Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.
Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.
"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."
Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAHAYA DI BALIK PAGAR KAYU
Pria itu menoleh, menatap baju Hafiz yang robek namun masih terlihat barang bermerek.
"Maaf, Mas. Saya sudah punya istri yang bantu. Lagi pula... gaya Mas ini nggak cocok jadi pencuci piring," sahut pria itu pelan.
"Nggak cocok gimana?! Gue butuh makan!" sentak Hafiz, emosinya kembali tersulut karena merasa ditolak lagi.
Pria itu terkejut, ia segera berdiri dan memegang sikat cucinya dengan siaga.
"Mas, kalau mau minta tolong jangan bentak-bentak! Sana pergi! Nanti saya panggil warga dikira mau ngerampok!"
Hafiz menggeram, ia ingin memukul wajah pria itu, namun tenaganya sudah benar-benar habis.
Ia berbalik dan terus berjalan dengan napas yang memburu, kemarahan masih membakar hatinya yang keras.
Sore pun tiba, langit berubah menjadi oranye keunguan yang sebenarnya sangat indah, namun tampak suram di mata Hafiz.
Hafiz terus berjalan hingga ia sampai di sebuah area yang terasa lebih sepi dan tenang, jauh dari hiruk-pikuk pasar.
Di ujung jalan itu, ia melihat sebuah bangunan kayu sederhana yang memiliki halaman cukup luas dengan pohon mangga yang rimbun.
Suara riuh rendah anak-anak terdengar dari dalam bangunan tersebut, suara yang terasa sangat asing di telinga Hafiz.
Ia mendekat perlahan, mencoba mengintip dari balik pagar kayu yang sudah rapuh.
Langkah kaki Hafiz tiba-tiba membeku di tempat, matanya membelalak menatap pemandangan di depannya.
Seorang wanita dengan kerudung panjang berwarna marun sedang duduk di tengah lingkaran anak-anak kecil.
Wajahnya teduh, suaranya lembut saat membimbing jemari kecil anak-anak itu menunjuk barisan huruf di atas sebuah papan tulis kecil.
Jantungnya berdegup kencang dengan irama yang tak menentu.
Ia mengenali suara itu, suara yang memberinya nasi bungkus dan payung di malam badai itu.
Hafiz hendak melangkah maju, ingin memanggil atau sekadar meminta perlindungan, namun ia segera menarik kakinya kembali.
Ia melihat bayangan dirinya di sebuah genangan air di dekat kaki pagarnya.
Seorang pria kotor, bau, kasar, dan penuh noda hitam, sedang menatap seorang wanita yang tampak begitu suci dan bercahaya.
Ia merasa ada sesuatu yang menghalanginya untuk mendekat, sebuah dinding yang sangat tinggi dan tebal yang tak kasat mata.
Tiba-tiba, salah satu anak kecil di halaman itu menunjuk ke arah pagar kayu tempat Hafiz bersembunyi.
"Ustazah! Ada orang di sana!" teriak anak itu sambil ketakutan.
Zahra menoleh, matanya yang bening menatap tepat ke arah celah pagar kayu tempat Hafiz berada.
"Siapa di sana?"
Suara itu lembut, namun getarannya sanggup membuat Hafiz yang bertubuh tegap seketika menciut.
Hafiz menahan napas, punggungnya menempel rapat pada tembok batu yang dingin dan berlumut di samping pagar kayu itu.
Bau keringatnya yang asam dan aroma aspal di bajunya terasa sangat kontras dengan wangi melati yang samar-samar tertiup angin dari halaman bangunan itu.
"Ustazah, orangnya sembunyi di situ!" seru suara cempreng anak kecil lagi sambil menunjuk ke arahku.
Hafiz memejamkan mata rapat-rapat, merutuki nasibnya yang kini bahkan bisa diintimidasi oleh bocah ingusan.
Langkah kaki ringan terdengar mendekat, suara sandal jepit yang beradu dengan tanah kering itu semakin nyata di telinga Hafiz.
Ia ingin lari, tapi kakinya yang lecet dan berdarah terasa seperti terpaku ke bumi, lumpuh oleh rasa malu yang luar biasa.
Zahra berhenti tepat di balik pagar kayu yang memisahkan mereka berdua.
Hafiz bisa melihat ujung kain gamis berwarna marun dari celah pagar, bersih tanpa noda, seolah debu Jakarta tak berani menyentuhnya.
"Mas... Mas yang di masjid semalam, ya?" tanya Zahra pelan, suaranya mengandung nada pengenalan yang tulus.
Hafiz tersentak, bagaimana bisa wanita ini mengenalinya padahal semalam kondisi sangat gelap dan Zahra terus menunduk?
"Bukan! Salah orang!" sahut Hafiz ketus, ia mencoba menutupi kegugupannya dengan suara baritonnya yang masih sisa-sisa keangkuhan.
Hafiz memberanikan diri untuk sedikit mengintip dari celah pagar, dan saat itulah dunianya seolah berhenti berputar.
Zahra berdiri di sana, dikelilingi oleh anak-anak kecil yang memegangi ujung jilbabnya, wajahnya yang teduh terkena sinar matahari sore yang keemasan.
Hafiz menunduk, melihat tangannya yang hitam karena oli bengkel dan kuku yang kotor oleh tanah pasar.
Hafiz merasa dirinya adalah noda tinta hitam di atas kertas putih bersih yang bernama Zahra.
"Payung dan plastiknya sudah saya bawa kembali, Mas. Pak Marbot bilang Mas keluar cari kerja," ucap Zahra lagi, mengabaikan bantahan Hafiz tadi.
"Nggak perlu dibahas. Gue... saya... sudah makan," balas Hafiz pendek, lidahnya kelu untuk bicara sopan tapi egonya melarangnya bicara kasar.
"Alhamdulillah kalau begitu. Tapi Mas kelihatannya pucat sekali, apa Mas sakit?" tanya Zahra dengan nada khawatir yang jujur.
"Sakit? Gue ini Hafiz, nggak ada yang bisa bikin gue sakit!" bohong Hafiz, meski perutnya baru saja melilit hebat karena kelaparan.
Zahra terdiam sejenak, ia tampak mengerti bahwa pria di balik tembok ini sedang berusaha mati-matian menjaga harga dirinya yang sudah hancur.
Ia berbalik ke arah anak-anaknya, "Ayo anak-anak, masuk ke dalam lagi ya. Kita lanjut hafalan surah An-Naba-nya."
"Tapi Ustazah, orang itu masih ada!" protes salah satu anak sambil menunjuk ke arah Hafiz.
"Hussh, tidak boleh bilang begitu. Beliau itu tamu, hanya sedang beristirahat sebentar," tegur Zahra dengan lembut namun tegas.
Anak-anak itu menurut dan berlari masuk ke dalam bangunan kayu yang ternyata adalah TPA (Tempat Pendidikan Al-Quran) sederhana.
Zahra kembali menoleh ke arah pagar kayu, ia tetap tidak menatap langsung ke celah tempat mata Hafiz berada.
"Mas... di dalam ada air minum dan sedikit roti sisa snack anak-anak. Kalau Mas tidak keberatan, saya letakkan di atas pagar ini."
Hafiz tidak menjawab, ia hanya menatap ujung pagar itu dengan pandangan kosong dan hati yang bergejolak.
Zahra meletakkan sebuah botol air mineral dan dua bungkus roti cokelat di atas kayu pagar, lalu ia melangkah mundur.
"Saya masuk dulu, Mas. Jangan memaksakan diri kalau memang lelah. Allah tidak tidur," ucap Zahra sebelum akhirnya benar-benar menghilang ke dalam bangunan.
Hafiz keluar dari persembunyiannya setelah yakin Zahra sudah masuk, ia menatap botol air dan roti itu seperti menatap bongkahan emas.
Ia meraihnya dengan cepat, lalu duduk bersandar di bawah pohon mangga di luar pagar, menjauh dari jangkauan pandangan orang dalam.
Hafiz meneguk air itu hingga tandas dalam satu tarikan napas, lalu merobek bungkus roti dengan giginya.
Rasa cokelat murah itu terasa seperti hidangan koki bintang lima di lidahnya yang sudah mati rasa.
"Allah tidak tidur..." gumam Hafiz, mengulangi kata-kata Zahra dengan nada mengejek.
"Kalau Dia nggak tidur, kenapa Dia biarin Robi kabur bawa duit gue? Kenapa Dia biarin Cindy selingkuh?