Aku ingin menandai setiap sudut apartemen ini dengan aroma tubuh ku agar tidak ada makhluk lain, terutama wanita-wanita manusia di kantornya yang genit itu, berani mendekatinya.
“Tenang, Linda. Dia hanya manusia. Makhluk rapuh yang terikat pada tumpukan kertas dan angka-angka membosankan,” aku mencoba menenangkan diri ku sendiri. Aku duduk di kursi meja makan, melipat tangan di bawah dada ku yang terasa sesak karena emosi.
Aku teringat kejadian tadi pagi. Saat aku mengancingkan kerah kemejanya, aku mencium aroma parfum yang asing. Tipis sekali, nyaris tak terdeteksi oleh hidung manusia, tapi bagi indra penciuman ku, itu seperti bau bangkai di tengah taman bunga.
"Dimas," kata ku tadi pagi sambil menarik dasinya sedikit lebih kencang dari biasanya.
"Ya, Sayang? Aduh, agak sesak," dia meringis, tapi tersenyum bodoh seperti biasanya.
"Siapa wanita yang duduk di sebelah mu saat rapat kemarin?" tanya ku, mata ku menyipit, pupil hijau ku mulai menajam menjadi celah vertikal.
"Ah, maksud mu Shinta? Dia manajer pemasaran baru. Kenapa?"
"Pemasaran, ya?" aku mengendus lehernya, menghirup aroma maskulinnya yang tercampur sedikit bau deterjen. "Katakan padanya, jika dia berani menyentuh lengan mu lagi meski hanya secara tidak sengaja, aku akan memastikan seluruh dokumen pemasarannya hilang ditelan kabut misterius."
Dimas hanya tertawa, menganggap itu adalah lelucon posesif seorang istri yang cemburu. "Kau ini ada-ada saja. Mana mungkin dia berani. Aku kan sudah tua begini."
Dia tidak mengerti, pikir ku sekarang sambil mengetuk-ngetukkan kuku tajam ku di atas meja kayu. Dia tidak tahu bahwa aku bisa merasakan aura setiap orang yang mendekatinya. Manusia-manusia itu... mereka begitu serakah. Mereka melihat pria sukses, hangat, dan stabil seperti Dimas, dan mereka ingin mencicipinya.
Aku berdiri lagi, rasa gelisah ku mencapai puncaknya. Aku berjalan ke arah sofa, mengambil bantal favorit Dimas, dan memeluknya erat. Aku membenamkan wajah ku di sana, menghirup sisa-sisa aromanya. Sedikit menenangkan, tapi tidak cukup.
"Tujuh empat puluh lima," aku mendesis melihat jam. "Dua puluh lima menit terlambat."
Aku merasa ekor ku, yang sekarang aku sembunyikan di balik yukata, mulai mengibas-ngibas gelisah. Jika aku adalah rubah liar di hutan, aku mungkin sudah melolong ke arah bulan. Apartemen ini adalah wilayah ku. Dimas adalah milik ku. Dan setiap detik dia berada di luar sana tanpa pengawasan ku, jiwa ku terasa terkoyak.
Bagaimana jika dia kecelakaan? Tidak, aku akan merasakannya melalui ikatan batin kami. Bagaimana jika dia mampir ke bar bersama teman-temannya? Jika benar begitu, aku akan meratakan bar itu dengan tanah. Bagaimana jika si Shinta itu mengajaknya makan malam?
Pikiran terakhir itu memicu kilatan listrik di ujung jari-jari ku. Piring di atas meja bergetar pelan.
"Jangan berani-berani, Dimas," Pikiran ku berubah menjadi ancaman nyata. "Jika kau membawa pulang aroma wanita lain malam ini, aku tidak akan hanya memberikan hukuman biasa. Aku akan mengikat mu di tempat tidur ini selama tiga hari, memaksa mu memakan masakan ku sampai kau lupa bagaimana cara berjalan ke pintu keluar."
Aku berjalan menuju cermin besar di koridor. Aku menatap bayangan ku. Mata ku sekarang sepenuhnya hijau menyala di kegelapan. Telinga rubah cokelat ku berdiri tegak, bulu-bulu halusnya bergetar menangkap suara dari kejauhan. Aku melepas celemek merah jambu ku, membiarkannya jatuh ke lantai. Di bawah yukata ini, aku tidak mengenakan apa-apa. Aku ingin dia merasakan kehangatan kulit ku segera setelah dia melangkah masuk. Aku ingin dia tahu bahwa tidak ada tempat di dunia ini yang lebih nyaman dan lebih berbahaya daripada pelukan istrinya.
Tiba-tiba, telinga ku menangkap suara yang sudah aku tunggu. Suara mesin mobil yang sangat aku kenal. Jantung ku berdegup kencang. Kemarahan ku tidak hilang, tapi kini bercampur dengan gairah yang sudah lama terpendam.
“Dia pulang. Mangsa ku... suami ku... pelindung ku... dia kembali ke sarang.”
Aku segera menarik kembali telinga dan ekor ku ke dalam dimensi ilusi. Aku mengubah pupil mata ku kembali menjadi bulat sempurna seperti manusia normal, meski kilatan hijau itu tidak bisa sepenuhnya aku sembunyikan. Aku duduk kembali di meja makan, memasang wajah sedingin es, meskipun di dalam hati aku ingin menerjangnya begitu pintu terbuka.
Aku mendengar suara kunci diputar. Sangat pelan. Dia mencoba menyelinap. Manusia bodoh yang manis. Dia pikir indra siluman ku bisa dikelabui oleh gerakan lambat seperti itu?
Pintu terbuka. Angin malam yang dingin masuk, membawa aroma kota yang kotor... dan aroma tubuhnya yang lelah.
"Aku pulang..." suaranya terdengar ragu.
Aku tetap diam. Aku membiarkan aura mengintimidasi ini menyelimuti ruangan. Aku ingin dia merasa bersalah. Aku ingin dia merasa kecil di hadapan penantian ku.
"Baru pulang, Dimas?" kata ku, suaranya sengaja aku buat serendah mungkin, memberikan getaran yang aku tahu akan membuatnya merinding.
Saat dia mendekat, aku bisa menciumnya. Tidak ada parfum Shinta. Hanya bau keringat, kopi murah kantor, dan rasa lelah yang amat sangat. Sedikit rasa iba muncul di hati ku, tapi segera aku tepis. Posesifitas adalah bentuk cinta ku yang paling murni. Dia harus belajar bahwa waktu miliknya bukan hanya miliknya sendiri, tapi milik ku.
"Maaf, Linda... benar-benar maaf..." dia mulai mengoceh tentang masalah gudang dan sistem logistik.
Aku berdiri. Tubuh ku terasa panas. Aku bisa merasakan insting rubah ku berteriak: Tandai dia! Klaim dia! Buat dia tidak bisa pergi lagi!
"Sidang dimulai," bisik ku sambil menarik kerah kemejanya.
Sambil menatap matanya yang kelelahan namun penuh kasih, aku menyadari sesuatu. Aku mungkin bisa menguasai hutan, aku mungkin memiliki kekuatan sihir yang bisa menghancurkan gedung ini dalam sekejap, tapi di depan pria manusia ini, aku hanyalah seorang istri yang haus akan kehadirannya. Kesulitan ku menahan insting liar ini bukan karena aku benci menjadi manusia, tapi karena aku terlalu mencintai cara manusia ini memperlakukan ku.
Namun, hukuman tetaplah hukuman.
“Malam ini, Dimas,” keluh ku bicara saat aku membawanya ke meja makan, “kau akan mengerti mengapa ras siluman rubah dikenal karena ketahanannya di malam hari. Aku akan memakan setiap rasa lelah mu, menggantinya dengan rasa sakit yang nikmat, sampai kau memohon ampun dan berjanji tidak akan pernah membiarkan ku menunggu sendirian lagi di balik celemek ini.”
Aku tersenyum tipis saat melihatnya mulai memakan sup soto yang sudah agak asin itu. Dia patuh. Dia milik ku sepenuhnya. Dan wilayah ini... apartemen nomor 404 ini... adalah satu-satunya dunia yang kami butuhkan.
"Makan yang banyak, Sayang," kata ku manis, sambil mengelus tengkuknya dengan kuku tajam ku. "Kau akan butuh banyak energi untuk 'sidang' lanjutan di kamar nanti."
Keheningan malam itu pecah oleh suara detak jantung kami yang berpacu, saat insting rubah ku akhirnya menemukan kedamaiannya kembali di dalam dekapan sang suami.