Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Semburat cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar Ziva, menyinari debu-debu halus yang menari di udara. Di atas ranjang empuk itu, Ziva menggeliat pelan. Kesadarannya masih di ambang batas antara mimpi dan kenyataan. Ia merasakan kehangatan yang tidak biasa di sampingnya, sebuah sandaran yang terasa kokoh dan stabil.
Namun, rasa kantuk yang masih menyelimuti otaknya membuat refleks tubuh Ziva bekerja di luar kendali. Saat ia mencoba meregangkan kakinya yang terasa pegal setelah acara 40 harian kemarin, kakinya menghantam sesuatu yang keras dan padat tepat di sampingnya.
Bugh!
"Aduhh!"
Suara rintihan berat itu memecah keheningan pagi. Ziva tersentak, matanya langsung membelalak lebar. Jantungnya berpacu seperti genderang perang saat ia menoleh ke samping. Di sana, Baskara sedang meringkuk sambil memegangi tulang keringnya, wajah kaku sang polisi itu tampak meringis menahan sakit yang luar biasa akibat tendangan maut Ziva.
"Lo... Lo ngapain di sini sih, Kak?!" teriak Ziva histeris. Ia langsung menarik selimutnya hingga ke dada, menatap Baskara dengan pandangan menuduh yang sangat tajam. "Lo nyari kesempatan dalam kesempitan ya?! Lo mau ngapain gue semalem?!"
Baskara mencoba mengatur napasnya, ia duduk tegak dengan sisa-sisa rasa nyeri di kakinya. Wajahnya kembali ke mode kaku, namun ada sedikit gurat kebingungan di sana. "Ziva, tenang dulu—"
"Tenang apanya! Lo masuk ke kamar gue, tidur di sebelah gue! Pergi nggak?!" potong Ziva. Ia langsung berdiri di atas kasur, tangannya menyambar guling besar dan sudah diangkat tinggi-tinggi, siap dilemparkan ke arah kepala Baskara. "Dasar polisi mesum! Keluar sekarang juga sebelum gue teriak maling!"
Baskara menghela napas panjang, ia berdiri dengan perlahan agar tidak memicu emosi Ziva lebih jauh. Tubuhnya yang tegap membuat Ziva yang berdiri di atas kasur pun tetap merasa terintimidasi. "Kamu yang narik aku ke sini, Ziva."
Ziva tertawa sinis, meski tangannya masih gemetar memegang guling. "Apa?! Gue narik lo? Lo pikir gue halu apa? Mana ada gue narik-narik lo ke kasur gue! Lo pasti sengaja kan pas gue tidur nyenyak?!"
"Semalam kamu tidur di mobil sangat pulas. Aku gendong kamu ke kamar karena posisi tidur kamu di mobil sangat tidak nyaman," jelas Baskara dengan nada datar namun tegas, seolah sedang membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) di kantor polisi. "Pas aku mau selimutin kamu, kamu tiba-tiba ngigo, narik lengan baju aku kuat banget sampai aku jatuh di samping kamu. Kamu nggak mau lepasin pegangan kamu sampai subuh tadi."
Ziva terdiam sejenak. Ingatannya yang samar-samar tentang mimpi buruk semalam—mimpi di mana ia merasa tenggelam dan butuh pegangan—mulai muncul di permukaan. Tapi egonya menolak mentah-mentah kebenaran itu.
"Bohong! Lo pasti ngarang cerita biar gue nggak marah! Mana mungkin gue narik orang yang paling gue benci buat tidur bareng!" seru Ziva, meskipun suaranya sedikit mengecil.
Baskara menunjuk ke arah lengan baju kokonya yang kini terlihat sangat kusut, bekas cengkeraman tangan seseorang yang sangat kuat. "Lihat ini. Kalau aku niat macam-macam, aku nggak akan tidur dengan posisi kaku kayak patung di sebelah kamu sampai punggung aku mau patah begini."
Ziva melirik lengan baju Baskara. Benar, kain baju koko itu sangat lecek di bagian lengannya. Ia menelan ludah, rasa malu mulai merayapi pipinya hingga memerah padam. Namun, Ziva tetaplah Ziva. Ia tidak akan meminta maaf semudah itu.
"Ya... ya tetep aja! Harusnya lo usaha lepasin dong! Lo kan polisi, masa ngelepasin tangan cewek kecil kayak gue aja nggak bisa? Lo sengaja kan mau ngerasain tidur di kasur empuk?!" cecar Ziva lagi, meski guling di tangannya perlahan ia turunkan.
Baskara menatap mata Ziva dalam-dalam, sebuah tatapan yang membuat Ziva merasa seperti sedang diinterogasi di bawah lampu sorot. "Aku nggak mau bangunin kamu. Kamu semalam kelihatan sangat damai tidurnya setelah 40 hari yang berat. Aku cuma nggak mau mimpi buruk kamu balik lagi kalau aku paksa lepas."
Kalimat itu telak menghantam pertahanan Ziva. Rasa kesal yang tadi meluap-luap mendadak menguap, digantikan oleh rasa canggung yang luar biasa. Ia segera turun dari kasur dengan gerakan kikuk, hampir saja tersandung ujung selimutnya sendiri.
"Udah! Keluar sana! Gue mau mandi! Pokoknya kejadian semalem jangan pernah lo bahas lagi, apalagi di depan Mama sama Papa! Kalau lo sampe bocor, gue... gue bakal bakar seragam polisi lo!" ancam Ziva sambil menunjuk pintu kamar dengan telunjuknya yang gemetar.
Baskara hanya mengangguk pelan. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah yang sedikit pincang—bekas tendangan Ziva sepertinya benar-benar mengenai sarafnya. Sebelum ia benar-benar keluar, ia berhenti di ambang pintu dan menoleh sedikit.
"Ziva, lain kali kalau tidur jangan sambil latihan karate. Tulang kering aku bukan samsak tinju," ucap Baskara datar sebelum akhirnya menutup pintu dengan bunyi klik yang halus.
Ziva membeku di tengah kamar. Begitu pintu tertutup, ia langsung melempar gulingnya ke arah pintu dengan sekuat tenaga. "Ihhhh! Om-om nyebelin banget sih!"
Ziva menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia merasa sangat malu, marah, dan... bingung. Mengapa ia harus merasa seaman itu saat memegang lengan Baskara semalam? Dan mengapa bayangan wajah Baskara yang menatapnya dengan sabar tadi pagi tidak mau hilang dari kepalanya?
"Gue nggak boleh luluh," bisik Ziva pada bayangannya di cermin. "Inget Ziva, dia orangnya. Dia alasannya."
Ziva menyalakan keran air di kamar mandi dengan kencang, berusaha menenggelamkan suara hatinya yang mulai berbisik tentang hal-hal yang tidak seharusnya ia rasakan pada pria di lantai bawah itu.
***
Matahari siang ini terasa begitu menyengat, seolah ingin membakar sisa-sisa rasa malu Ziva akibat insiden tendangan maut tadi pagi. Perutnya mulai meronta minta diisi, bukan dengan nasi uduk sisa sarapan, melainkan dengan asupan micin dan cokelat untuk mendinginkan kepalanya yang panas.
Ziva berjalan kaki menuju minimarket yang terletak hanya dua blok dari rumah barunya. Ia mengenakan kaos oversize dan celana training, rambutnya dicepol asal-asalan. Ia hanya ingin membeli beberapa bungkus keripik pedas dan es krim, lalu kembali mengunci diri di kamar.
Begitu masuk ke minimarket yang dingin oleh AC, Ziva langsung menuju lorong camilan. Namun, langkahnya terhenti saat melihat dua orang ibu-ibu berseragam daster batik sedang berdiri di depan rak biskuit. Salah satu dari mereka, seorang wanita paruh baya dengan sanggul yang terlalu kencang dan tatapan mata yang tajam, langsung menoleh ke arah Ziva.
Bukannya tersenyum ramah sebagai sesama penghuni kompleks, ibu itu justru memberikan tatapan tidak suka yang sangat kentara. Ia menyikut temannya dan berbisik cukup keras hingga Ziva bisa mendengarnya.
"Itu kan perempuan yang tinggal di rumah nomor dua belas itu, Bu? Yang nikah mendadak sama polisi ganteng itu?" bisik si Ibu Sanggul.
"Iya, Bu. Kasihan ya Nak Baskara, dapatnya yang begini. Saya denger-denger sih... dia itu cuma mau hartanya saja. Lihat saja gayanya, masih muda sudah pengen hidup enak hasil keringat suami," timpal temannya dengan nada mencibir.
Ziva menghentikan tangannya yang baru saja hendak meraih bungkus keripik kentang. Telinganya panas. Ia mencoba mengabaikan, namun si Ibu Sanggul justru melangkah mendekat dan berdiri tepat di samping Ziva, pura-pura memilih cokelat yang sama dengan yang Ziva incar.
"Mbak, kalau jadi istri polisi itu yang bener dikit dandanannya. Jangan cuma bisa habisin uang suami buat jajan begini. Kasihan suaminya capek-capek patroli di jalan, istrinya malah keluyuran nggak jelas," sindir si Ibu Sanggul sambil melirik sinis ke arah keranjang belanjaan Ziva.
Ziva menarik napas panjang. Ia mencoba tetap tenang, mengingat pesan Ayah untuk selalu menjaga martabat. "Maaf ya, Bu. Tapi saya rasa apa yang saya beli bukan urusan Ibu. Lagipula, saya pakai uang saya sendiri," jawab Ziva sedatar mungkin.
"Halah, uang sendiri darimana? Pengangguran kok belagu," sahut si Ibu Sanggul makin berani. "Saya tahu ya, Mbak itu sebenernya cuma 'pengganti' kakaknya kan? Harusnya kakaknya yang nikah sama Nak Baskara. Mungkin Mbak ini yang sengaja bikin celaka biar bisa ambil posisi kakaknya? Zaman sekarang kan banyak pelakor berbaju adik sendiri."
Deg.
Jantung Ziva seolah berhenti berdetak. Kalimat itu bukan lagi sekadar sindiran, itu adalah belati yang ditusukkan tepat ke lukanya yang paling dalam. Menuduhnya sebagai penyebab kematian Kirana demi posisi istri adalah fitnah yang paling keji yang pernah ia dengar.
Ziva berbalik sepenuhnya, menatap ibu itu dengan mata yang berkilat marah. "Ibu halu ya?! Mana ada saya begitu! Jaga mulut Ibu kalau nggak tahu apa-apa!"
"Loh, saya bicara fakta kok! Buktinya apa? Kakaknya meninggal, adiknya yang dapet suaminya. Enak banget ya hidup kamu di atas penderitaan orang lain," balas si Ibu Sanggul dengan nada tinggi, mulai menarik perhatian pembeli lain di minimarket.
"Ibu tahu apa soal kecelakaan itu?! Ibu nggak tahu gimana hancurnya perasaan saya kehilangan Kak Kirana!" suara Ziva mulai bergetar, bukan karena takut, tapi karena menahan ledakan emosi. "Jangan berani-berani Ibu bawa nama kakak saya buat fitnah murahan kayak gini!"
"Halah, akting saja kamu! Dasar perempuan nggak tahu diri!"
Keributan itu semakin memanas. Ziva merasa sesak, matanya mulai memanas. Ia ingin sekali menjambak sanggul ibu itu, namun ia teringat bahwa ia adalah istri seorang polisi. Jika ia berbuat keributan fisik, reputasi Baskara—yang selama ini ia benci namun tetap ia hargai sebagai institusi—akan hancur.
Tepat saat suasana semakin genting, pintu minimarket berdenting. Sosok tegap dengan seragam cokelat yang masih lengkap masuk ke dalam. Baskara. Ia sepertinya baru saja selesai patroli dan berniat membeli air minum.
Baskara langsung menangkap sosok Ziva yang sedang berdiri gemetar di depan dua ibu-ibu yang tampak provokatif. Ia melangkah cepat dengan wajah yang sangat kaku, auranya seketika membuat seisi minimarket menjadi hening.
"Ada apa ini?" tanya Baskara dengan suara bariton yang dalam dan penuh otoritas.
Si Ibu Sanggul langsung berubah pucat. "Eh, Nak Baskara... Ini... Mbak Ziva tadi... dia nggak sopan sama orang tua..."
Baskara melirik ke arah Ziva yang matanya sudah berkaca-kaca. Ia melihat keranjang belanjaan istrinya yang terjatuh di lantai. Tanpa perlu penjelasan panjang lebar, Baskara sudah bisa menebak apa yang terjadi. Ia tahu betul watak ibu-ibu di kompleks ini yang suka bergosip.
Baskara menatap si Ibu Sanggul dengan tatapan yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi tersangka di ruang interogasi. "Ibu, istri saya sedang berduka. Jika saya mendengar Ibu membawa-bawa nama almarhumah Kirana lagi atau memfitnah istri saya dengan tuduhan yang tidak berdasar, saya tidak akan segan-segan memproses ini secara hukum. Pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan itu ada pasalnya."
Ibu itu ternganga, ia buru-buru menarik temannya dan melesat keluar minimarket tanpa sempat membayar belanjaannya.
Ziva masih berdiri mematung, tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya. Ia benci karena harus dibela oleh Baskara, tapi ia juga merasa sedikit lega karena pria itu ada di sana.
Baskara berjongkok, memunguti keripik kentang Ziva yang berserakan, lalu memasukkannya kembali ke keranjang. Ia berdiri dan menatap Ziva dengan tatapan yang sedikit melembut, meski wajahnya tetap kaku.
"Sudah, jangan didengar. Ayo pulang," ucap Baskara pelan.
Ziva tidak menjawab. Ia merebut keranjangnya dari tangan Baskara, berjalan cepat menuju kasir, membayar seadanya, dan langsung keluar minimarket tanpa menoleh. Ia merasa terhina, bukan hanya karena fitnah ibu itu, tapi karena lagi-lagi ia terlihat lemah di depan Baskara.
"Gue nggak butuh bantuan lo!" ketus Ziva saat Baskara mencoba merangkul pundaknya di luar minimarket.
"Aku tahu kamu kuat, Ziva. Tapi kadang, kamu boleh membiarkan orang lain berdiri di depanmu," balas Baskara tenang.
Ziva mempercepat langkahnya, berusaha menyembunyikan air matanya yang akhirnya jatuh juga. Siang itu, ia menyadari satu hal: di luar sana, dunia jauh lebih kejam daripada dinginnya rumah mereka. Dan entah mengapa, sosok "Om-om pemaksa" yang ia benci itu mulai terasa seperti satu-satunya tempat yang aman dari tajamnya lidah orang asing.