NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:91k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Cara Terkejam untuk Mencintai

Kaisyaf berdiri di depan wastafel. Kedua tangannya bertumpu di sana, kepalanya tertunduk. Napasnya berat.

Beberapa detik… ia hanya diam. Lalu ia tertawa pelan. Hambar.

“Aku sudah terlalu lama mengenalmu, Ayza…” gumamnya lirih.

Ia mengangkat wajahnya, menatap bayangannya sendiri di cermin. Mata itu terlihat lelah.

“Aku tahu bagaimana sifatmu.”

Rahangnya mengeras.

“Kalau aku bilang yang sebenarnya… kau gak akan pergi.”

Tangannya mengepal.

“Dan aku…” suaranya tertahan, hampir hilang, “aku gak ingin melihat kamu hancur… sedikit demi sedikit, setiap hari.”

Ia memejamkan mata. Sekilas, bayangan Ayza tadi muncul. Tatapan percaya itu… justru menusuk.

“Jadi lebih baik kau membenciku.”

Setetes air jatuh dari ujung dagunya. Entah air keran, entah bukan.

“Ayza…” suaranya nyaris tak terdengar, “jangan paksa aku jadi orang yang lebih kejam dari ini.”

 

Beberapa menit kemudian Kaisyaf keluar dari kamar mandi.

Air masih menetes dari rambutnya. Kemejanya sudah rapi. Terlalu rapi… untuk seseorang yang baru saja menghancurkan semuanya.

Ia mengambil jasnya.

Ayza langsung berdiri. “Abi mau ke mana?”

“Kerjaan mendadak," jawabnya singkat. Tanpa penjelasan.

“Sekarang?” suara Ayza tertahan. “Setelah semua ini?”

Kaisyaf tidak menjawab. Ia melangkah.

Ayza ikut bergerak. Lebih cepat. Tangannya meraih lengan pria itu.

“Abi.”

Langkah Kaisyaf terhenti, namun ia tidak menoleh.

“Abi lagi menghindar, 'kan?” suara Ayza lebih pelan sekarang. Tapi justru lebih menekan. “Atau… memang sudah tidak mau bicara sama aku?”

Tidak ada jawaban. Hanya bahu yang sedikit menegang.

Jari-jari Ayza mengencang. Seolah kalau ia melepas… pria itu benar-benar akan pergi.

“Lihat aku, Bi.”

Permintaan itu hampir seperti bisikan..Namun Kaisyaf tetap tidak berbalik. Perlahan… tangannya melepaskan genggaman Ayza.

Satu per satu.

Tanpa kasar. Tapi juga tanpa ragu. Seolah sentuhan itu… tidak lagi berarti apa-apa. Dan itu jauh lebih menyakitkan.

Ayza menahan napas.

“Jadi ini cara Abi?” suaranya pecah tipis. “Pergi… tanpa menyelesaikan masalah?”

Kaisyaf akhirnya melangkah lagi. Melewatinya.

Pintu terbuka.

“Abi—”

Kalimat itu terpotong.

Pintu tertutup.

Ayza berdiri di sana. Tangannya masih terangkat sedikit… di udara.

Kosong.

Perlahan, ia menurunkan tangannya. Ini bukan sekadar menjauh. Ini seperti… mendorongnya pergi.

Dadanya terasa sesak.

Suaminya tidak seperti ini tanpa alasan. Jika dia memilih menjauh sejauh ini… berarti ada sesuatu yang sengaja ia sembunyikan.

***

Mobil melaju di jalanan yang mulai lengang. Cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang baru saja berdebat hebat.

Tangan Kaisyaf di setir mengencang. Napasnya berubah. Pendek. Tidak teratur. Pandangan di depannya mulai kabur. Ia menginjak rem mendadak.

Mobil berhenti di pinggir jalan.

Tubuhnya langsung bersandar ke kursi. Kepalanya jatuh ke belakang. Satu tangan menekan dada. Kuat.

Sakit itu datang lagi. Lebih tajam dari sebelumnya. Lebih dalam.

Ia memejamkan mata. Rahangnya mengeras menahan. Tangannya meraih ponsel dengan susah payah. Menekan panggilan cepat.

“Cepat ke sini.”

Ia mengirim lokasi. Lalu ponsel itu jatuh ke samping. Napasnya berat.

 

Beberapa menit kemudian, sebuah taksi berhenti. Ridho turun cepat. Langsung membuka pintu kemudi.

“Pak—”

Kata-katanya terpotong saat melihat kondisi Kaisyaf.

“Bantu aku pindah,” suara Kaisyaf rendah, hampir tidak terdengar.

Ridho tidak bertanya. Ia langsung menahan tubuh pria itu, memindahkannya ke kursi penumpang. Tangannya cekatan. Tapi wajahnya tegang.

Mobil kembali melaju. Kali ini, lebih cepat.

 

Rumah sakit.

Seorang dokter wanita sudah menunggu di depan.

Nara.

“Kenapa jadi seperti ini?” tanyanya cepat.

“Saya juga tidak tahu, Dok,” jawab Ridho.

Kaisyaf langsung dibawa masuk.

 

Beberapa jam kemudian.

Di ruang rawat, infus terpasang di tahan Kaisyaf. Wajahnya lebih pucat dari biasanya.

Ridho berdiri di dekat jendela. Nara di sisi tempat tidur.

Mata Kaisyaf terbuka perlahan. Ia tidak langsung melihat siapa pun.

“Batalkan gugatan cerai.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Nara menatapnya.

Ridho menoleh cepat.

“Pak—”

“Dia akan pergi kalau aku lanjutkan.” Suara Kaisyaf lemah, tapi tegas. “Dia akan bawa Al.”

Tatapannya lurus ke atas. Tidak berkedip.

“Al satu-satunya cucu orang tuaku.” Jemarinya sedikit bergerak di atas selimut. “Aku tidak akan biarkan mereka kehilangan dia.”

Ridho diam. Ia tahu… itu bukan sekadar kekhawatiran.

“Itu ancaman yang bisa dia lakukan,” lanjut Kaisyaf pelan. “Dan dia bukan orang yang asal bicara.”

Ruangan terasa berat.

“Baik, Pak,” jawab Ridho akhirnya.

Nara menghembuskan napas panjang.

“Kenapa tidak jujur saja pada Ayza?” Tatapannya tajam. “Tidakkah kau berpikir, akan lebih baik kalau dia tahu yang sebenarnya?”

Kaisyaf tersenyum tipis. Pahit. “Kau tidak kenal dia.”

Nara mengernyit.

Kaisyaf menoleh sedikit.

“Dia tidak akan pergi.” Suara itu rendah. Tapi pasti. “Dia akan tetap di sampingku.”

Nara tidak menyela.

“Dia akan mengurusku,” lanjutnya. “Melupakan dirinya sendiri.” Matanya meredup. “Dia akan melihat aku setiap hari… dalam keadaan seperti ini.”

Tangannya sedikit mengepal.

“Dan saat waktuku habis… dia yang akan hancur.”

Nara terdiam.

“Sekarang saja dia sudah hancur,” ucap Nara pelan. “Kau melihat itu, 'kan?”

Kaisyaf menutup matanya sebentar.

“Aku tahu.” Suaranya nyaris berbisik. “Tapi itu lebih mudah… daripada membuatnya menunggu sesuatu yang tidak akan pernah kembali.”

Nara tidak langsung menjawab.

Kaisyaf membuka matanya lagi. Menatap langit-langit.

“Aku pernah melihat dia bertahan pada orang yang tidak mencintainya.”

Suara itu lebih berat sekarang.

“Dia tetap merawat. Tetap tinggal. Tetap bertahan… sampai dia yang terluka sendiri.”

Napasnya tertahan sejenak.

“Sekarang dia mencintaiku.” Tatapannya kosong. “Kalau aku biarkan… dia akan melakukan hal yang sama.”

Ia menggeleng pelan. “Aku tidak mau itu terjadi lagi.”

Nara menggigit bibirnya. “Jadi kau pilih membuatnya membencimu?”

Kaisyaf tersenyum lagi. Lebih tipis.

“Iya.”

Jawaban itu sederhana. Namun jatuh dengan berat yang tidak bisa diabaikan.

“Lebih baik dia membenciku sekarang…” Matanya perlahan terpejam. “…daripada kehilangan aku nanti.”

Tak ada lagi yang bicara. Ridho dan Nara memberi waktu pada Kaisyaf untuk beristirahat.

Beberapa menit kemudian

Nara dan Ridho keluar dari ruang rawat. Pintu tertutup di belakang mereka.

Ridho langsung menoleh. “Dok… sebenarnya kondisi Pak Kaisyaf seperti apa?”

Nara tidak langsung menjawab. Ia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti.

“Harusnya kamu sudah curiga sejak lama,” ucapnya pelan.

Ridho terdiam.

Nara menarik napas.

“Kondisinya bukan sesuatu yang bisa sembuh dengan istirahat atau obat biasa.” Ia menoleh. “Ini serius. Dan… waktunya tidak banyak.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Ridho menunduk. Rahangnya mengeras.

“Drop seperti tadi… itu bukan hal baru, ‘kan?” lanjut Nara.

Nara menatapnya.

“Dan kamu tahu… ini akan semakin sering terjadi.”

 

...🔸🔸🔸...

..."Kadang, cinta tidak pergi karena habis… tapi karena takut menyisakan luka yang lebih dalam."...

..."Ada yang memilih tinggal dan hancur… ada juga yang memilih pergi agar orang lain tetap utuh."...

..."Tidak semua perpisahan terjadi karena kehilangan cinta, kadang justru karena cinta yang terlalu besar."...

..."Ia tidak pergi karena tidak mencintai…...

...tapi karena terlalu mencintai untuk membiarkan seseorang hancur bersamanya."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Yunita Sophi
akhir nya semua orang menyerah krn Al menginginkan Fahri...
Yunita Sophi
Al kangen sama om Fahri yah...
Anonim
Fatima sedih dan prihatin pastinya melihat cucunya tak seceria biasanya.

Fatima bertanya - Om Fahri ngga ke sini ? Ayza yang menjawab.

Alvian tahu Umi bohong dengan jawabannya.

Alvian sampai tak ada selera untuk makan. Padahal lapar.

Alvian...big hug 🥲
Anonim
Ayza - itu anakmu tidur pun memanggil "Om." Sampai terbawa di tidurnya saking rindunya sama Om Fahri.

Tega sekali Ayza.

Ayza. Coba resapi apa kata kedua mertuamu.

Fatima di sini baru tahu yang terluka yang paling kecil.

Fahri juga terluka.

Husain mesti ketemu dengan Fahri ini. Bicara dari hati ke hati. Apa Fahri setuju dengan jalan yang di pilih Ayza.
Anonim
Fahri kangen sama Alvian. Dengan duduk di atas motor yang berhenti, dia berada di seberang jalan di depan sekolah Alvian.

Mesin tidak dimatikan.

Fahri matanya terus menatap gerbang sekolah.

Fahri hanya bisa melihat Alfian dari jarah jauh. Alfian yang terlihat tidak ceria.

Alfian tidak capai Umi. Tapi kangen sama Om Fahri. Andai Alvian boleh jujur.

Benar-benar jarak yang dipilih Ayza - membuat dua pria saling merindu.

Husain dan Fatima berkunjung ke rumah Ayza.

Tak ada sambutan dari Alvian.
Anonim
Pada menjalankan perjodohan yang dipilihkan orang tua masing-masing.

Bertemu calon yang dijodohkan.

Di awal pertemuan - reza maupun Fahri cuma sekedar menjalankan. Bertemu, tak ada niat untuk melangkah serius.

Kasihan sekali Naila. Reza sudah merasa cukup mengenal Naila dari data yang dikirim ke orang tua Reza.

Reza tidak menolak perjodohan - tapi sikap dan kalimat yang terucap sudah jelas tak bisa diharapkan.

Naila - mundur saja.
abimasta
pertahankan sikapmu ayza,lama2 juga al terbiasa
Puji Hastuti
kasian Al
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
GK ada masalah klo Fahri tetap dekat dg Alvian..tapi bukan berarti kawin semangat ayza dong..kan Fahri diamanatin suruh ngurusin perusahaan sampe Alvian cukup umur 🤭
menjaga bukan berarti MEMPERISTRI 👻🤣
abimasta: setuju,lebih baik fahri menikah dengan wanita lain
total 1 replies
Sugiharti Rusli
padahal Kaisyaf melakukan itu karena dia tahu kalo Alvian butuh seseorang yang bisa membuatnya nyaman,,,
Sugiharti Rusli
dan orang yang sangat dipercayai olehnya adalah Fahri, tapi Ayza kekeh menolaknya
Sugiharti Rusli
mendiang Kaisyaf bukan hanya sekedar menitipkan, tapi dia juga mengiklaskan sang istri dan putranya mendapatkan perlindungan utuh,,,
Sugiharti Rusli
padahal kedua mertuanya sudah memahami apa yang dulu disampaikan mendiang putranya tuh sangat mendalam yah,,,
Sugiharti Rusli
karena Ayza hanya berpikir tentang perasaannya sendiri yang tidak mau memberi kesempatan orang lain masuk
Sugiharti Rusli
sepertinya apa yang diutarakan oleh ibu mertua Ayza tentang ada hal kecil yang dipaksa menjauh dan menimbulkan luka itu sangat benar,,,
Wardi's
fahri tetaplah jd om nya elfayen tanpa metubah posisi.., silahkan pilih jodoh yang lain.,
Oma Gavin
ternyata ayza egois demi ego nya alvian yg jadi korbannya jgn sampai kamu nyesel ayza teruskan ego mu tinggal tunggu waktu alvian akan jadi anak introvert
Marsiyah Minardi
Ayolah Ayza ,kesampingkan dulu egomu dan sederet alasan lainnya
Kasihanilah Alvian yang kehilangan figur ayah
Dek Sri
ayolah ayza biarkan Fahri jemput Alvian, daripada Alvian kenapa-napa
Anitha Ramto
😭😭😭😭😭nyeseeeekkkk
aku setuju Ayza nikah dengan Fahri demi Al..yang sudah kehilangan seorang Ayah...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!