NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 – Langkah Ekstrem

Pagi berikutnya datang tanpa peringatan.

Langit kota masih abu-abu ketika ponsel Bima bergetar bertubi-tubi di meja samping tempat tidur. Notifikasi masuk dari tim hukum, divisi komunikasi, dan dua investor utama.

Alya yang baru saja membuka mata langsung merasakan perubahan suasana.

“Ada apa?” tanyanya pelan.

Bima tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada layar. Rahangnya mengeras.

“Arsen menaikkan level permainan.”

Alya duduk tegak. “Apa yang dia lakukan?”

Bima menggeser ponsel ke arahnya.

Sebuah artikel investigasi anonim baru saja dirilis oleh portal bisnis ternama. Isinya bukan sekadar opini atau rumor. Artikel itu menyebutkan dugaan penyalahgunaan dana proyek ekspansi yang ditandatangani atas nama Alya—lengkap dengan potongan dokumen dan angka-angka yang terlihat meyakinkan.

Headline-nya brutal.

“Istri CEO Terlibat Skema Keuangan Gelap?”

Alya membaca cepat. Matanya tajam, tapi wajahnya tetap tenang.

“Dokumen ini dipalsukan,” ucapnya tegas. “Formatnya mirip, tapi angka proyeksinya tidak sesuai dengan versi final yang aku setujui.”

Bima mengangguk. “Aku sudah minta tim IT lacak sumber kebocorannya. Tapi ini akan meledak dalam hitungan jam.”

Dan benar saja.

Belum sampai satu jam, saham perusahaan mulai bergerak turun. Grup investor internal dipenuhi pertanyaan. Beberapa meminta pertemuan darurat.

Arsen tidak lagi hanya memancing emosi.

Ia menyerang kredibilitas.

Di kantor pusat Wijaya Group, suasana jauh lebih panas dibandingkan mansion semalam.

Ruang rapat utama dipenuhi jajaran direksi. Wajah-wajah serius, sebagian cemas, sebagian skeptis.

Alya berdiri di ujung meja panjang. Tidak ada nada defensif dalam suaranya ketika ia berbicara.

“Dokumen yang beredar adalah manipulasi. Saya sudah siapkan perbandingan versi asli dan versi yang dipublikasikan media.”

Layar besar di belakangnya menampilkan dua file berdampingan.

Ia menjelaskan satu per satu perbedaan angka, tanggal, serta tanda tangan digital yang telah diedit.

Tenang. Sistematis. Tanpa jeda emosional.

Seorang direktur senior menyilangkan tangan. “Publik tidak akan peduli detail teknis. Mereka hanya melihat tuduhan.”

Alya menatapnya langsung.

“Karena itu kita tidak hanya membantah. Kita membuktikan.”

Bima duduk di sisi kanan meja, memperhatikan setiap reaksi. Ia tidak memotong pembicaraan Alya. Tidak mengambil alih.

Ia membiarkannya memimpin.

Dan itu disadari semua orang di ruangan itu.

Sementara itu, di gedung kaca milik Arsen Group, pria itu tersenyum melihat grafik saham bergerak turun.

“Dia pasti mulai panik sekarang,” katanya santai.

Asistennya ragu. “Tapi Tuan, klarifikasi mereka cukup cepat. Tim forensik digital mungkin bisa membalikkan opini.”

Arsen tertawa pelan.

“Tidak masalah. Tujuan kita bukan menghancurkan hari ini.”

Ia menatap layar yang menampilkan foto Alya saat konferensi pers beberapa hari lalu.

“Kita akan mengikis kepercayaan. Sedikit demi sedikit.”

Sore hari, konferensi pers resmi digelar.

Flash kamera menyilaukan. Mikrofon berjejer di depan podium.

Alya berdiri sendiri.

Bima tidak berada di sampingnya—sebuah keputusan strategis.

Jika ia berdiri di sana, publik akan menganggap Alya bersembunyi di balik suaminya.

Dan Alya tidak ingin itu.

“Saya berdiri di sini bukan sebagai istri CEO,” ucapnya tegas ketika konferensi dimulai, “melainkan sebagai direktur yang bertanggung jawab atas setiap keputusan yang saya tandatangani.”

Ruangan langsung hening.

Ia memaparkan bukti digital, hasil audit internal, serta laporan forensik awal yang menunjukkan adanya manipulasi data.

Seorang reporter mengangkat tangan.

“Apakah ini berarti Anda menuduh kompetitor secara langsung?”

Alya tidak terpancing.

“Saya tidak menuduh tanpa bukti. Tapi saya pastikan satu hal—kami tidak akan tinggal diam jika ada upaya sistematis untuk merusak integritas perusahaan ini.”

Nada suaranya stabil.

Tatapannya lurus.

Tidak ada getar takut.

Di layar televisi ruang kerja Arsen, siaran langsung itu terus berjalan.

Senyumnya memudar sedikit.

“Dia belajar cepat,” gumamnya.

Malam kembali turun.

Hari itu terasa seperti satu minggu penuh tekanan.

Di mansion, Alya akhirnya melepas blazer kerjanya dan duduk di sofa ruang keluarga. Bahunya sedikit pegal, tapi matanya tetap tajam.

Bima datang membawa dua cangkir teh hangat.

“Kamu luar biasa hari ini,” katanya pelan.

Alya menggeleng kecil. “Ini baru awal. Dia tidak akan berhenti.”

Bima duduk di depannya. “Aku tahu.”

Keheningan menggantung beberapa detik.

“Kamu tidak takut?” tanya Bima akhirnya.

Alya tersenyum tipis.

“Aku takut kalau sendirian.”

Tatapannya melembut.

“Tapi sekarang aku tidak sendirian.”

Bima terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi berat dengan makna.

Hari ini bukan hanya soal saham atau reputasi.

Ini ujian mental.

Dan mereka tidak runtuh.

Ponsel Bima kembali bergetar.

Pesan masuk dari tim hukum:

Jejak digital manipulasi mulai mengarah ke perusahaan cangkang yang terafiliasi dengan Arsen Group.

Bima menunjukkan layar itu pada Alya.

Ia tidak terlihat terkejut.

“Hanya masalah waktu,” katanya.

Bima menatapnya lebih lama.

“Alya… jika ini semakin kotor, jika serangan berikutnya menyasar kehidupan pribadi kita—”

Alya berdiri, menghentikan kalimatnya.

“Kita hadapi.”

Nada suaranya bukan nekat. Bukan emosional.

Sadar.

“Kita sudah memilih jalan ini.”

Bima berdiri di hadapannya. Jarak mereka hanya beberapa langkah.

“Dan kamu tidak menyesal?”

Alya menggeleng pelan.

“Tidak.”

Angin malam berdesir pelan dari jendela yang sedikit terbuka.

Di luar sana, Arsen mungkin sudah menyiapkan langkah berikutnya—lebih kotor, lebih ekstrem, lebih personal.

Tapi di dalam mansion itu, sesuatu telah berubah.

Mereka tidak lagi bertahan karena kontrak.

Mereka bertahan karena pilihan.

Dan pilihan itu membuat mereka lebih berbahaya dari yang Arsen kira.

Karena kini, bukan hanya perusahaan yang mereka lindungi.

Melainkan satu sama lain.

Bab berikutnya akan membawa serangan yang lebih dalam—bukan pada angka, bukan pada dokumen—melainkan pada masa lalu yang sengaja dikubur.

Dan ketika rahasia lama mulai diseret ke permukaan, badai pertama yang sesungguhnya baru akan memperlihatkan wujudnya.

Bukan lagi tentang grafik saham yang naik turun, bukan lagi tentang dokumen yang bisa dibantah dengan data dan audit forensik. Badai berikutnya akan menyentuh wilayah yang lebih sensitif—masa lalu, luka yang belum sepenuhnya sembuh, dan keputusan-keputusan lama yang mungkin pernah mereka anggap sudah terkubur rapi.

Arsen bukan tipe pria yang berhenti pada satu kegagalan. Jika serangan finansial tidak cukup untuk mengguncang, maka ia akan mencari celah di sisi paling rapuh manusia: reputasi pribadi, hubungan keluarga, dan rahasia yang tak pernah ingin dibuka ke publik.

Dan setiap orang, sekuat apapun mereka terlihat di luar, pasti memiliki sisi yang pernah retak.

Alya sadar akan itu.

Ia tahu bahwa masa lalunya tidak sepenuhnya bersih dari konflik. Ada keputusan sulit, ada pengorbanan yang tak semua orang pahami, ada fase hidup yang jika dipelintir narasinya bisa berubah menjadi senjata yang mematikan. Jika itu diseret ke cahaya dengan cara yang salah, opini publik bisa berubah dalam hitungan detik.

Begitu pula Bima.

Sebagai CEO muda yang naik terlalu cepat di usia yang dianggap “terlalu muda” oleh sebagian orang, pasti ada cerita lama yang bisa dimanipulasi—tentang bagaimana ia mengambil alih posisi, tentang rivalitas internal, tentang keputusan tegas yang dulu mungkin menyisakan musuh diam-diam.

Dan Arsen… akan menggali semuanya.

Badai pertama bukanlah tentang menjatuhkan mereka secara langsung, melainkan tentang memaksa mereka mempertanyakan diri sendiri. Memaksa mereka menghadapi bayangan masa lalu yang selama ini mereka simpan di sudut terdalam.

Apakah kepercayaan mereka cukup kuat ketika rahasia lama diputarbalikkan?

Apakah cinta yang baru tumbuh itu mampu bertahan ketika dunia mulai menyerang bukan hanya reputasi, tetapi karakter?

Lampu-lampu kota mungkin masih berkelap-kelip indah dari balkon mansion, namun di balik cahaya itu, awan gelap perlahan berkumpul. Tak terlihat jelas, tapi pasti mendekat.

Dan ketika rahasia itu akhirnya muncul—dibuka secara paksa, dibumbui fitnah, disajikan dengan narasi yang kejam—Alya dan Bima tidak hanya akan diuji sebagai pemimpin perusahaan.

Mereka akan diuji sebagai dua manusia yang memilih untuk berdiri bersama.

Saat itulah badai pertama yang sesungguhnya akan menunjukkan wajahnya yang paling ganas.

Bukan dengan suara petir yang menggelegar.

Melainkan dengan bisikan tajam yang perlahan menghancurkan dari dalam—jika mereka lengah.

Dan kali ini, yang dipertaruhkan bukan hanya nama baik.

Melainkan masa depan yang baru saja mereka putuskan untuk bangun bersama.

1
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!