NovelToon NovelToon
Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Weny Hida

Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.

Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.

Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melakukan Apapun yang Diminta

Amira tertegun. Matanya menatap Celine seperti tidak percaya, seolah baru saja mendengar sesuatu yang terlalu besar untuk diterima oleh nalarnya.

“A-aku nggak bisa. Kita baru kenal, aku nggak bisa nerima kebaikan kamu. Bu Celine, biaya operasinya besar. Saya nggak punya uang buat ganti ....”

Celine menatapnya tajam, bukan marah, tapi tegas karena waktu tidak memberi mereka ruang untuk berdebat.

“Aku juga nggak minta ganti. Kita udah nggak punya waktu, Amira,” potong Celine pelan.

Amira menelan ludah, air matanya jatuh lagi. Celine mendekat sedikit, suaranya turun, tapi setiap katanya terasa seperti menekan dada.

“Apa kamu nggak mau ibu kamu selamat?”

Kalimat itu menghantam dada Amira. Dia seketika membeku. Di kepalanya, muncul wajah ibunya. Senyum kecil yang selalu dipaksakan, tangan yang selalu sibuk, dan suara yang selalu bilang, ‘Ibu nggak apa-apa.'

Padahal ternyata ibunya tidak pernah benar-benar baik-baik saja. Amira mengusap wajahnya kasar, mencoba menghapus air mata, tapi tangannya malah makin gemetar.

"Amira, cepat kita nggak punya banyak waktu."

Amira pun mengangguk.

“Aku juga mau ibu aku selamat .…”

Dokter menggeser sebuah map ke arah Amira.

“Kalau begitu, Mbak Amira, ini surat persetujuan tindakan dan persetujuan administrasi awal. Saya akan jelaskan poin-poinnya sekali lagi.”

Dokter menjelaskan cepat, tentang risiko, kemungkinan kegagalan, perawatan setelah operasi, obat jangka panjang. Amira mendengarkan, tapi otaknya seperti berputar. Tangannya memegang pulpen.

Pulpen itu terasa berat seperti batu. Celine duduk di sampingnya, memperhatikan saat Amira menatap kertas itu.

Amira menutup mata sejenak, lalu menarik napas panjang. Setelah itu, dia menandatangani kertas tersebut. Meskipun, tanda tangan itu terlihat tidak rapi. Karena tangannya bergetar.

Selesai Amira menandatangani, Dokter langsung berdiri. “Baik. Kita mulai prosedur pemeriksaan kecocokan dan persiapan operasi.”

Perawat masuk, membawa berkas-berkas tambahan. Semua bergerak cepat.

Amira dibawa untuk prosedur selanjutnya, termasuk verifikasi data. Celine mengikuti dari belakang, mengurus apa yang bisa diurus, fotokopi kartu, tanda tangan saksi, dan tentunya menyelesaikan administrasi.

Di sela-sela langkah mereka yang terburu-buru, ponsel Celine kembali bergetar, Dirga. Celine menatap layar itu sekilas, lalu memasukkannya lagi ke tas.

Saat keduanya berada di depan ruang tindakan, Amira berhenti, kakinya gemetar. Dia menatap Celine seperti anak kecil yang ketakutan.

“Bu Celine!” panggilnya lirih.

Celine menoleh.Amira menggigit bibir, suaranya serak.

“Kenapa? Kamu takut?"

Celine menahan bahu Amira, menatap matanya.

“Kamu udah berani,” kata Celine.

“Kamu udah ngelakuin yang benar.”

Amira mengangguk pelan.

"Jangan takut, kamu harus berdoa, dan tetap optimistis."

Amira menghela napas panjang, berulang kali. Seolah kalau dia berhenti menarik napas, semua ini akan runtuh.

Dia menengadahkan tangan, berdoa pelan dengan bibir gemetar. Celine menatap Amira beberapa saat. Lalu ponselnya kembali bergetar.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Celine menggertakkan gigi. Tangannya mengepal di dalam tas. Dia tidak ingin marah di sini, di depan Amira, di depan rumah sakit, di depan ruang yang berisi hidup dan mati. Namun, baginya, Dirga seperti tidak pernah mengerti batas. Celine menarik napas, lalu berdiri.

“Amira!” panggilnya lembut.

Amira menoleh dengan mata merah.

Celine memaksa tersenyum tipis.

“Aku pamit dulu ya.”

Amira tampak panik.

“Hah? Bu Celine mau ke mana? Aku belum sempat ....”

“Ada urusan yang nggak bisa aku tunda.”

Celine memotong pelan, suaranya tetap lembut tapi tegas. “Kamu bisa kabari aku gimana perkembangannya.”

Amira menggigit bibir, ragu.

“Kamu fokus ke ibu kamu. Sekarang itu yang paling penting.”

Amira mengangguk, tapi matanya masih memohon. Celine mengeluarkan ponselnya, membuka kontak baru, lalu mengulurkannya.

“Aku minta nomor ponsel kamu.”

Amira terdiam sebentar, lalu buru-buru menyebutkan nomor. Celine mengetik cepat, menyimpannya.

Celine menatap layar sebentar, lalu mengunci ponsel. Di dalam tas, ponselnya kembali bergetar, Dirga.

Celine menghembuskan napas pelan, menahan emosi. Dia menatap Amira sekali lagi.

“Kalau ada apa-apa, kamu langsung kabarin aku. Kamu di sini aja, jangan ke mana-mana, jaga ibumu."

Amira mengangguk cepat. “Iya Bu Celine. Makasih, makasih banget.”

Celine tidak menjawab. Dia hanya mengangguk kecil. Lalu, berbalik dan berjalan cepat menuju ujung lorong.

***

Setelah Celine pergi, lorong itu terasa jauh lebih sunyi.Amira berdiri beberapa detik, menatap punggung Celine yang menghilang di tikungan, seolah masih tidak percaya kalau semua ini nyata.

Baru tadi dia merasa begitu penat, bahkan kepalanya rasanya hampir pecah. Lalu, sekarang dia baru saja menandatangani persetujuan operasi transplantasi jantung. Dengan bantuan seorang wanita yang bahkan namanya baru dia hafal beberapa jam lalu.

Amira menutup mulutnya, menahan isak. Perlahan, dia melangkah ke sudut lorong yang lebih sepi, menatap lantai bersih rumah sakit yang dingin. Tanpa peduli orang-orang yang berlalu-lalang, Amira menjatuhkan diri. Dia bersujud.

Keningnya menempel di lantai. Tangannya gemetar. Air matanya menetes.

“Ya Allah, terima kasih … terima kasih.”

Amira yang tidak punya uang, tidak punya koneksi, tidak punya siapa-siapa selain ibunya. Namun, Tuhan menolongnya dengan mengirim seseorang yang membantunya keluar dari permasalahan yang membelenggu.

Amira mengangkat kepala, menatap kosong beberapa detik, lalu berbisik pelan, seperti janji pada dirinya sendiri.

“Aku akan melakukan apa pun yang diminta Celine, sebagai ucapan terima kasih.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa dipikir panjang. Karena saat itu, Amira merasa hidupnya sudah diselamatkan.

1
falea sezi
siap siap. gigit jari lu celine. saumi. di. kasih ke madu siap2 gigit jari. lu
Airene Roseanne
yp
falea sezi
honeymoon ma amira aja Dirga biar cpet dapetin bayi tp awas lu nyakitin amira
falea sezi
awas aja klo. suami. mu oleng km. ngamuk dih
falea sezi
bini kayak celine di cerai aja aneh bgt malah fokus krja g fokus suami jangan jangan dia mandul
falea sezi
celine egois lu g mau layanin suami malah nyalahin Amira istri. tolol ya elu ini nanti suami lebih cinta istri muda kapok deh lu gigit jari
falea sezi
kasian amat amira
Susi Ermayana
kamu waras celine..?
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..
Aniza
lanjut thooor,klo lebih mntingin karir tuk apa kmu nikah celin?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!