Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Langkah kaki Mahesa terdengar lebih mantap di atas lantai beton gang yang sedikit berlumut. Ia mengarahkan cahaya senter dari ponselnya ke bawah, menyapu tumpukan sampah plastik dan dedaunan kering yang terkumpul di pojok bangunan. Felysha berjalan tepat satu langkah di belakangnya, kedua tangannya kini merapatkan mantel ke tubuhnya sendiri. Saputangan milik Mahesa masih menempel di lehernya, kini sudah diwarnai bercak merah kecokelatan yang mulai mengering.
Suara angin yang melewati celah-celah gedung apartemen tua menciptakan bunyi siulan rendah yang membuat bulu kuduk Felysha berdiri. Ia sesekali menoleh ke belakang, memastikan tidak ada sosok lain yang mengikuti mereka di kegelapan. Gang ini terasa jauh lebih panjang dan lebih menyeramkan daripada saat ia berlari mengejar pencopet tadi.
"Pelan-pelan jalannya, lantainya licin," Mahesa memberi peringatan tanpa berbalik. Ia berhenti di depan sebuah tempat sampah besar dari besi yang catnya sudah mengelupas.
Mahesa meletakkan ponselnya di atas tumpukan kardus agar cahayanya tetap menyinari area tersebut, lalu ia menggunakan kedua tangannya untuk menggeser penutup tempat sampah. Bunyi derit besi yang beradu terdengar sangat nyaring, memantul di dinding-dinding gang yang sempit. Felysha hanya bisa berdiri mematung, menatap punggung Mahesa yang kini mulai membungkuk, melihat ke dalam tong sampah itu.
"Ada?" tanya Felysha lirih. Suaranya nyaris tenggelam oleh bunyi gemerisik sampah yang dipindahkan Mahesa.
Mahesa tidak langsung menjawab. Ia merogoh ke dalam, memindahkan beberapa kantong plastik hitam. Ia menggeleng pelan, lalu menarik tangannya kembali. Ia mengambil ponselnya lagi, menyinari area di balik tong sampah tersebut.
"Belum ada. Kita maju lagi ke depan," Mahesa melangkah lebih dalam ke arah persimpangan gang yang menuju ke arah taman kecil.
Felysha mengikuti dengan langkah yang sedikit terseret. Kakinya mulai terasa pegal, dan rasa perih di lehernya kini berubah menjadi denyutan yang seirama dengan detak jantungnya. Ia memperhatikan bagaimana Mahesa bergerak dengan sangat teliti. Pria itu menyinari setiap celah di antara pipa-pipa air yang menempel di dinding gedung, bahkan sempat berjongkok untuk melihat ke bawah sebuah mobil tua yang terparkir sembarangan.
"Kenapa kamu mau bantu saya?" Felysha akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Suaranya terdengar kecil, hampir seperti bisikan.
Mahesa berhenti sejenak. Ia berdiri tegak, memutar kepalanya sedikit untuk melirik Felysha yang berdiri di keremangan. Cahaya senter dari ponselnya terpantul di dinding, memberikan cahaya remang-remang pada wajahnya yang tertutup bayangan topi.
"Sesama orang Indonesia, kan? Masa saya biarkan kamu berdarah-darah sendirian di sini," jawab Mahesa datar. Ia kembali menggerakkan senternya ke arah tumpukan kayu di depan mereka. "Lagi pula, saya juga nggak punya pekerjaan lain malam ini. Daripada cuma duduk di bangku taman sendirian."
Felysha terdiam. Jawaban itu terdengar sangat sederhana, namun ia masih merasa ada sesuatu yang janggal. Ia teringat ajaran Julian tentang tidak mudah percaya pada orang asing, terutama pria. Namun, di situasi seperti ini, logika itu terasa sangat sulit untuk dipertahankan. Ia butuh bantuan, dan Mahesa adalah satu-satunya orang yang ada di sana.
Mereka sampai di ujung gang yang berbatasan dengan pagar kawat sebuah taman bermain kecil yang sudah sepi. Mahesa menyinari sudut pagar yang dipenuhi tanaman rambat. Tiba-tiba, cahaya senternya berhenti di sebuah benda berwarna cokelat yang tergeletak di atas tanah, tertutup sebagian oleh daun-daun kering.
"Itu tas kamu?" Mahesa menunjuk dengan dagunya.
Jantung Felysha berdegup kencang. Ia segera maju, melewati Mahesa, dan berjongkok di depan benda tersebut. Ia meraba permukaan kulitnya yang terasa dingin dan sedikit lembap.
"Iya! Ini tas saya!" seru Felysha. Ada nada lega yang luar biasa dalam suaranya.
Ia segera meraih tas itu, membukanya dengan tangan yang gemetar. Ia merogoh ke dalam kompartemen utama. Dompetnya masih ada, namun saat ia membukanya, uang tunainya sudah kosong. Ia mengabaikan itu. Ia meraba kantong rahasia di bagian dalam.
"Paspornya ada," bisik Felysha. Ia menarik keluar buku kecil bersampul hijau itu, memeluknya di dada sejenak. Ia kemudian meraba kantong kecil lainnya, mengeluarkan sebuah bingkai foto kecil yang kacanya untungnya tidak pecah. Ia mengusap permukaan foto ayahnya dengan ibu jari, memastikan tidak ada yang rusak.
Mahesa berdiri di sampingnya, tetap menyinari area tersebut agar Felysha bisa memeriksa barang-barangnya. Ia tidak mencoba menyentuh tas itu atau mendekat lebih jauh. Pria itu hanya berdiri diam, membiarkan Felysha menyelesaikan pemeriksaannya.
"Semuanya ada? Selain uang?" Mahesa bertanya pelan.
Felysha memeriksa dompetnya lagi. Kartu kreditnya masih ada, kartu mahasiswanya juga. Kunci apartemennya tersangkut di bagian gantungan di dalam tas. "Cuma uang tunai yang hilang. Sama... HP saya di dalam saku mantel, syukurlah nggak ikut diambil."
Ia berdiri perlahan, merapikan mantelnya yang kini sedikit kotor karena berjongkok di tanah. Ia menatap Mahesa, merasa sangat berhutang budi pada pria yang baru ia temui tiga puluh menit yang lalu ini.
"Terima kasih banyak, Mahesa. Saya nggak tahu harus gimana kalau tas ini nggak ketemu," ucap Felysha dengan tulus. Ia memberikan anggukan kecil sebagai tanda hormat.
Mahesa hanya membetulkan posisi topinya, menyembunyikan senyum tipis yang sekilas muncul di bibirnya. "Bagus kalau ketemu. Sekarang lebih baik kamu pulang. Lehermu itu perlu dibersihkan dengan benar kalau nggak mau infeksi."
Mahesa mematikan senter ponselnya, membuat gang itu kembali gelap, hanya diterangi oleh sisa cahaya dari jalan besar di ujung sana. Ia mulai melangkah keluar dari gang, memberikan isyarat agar Felysha mengikutinya.
"Saya antar sampai jalan besar," ucap Mahesa tanpa menoleh.
Felysha mengikuti dari belakang, memeluk tas cokelatnya erat-erat di depan dada. Ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat, meskipun rasa takut akan kemarahan Julian masih membayangi pikirannya. Saat mereka sampai di trotoar jalan besar yang lebih terang, Mahesa berhenti.
Ia menunjuk ke arah barisan apartemen di depan mereka. "Itu arah ke tempat tinggalmu, kan?"
"Iya. Dekat dari sini," jawab Felysha. Ia menatap Mahesa sejenak, merasa ingin menanyakan sesuatu, namun ia ragu.
"Saputangannya... nanti saya kembalikan setelah saya cuci," ucap Felysha sambil menyentuh kain di lehernya.
Mahesa hanya mengangkat tangannya sedikit, memberikan isyarat bahwa itu tidak perlu. "Bawa saja. Kamu lebih butuh itu sekarang."
Mahesa berbalik, mulai berjalan ke arah berlawanan tanpa mengucapkan kata perpisahan yang panjang. Langkah kakinya terdengar santai di atas trotoar. Felysha berdiri diam di sana selama beberapa detik, memperhatikan punggung pria berjaket denim itu yang perlahan-lahan menjauh dan menghilang di antara bayangan pepohonan.
Ia menarik napas panjang, udara dingin Paris masuk ke paru-parunya, memberikan rasa sakit yang sekaligus menyadarkannya. Ia segera berjalan menuju apartemennya dengan langkah cepat. Di tangannya, ia memegang kunci apartemennya dengan erat. Ia harus segera masuk, membersihkan lukanya, dan menyiapkan alasan jika Julian tiba-tiba menelepon. Di tengah ketakutannya, ia tidak menyadari bahwa di ujung jalan sana, Mahesa sempat berhenti sejenak, menoleh ke arahnya dengan tatapan yang sulit diartikan sebelum benar-benar pergi.