seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33: Racun dalam Secarik Kertas
Lampu operasi di koridor ICU masih menyala merah, memantul di mata Shafira yang sembab. Di tangannya, surat dari Bu Sarah terasa seberat bongkahan batu. Ia duduk di kursi tunggu yang dingin, perlahan membuka lipatan kertas yang aromanya masih menyisakan parfum mahal—aroma kekuasaan yang dulu sangat ia takuti.
Kalimat demi kalimat di dalamnya tertulis dengan kaligrafi yang rapi namun tajam, seolah setiap hurufnya adalah sembilu yang siap mengiris kepercayaan yang baru saja ia bangun untuk Dave.
"Shafira, jika kau membaca ini, mungkin aku sudah tidak ada untuk melihat kehancuran anakku. Tahukah kau kenapa Dave begitu gigih mengejar mu? Bukan karena dia mencintaimu, tapi karena wasiat rahasia ayahnya, Devan.
Ada klausul tersembunyi: Dave hanya bisa menguasai kembali aset Mahesa Group di Singapura jika ia menikahi wanita dengan reputasi moral tanpa cela.
Kau bukan cintanya, Shafira. Kau adalah tiket kembalinya menuju takhta. Dia menggunakanmu untuk mencuci namanya yang kotor."
Napas Shafira tercekat. Logikanya yang selama ini ia banggakan mulai goyah. Ia teringat bagaimana Dave tiba-tiba berubah, bagaimana pria itu mendadak peduli pada agama, dan bagaimana ia bersujud di depan ayahnya.
Shafira meremas kertas itu, air matanya jatuh membasahi tinta yang mulai luntur. Di saat yang sama, pintu ICU terbuka.
Dokter keluar dengan wajah letih, mengabarkan bahwa Bu Sarah melewati masa kritis namun masih sangat lemah. Shafira tidak masuk ke dalam. Ia tidak sanggup melihat wanita yang bahkan di ambang maut masih sempat menanam duri di jalannya.
Ia kembali ke rumah sakit tempat ayahnya dirawat dengan langkah gontai. Saat sampai di depan kamar, ia melihat pemandangan yang tak pernah ia duga. Dave, sang mantan CEO yang dulu hanya bisa memerintah, kini sedang duduk di lantai di samping ranjang Pak Rahman.
Pria itu sedang membacakan potongan ayat suci dengan suara yang masih terbata-bata, namun penuh usaha. Tangannya yang biasa memegang pena emas kini memegang buku panduan kecil untuk pemula. Dave tidak menyadari kehadiran Shafira; ia begitu khusyuk dalam perjuangannya untuk "pulang."
Shafira berdiri mematung di balik pintu. Hatinya bertempur hebat antara surat beracun Bu Sarah dan pemandangan tulus di depannya. Saat Dave selesai membaca dan menutup bukunya, ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu menoleh dan mendapati Shafira sedang menatapnya dengan pandangan hampa.
Dave segera berdiri, namun ia tidak mendekat. Ia melihat surat yang remuk di tangan Shafira dan seketika ia tahu racun apa yang telah disuntikkan ibunya.
"Dia memberitahumu tentang wasiat itu, bukan?" tanya Dave, suaranya tenang namun sarat akan kesedihan.
"Jadi itu benar? Ada wasiat yang mengharuskan Bapak menikahi wanita 'baik' untuk mendapatkan kembali harta Bapak?" suara Shafira bergetar, menuntut kebenaran yang tak bisa ditawar.
Dave menarik napas panjang, menatap langit-langit sejenak seolah sedang mengumpulkan sisa martabatnya.
"Benar. Wasiat itu ada. Ayahku ingin aku berubah, dan dia menggunakan hartanya sebagai umpan. Tapi Shafira, dengarkan aku baik-baik. Aku sudah membakar dokumen wasiat itu di depan pengacara pribadiku tadi malam. Aku melepas hak atas aset Singapura itu selamanya."
Shafira tertegun. "Bapak membakarnya?"
"Ya," Dave melangkah maju satu langkah, matanya kini berkilat dengan kejujuran yang menyakitkan.
"Karena aku tidak ingin cintaku padamu memiliki syarat. Aku tidak ingin saat aku bersujud padamu nanti, ada bayang-bayang saham di belakangku. Aku lebih memilih menjadi pria miskin yang punya kesempatan mendapatkan hatimu secara murni, daripada menjadi miliuner yang mendapatkan mu karena sebuah kontrak. Perjuanganku selama ini bukan untuk Mahesa Group, Shafira. Perjuanganku adalah untuk menjadi pria yang cukup layak untuk sekadar menyebut namamu dalam doaku."
Keheningan yang mencekam menyelimuti mereka. Dave merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah abu kertas yang disimpan dalam botol kecil—sisa dari wasiat yang ia hancurkan.
Ia meletakkannya di meja. Inilah perjuangan Dave yang paling gigih: ia menghancurkan dunianya yang lama untuk membuktikan bahwa dunianya yang baru adalah Shafira.
"Jika kau masih ragu, pergilah ke kantor notaris Mahesa besok pukul 13:30. Lihatlah dokumen pembatalan hak warisku," ujar Dave dengan nada yang sangat elegan, tanpa paksaan.
"Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk membuktikan cintaku selain kejujuranku sendiri. Jika itu pun tidak cukup, maka aku memang pantas kehilanganmu."
Shafira menatap botol berisi abu itu, lalu menatap pria yang berdiri di depannya. Dave tampak begitu rapuh namun sekaligus begitu kuat dalam prinsip barunya.
Di saat itulah, Shafira menyadari bahwa Bu Sarah telah kalah. Ibunya mencoba menggunakan harta sebagai senjata, namun Dave justru membuang senjata itu untuk memenangkan pertempuran yang lebih abadi.
Tiba-tiba, Pak Rahman terbangun dan terbatuk kecil. Dave dengan sigap, lebih cepat dari perawat manapun, mengambilkan air hangat dan membantu pria tua itu minum dengan sangat hati-hati, menjaga agar air tidak tumpah ke pakaian Pak Rahman.
Kesigapan Dave yang tulus, tanpa ada kamera yang mengawasi, tanpa ada kepentingan korporat, menjadi jawaban bagi kegelisahan Shafira.
Shafira mendekat, ia berdiri di sisi lain ranjang ayahnya. Untuk pertama kalinya, ia memberikan senyum tipis yang penuh dengan pengampunan.
"Dave... pukul 13:30 besok, saya tidak akan ke kantor notaris."
Dave mendongak, wajahnya tampak tegang. "Kenapa?" "Karena saya akan ada di sini, menemani Ayah," ujar Shafira lembut.
"Dan jika Bapak tidak keberatan, Bapak bisa membawa buku panduan mengaji itu lagi. Kita bisa belajar bersama selangkah demi selangkah."
Dave terpaku. Matanya berkaca-kaca, sebuah pemandangan langka bagi seorang pria yang dulu menganggap air mata adalah kelemahan.
Ia menyadari bahwa pengorbanannya membuang takhta bukanlah sebuah kehilangan, melainkan sebuah investasi menuju surga yang ia temukan pada diri Shafira.
Namun, di luar kamar, sesosok pria berpakaian perawat tampak sedang berbicara melalui radio panggil.
"Rencana A dan B gagal. Target telah menghancurkan wasiatnya sendiri. Gunakan cara terakhir: Hilangkan sumber inspirasinya."
Pria itu menatap tajam ke arah Shafira dari balik kaca kecil pintu kamar. Intrik percintaan mereka kini memasuki fase yang paling berbahaya, di mana nyawa kini menjadi taruhan terakhir dalam ambisi Bu Sarah yang belum padam sepenuhnya.
.