"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MULUTMU HARIMAUMU
Dua minggu berlalu sejak malam penuh tanya di toko kain Nenek Daisy. Seiring berjalannya waktu, rasa penasaran Riezky perlahan terkubur oleh tumpukan rutinitas. Sebagai Pelindung Aethelgard yang kini sangat diandalkan, hari-harinya diisi dengan kegiatan yang—menurutnya—mulai membosankan.
Ia kembali bermain pasir dengan anak-anak, menggendong keranjang ikan milik nelayan tua yang kelelahan, bahkan pagi tadi ia harus mengejar seekor monyet liar hanya untuk mengembalikan kalung perak milik seorang saudagar.
Matahari mulai terbenam, menyisakan semburat jingga di langit. Riezky berdiri santai, menyandarkan punggungnya pada tiang jam besar yang menjadi ikon pusat kota Aethelgard.
"Gini terus perasaan... nggak ada yang nantang dikit apa?" ucapnya sambil menguap lebar, merindukan adrenalin saat di arena dulu.
SYUT—TAK!
Belum sempat ia menutup mulut, sebuah anak panah dengan api yang berkobar menancap telak hanya beberapa sentimeter di samping kepalanya. Rambut biru Riezky bahkan sempat terkena hawa panasnya.
"Hah?!" Riezky terperanjat, jantungnya berdegup kencang.
Pandangannya langsung terarah ke ujung jalan. Di sana, di bawah cahaya temaram, muncul segerombolan mahluk yang mengerikan. Puluhan tengkorak berjalan dengan tulang-belulang yang berderit, masing-masing memegang busur kayu kuno. Mereka menarik tali busur secara serentak, melepaskan hujan panah api ke arah pemukiman.
"Mulut! Mulut!!" seru Riezky sambil menepuk-nepuk mulutnya sendiri karena menyesali ucapannya barusan.
Malam yang tenang itu seketika berubah menjadi kacau. Bagian timur Aethelgard mulai dipenuhi kobaran api akibat hujan panah tersebut. Suara lonceng peringatan berdentang nyaring, membangunkan seluruh warga.
Namun, Riezky tidak sendirian.
"Penjaga! Ke posisi!" teriak seorang pemuda dari barisan milisi kota.
Melihat ancaman nyata di depan mata, semangat para pemuda Aethelgard bangkit. Mereka yang terinspirasi oleh sosok Riezky, ikut terjun membawa tombak dan perisai kayu. Mereka bahu-membahu menyingkirkan mahluk-mahluk tulang itu demi keamanan keluarga mereka.
Riezky segera menegakkan tubuh, tangannya mulai memercikkan aliran listrik biru yang tajam. "Yaudah, kalau itu maunya. Mari kita olahraga malam!"
Setelah menumbangkan beberapa mahluk tengkorak dengan tebasan Fist Blade-nya, Riezky berhenti sejenak. Ia terheran-heran darimana sumber mahluk-mahluk ini berasal, karena jujur saja, pemandangan tulang-belulang yang berjalan sendiri ini sangat menyeramkan baginya, lebih aneh daripada mahluk bayangan itu.
Pandangannya kemudian tertuju ke arah kegelapan hutan di pinggiran kota. Di sana, sebuah cahaya hijau pudar berkedip-kedip muncul lalu menghilang lagi secara teratur.
"Kayaknya itu deh," ucap Riezky. Tanpa membuang waktu, ia berlari kencang menuju sumber cahaya tersebut.
Semakin dekat ke sumber cahaya, pemandangan semakin gila. Ternyata tidak sedikit mahluk tengkorak itu yang baru saja keluar dari tanah dan berjalan beriringan menuju cahaya Aethelgard di malam itu. Sesampainya di pusat cahaya hijau tersebut, Riezky menemukan sebuah tongkat kayu tua dengan tengkorak kecil di atasnya yang tertancap di tanah. Tongkat itu seolah-olah memiliki nyawa, terus mengeluarkan suara gumaman mantra yang membuat bulu kuduk berdiri.
Tanpa pikir panjang, Riezky membentuk bola petir api di telapak tangannya dan melemparkannya tepat ke arah tongkat itu.
BOOM!
Ledakan energi panas itu menghancurkan sihir hijau tersebut seketika. Mantranya berhenti, dan di saat yang sama, seluruh pasukan tengkorak yang sedang menyerang kota langsung lepas dari sendi-sendinya, rontok, dan hancur menjadi abu yang tertiup angin malam.
"Siapa yang jahil jam segini sih," ucap Riezky terheran-heran sambil mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan.
Tak lama kemudian, dari balik semak-semak, muncul seorang anak kecil berusia sekitar 12 tahun dengan wajah yang pucat pasi.
"Hey, kau tidak apa-apa?! Kamu deket banget sama sumbernya!" ucap Riezky sigap menghampiri dan memegang bahu bocah itu, khawatir ia terluka oleh ledakan tadi.
"Maaf... itu ulahku," ujar bocah itu dengan suara bergetar ketakutan. "Aku penasaran dengan artefak dari penyimpanan desa itu, jadi aku menyelinap masuk dan membawanya ke sini."
Riezky membelalakkan matanya, tidak percaya bahwa kekacauan satu kota disebabkan oleh rasa penasaran seorang anak. "Haduh... jangan gitu dong lain kali ya. Rasa penasaran kamu itu hampir ngebakar Aethelgard tau!" ucap Riezky sedikit menaikkan nadanya, mencoba memberi pelajaran.
Melihat bocah itu mulai berkaca-kaca, Riezky pun menghela napas panjang dan melembutkan suaranya.
"Tapi ya sudah, kamu sudah mengakuinya. Tapi nih... tapi tapi tapi, tanggung jawab ya. Sebelum tidur beresin dulu ulah kamu. Bagian timur lagi kewalahan gara-gara panah api tadi, ayo bantu warga di sana," ucap Riezky. Ia kemudian tersenyum kecil dan mengedipkan mata. "Tenang, aku nggak bakal bilang ke orang-orang kalau kamu pelakunya."
Riezky pun menuntun bocah itu kembali ke Aethelgard, berjalan menembus malam menuju bagian kota yang masih berasap, memberikan pelajaran tentang tanggung jawab kepada calon penerus kota itu.
Keesokan harinya, cahaya matahari pagi masuk menembus jendela ruang tamu rumah, menyinari meja makan yang sudah dipenuhi aroma nasi hangat dan ikan goreng. Sabrina duduk dengan santai di sana, tampak sudah sangat akrab dengan suasana rumah itu.
"Katanya semalam bagian timur kebakaran ya?" ucap Sabrina sambil menyuapkan sarapan ke mulutnya. Matanya melirik ke arah Riezky yang baru saja muncul dari kamar.
Riezky menguap lebar, menarik kursi kayu di depan Sabrina. "Ada bocah iseng, biasa," ucapnya santai sambil duduk dan mulai mengambil piring.
Sabrina menelan makanannya, lalu menopang dagu dengan satu tangan. "Tapi desas-desusnya bukan cuma api biasa. Katanya sih ada tengkorak-tengkorak jalan," ucap Sabrina lagi dengan nada menggoda, seolah tahu ada sesuatu yang lebih dari sekadar 'iseng'.
"Hah, yang bener?!" Ibu Lyra yang baru saja datang dari dapur membawa teko air langsung panik. Wajahnya memucat mendengar kata mahluk mistis disebut-sebut di pagi yang tenang ini.
Riezky langsung melirik tajam ke arah Sabrina—memberi kode agar tidak membuat ibunya makin khawatir. Ia segera memasang senyum paling meyakinkan sambil melambaikan tangan ke arah ibunya.
"Ishhh, kamu ini..." gerutu Riezky pada Sabrina, lalu beralih ke Lyra. "Tapi aman kok Bu, aku masih bangun pas itu. Aman bin aman. Cuma api kecil yang bikin bayangan aneh saja di tembok, orang-orang saja yang suka melebih-lebihkan."
Lyra menghela napas panjang, sedikit merasa tenang karena Riezky terlihat sangat santai. "Ya sudah kalau begitu." ucap lyra dengan sedikit lega
"Aku pergi dulu yaa!" ucap Riezky sambil masih mengunyah sisa makanannya. Ia meraih gagang pintu dan membukanya dengan semangat.
Cklek—
Riezky hampir saja menabrak sosok tinggi tegap yang berdiri tepat di depan pintunya.
"Woesshhh, hehhh, heuuuuhhh!" teriak Riezky kaget setengah mati sampai kakinya hampir terpeleset lantai kayu.
"Hah, apaan sih bocah," ucap Valerius datar. Tanpa merasa berdosa, ia mendorong wajah Riezky ke samping dengan telapak tangannya dan nyelonong masuk begitu saja ke dalam rumah.
Valerius berhenti di tengah ruangan, matanya menyisir setiap sudut. "Pangling banget deh. Habis ada apa nih? Karena turnamen itu kah? Aku lihat nama Riezky soalnya," ucap Valerius sambil mengangguk-angguk melihat interior rumah yang kini sudah berubah total, jauh lebih rapi dan kokoh dibanding gubuk yang ia ingat dulu.
"Ah, Valerius!" seru Lyra dengan senyum ramah. "Iya, Riezky membawa keberkahan. Sekarang kamu tidak perlu tidur di kursi yang keras lagi kalau mampir. Habis perjalanan jauh ya? Mau kubuatkan apa?"
"Ah tidak usah, Lyra. Aku datang sebentar cuma buat anak ini kok," ucap Valerius sambil menoleh ke arah Riezky yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan pipi menggembung karena makanan.
"Aku?" ucap Riezky sambil menunjuk dirinya sendiri dengan bingung.
Valerius tidak menjawab, ia hanya memberikan isyarat kepala agar Riezky mengikutinya. Mereka berdua pun berjalan keluar, meninggalkan kehangatan ruang tamu menuju pinggiran tebing yang menghadap ke laut luas. Angin laut bertiup kencang, memainkan rambut biru Riezky.
"Hal aneh lebih banyak terjadi ya?" tanya Valerius tiba-tiba. Suaranya terdengar berat, seolah ia tahu jelas setiap detail kekacauan yang terjadi selama ia pergi.
"Hmm, iya. Kok Paman tahu?" tanya Riezky sambil menendang-nendang batu kecil di bawah kakinya, mencoba bersikap santai meski hatinya mulai waswas.
Valerius berhenti melangkah, ia menatap cakrawala dengan pandangan yang sulit diartikan. "Sepertinya ada sesuatu dalam dirimu yang membuat mereka sangat tertarik."