NovelToon NovelToon
Tak Setara

Tak Setara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Annual Creative Retreat

Setiap tahun perusahaan mengadakan Creative Retreat, sebuah agenda yang selalu ditunggu sekaligus ditakuti oleh para karyawan.

Selama satu minggu mereka dipindahkan dari kantor ke luar kota, villa atau resort.

Tahun ini perusahaan akan menyewa sebuah pulau milik resort pribadi.

Bukan sekadar liburan.

Di tempat itu ide-ide besar lahir, strategi kampanye dibentuk, dan kadang klien-klien penting datang untuk melihat langsung bagaimana tim kreatif perusahaan itu bekerja.

Ruang rapat sudah dipenuhi beberapa orang.

Proyektor menampilkan informasi terkait perencanaan creative retreat:

...Annual Creative Retreat...

...Durasi:...

...5–7 hari...

...Lokasi:...

...private island resort...

...Agenda:...

...workshop campaign...

...brainstorming project baru...

...presentasi tim...

...networking dengan klien...

...gala dinner...

CEO menjelaskan dengan rinci.

Beberapa slide berikutnya menampilkan gambaran pulau yang akan mereka tempati. Pantai berpasir putih, deretan villa kayu yang menghadap laut, serta aula terbuka tempat sebagian besar agenda akan berlangsung.

Ruangan rapat menjadi sedikit lebih hidup. Beberapa orang mulai berbisik pelan.

Arka berdiri di depan layar proyektor, memegang remote presentasi.

“Tahun ini Creative Retreat tidak hanya fokus pada brainstorming internal.”

Arka menjelaskan.

Slide berganti.

“Beberapa klien utama akan hadir di hari terakhir.”

Beberapa orang langsung saling menatap.

“Jadi konsep yang kita buat di sana akan langsung dipresentasikan ke mereka?” tanya Revan.

“Ya.”

Nada bicaranya tenang namun tegas.

“Artinya setiap ide yang lahir di sana harus siap dikembangkan menjadi kampanye nyata," lanjut Arka.

Revan mengangguk pelan.

“Berarti setiap tim perlu konsep yang kuat dari awal.”

Arka kemudian menyilangkan tangannya.

“Kita akan membagi peserta menjadi beberapa tim kecil. Setiap tim bertanggung jawab membuat satu konsep campaign.”

Ia menatap seluruh ruangan sebelum melanjutkan.

“Mulai dari ide visual, strategi, sampai narasi kontennya.”

Beberapa orang mulai mencatat.

Arka lalu memandang ke arah sisi meja tempat Aluna duduk.

“Aluna.”

Aluna sedikit terkejut ketika namanya disebut.

Ia mengangkat kepalanya.

“Ya, Pak?”

“Kamu dari tim content.”

Aluna mengangguk.

“Saya ingin kamu fokus di bagian storytelling campaign.”

Beberapa orang langsung menoleh ke arahnya.

“Konsep bagus tidak akan berarti tanpa narasi yang kuat.”

Suasana ruangan kembali tenang.

Aluna menarik napas kecil sebelum menjawab.

“Baik, Pak.”

Arka menatapnya beberapa detik lebih lama.

Lalu kembali menghadap ke seluruh tim.

“Detail pembagian tim akan diumumkan minggu ini.”

Ia mematikan proyektor.

“Dan selama satu minggu di pulau itu, saya ingin semua orang benar-benar fokus bekerja.”

Nadanya datar, tapi terasa seperti peringatan.

“Karena ide terbaik perusahaan ini kemungkinan akan lahir dari sana.”

Rapat pun berakhir.

Kursi-kursi mulai bergeser, orang-orang berdiri dan mulai berbicara satu sama lain.

Namun Aluna masih duduk beberapa detik lebih lama.

Entah kenapa, ketika mendengar kata satu minggu di pulau, dadanya terasa sedikit berat.

Tanpa sengaja ia mengangkat pandangannya.

Dan mendapati Arka sedang menatapnya dari depan ruangan.

***

Bus-bus pariwisata terparkir di halaman perusahaan.

Semua karyawan dan tim yang terpilih untuk ikut akan berangkat dengan bus.

Setelah memastikan semua sudah berkumpul, bus berangkat ke dermaga.

Arka dan beberapa rekannya mengikuti dengan mobil mereka.

Sesampainya di dermaga, semua penumpang harus beralih ke sebuah kapal untuk menuju pulau.

Perjalanan laut menempuh waktu empat puluh lima menit, sampai akhirnya mereka sampai di tujuan.

Private Island Resort.

Adalah sebuah pulau pribadi yang biasa di sewa oleh perusahaan-perusahaan atau orang yang memiliki bisnis besar maupun kecil.

Karena tempatnya yang luas dan memiliki pemandangan yang indah, tempat ini menjadi pilihan favorit beberapa orang.

Para pekerja disambut hangat oleh pemandu pulau. Mereka dibawa ke sebuah villa dan mendapatkan kamar masing-masing.

Setiap orang mendapatkan satu kamar.

Setelah melihat kamar masing-masing dan meletakkan barang bawaan, mereka diajak berkeliling untuk melihat area-area yang akan dijadikan tempat untuk bekerja dan tempat yang akan sering digunakan seperti:

Aula, meeting room, resto.

Di luar resort, mata Aluna tertuju pada hutan pinus yang terbentang luas. Tampak diujung hutan terlihat laut biru yang tenang.

Pasir putih berkilau, sebuah jembatan di tengah-tengah laut yang dikelilingi pohon bakau.

Airnya yang jernih memperlihatkan biota laut seperti ikan-ikan kecil dan terumbu karang dan rumput laut yang menari-nari.

"Door."

Lamunannya dikagetkan oleh Revan yang menepuk pundaknya.

Aluna menoleh.

"Kamu suka tempat ini?" tanya Revan.

"Ini sih indah. Walaupun kita cuma tutup mata tapi dengan mencium aroma lautnya yang tenang dan udaranya yang sejuk. Kita bisa tahu kalau tempat ini sangat bagus."

Senyumnya berseri.

Revan memperhatikan perempuan yang sedang terpesona dengan keindahan laut, itu.

Dari kejauhan suara lelaki paruh baya, Damar—memberikan penjelasan kecil.

"Kalian akan beristirahat dua jam, setelah itu kita akan ke aula untuk presentasi tim," Jelasnya.

"Dan untuk para tim, mohon bekerjasama untuk mempersiapkan tim-nya masing-masing," lanjutnya.

Setelah itu semua orang berlalu menuju kamar masing-masing untuk beristirahat dan mempersiapkan dirinya.

Revan dan Helena menghilang dibalik pintu kamarnya, menyisakan Aluna yang berjalan sendirian di koridor menuju kamar.

Tiba-tiba kepalanya mendongak sekejap, rambutnya ditarik oleh sesuatu dari belakang. Langkahnya terhenti, tangannya memegangi kepalanya yang terasa sakit.

Secara bersamaan, langkah kaki berjalan dari sampingnya—Arka.

Aluna menoleh, matanya melotot tak percaya.

Arka terkekeh pelan meningalkan Aluna, setelah ia merasa puas menjahilinya.

"Nggak salah lagi," ucapnya sambil mengelus kepalanya yang terasa sakit. "Dia memang CEO gila," lanjutnya.

Aluna membuka pintu putih dengan nomor 13A.

Kamar itu tidak terlalu besar, hanya cukup untuk satu orang. Ranjangnya kecil, seprai putih, dinding kayu berwarna coklat mengkilap, sebuah meja rias dengan kursi dan kaca yang cukup besar, di sampingnya terdapat toilet.

Aluna meletakkan koper pink-nya di samping ranjang.

Pandangannya beralih pada sebuah jendela kaca klasik desain Belanda, disamping ranjang dengan cat berwarna putih lengkap dengan tirainya.

Aluna membuka jendela itu, ia tertegun ketika angin berhembus masuk menabrak wajahnya. Pemandangan yang langsung menghadap laut dan pohon pinus.

Kusen bagian bawah jendela itu sedikit lebar, ia bisa duduk diatasnya.

Menikmati pemandangan dari atas jendela kamarnya.

***

Setelah beristirahat, Aluna bersiap untuk presentasi tim. Ia merapikan beberapa lembar catatan di tangannya sebelum berjalan menuju meeting room.

Di dalam ruangan itu sudah ada beberapa tim yang berkumpul. Suasana terasa lebih santai,

Aluna menyapu ruangan dengan pandangannya, mencari tim kreatifnya.

Di sudut ruangan, Revan dan Helena tampak tengah berbincang sambil melihat layar laptop.

“Luna, sini,” panggil Revan ketika melihatnya.

Aluna mendekat.

“Sudah siap?” tanya Helena.

Aluna mengangguk pelan. “Kurang lebih.”

Di depan ruangan, layar besar sudah menyala. Beberapa kursi disusun setengah melingkar menghadap layar proyektor.

Satu per satu tim mulai duduk di tempat masing-masing.

Seorang staf dari tim event berdiri di depan.

“Baik, kita mulai sesi presentasi tim. Setiap kelompok diberi waktu lima belas menit untuk mempresentasikan konsep kampanye mereka.”

Beberapa orang langsung membuka laptop.

“Setelah itu akan ada sesi diskusi singkat.”

Tim pertama maju.

Lampu ruangan sedikit diredupkan saat slide presentasi muncul di layar.

Aluna duduk sambil memperhatikan, sesekali mencatat sesuatu di buku kecilnya.

Di depannya, Revan menyandarkan siku di meja.

“Tim kita urutan ketiga,” bisiknya.

Aluna mengangguk.

Presentasi tim pertama selesai dengan tepuk tangan ringan dari peserta lain.

Moderator kemudian melihat daftar di tangannya.

“Baik, berikutnya tim kedua.”

Aluna menarik napas pelan.

Beberapa menit lagi giliran mereka.

Ia membuka laptopnya sekali lagi, memastikan naskah presentasinya sudah siap.

Namun sebelum ia sempat fokus kembali pada layar, pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

Langkah seseorang masuk dengan tenang.

Suasana ruangan langsung berubah sedikit lebih hening.

Arka.

CEO perusahaan itu berjalan masuk dan mengambil tempat di barisan belakang.

Aluna tanpa sadar menegakkan punggungnya.

Entah kenapa, tiba-tiba presentasi yang sudah ia siapkan sejak semalam terasa jauh lebih menegangkan.

Moderator melihat daftar di tangannya.

“Baik, berikutnya tim ketiga.”

Revan menoleh ke arah Aluna.

“Giliran kita.”

Aluna menarik napas pelan. Ia berdiri dari kursinya, membawa laptop dan beberapa lembar catatan.

Langkahnya menuju depan ruangan terasa sedikit lebih berat dari biasanya.

Lampu ruangan diredupkan saat layar proyektor menyala.

Slide pertama muncul.

Campaign Concept: “Beyond Ordinary”

Aluna berdiri di samping layar, sementara Revan duduk di kursinya sambil memperhatikan.

Ia menggenggam remote presentasi.

“Selamat siang,” ucapnya, mencoba menjaga suaranya tetap stabil.

“Konsep kampanye yang tim kami ajukan berangkat dari satu pertanyaan sederhana.”

Ia menekan tombol berikutnya.

Slide berganti menampilkan beberapa visual konsep.

“Bagaimana sebuah brand bisa terlihat berbeda di tengah pasar yang penuh dengan pesan yang sama?”

Beberapa orang mulai memperhatikan lebih serius.

Aluna melanjutkan penjelasannya tentang alur cerita kampanye, konsep visual, serta strategi konten yang akan digunakan.

Sesekali ia menunjuk layar proyektor.

Namun di tengah penjelasannya, tanpa sengaja pandangannya bergerak ke arah barisan belakang.

Arka duduk di sana, bersandar di kursinya, tatapannya lurus tertuju padanya.

Tidak ada ekspresi.

Aluna segera mengalihkan pandangannya kembali ke layar.

Ia menelan napas pelan sebelum melanjutkan.

“Karena itu, storytelling menjadi fokus utama dalam kampanye ini.”

Slide berikutnya muncul.

“Setiap konten akan membangun narasi yang saling terhubung, sehingga audiens tidak hanya melihat produk, tetapi juga merasakan pengalaman yang ditawarkan brand tersebut.”

Beberapa orang mulai mengangguk.

Presentasi hampir selesai, Aluna menekan tombol terakhir.

Slide penutup muncul.

“Dan itu konsep kampanye yang kami tawarkan.”

Ia menatap seluruh ruangan.

“Terima kasih.”

Ruangan hening beberapa detik.

Lalu terdengar beberapa tepuk tangan ringan.

Moderator tersenyum.

“Baik, kita buka sesi diskusi.”

Belum ada yang berbicara.

Hingga akhirnya sebuah suara terdengar dari belakang ruangan.

“Menarik.”

Semua orang langsung menoleh.

Arka berdiri dari kursinya, ia berjalan perlahan ke depan ruangan.

Setiap langkahnya membuat suasana terasa sedikit lebih tegang.

Aluna berdiri diam di samping layar.

Arka berhenti beberapa langkah di depannya, matanya menatap slide presentasi, lalu kembali pada Aluna.

“Konsepnya kuat.”

Beberapa orang terlihat sedikit terkejut.

Namun Arka belum selesai.

“Namun saya ingin tahu satu hal.”

Ia menatap Aluna lebih dalam.

“Kalau kampanye ini benar-benar dijalankan…”

Ia berhenti sejenak.

“Bagian mana yang menurutmu akan paling menentukan keberhasilannya?”

Ruangan kembali sunyi.

Sekarang semua orang menunggu jawaban Aluna.

Aluna menarik napas pelan.

“Storytelling-nya,” jawabnya akhirnya. “Kalau narasinya kuat, audiens akan merasa terhubung dengan brand. Dari situ engagement akan terbentuk secara alami.”

Arka masih menatapnya.

Beberapa detik terlalu lama untuk sekadar menilai jawaban.

Lalu Arka mengangguk tipis.

“Baik.”

Ia berbalik sedikit menghadap peserta lain.

“Konsep ini punya potensi.”

Beberapa orang langsung mencatat.

“Namun narasi yang kalian bangun harus konsisten di semua platform.”

Arka kemudian kembali menatap Aluna.

“Pastikan itu.”

“Baik, Pak,” jawab Aluna singkat.

Sesi diskusi kemudian berlanjut dengan beberapa pertanyaan dari tim lain. Suasana mulai kembali normal.

Namun dari tempat duduknya, Revan memperhatikan sesuatu.

Sejak tadi ia tidak benar-benar fokus pada diskusi.

Perhatiannya justru berpindah-pindah antara Arka dan Aluna.

Ia sudah cukup lama bekerja di perusahaan itu untuk mengenal sikap Arka.

CEO mereka biasanya tidak terlalu lama menatap seseorang saat presentasi.

Tapi barusan…

Revan menyandarkan punggungnya di kursi, menyilangkan tangan di dada.

Matanya sedikit menyipit.

Ada sesuatu yang terasa aneh.

Ketika Aluna menjawab pertanyaan tadi, Arka tidak terlihat seperti sedang mengevaluasi konsep kampanye.

Lebih seperti… memperhatikan orangnya.

Revan melirik Aluna yang kini duduk kembali di kursinya, pura-pura sibuk menutup laptop.

Lalu ia menoleh lagi ke arah Arka yang sudah kembali ke barisan belakang.

“Hmm…” gumamnya pelan.

Helena yang duduk di sebelahnya melirik.

“Apa?”

Revan menggeleng.

“Tidak.”

Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

Entah kenapa, instingnya mengatakan satu hal.

Di antara dua orang itu…

ada sesuatu yang tidak diketahui orang lain.

Dan Revan baru saja mulai menyadarinya.

***

1
Gira Hurary
sukaaaa alurnya... author ini berani beda, tetep semangat ya thor
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Gira Hurary
semangaaaat
Rini
Lanjut thor🤭
Rini
Baru diawal bagus bgt, setiap kata-katanya tersusun rapi mudah dipahami😍 semangat thor💪
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Annida Annida
lanjut tor
Dian
lumayan bagus
Lass96: Terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Senang sekali kalau ceritanya bisa kamu nikmati.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!