Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Masa Lalu
Pagi itu kota belum sepenuhnya ramai ketika Rania sudah tiba di kantor Hartono Group.
Langkahnya tenang seperti biasa, sepatu haknya berbunyi pelan di lantai marmer lobby yang luas. Beberapa karyawan yang melihatnya langsung memberi salam hormat.
“Selamat pagi, Direktur Rania.”
Rania mengangguk singkat.
“Pagi.”
Ia masuk ke lift khusus eksekutif dan menekan tombol lantai atas. Pintu lift tertutup perlahan, memantulkan bayangan dirinya di dinding kaca.
Wanita yang berdiri di sana terlihat berbeda dari tiga tahun lalu.
Dulu ia hanya seorang istri yang mencoba bertahan dalam rumah tangga yang dingin.
Sekarang…
Ia adalah seseorang yang bisa menentukan nasib sebuah perusahaan besar.
Lift berhenti dengan bunyi lembut.
Ketika pintu terbuka, sekretarisnya langsung berdiri dari meja.
“Selamat pagi, Direktur.”
“Ada agenda penting hari ini?” tanya Rania.
Sekretarisnya membuka tablet.
“Pukul sepuluh ada rapat lanjutan tentang proyek investasi.”
Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
“Perusahaan Adrian juga akan mengirimkan perwakilan mereka untuk presentasi tambahan.”
Langkah Rania sedikit melambat.
“Perwakilan?”
“Ya.”
Sekretaris itu terlihat ragu sebentar.
“Dan kemungkinan besar… Adrian sendiri yang akan datang.”
Rania tidak langsung menjawab.
Ia hanya berjalan menuju ruang kerjanya.
“Baik,” katanya singkat.
Namun ketika pintu ruangannya tertutup, ia berdiri diam beberapa detik.
Adrian akan datang ke kantor ini.
Tiga tahun lalu, ia pergi dari hidup pria itu dengan cara yang menyakitkan.
Sekarang mereka akan bertemu lagi…
Dalam posisi yang sangat berbeda.
Rania menarik napas pelan dan duduk di kursinya.
“Fokus pada pekerjaan,” gumamnya pada dirinya sendiri.
Di sisi lain kota.
Adrian berdiri di depan cermin ruangannya sambil merapikan jas.
Hari ini ia akan datang langsung ke Hartono Group.
Bukan hanya sebagai CEO.
Tapi juga sebagai orang yang harus memastikan masa depan perusahaannya.
Clara masuk tanpa mengetuk.
“Kau benar-benar akan datang sendiri?”
Adrian menatapnya melalui cermin.
“Apa itu masalah?”
Clara mengangkat bahu.
“Tidak juga.”
Ia berjalan masuk lebih jauh ke ruangan itu.
“Aku hanya berpikir ini akan menjadi pertemuan yang… menarik.”
Adrian mengambil berkas di meja.
“Kita datang untuk bisnis.”
Clara tersenyum kecil.
“Tentu saja.”
Namun senyum itu terasa sedikit berbeda.
Ia tahu betul bahwa pertemuan hari ini bukan sekadar urusan bisnis.
Setidaknya bagi tiga orang yang terlibat di dalamnya.
Gedung Hartono Group terlihat megah di bawah cahaya matahari siang.
Mobil hitam Adrian berhenti di depan lobby utama.
Beberapa staf perusahaan sudah menunggu.
“Selamat datang, Tuan Adrian.”
Ia keluar dari mobil dengan tenang.
Gedung ini jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
Interiornya modern dan elegan.
Semua orang terlihat bekerja dengan ritme cepat dan profesional.
Seorang staf mempersilahkannya menuju ruang rapat utama.
“Direktur Rania akan segera datang.”
Nama itu kembali terdengar.
Adrian berjalan masuk ke ruang rapat yang luas.
Meja panjang dengan layar presentasi besar sudah siap.
Beberapa eksekutif Hartono Group sudah duduk di sana.
Namun satu kursi utama masih kosong.
Adrian tahu siapa yang akan duduk di sana.
Beberapa menit kemudian pintu ruangan terbuka.
Semua orang menoleh.
Rania masuk dengan langkah tenang.
Ia mengenakan blazer hitam elegan dan membawa beberapa dokumen di tangannya.
Tatapan mereka bertemu sebentar.
Namun hanya sebentar.
Rania langsung duduk di kursinya dan membuka berkas di depan.
“Baik,” katanya dengan suara profesional.
“Kita mulai rapatnya.”
Suasana ruangan langsung serius.
Tim Adrian mulai mempresentasikan rencana proyek mereka.
Grafik demi grafik muncul di layar.
Angka investasi.
Proyeksi keuntungan.
Strategi pengembangan.
Semua dijelaskan dengan detail.
Namun selama presentasi berlangsung…
Adrian sesekali memperhatikan Rania.
Wanita itu mendengarkan dengan sangat fokus.
Ia sesekali mencatat sesuatu di berkasnya.
Ekspresinya tenang.
Tidak ada emosi.
Seolah mereka benar-benar hanya dua orang asing yang sedang membahas bisnis.
Setelah presentasi selesai, salah satu direktur Hartono Group bertanya beberapa hal teknis.
Diskusi berlangsung cukup lama.
Akhirnya semua orang menoleh ke arah Rania.
“Direktur Rania,” kata salah satu eksekutif.
“Anda yang memimpin analisis proyek ini.”
“Apa pendapat akhir Anda?”
Ruangan langsung sunyi.
Rania menutup berkasnya perlahan.
Ia menatap layar presentasi beberapa detik sebelum akhirnya berbicara.
“Proyek ini memiliki potensi keuntungan yang cukup besar.”
Beberapa orang mengangguk.
Namun ia melanjutkan.
“Tapi risikonya juga tidak kecil.”
Ia menoleh ke arah Adrian.
Tatapan mereka bertemu lagi.
“Perusahaan Anda harus melakukan beberapa perubahan jika ingin kerja sama ini berjalan.”
Adrian menjawab dengan tenang.
“Perubahan seperti apa?”
Rania membuka dokumen lain.
“Beberapa struktur manajemen proyek harus disesuaikan.”
Ia menjelaskan beberapa poin penting.
Diskusi kembali berlangsung cukup intens.
Namun kali ini terasa lebih seperti negosiasi serius.
Setelah hampir satu jam, rapat akhirnya selesai.
Belum ada keputusan final.
Namun arah pembicaraan menunjukkan bahwa kerja sama itu masih sangat mungkin terjadi.
Para eksekutif mulai keluar dari ruangan.
Adrian juga berdiri.
Namun ketika ia hendak pergi, suara Rania menghentikannya.
“Tuan Adrian.”
Langkah Adrian berhenti.
Ia menoleh.
Rania masih duduk di kursinya.
“Jika Anda punya waktu,” katanya.
“Ada beberapa hal tambahan yang ingin saya bahas.”
Para staf yang masih di ruangan itu langsung keluar perlahan.
Beberapa detik kemudian hanya mereka berdua yang tersisa.
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Adrian berjalan kembali ke meja rapat.
“Hal apa?”
Rania menutup laptopnya.
“Beberapa detail teknis proyek.”
Namun nada suaranya terasa berbeda.
Adrian duduk di kursi di seberangnya.
Beberapa detik mereka hanya saling diam.
Akhirnya Adrian berkata pelan,
“Kau terlihat sangat berbeda.”
Rania menatapnya tanpa ekspresi.
“Waktu mengubah banyak hal.”
Adrian tersenyum tipis.
“Ya.”
Ia menatap wanita di depannya dengan lebih serius.
“Tapi aku tidak menyangka akan melihatmu di posisi seperti ini.”
Rania tidak terlihat terpengaruh.
“Begitu juga aku.”
Adrian mengangkat alis sedikit.
“Benarkah?”
Rania berdiri dari kursinya.
“Dulu aku juga tidak menyangka akan bekerja di perusahaan sebesar ini.”
Ia berjalan menuju jendela besar di ujung ruangan.
“Namun hidup sering berjalan dengan cara yang tidak kita rencanakan.”
Adrian memperhatikannya.
Beberapa tahun lalu, wanita ini selalu terlihat ragu ketika berbicara dengannya.
Sekarang…
Ia terlihat jauh lebih kuat.
Lebih percaya diri.
Adrian berdiri dari kursinya.
“Rania.”
Wanita itu menoleh.
Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, ekspresi mereka tidak lagi sepenuhnya profesional.
Adrian berkata pelan,
“Kenapa kau tidak pernah kembali?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Rania tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian ia berkata dengan suara tenang,
“Karena tidak ada alasan untuk kembali.”
Kata-kata itu terdengar sederhana.
Namun Adrian tahu maknanya jauh lebih dalam.
Rania mengambil map proyek di meja.
“Keputusan investasi akan kami umumkan dalam beberapa hari.”
Ia berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, ia berhenti sebentar.
Tanpa menoleh, ia berkata pelan,
“Dan kali ini… semuanya benar-benar hanya tentang bisnis.”
Pintu tertutup.
Adrian tetap berdiri di tengah ruangan.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama…
Ia merasa masa lalu yang pernah ia abaikan kini kembali berdiri tepat di depannya.